NovelToon NovelToon
DI BALIK SENYUM VARA

DI BALIK SENYUM VARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu tak di undang

"Selamat pagi!"

Vara menyapa anggota keluarganya dengan senyum hangat sambil menyajikan sarapan di meja makan.

"Pagi, Sayang."

"Pagi, Nak."

"Pagi, Kak Vara."

"Ayo, kita sarapan," ajak Vara.

Bela langsung duduk di meja makan, lalu menatap Vara.

"Kapan kakak balik?"

"Semalam, Bela," jawab Vara.

"Bagaimana liburannya? Seru nggak?" tanya Diana.

"Seru dong, Mah. Bahkan anak Mama minta tambahan waktu liburan kami." Vara melirik Dirga. "Iya, kan, Sayang?"

Dirga mengangguk. "Seru banget. Ada yang kurang."

"Huss, jangan bahas itu, Sayang," ucap Vara malu-malu.

Diana terkekeh melihat keduanya. "Kalian ini main rahasia-rahasian saja."

"Oh, iya, Kak. Kak Vara mau ke mana? Kok sudah rapi?" tanya Bela memperhatikan penampilan Vara.

"Kakak mau kembali kerja," jawab Vara santai.

"Apa?!"

Diana langsung terkejut. Wajahnya seketika berubah.

Vara kembali bekerja berarti rencana yang selama ini mereka susun bisa terancam berantakan. Selama Vara berada di rumah, mereka lebih leluasa mengatur semuanya. Kalau Vara kembali ke perusahaan, keadaan tentu akan berbeda.

"Kak Vara serius?" Bela menatap Vara dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin. "Emang kakak sudah benar-benar pulih? Atau Kak Dirga nggak kasih Kakak uang yang banyak?"

Vara hanya tersenyum tipis.

"Iya, Vara," sambung Diana. "Mama rasa kamu lebih baik di rumah saja, Nak."

Vara menggeleng pelan.

"Mama, Bela, aku bosan di rumah terus. Mama kan tahu, aku ini suka kerja. Kalau nggak ngapa-ngapain malah aku bosan. Jadi aku memutuskan untuk kembali bekerja."

Diana terkekeh kecil. "Padahal enak, lo, Nak. Tinggal duduk santai di rumah, belanja sepuasnya, tanpa perlu capek-capek bekerja."

Bela ikut tertawa kecil. "Benar itu kata Mama. Tinggal tunggu uang masuk."

Vara ikut tersenyum, seolah ucapan mereka terdengar biasa saja.

"Tapi aku tetap ingin kerja, Mah."

Diana menghela napas pelan. "Vara, kamu juga sedang ingin program hamil, kan? Kalau kamu terlalu sibuk bekerja, nanti malah stres. Lebih baik kamu santai di rumah. Nikmati saja hidupmu. Soal uang, kamu nggak perlu khawatir."

Vara terdiam sejenak, lalu menatap Diana dengan tenang.

"Soal kerja, aku memang ingin kembali. Aku sudah merasa jauh lebih baik dan nggak mau terus-terusan diam di rumah." Ia kemudian tersenyum tipis. "Kalau soal anak, aku serahkan saja kepada Tuhan. Kalau memang waktunya sudah tiba, pasti akan datang."

Diana tampak tidak puas mendengar jawaban itu.

"Tapi—"

"Sudahlah, Mah."

Dirga akhirnya ikut bicara. Ia menatap Vara sebentar sebelum mengalihkan pandangan kepada Diana.

"Kalau nanti Vara merasa kecapekan, dia bisa pulang lebih awal. Nggak perlu dipaksakan."

Diana hendak kembali membantah, tetapi Dirga segera memberinya tatapan singkat yang seolah mengatakan agar ia berhenti.

"Yang penting Vara senang," lanjut Dirga. "Kalau dia memang ingin kembali bekerja, biarkan saja."

Vara menatap suaminya dan tersenyum. "Terima kasih, Sayang."

Dirga membalas senyum itu. "Iya. Aku pasti dukung kamu."

Diana hanya bisa mengangguk pasrah, dengan wajah yang menahan kesal.

"Kalau begitu, terserah kamu saja, Vara. Tapi ingat jangan sampai kecapean, ya."

Vara mengangguk dan tersenyum, sambil mengambilkan lauk untuk Diana.

"Terima kasih, Mama. Aku tahu Mama pasti mendukung aku."

Mereka kembali melanjutkan sarapan.

Diana beberapa kali melirik Vara, lalu diam-diam memberi isyarat kepada Dirga. Dirga yang memahami maksud ibunya hanya mengangguk kecil, seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kalau Vara kembali bekerja, bisa berantakan semua rencanaku. Impianku menguasai semuanya juga semakin jauh, batin Diana.

Tak lama kemudian, Bibi Rati datang menghampiri.

"Maaf mengganggu."

"Ada apa, Bi?" tanya Vara.

"Di depan ada tamu, Nona."

"Tamu?" Vara mengerutkan kening.

"Tamu siapa, Bi?" sahut Diana.

"Saya juga nggak tahu, Nyonya. Katanya dari kantor."

Vara segera berdiri. "Biar aku yang temui." Ia berjalan menuju pintu utama.

Begitu sampai Vara melihat seorang wanita berdiri membelakanginya.

"Siapa, ya?"

Wanita itu berbalik. Senyum tipis langsung terukir di wajahnya.

"Selamat pagi, Bu Vara," sapanya sopan.

Vara menatap wanita itu datar selama beberapa detik. Namun, ia segera mengubah ekspresinya menjadi ramah.

Berani juga wanita ular ini datang ke rumahku.

"Kamu siapa, ya?" tanya Vara lembut, pura-pura tidak mengenalinya.

"Saya Monica, Bu. Sekretaris Pak Dirga."

Vara mengerutkan kening, seolah baru mengetahui hal itu.

"Sekretaris suami saya?"

"Iya, Bu."

"Bukannya sekretaris suami saya laki-laki?"

"Memang benar, Bu. Tapi beliau sudah mengundurkan diri. Jadi, sekarang saya yang menggantikannya."

Vara mengangguk-angguk seolah percaya, padahal ia sudah mengetahui semuanya.

"Oh begitu." Ia kemudian menatap Monica. "Ada apa, Monica?"

"Saya ingin mengantarkan dokumen untuk meeting Pak Dirga pagi ini. Maaf kalau saya lancang datang kemari, Bu. Sejak kemarin saya juga nggak bisa menghubungi Pak Dirga."

Monica mengatakannya dengan nada sopan, seolah kedatangannya benar-benar hanya karena urusan pekerjaan.

"Oh, nggak apa-apa." Vara tersenyum lembut. "Memang kemarin saya sedang liburan dengan suami saya. Jadi, kami sengaja nggak terlalu fokus pada ponsel dan pekerjaan."

Ada penekanan halus pada kalimat terakhir.

Monica terdiam. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya.

Vara kemudian tersenyum lebih lebar. "Kalau begitu, ayo masuk. Kebetulan kami sedang sarapan."

Monica hendak menolak. "Nggak usah, Bu. Saya cuma mau mengantar dokumen, setelah itu—"

"Nggak boleh menolak rezeki, Monica. Ayo."

Vara langsung berjalan masuk tanpa memberi kesempatan pada Monica untuk kembali menolak.

Monica akhirnya mengangguk dan mengikutinya. Begitu masuk mansion, langkah Monica sempat berhenti. Matanya menyapu seluruh ruangan. Perabotan mewah, dekorasi elegan, dan luasnya mansion itu membuatnya terpaku.

Kalau rencana Dirga berhasil, aku akan menyingkirkan Vara. Setelah itu, aku yang akan menjadi Nyonya di rumah ini.

Monica membayangkan dirinya tinggal di mansion tersebut sebagai Nyonya Pratama.

Tanpa Monica sadari, Vara yang berjalan disampingnya memperhatikan tatapan kagumnya.

Pasti dia sedang membayangkan dirinya jadi Nyonya di sini.

Vara menahan senyum kecil.

"Siapa yang datang...?"

Suara Dirga terdengar dari ruang makan. Namun, ucapannya langsung terhenti ketika melihat siapa yang datang bersama Vara.

"Monica?"

Dirga tampak terkejut.

Bukan hanya Dirga. Bela dan Diana yang masih berada di meja makan juga langsung menoleh dan sama-sama terkejut melihat Monica.

"Pagi, Pak Dirga," sapa Monica dengan senyum hangat.

Vara segera menoleh ke arah Dirga. "Oh, iya, Sayang. Kenapa kamu nggak bilang kalau sekarang kamu sudah ganti sekretaris?"

Dirga sempat bingung harus menjawab apa.

"Maaf, Sayang. Waktu itu keadaannya cukup rumit, jadi aku belum sempat cerita."

Setelah menjawab, Dirga langsung menatap Monica.

"Monica, kamu ngapain ke sini?"

"Saya datang untuk mengantarkan—"

"Kamu tuh, Sayang," potong Vara santai. "Nggak membalas pesan sekretaris sendiri sampai dia datang jauh-jauh ke sini."

"Hah?"

Dirga semakin bingung.

Monica segera menjelaskan. "Saya datang membawa dokumen meeting Pak Dirga pagi ini, Pak. Saya sudah mengirim beberapa pesan, tapi Bapak nggak membalasnya."

"Oh, Maaf..." Dirga mengangguk pelan.

Vara kemudian tersenyum kepada Monica. "Maaf ya, Monica. Suami saya kadang lupa pegang ponsel kalau kami sedang berduaan."

Senyum Monica langsung menegang. Ia melirik Dirga dengan tatapan kesal. Jelas sekali ia tidak suka mendengar ucapan Vara.

Vara justru terlihat santai. "Sudahlah, Monica. Ayo sarapan dulu. Nanti urusan kerjaannya bisa dibahas setelah sarapan."

"Eh... iya, Bu. Terima kasih."

"Santai saja."

Vara kemudian menoleh kepada Dirga. "Sayang, nggak apa-apa, kan?"

Dirga yang masih berusaha menyembunyikan kegugupannya segera mengangguk.

"Iya, Sayang. Nggak apa-apa."

Di sisi lain, Diana menatap Vara dengan senyum lega.

Untung Vara nggak tahu siapa Monica sebenarnya...

Tatapan Diana kemudian beralih kepada Monica.

Monica pun kebetulan menatapnya. Keduanya saling berpandangan sejenak, lalu sama-sama menyinggungkan senyum tipis.

1
Ayudya
Dirga tidur mu terlalu nyenyak hingga lupa bangun🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Sabar, Vara ada kejutan🫰🫰😁😁
Meee
vara mending keluarga toxik begitu di lebas secepatnya😡😡
Ayudya
gimana sadar orang matanya Uda ketutup ma batu kerikil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
siapa pun akan berubah ibu diana.apa lagi masalah yg menyangkut pekerja 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
lah Bu Diana menghancurkan Vara yg ada kamu akan hancur di buat ma Vara Bu diana🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ok Dirga nikmati aja dulu masa senang mu kan ntar lagi kamu bakalan kembali kesetalan pabrik🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Karma Be Like: Tunggu aku Monica😁🫰
Ayudya
lah hasil ngerebut songong Lo monika.ntar yg ada kamu nyesel dan malu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
saat rencana kamu berhasil yg ada dirga stres banget🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Kak Dirga, bukan Arga😭🤭😁😂
Ayudya
hadeh monica kamu bilang Arga ga tergoda ma Vara kamu salah Arga sudah tergoda habis oleh vara🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
Bu Diana kalau mimpi jangan siang hari ntar yg ada sakit
Nona Jmn: Wkwkwhhh
total 1 replies
Ayudya
vara kamu jangan kelihatan lemah di depan Dirga dan monika.kamu harus lebih badas lagi biar tau tu si Dirga dan Monika kalau kamu ga gampang di tindas🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn: Kita lihat kejutan Vara, ya🤭
total 1 replies
Nona Jmn
/Sob/
Ayudya
mampir kak
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Ayudya
niat banget Bu Diana dan Dirga buat merebut harta vara
Ayudya
Daras Dirga mokondo tapi banyak tingkah🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!