Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Orang Baru Hadir
Dua tahun berlalu sejak hari kelulusan sekolah. Laras kini menempuh pendidikan di universitas impiannya sambil menulis cerita untuk majalah daerah. Hidupnya terasa teratur dan tenang. Dia masih rindu pada Arka, tapi rindu itu tidak lagi terasa menyakitkan.
Rindu itu kini seperti lampu kecil yang menuntun jalannya, membuatnya selalu ingat untuk menghargai setiap kebaikan yang datang dalam hidupnya. Dia tetap berkomunikasi dengan Arka melalui surat dan pesan singkat.
Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing, tanpa pernah menuntut lebih dari apa yang bisa mereka berikan pada saat ini.
Suatu sore saat Laras sedang sibuk menyusun naskah di perpustakaan universitas, seseorang mengetuk meja tempatnya duduk. Dia mengangkat wajah dan melihat seorang pemuda berdiri di sana sambil tersenyum ramah. Namanya Sandi, teman satu jurusan yang pernah beberapa kali berbagi catatan pelajaran dengannya.
Sandi duduk di hadapan Laras tanpa menunggu diundang, namun sikapnya begitu sopan sehingga Laras tidak merasa terganggu sama sekali. Dia membawa dua cangkir teh hangat, meletakkan satu di samping buku catatan Laras.
"Lu udah duduk di sini hampir tiga jam. Istirahat sebentar nggak akan membuat tulisan lu hilang kemana mana," ucap Sandi dengan nada bercanda yang lembut. Matanya berbinar tulus, seakan dia benar benar peduli pada kenyamanan Laras.
Laras tersenyum berterima kasih. Percakapan sore itu berlanjut lebih lama dari yang dia duga. Sandi adalah pendengar yang baik. Dia tidak pernah memotong pembicaraan, tidak pernah memaksa Laras untuk membicarakan hal yang belum siap dia ceritakan.
Selama berbulan bulan mereka menghabiskan waktu bersama, belajar di perpustakaan, berjalan pulang beriringan, atau sekadar duduk di bangku taman kampus sambil menonton matahari terbenam. Sandi tidak pernah berlebihan dalam menunjukkan perhatiannya. Dia selalu tahu batas, selalu menghormati ruang yang Laras butuhkan untuk dirinya sendiri.
Namun kedekatan ini membuat Laras merasa bimbang. Kadang saat Sandi tertawa mendengar ceritanya, dia tanpa sadar membandingkan suara tawa itu dengan suara tawa lain yang jauh di seberang lautan. Dia merasa bersalah.
"Apakah dia sedang menggantikan seseorang yang tidak tergantikan? Apakah dia tidak setia pada perasaannya sendiri?," Laras menulis semua kebingungan itu dalam email panjang untuk Arka.
Dia menceritakan tentang Sandi, tentang kebaikan hatinya, dan tentang keraguannya sendiri. Dia menunggu balasan itu dengan jantung berdebar.
Balasan itu datang seminggu kemudian. Di dalam email itu hanya ada beberapa baris tulisan yang akrab dan menenangkan.
..."Gue senang lu tidak menutup hati lu untuk dunia Laras. Lu berhak bahagia di sini dan sekarang. Kalau Sandi orang yang baik, jangan takut untuk membuka hati lu sedikit lebih lebar. Gue akan selalu menjadi bagian dari masa lalu lu yang berharga, tapi jangan biarkan masa lalu menghalangi masa depan lu yang indah. Lu tidak perlu memilih di antara kita. Lu hanya perlu menjadi dirimu sendiri."...
Air mata Laras jatuh membasahi laptop itu, namun kali ini bukan karena kesedihan. Itu adalah air mata kelegaan yang mendalam. Dia menyadari satu hal penting. Mencintai seseorang yang tidak ada di dekatnya tidak berarti dia harus berhenti hidup.
Dia bisa menghargai kenangan indah itu sekaligus menyambut kebahagiaan baru yang datang mengetuk pintu hatinya.
Saat Sandi menemuinya di gerbang kampus keesokan harinya, Laras tersenyum lebih tulus dari biasanya. Dia tidak berjanji apa apa hari ini. Dia hanya membiarkan persahabatan mereka tumbuh alami, tanpa terburu buru, tanpa paksaan.
Dia tahu hatinya masih punya ruang untuk dua hal yang berbeda. Satu ruang untuk rindu yang abadi, dan ruang lain yang kini mulai terbuka lebar untuk harapan yang baru.