Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Wush.
Angin pagi berhembus pelan menyapu pelataran belakang Istana Penguasa Kota.
Yang Zhen perlahan membuka matanya yang baru saja memancarkan kilatan cahaya keemasan.
Bibir pemuda itu menyunggingkan senyum iblis yang sangat puas.
Ia baru saja memberikan salam perkenalan yang manis kepada penguasa ibu kota.
Tap tap tap.
Su Lin berjalan mendekati suaminya dengan membawa secangkir teh panas di atas nampan kayu.
Gadis berambut biru itu mengenakan gaun sutra tipis yang sangat anggun.
"Kau terlihat sangat bersemangat pagi ini, Yang Zhen," sapa Su Lin menyodorkan cangkir teh tersebut.
"Apakah kau baru saja menemukan cara baru untuk menyiksa tawanan kita?"
Yang Zhen mengambil cangkir teh itu dan menyesapnya pelan.
Slurp.
"Aku tidak butuh tawanan lagi, Istriku," jawab Yang Zhen dengan suara santai.
"Aku baru saja menyapa Master Sekte Pedang Langit secara langsung melalui artefak pengintainya."
Su Lin sedikit mengerutkan keningnya mendengar informasi tersebut.
"Master Sekte itu memata-matai istana kita dari ibu kota?" tanya Su Lin memastikan.
"Tepat sekali. Tapi tenang saja, aku sudah memecahkan cermin rongsokannya itu dengan sedikit tekanan ruang," balas Yang Zhen tertawa pelan.
Hahaha.
"Kupikir dia pasti sedang sibuk mengobati wajahnya yang tergores pecahan kaca sekarang."
Su Lin menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang selalu meremehkan musuh kelas atas.
"Kau memprovokasi penguasa Tahap Langit puncak seolah dia hanyalah anak kecil di jalanan," keluh Su Lin menaruh nampan kayunya ke meja batu.
"Dia pasti akan mengirim pasukan yang jauh lebih kuat dari tiga kakek tua kemarin."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat berat terdengar dari arah pintu masuk pelataran.
Kriet kriet.
Itu adalah golem baja Leluhur Ye yang berjalan kaku menghampiri mereka berdua.
Di belakangnya, Wang Hao dan Mulan ikut berjalan menyusul dengan wajah segar setelah beristirahat.
"Selamat pagi, Bos! Kami mendengar suara tawa dari depan," sapa Wang Hao melambaikan tangannya.
"Apakah ada hal seru yang akan kita lakukan hari ini?"
Mulan langsung menendang betis Wang Hao agar pemuda itu berdiri tegak.
Bugh.
"Jaga sikapmu di depan Guru, Hao," tegur Mulan dengan wajah serius.
"Kita baru saja selamat dari satu invasi, jangan bertingkah seolah kita sedang piknik."
Yang Zhen meletakkan cangkir tehnya di atas meja batu dan menatap murid-muridnya.
"Nona Mulan benar, Hao. Kita tidak punya waktu untuk bersantai hari ini," ucap Yang Zhen memutar lehernya.
Krak krak.
"Ibu kota telah mengetahui lokasiku dan mereka pasti akan mengirim petarung yang membawa alat pelindung gravitasi."
Mendengar ucapan tersebut, Leluhur Ye langsung menepuk jidat logamnya.
Klang.
"Sudah saya duga! Ibu kota memiliki ribuan artefak kuno!" seru Leluhur Ye dengan nada panik.
"Jika formasi luar kita tidak mempan, istana ini akan rata dengan tanah dalam hitungan detik!"
Yang Zhen menatap tajam ke arah pelayan kalengnya itu.
"Berhentilah menangis seperti bayi yang kehilangan susunya, Pelayan Ye," bentak Yang Zhen dengan suara dingin.
"Aku memanggilmu ke mari bukan untuk mendengarkan keluhanmu."
Pemuda itu merentangkan tangannya ke arah bangunan istana.
"Aku punya tugas baru untukmu. Kita akan pergi ke ruang bawah tanah sekarang juga."
Leluhur Ye mundur selangkah dengan gerakan logam yang berdecit kencang.
Kriet.
"R-ruang bawah tanah? Tempat segel iblis itu?" tanya Leluhur Ye ketakutan.
"Apa yang ingin Tuan lakukan di tempat terkutuk itu?"
"Kita akan membangun formasi kedua tepat di atas kolam darah itu," jawab Yang Zhen menyeringai lebar.
"Sebuah Formasi Ekstraksi Hampa."
Su Lin menyipitkan mata birunya, mencoba mencerna istilah aneh tersebut.
"Formasi Ekstraksi Hampa? Kau berniat menyedot darah iblis itu secara langsung?" tanya istrinya dengan nada sedikit khawatir.
"Benar sekali, Istriku. Kultivasiku di Tahap Inti Emas Bintang Tiga sudah terlalu lama tertahan," jelas Yang Zhen mengusap dagunya.
"Aku butuh energi murni dalam jumlah masif untuk menembus batas sebelum anjing-anjing ibu kota tiba di sini."
Wang Hao mengepalkan tinjunya dengan semangat yang meledak-ledak.
"Itu ide yang sangat luar biasa, Bos! Sedot saja seluruh darah monster itu agar kita bisa cepat kuat!" dukung Wang Hao tanpa berpikir panjang.
Mulan kembali memukul kepala botak rekannya menggunakan gagang pedangnya.
Tuk.
"Kau mau Guru meledak karena kelebihan energi iblis?" marah Mulan menatap tajam Wang Hao.
"Energi iblis tidak bisa diserap sembarangan oleh tubuh manusia."
Leluhur Ye menganggukkan kepala logamnya berkali-kali menyetujui ucapan Mulan.
"Gadis kecil ini benar, Tuan Yang Zhen!" seru sang golem kuno.
"Darah iblis itu memiliki kehendak membunuhnya sendiri. Jika disedot secara paksa, monster itu akan terbangun dari tidur lelapnya!"
Leluhur Ye mencoba menggunakan logika akal sehat untuk menghentikan niat gila majikannya.
"Jika iblis itu bangun saat Anda sedang menyerap darahnya, tubuh Anda akan diambil alih dari dalam dan Anda akan berubah menjadi monster tanpa akal!"
Namun, Yang Zhen sama sekali tidak terpengaruh oleh peringatan mematikan tersebut.
Pemuda itu berjalan mendekati golem baja tersebut dan mengetuk dada logamnya perlahan.
Teng teng.
"Kau meremehkan teori ruang hampa ciptaanku, Pelayan Ye," bisik Yang Zhen dengan suara yang sangat percaya diri.
"Aku tidak akan menyentuh darahnya secara fisik."
Pemuda itu memutar tubuhnya dan menatap kolam ikan di sudut pelataran sebagai contoh.
"Bayangkan kolam darah itu seperti kolam ikan ini. Jika kau memasukkan tanganmu, ikannya akan menggigitmu."