NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rem Dadakan 17.

Gerimis yang tadinya malu-malu berubah menjadi rintik yang cukup rapat.

Aspal jalanan yang menghitam mulai memantulkan cahaya lampu-lampu toko di pinggir jalan. Dingin nya angin sore menembus seragam putih-abu-abu yang mereka kenakan.

Dafa masih fokus menatap jalanan di depannya, meski fokusnya sebenarnya sudah terbagi dua sejak Lilis mulai menggodanya tadi.

"Lis, pegangan. Jalanan mulai licin," ujar Dafa setengah berteriak. Suaranya agak berat, serak karena angin malam yang mulai masuk ke tenggorokan.

"Nggak mau. Nanti lu kegeeran lagi," balas Lilis, sengaja mengeratkan pelukannya pada tas ransel yang dia posisikan sebagai benteng pertahanan di antara dadanya dan punggung Dafa.

Dafa mendengus. Di balik helmnya, sebuah senyum tipis terbit. 'Dasar keras kepala' batin nya. Namun, sedetik kemudian, sebuah ide jahat sekaligus spontan melintas di kepala Dafa.

Di depannya, sekitar lima puluh meter, sebuah mobil nekat berbelok tanpa menyalakan lampu sein dengan benar.

Sebenarnya Dafa bisa saja mengurangi kecepatan secara halus. Tapi, cowok itu justru memilih cara yang ekstrem.

Ckiiiiit!

Ban motor Dafa berdecit keras di atas aspal yang basah. Tubuh motor itu sedikit menukik ke depan karena rem depan dan belakang ditekan bersamaan dengan porsi yang pas—Dafa tahu persis cara mengendalikan motornya agar tidak jatuh, tapi cukup membuat efek kejut yang masif.

"Dafa?!"

Sesuai prediksi Dafa, hukum fisika tidak pernah bohong. Tubuh Lilis terdorong hebat ke depan. Tas ransel yang tadinya menjadi pembatas langsung tergencet, dan dalam hitungan milidetik, dada Lilis menempel sempurna pada punggung lebar Dafa. Kedua tangan Lilis refleks melepas tasnya dan melingkar erat di pinggang Dafa, memeluk cowok itu dengan sangat kencang karena takut terlempar ke aspal.

Aroma parfum maskulin Dafa yang bercampur dengan aroma hujan langsung menyerbu indra penciuman Lilis. Jantung Lilis berdegup dua kali lebih cepat, dan itu bukan cuma karena efek kaget akibat rem mendadak.

Dafa sendiri sempat menahan napas. Sensasi hangat dari pelukan Lilis yang tiba-tiba itu mengirimkan sengatan aneh yang langsung naik ke dadanya.

Sial, rencana awalnya hanya ingin menjahili Lilis, tapi kenapa sekarang jantungnya sendiri yang malah berpacu tidak karuan?

"Dafa Mahendra! Lu sengaja ya?!" teriak Lilis tepat di samping telinga Dafa, suaranya naik satu oktav. Wajahnya kini memerah, untungnya tersembunyi di balik helm yang dia kenakan.

"Sengaja apa sih? Itu tadi mobil depan motong jalan sembarangan! Lu mau kita masuk kolong mobil?" sahut Dafa, membela diri dengan nada seolah-olah dia adalah korban di sini. Padahal, dia sengaja menahan kecepatan motornya agar pelukan Lilis tidak terlepas.

"Tapi nggak usah ngerem kayak mau mati juga dong!" Lilis masih protes, namun anehnya, tangannya tidak langsung lepas dari pinggang Dafa. Ada rasa aman yang mendadak melingkupinya di tengah gerimis yang kian menderu.

Dafa tidak menjawab lagi. Dia sengaja membiarkan keheningan mengambil alih, membiarkan Lilis menikmati atau merutuki posisi mereka sekarang. Dari kaca spion, Dafa bisa melihat Lilis yang akhirnya menyembunyikan wajahnya di pundak belakang Dafa, mencoba menghindari terpaan angin dingin, atau mungkin, menyembunyikan rasa malunya yang sudah meluap-luap.

Dafa merasakan dadanya menghangat.

Sifat protektif yang tadi sempat tersulut karena kehadiran Azril perlahan mereda, digantikan oleh rasa kepemilikan yang egois namun nyata.

Konten atau bukan, kesepakatan atau bukan, Dafa tahu ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya sore ini. Dia tidak suka melihat Lilis berada di belakang punggung cowok lain. Titik.

Motor terus melaju hingga mereka tiba di perempatan besar kota.

Sinyal lampu lalu lintas di depan berubah dari kuning menjadi merah solid. Dafa menghentikan motornya tepat di belakang garis marka.

Di sekitar mereka, puluhan motor lain juga ikut berhenti, menciptakan kerumunan kecil di bawah guyuran gerimis yang makin rapat.

Suara gemercik air dan deru mesin berpadu menjadi latar belakang.

Lilis yang perlahan mulai menguasai kesadarannya kembali, menyadari bahwa tangannya masih melingkar erat di pinggang Dafa.

Parahnya lagi, posisi mereka yang begitu dekat membuat Lilis bisa merasakan naik-turunnya napas Dafa.

Keheningan di antara mereka di lampu merah ini mendadak terasa begitu intim dan mencekam untuk jantung Lilis.

'Ini gue ngapain masih meluk dia kayak gini?' batin Lilis. Dia merasa seperti cewek paling murahan sekaligus paling bodoh sedunia karena membiarkan dirinya hanyut dalam permainan Dafa.

Lilis buru-buru menarik tangannya, kembali memeluk tas ranselnya dengan canggung. Wajahnya terasa panas membara, bertolak belakang dengan rintik hujan yang membasahi pipinya. Dia tahu dia sedang salting brutal. Dan yang paling menyebalkan adalah, Dafa sudah tahu cara memanfaatkan momen itu.

Dafa sengaja menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, melirik Lilis dari balik kaca helmnya yang sengaja dia buka.

"Kok dilepas? Dingin lho, Lis. Konten pacar siaganya belum selesai nih, masih banyak anak Wahidin yang naik angkot di sekitar sini," goda Dafa dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, penuh intonasi mengejek yang khas.

Lilis menatap Dafa dengan mata melotot.

Rasa malu yang bercampur gengsi tinggi langsung meledak menjadi kejengkelan yang tak tertahankan. Ditambah lagi, dia tahu Dafa sedang menertawakannya di dalam hati.

"Dafa, lu bener-bener... minta mati ya!"

Tanpa aba-aba, Lilis menjulurkan tangannya yang gemetar karena menahan malu. Jari-jarinya langsung mengunci sejumput kulit di pinggang Dafa yang tertutup jaket tipis, lalu memutarnya 180 derajat dengan kekuatan penuh. Cubitan maut khas Lilis.

"AAAAAAAKH! LILIS! SAKIT, GILA!"

Dafa berteriak spontan. Suaranya yang melengking memecah keheningan lampu merah.

Cowok itu refleks meloncat kecil di atas jok motornya, membuat motor sport hitamnya sempat oleng ke kanan dan hampir menyenggol pengendara motor bebek di sebelahnya.

Dafa memegang pinggangnya yang terasa seperti terbakar, wajahnya meringis kesakitan yang amat sangat.

"Lis, lepas! Sakit anjir!" jerit Dafa lagi, tidak peduli lagi dengan imej "cowok keren" yang selalu dia agung-agungkan.

"Makanya jangan banyak tingkah! Rasain tuh konten pacar siaga!" balas Lilis, kepuasan batin terpancar dari wajahnya yang masih kemerahan.

Teriakan histeris Dafa sontak membuat suasana di lampu merah itu mendadak senyap dari suara obrolan lain.

Puluhan pasang mata, mulai dari bapak-bapak pengemudi ojek online, ibu-ibu yang pulang dari pasar, sampai rombongan anak sekolah lain yang berhenti di sebelah mereka, langsung menoleh serempak.

Seorang ibu-ibu yang membonceng anaknya di sebelah kanan mereka tampak tersenyum geli, berbisik kepada anaknya. Sementara dua orang anak SMA dari sekolah tetangga langsung terkekeh melihat kelakuan Dafa yang masih mengusap-usap pinggangnya sambil cemberut luar biasa.

"Makanya Mas, jangan digodain terus mbaknya. Kuat banget itu cubitannya," celetuk seorang bapak ojek online dari belakang mereka sambil tertawa renyah.

Dafa hanya bisa meringis malu, berpura-pura membenarkan posisi spionnya untuk menutupi rasa canggungnya yang mendadak ambyar di depan publik.

Sementara Lilis langsung memalingkan wajah ke arah kiri, menyembunyikan senyum kemenangan sekaligus wajahnya yang makin matang karena malu yang kini bercampur aduk dengan rasa lucu. Di bawah lampu merah yang perlahan menghitung mundur, kehangatan itu benar-benar mengunci mereka, mengaburkan batasan antara apa yang demi konten, dan apa yang mulai tumbuh dari hati.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!