NovelToon NovelToon
Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Mata Batin
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Z. F. Werr

Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.

Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.

Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:

"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"

ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!

Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dentang yang Ke-Tiga Belas

Jam digital di pojok kanan atas layar laptop menunjukkan pukul 23.45. Di dalam ruang perpustakaan SMA Bhakti Mulia yang luas, keheningan terasa begitu pekat dan menekan.

Hanya ada ketukan jemari Dika pada papan tik serta desau pendingin ruangan yang mulai mengeluarkan hawa terlalu dingin.

"Gue masih nggak habis pikir. Kenapa kita berenam harus kena detensi sialan ini, sih?" Sasha mengeluh untuk yang kesepuluh kalinya malam itu.

Gadis itu sedang asyik memoles kuku jarinya dengan cat merah, benar-benar mengabaikan tumpukan buku sejarah yang seharusnya ia susun ke dalam rak.

"Bisa diam, Sha? Mengeluh nggak akan bikin hukuman kita selesai lebih cepat," sahut Revan tanpa mengalihkan pandangan dari lembar arsip OSIS yang sedang ia periksa.

Sebagai Ketua OSIS, suaranya selalu terdengar datar, penuh perhitungan, dan dingin. Skeptisisme alaminya membuat Revan menganggap detensi malam ini hanyalah prosedur berlebihan dari pihak sekolah.

Anya, yang duduk agak jauh di sudut ruangan, hanya diam. Matanya pura-pura menatap buku sosiologi di pangkuannya, namun pikirannya melayang jauh. Tidak ada yang tahu bahwa Anya sengaja membuat masalah agar dihukum detensi malam ini.

Tujuannya hanya satu: menyelidiki rumor tentang hilangnya sang kakak, Yudha, yang terakhir kali terlihat di area sekolah ini tiga bulan lalu. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba mengusir rasa cemas.

"Tapi Sasha ada benarnya, Van," timpal Bima sambil meregangkan otot-otot lengannya yang kekar. Atlet basket sekolah yang terkenal berani namun impulsif itu bersandar pada meja kayu besar.

"Nggak biasanya Pak Haris ngasih detensi sampai tengah malam begini. Apalagi gerbang sekolah dikunci dari luar. Ini aneh."

Di meja seberang, Nisa, si kutu buku yang terkenal kuper, tampak gemetar. Sejak tadi, matanya tidak lepas dari sebuah buku tahunan sekolah usang terbitan tahun 1996 yang ia temukan di gudang belakang perpustakaan.

"Kalian tahu... hari ini tepat tiga puluh tahun sejak tragedi itu."

Dika menghentikan ketukannya di laptop. Cowok pendiam yang ahli dalam bidang teknologi itu menaikkan kacamatanya.

"Tragedi apa, Nis?"

"Enam murid... menghilang tanpa jejak di sekolah ini setelah tengah malam. Persis di tanggal yang sama dengan hari ini," bisik Nisa dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru angin malam di luar.

"Halah, takhayul kuno! Lu kebanyakan baca cerita horor!" cibir Bima sambil tertawa, meski tawanya terdengar agak dipaksakan untuk mengusir rasa ngeri yang tiba-tiba merayap di tengkuknya.

Tepat saat Bima menyelesaikan kalimatnya, lampu neon di langit-langit perpustakaan berkedip kasar.

Bzzzt... bzzzt...

Suasana mendadak menjadi remang-remang. Suhu ruangan merosot tajam secara drastis, hingga embusan napas mereka mulai memunculkan uap putih tipis. Anya menegakkan tubuhnya, merasakan firasat buruk yang teramat kuat. Bulu kuduknya meremang.

DONG...

Suara gaung yang teramat berat dan keras tiba-tiba mengguncang keheningan. Bunyi itu berasal dari arah aula utama yang terletak di ujung koridor luar.

"Suara apa itu?" Sasha langsung berdiri, cat kukunya tumpah mengotori meja. Wajahnya mendadak pucat pasi.

"Lonceng aula," jawab Revan tenang, namun alisnya bertaut rapat.

"Tapi itu mustahil. Lonceng besi di aula sudah karatan dan talinya diputus sejak tahun sembilan pukul enam."

DONG... DONG... DONG...

Lonceng itu terus berdentang secara ritmis. Suaranya bergema di sepanjang dinding-dinding beton sekolah, terasa seperti ketukan yang menghantam dada mereka masing-masing.

Di dalam kegelapan yang kian pekat, mereka semua mulai menghitung dalam hati.

...sembilan... sepuluh... sebelas... dua belas...

Suasana mendadak hening selama beberapa detik. Hening yang mematikan. Mereka semua menghela napas lega, berpikir bahwa dentangan itu sudah berakhir. Namun, sebelum ada yang sempat bersuara, lonceng itu berdentang sekali lagi dengan suara yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.

DONG!!!

Tiga belas.

BRAY!

Detik itu juga, seluruh lampu di perpustakaan mati total. Bukan hanya lampu, laptop Dika mati secara mendadak, dan semua ponsel yang tergeletak di meja ikut padam serentak seolah dayanya tersedot habis oleh udara. Kegelapan gulita yang absolut langsung menelan mereka.

"Aaaah!" Sasha menjerit histeris.

"Bima, lo di mana?! Pegang tangan gue!"

"Gue di sini, Sha! Tenang, jangan panik!" seru Bima, mencoba meraba-raba dalam gelap, berniat maju paling depan untuk melindungi yang lain meski dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dihadapi.

"Dika, senter ponsel lo bisa nyala?" tanya Revan, suaranya tetap berusaha stabil dan logis meski ada nada urgensi di dalamnya.

"Enggak bisa! Mati total, padahal baterai gue penuh!" balas Dika panik, terdengar suara laptopnya yang ditutup kasar.

Anya bergerak perlahan, meraba dinding untuk mencari sakelar manual atau pintu keluar. Namun, saat telapak tangannya menyentuh permukaan dinding perpustakaan, ia tersentak menarik tangannya kembali dengan ngeri.

Dinding semen yang seharusnya keras dan dingin itu... terasa basah, hangat, dan berdenyut perlahan. Persis seperti kulit makhluk hidup yang bernapas.

"Ada yang aneh sama dindingnya..." bisik Anya dengan jantung yang mulai berdegup kencang.

Sebelum ada yang sempat merespons ucapan Anya, dari arah pintu luar perpustakaan yang terbuka, terdengar suara yang mengerikan.

Sreeek... Sreeek... Sreeek...

Itu adalah suara sesuatu yang berat yang diseret di atas ubin koridor. Suara itu bergerak perlahan, mendekat dari kegelapan lorong, menuju tepat ke arah tempat mereka berenam berada. Bersamaan dengan itu, aroma busuk yang menyengat—seperti bau daging yang membusuk puluhan tahun—mulai menyeruak masuk ke dalam ruangan.

Di tengah kegelapan total, Nisa berbisik dengan suara menangis, "Mereka datang... Kurikulum mautnya sudah dimulai."

Suara seretan di luar koridor mendadak berhenti tepat di depan pintu perpustakaan yang terbuka. Detak jantung Anya serasa ikut berhenti.

Udara di sekitar mereka mendadak berbau anyir darah yang begitu pekat, membuat Sasha reflek membekap mulutnya sendiri agar jeritannya tidak lolos.

Tap. Tap.

Langkah kaki yang berat dan basah—seolah-olah pelakunya berjalan dengan kaki yang berlumuran cairan—terdengar melangkah masuk melewati batas pintu perpustakaan.

Dalam keremangan yang ekstrem, siluet sesosok makhluk bertubuh tinggi besar dan bungkuk tampak berdiri di sana. Kepalanya miring ke kiri dengan sudut yang tidak wajar, mematahkan tulang lehernya sendiri.

"Si-siapa di sana?!" seru Bima dengan suara bergetar. Meskipun takut, cowok atletis itu langsung menggeser tubuhnya, berdiri di baris paling depan untuk menghalangi pandangan makhluk itu dari Sasha dan Nisa yang mulai menangis terisak.

Bima meraba-raba meja terdekat, tangannya mencengkeram sebuah kursi kayu erat-erat, siap menggunakannya sebagai senjata jika makhluk itu menyerang.

"Bima, jangan bertindak bodoh! Mundur!" bisik Revan tajam. Otak analitis sang ketua OSIS mencoba memproses situasi gila ini dengan cepat. Tidak ada gunanya melawan secara fisik jika mereka bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi.

Mata Revan bergerak liar dalam gelap, mencari jalan keluar alternatif.

"Dika, pintu darurat di belakang rak buku sejarah terkunci elektrik atau manual?"

"M-manual, Van! Pakai kunci slot besi kuno!" jawab Dika gagap, tangannya sibuk meraba tas ranselnya, mencari barang apa saja yang bisa membantu.

"Nisa, lo yang paling hafal denah tempat ini. Tuntun Dika ke pintu belakang sekarang!" perintah Revan memutuskan tanpa bantahan.

"Anya, Sasha, ikut di belakang Nisa!"

Namun, Anya tidak bergerak. Matanya yang intuitif justru terpaku pada bayangan makhluk di depan pintu.

Makhluk itu mengenakan seragam sekolah yang robek-robek, dan di dada kirinya, ada sebuah logo angkatan yang sangat ia kenal. Logo angkatan tahun 1996—tahun yang sama dengan hilangnya sang kakak.

"Kak Yudha...?" batin Anya bergejolak, separuh takut, separuh penasaran.

KREEEEK!

Belum sempat mereka melangkah mundur, makhluk bungkuk itu tiba-tiba mengeluarkan pekikan melengking yang memekakkan telinga. Tangannya yang panjang dan dipenuhi kuku hitam tajam bergerak mencakar udara, lalu dengan kecepatan yang tidak manusiawi, makhluk itu melesat menerjang ke arah Bima yang berdiri paling depan!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!