Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 Ratu Mafia istri dokter dingin
Di sudut restoran mewah bernuansa remang tempat Mike dan teman-temannya berkumpul, Marco—salah satu kapten kepercayaan Black Viper—sedang menikmati minuman dinginnya. Namun, matanya tak sengaja menangkap sosok Mike yang sedang tertawa sambil memanjakan Putri.
Dengan cepat, Marco merogoh ponselnya dan menekan nomor khusus Sindi.
"Ada apa, Marco?" suara Sindi terdengar datar dan tenang dari balik telepon.
"Ratu, aku melihat Mike Sanjaya bersama kekasihnya di sini," lapor Marco pelan sambil mengawasi dari kejauhan.
Sindi yang saat itu sedang berada di dalam mobil usai membereskan pertempuran di pelabuhan utara hanya menjawab dengan nada santai, tanpa ada riak cemburu atau emosi sedikit pun.
"Biarkan saja, Marco. Aku sudah tahu. Tidak usah campuri mereka. Pindah dari situ," perintah Sindi dingin.
"Baik, Ratu," sahut Marco patuh, lalu segera berdiri dan mengisyaratkan anak buahnya untuk meninggalkan lokasi.
Setelah mematikan telepon, Sindi melirik ke arah kaca spion tengah. "Danu, antar aku kembali ke mansion sekarang."
"Baik, Nona Sindi," jawab Danu seraya memutar kemudi mobil melaju membelah malam.
Sementara itu di restoran, acara kumpul-kumpul santai akhirnya selesai. Mike dan Putri pamit pada teman-temannya, lalu melangkah menuju mobil sports milik Mike.
Di sepanjang perjalanan menyusuri jalanan kota yang makin sepi, Putri terus menempelkan tubuhnya di lengan kiri Mike yang sedang mengemudi. Wajahnya berseri-seri penuh kemenangan.
"Sayang... makasih ya untuk hari ini," ucap Putri manja, menatap wajah tampan Mike dari samping.
"Kamu betul-betul membuktikan cintamu padaku. Aku... sangat mencintaimu, Mike."
Mike mengulas senyum tipis, mengusap lembut jemari Putri. "Aku juga, Sayang. Cuma kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku."
Mike makin mengeratkan pegangan tangannya pada Putri, memberikan rasa aman dan hangat di tengah malam yang makin larut.
Namun, saat mobil melaju di jalanan sepi yang diapit pepohonan rimbun, tiba-tiba dua mobil jip hitam melesat mendahului dan berhenti melintang tepat di depan mobil Mike.
Mike menginjak rem mendadak hingga ban mobil mencicit keras di atas aspal.
Belasan pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam melompat turun. Di tangan mereka, terikat balok kayu, rantai, dan celurit yang berkilat tertimpa cahaya lampu mobil.
"Keluar kalian!" teriak salah satu pria dari luar sambil memukul kap depan mobil Mike dengan balok besi.
BANG! BANG!
Putri yang mendengar teriakan dan pukulan keras itu langsung panik setengah mati. Ia menjerit histeris dan makin erat memeluk lengan Mike, tubuhnya gemetaran hebat.
"Mike! Siapa mereka?! Aku takut!"
"Tenang, Sayang. Aku akan menghadapinya," ucap Mike mencoba menenangkan, meski matanya menatap tajam ke arah kerumunan preman di luar.
"Ta... tapi, Mike... mereka bawa benda tajam dan banyak banget!" cicit Putri sambil menahan lengan Mike dengan tangannya yang gemetar. "Aku nggak mau kamu kenapa-napa!"
Mike memegang kedua pipi Putri, menatap lurus ke dalam matanya dengan yakin.
"Putri... dengar aku. Aku nggak akan biarkan siapa pun melukaimu di depan mata aku. Kamu duduk diam saja di sini ya..."
Mike melepaskan cengkeraman tangan Putri, lalu keluar dari mobil dan membanting pintunya rapat-rapat.
"Mau apa kalian?!" tanya Mike keras, berdiri tegap di depan mobilnya dengan dada membusung tanpa rasa takut.
"Kami mau kamu!" teriak orang-orang itu serempak, lalu langsung melesat maju menghajar Mike.
Meskipun seorang dokter, Mike bukanlah pria lemah. Ia pernah mengikuti pelatihan beladiri semasa kuliah. Ketika pukulan pertama melayang, Mike dengan sigap menangkisnya, lalu melayangkan tendangan lurus tepat di dada lawan hingga tersungkur.
Satu per satu preman serangan itu ia lawan dengan gigih. Pukulan dan tangkisan Mike cukup bertenaga, membuat beberapa preman terkapar di jalanan.
Namun, kalah jumlah tetap membuat Mike kewalahan. Saat ia sedang memukul roboh seorang pria di depannya, sebuah balok kayu tiba-tiba menghantam punggung belakangnya dengan sangat keras.
BUK!
"Ugh!" Mike meringis kesakitan. Pandangannya sempat mengabur dan tubuhnya ambruk tersungkur di atas aspal basah.
Dari kejauhan, di dalam mobil mewahnya yang terparkir di balik kegelapan, Baron—pimpinan sektor timur Red Dragon—mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Matanya menyapu sekeliling lokasi, namun sama sekali tidak menemukan keberadaan Sindi atau pasukan Black Viper.
"Sialan... Dia sama sekali tidak datang," gerutu Baron murka dengan wajah memerah.
"Apakah Sindi memang tidak peduli dan tidak menyukai dokter bodoh ini?! Sial... Sia-sia hari ini!"
Baron menggeram marah karena rencananya memancing Sindi keluar lewat suaminya gagal total.
Sementara itu di jalanan, Mike mengerang pelan. Mengingat Putri yang menangis ketakutan di dalam mobil, amarah Mike mendadak meledak.
Dengan sisa tenaganya, Mike bangun kembali dari aspal. Matanya memerah, dan ia kembali menghajar para preman di sekelilingnya secara membabi buta.
Pukulan mentahnya mengenai wajah dan perut lawan tanpa ampun sampai mereka kocar-kacir.
Di tengah kekacauan itu, Mike berhasil mencengkeram kerah baju satu pria yang sudah tersungkur lemas. Mike menariknya tinggi-tinggi, menatapnya dengan penuh dendam.
"Katakan! Apakah kalian disuruh oleh Sindi Permata?! Jawab aku!" kata Mike dengan nada tinggi yang memecah keheningan malam.
Anak buah itu gemetaran, baru saja hendak membuka mulutnya. Namun, sebelum kata-kata keluar, Baron melangkah keluar dari kegelapan dan berjalan santai menghampiri mereka.
"Mike Sanjaya..." panggil Baron dengan suara berat dan dingin.
Mike menghentikan cengkeramannya, menoleh tajam ke arah Baron. "Siapa kamu?!"
Baron tersenyum sinis, menatap Mike dari atas ke bawah dengan pandangan penuh cemoohan.
"Sampaikan salamku sama istrimu," ucap Baron datar tanpa niat menyerang lagi. "Beritahu dia... aku pasti membalasnya!"
Setelah melontarkan pesan itu, Baron membalikkan badannya dan melambaikan tangan ke udara. "Semua, mundur!"
Anak-anak buahnya yang tersisa segera menyeret teman-teman mereka yang pingsan dan bergegas masuk ke dalam jip, lalu melesat pergi meninggalkan lokasi yang sepi itu.
Mike berdiri terengah-engah di tengah jalan. Punggungnya terasa sangat nyeri, dan sudut bibirnya sedikit berdarah. Namun, kata-kata pria bernama Baron tadi terus bergaung di kepalanya.
Sampaikan salamku sama istrimu... Beritahu dia, aku pasti membalasnya...
Dada Mike berdesir hebat. Jadi... penyerangan ini memang ada hubungannya dengan Sindi?
Mike menyapu sudut bibirnya yang berdarah dengan lengan kemejanya, lalu berjalan pincang kembali masuk ke dalam mobil.
"Mike...!" jerit Putri histeris begitu Mike duduk di kursi kemudi. Ia langsung memeriksa wajah dan tubuh Mike dengan tangan gemetaran. "Kamu nggak apa-apa?! Muka kamu berdarah, Mike!"
Mike mengulas senyum tipis, menepuk pelan tangan Putri untuk menenangkannya.
"Udah, Sayang... Kan aku sudah bilang, aku pasti lindungin kamu."
"Tapi kamu terluka gara-gara aku..." isak Putri pelan.
"Ini cuma luka kecil, bukan salah kamu," bisik Mike lembut, walau pikirannya kini dipenuhi kecurigaan dan kemarahan besar pada Sindi.
Mike menyalakan mesin mobil, lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju kontrakan Putri di tengah keheningan malam.
Bersambung......
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,