NovelToon NovelToon
Dulu Aku Pergi Untuk Mati Kini Aku Kembali Sebagai Penguasa

Dulu Aku Pergi Untuk Mati Kini Aku Kembali Sebagai Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Ting.

Pintu lift terbuka di lobi utama hotel bintang lima Surabaya.

Rio Dirgantara melangkah keluar dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan.

Nadia berjalan di belakangnya sambil membawa sebuah map kulit berwarna hitam.

Suasana lobi pagi itu cukup sepi namun ada satu pemandangan yang sangat mencolok di dekat meja resepsionis.

Darmawan yang kemarin tampil sombong dengan jas mencoloknya kini terlihat seperti gembel yang kehabisan darah.

Rambutnya berantakan dan kantung matanya sangat hitam karena tidak tidur semalaman.

Begitu melihat Rio keluar dari lift, pria tua itu langsung berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.

Bruk.

Darmawan langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut tepat di depan kaki Rio.

"Tuan Rio! Ampuni saya Tuan! Tolong hentikan serangan saham Anda sekarang juga!" teriak Darmawan dengan suara serak.

Beberapa tamu hotel dan staf resepsionis terkejut melihat bos Grup Harimau itu bersujud menangis di lantai.

Rio berhenti melangkah dan menatap pria tua di bawah kakinya dengan pandangan jijik.

"Kenapa kamu berlutut di sini Tuan Darmawan?" tanya Rio dengan nada datar tanpa emosi.

"Bukannya kemarin kamu bilang aku ini cuma anak ingusan yang harus belajar sopan santun?" sindir Rio tajam.

Darmawan menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil terus menangkupkan kedua tangannya memohon.

"Saya yang bodoh Tuan Rio, saya yang tidak tahu diuntung karena berani melawan Anda."

"Grup Harimau sudah kehilangan delapan puluh persen nilai sahamnya sejak tadi malam," isak Darmawan putus asa.

"Kalau Anda tidak berhenti hari ini, perusahaan saya dan ribuan karyawan saya akan mati kelaparan Tuan," mohonnya mencoba mencari simpati.

Rio mendengus pelan mendengar alasan klasik dari orang yang sudah kalah.

"Kamu membakar gudangku tanpa memikirkan kerugianku, lalu sekarang kamu menggunakan karyawanmu sebagai tameng?" ejek Rio menggelengkan kepalanya.

"Kamu benar-benar pria tua yang pengecut dan menjijikkan."

Rio memberi isyarat pada asistennya menggunakan ujung jarinya.

Srek.

Nadia menyerahkan map kulit hitam itu kepada Darmawan.

"Apa ini Tuan Rio?" tanya Darmawan dengan tangan gemetar menerima map tersebut.

"Itu adalah surat penyerahan seluruh aset Grup Harimau kepada Grup Sentosa secara sukarela," jawab Rio santai.

"Kamu tandatangani surat itu sekarang, atau aku pastikan sore ini kamu akan memakai baju tahanan polisi," ancam Rio menekan.

Mata Darmawan melotot lebar membaca isi surat perjanjian yang sangat merugikan pihak sebelah itu.

"Tapi Tuan, ini sama saja merampok seluruh jerih payah saya selama tiga puluh tahun!" protes Darmawan tidak terima.

"Tiga puluh tahun membangun perusahaan tapi dihancurkan dalam satu malam karena kesombonganmu sendiri," balas Rio dingin.

"Kamu lupa kalau aku sudah memegang Jono si penjaga malam itu?"

"Dia sudah memberikan kesaksian lengkap beserta bukti transfer dari rekening bayanganmu ke polisi pagi ini."

Wajah Darmawan langsung pucat pasi seputih kertas mendengar nama Jono disebut.

Jantungnya seolah berhenti berdetak karena rahasia sabotase itu sudah terbongkar total.

"Polisi sedang dalam perjalanan ke hotel ini untuk menjemputmu Tuan Darmawan."

"Tanda tangani surat itu, maka aku akan mencabut laporan polisinya dan membiarkanmu hidup tenang di desa," tawar Rio memberikan jalan keluar terakhir.

Darmawan menelan ludah dengan susah payah meratapi nasibnya yang hancur lebur.

Tangan tuanya mengambil pulpen dari saku jasnya dengan gemetar hebat.

Srat srat srat.

Darmawan menandatangani surat penyerahan aset itu di atas lantai marmer sambil menangis sesenggukan.

"Bagus, keputusan yang cerdas dari tikus tua," ucap Rio mengambil kembali map tersebut dari tangan Darmawan.

Nadia segera memasukkan dokumen penting itu ke dalam tas kerjanya dengan senyum puas.

Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi dari luar lobi hotel.

Ninu ninu ninu.

Dua mobil polisi berhenti di depan lobi dan beberapa petugas berseragam masuk dengan cepat.

"Tuan Darmawan, Anda kami tangkap atas tuduhan pembakaran sabotase gudang logistik," ucap seorang komandan polisi tegas.

Darmawan langsung menoleh ke arah Rio dengan wajah panik dan penuh amarah.

"Tuan Rio! Anda bilang akan mencabut laporannya kalau saya tanda tangan!" teriak Darmawan merasa ditipu mentah-mentah.

Rio tersenyum sangat tipis dan mengangkat bahunya dengan santai.

"Aku memang bilang akan mencabut laporanku, tapi sayangnya Jono si penjaga malam itu melaporkanmu atas inisiatifnya sendiri," bohong Rio dengan wajah tanpa dosa.

"Aku tidak punya hak untuk mencabut laporan orang lain kan?" ejek Rio melambaikan tangannya.

"Kau iblis licik! Kau menjebakku!" maki Darmawan meronta-ronta saat tangannya diborgol oleh petugas polisi.

"Bawa dia pergi Pak Komandan, suaranya mengganggu kenyamanan tamu hotel ini," perintah Rio pada pihak berwajib.

Polisi itu mengangguk hormat pada Rio lalu menyeret Darmawan keluar dari lobi hotel.

Sorot mata Rio kembali menjadi datar dan dingin menatap kepergian saingan bisnisnya tersebut.

"Masalah di Surabaya sudah selesai Nadia, urus sisa pembangunan gudang baru secepatnya," perintah Rio berbalik menuju restoran hotel untuk sarapan.

"Baik Tuan Rio, saya akan menunjuk tim kontraktor terbaik hari ini juga," patuh Nadia mengikuti bosnya.

Sementara itu di waktu yang sama di kediaman mewah Grup Sentosa di Jakarta.

Ciap ciap ciap.

Suara burung berkicau merdu di taman belakang yang sangat luas.

Santi duduk di kursi taman yang empuk sambil menyeruput teh hangat rasa melati.

Pelayan wanita berdiri di belakangnya siap sedia melayani setiap kebutuhan wanita tua itu.

"Bi, tolong ambilkan kacamata saya di kamar ya, saya mau lihat bunga-bunga ini lebih jelas," pinta Santi ramah pada pelayan tersebut.

"Baik Nyonya Santi, saya segera kembali," jawab pelayan itu menunduk sopan lalu berlari kecil ke dalam rumah.

Santi tersenyum menikmati udara pagi yang sangat segar dan jauh dari bau selokan rumah petaknya dulu.

Kakinya yang pincang kini sudah tidak terlalu sakit karena kemarin sudah dipijat oleh terapis profesional.

Tangannya merogoh saku piyama sutranya dan mengeluarkan sebuah foto usang yang dilipat rapi.

Itu adalah foto dirinya, Rio yang masih sepuluh tahun, dan Rizky yang masih kecil.

Santi mengusap wajah Rizky di foto itu dengan jari keriputnya perlahan.

"Rizky, kamu sedang apa sekarang nak? Apa kamu sudah makan pagi ini?" gumam Santi dengan dada sedikit sesak.

Meskipun anak bungsunya itu sudah sangat durhaka, tapi naluri seorang ibu tidak bisa berbohong.

Santi tidak membenci Rizky, dia hanya merasa sangat kecewa dan marah pada kebodohan anaknya itu.

"Ibu harap kamu cepat sadar dan berubah menjadi orang yang lebih baik nak."

"Ibu tidak bisa menyuruh Kakakmu untuk memaafkanmu karena kesalahanmu terlalu besar padanya," isak Santi pelan meneteskan air mata menahan rindu.

Santi buru-buru menghapus air matanya saat melihat pelayan kembali membawa kacamatanya.

Dia tidak ingin Rio tahu kalau dia masih memikirkan anak durhaka itu dan membuat Rio bersedih.

Jauh dari kemewahan rumah Sentosa, pemandangan yang sangat bertolak belakang terjadi di tempat pembuangan akhir.

Ngiung ngiung.

Suara lalat hijau beterbangan mengitari tumpukan sampah yang menggunung.

Rizky duduk bersandar di sebuah ban truk bekas dengan nafas yang tersengal-sengal.

Tangannya lecet-lecet dan berdarah karena harus memilah sampah plastik tanpa menggunakan sarung tangan.

Perutnya berbunyi sangat keras menandakan dia belum makan apapun sejak kemarin siang.

"Heh anak baru! Waktunya makan siang!" teriak seorang penjaga bertubuh gempal melempar sebuah bungkusan plastik ke tanah.

Rizky buru-buru merangkak mendekati bungkusan plastik kotor itu dengan mata berbinar kelaparan.

Dia membuka ikatan plastiknya dengan tangan yang gemetar.

Di dalamnya hanya ada nasi putih yang sudah dingin dan keras bercampur dengan sepotong tempe sisa.

Tidak ada sendok, tidak ada kuah, dan baunya sedikit bercampur dengan bau sampah di sekitarnya.

Rizky menatap makanan itu dengan pandangan kosong.

Dulu saat ibunya memasakkan lodeh dan tempe hangat, dia selalu menolak dan malah makan di restoran mahal memakai uang utangan.

Kini sebungkus nasi keras sisa ini terlihat seperti makanan paling mewah yang pernah dia lihat.

Rizky mengambil nasi itu dengan tangan kosongnya yang kotor penuh tanah dan memasukkannya ke dalam mulut.

Kres kres.

Nasi itu terasa sangat kering dan susah ditelan namun Rizky terus mengunyahnya sambil menangis tersedu-sedu.

"Ibu... masakan Ibu enak sekali... Rizky mau makan sayur lodeh Ibu," isak Rizky dengan mulut penuh nasi.

Air mata kotornya menetes jatuh membasahi nasi di dalam plastik tersebut.

Rasa penyesalan yang teramat sangat memukul batin pemuda itu hingga dia merasa ingin mati saja.

"Kak Rio tolong aku Kak, aku tidak kuat kerja begini terus, aku mau pulang," rengek Rizky berbicara sendiri seperti orang gila.

Brak!

Seorang pemulung lain tiba-tiba menabrak bahunya hingga bungkusan nasi itu terjatuh ke tanah.

"Heh kalau makan jangan menghalangi jalan orang!" bentak pemulung itu berlalu begitu saja.

Mata Rizky terbelalak melihat satu-satunya makanannya jatuh berserakan di atas tanah yang bercampur lumpur kotor.

"Makananku! Jangan kotor kumohon!" panik Rizky mencoba memungut butiran nasi itu dari tanah.

Namun lalat-lalat hijau sudah lebih dulu mengerubungi nasi yang berserakan itu.

Rizky hanya bisa menangkupkan kedua tangannya di wajah dan menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan.

Hukuman dari kakaknya benar-benar terasa seperti neraka dunia yang tidak ada ujungnya.

Di Surabaya, Rio yang sedang menikmati sarapan mewahnya tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar di dalam saku.

Dia mengambil ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari nomor anak buah Bos Toni.

Pesan itu berisi sebuah foto yang memperlihatkan Rizky sedang menangis memunguti nasi kotor di tanah.

Terdapat tulisan kecil di bawah foto tersebut.

"Lapor Tuan, target sudah mulai kehilangan kewarasannya di hari kedua, apa kami harus melanjutkan siksaan ini?"

Rio menatap foto adiknya itu dengan ekspresi wajah yang datar tanpa emosi sedikitpun.

Jari tangannya bergerak cepat mengetikkan sebuah balasan singkat yang sangat dingin.

"Lanjutkan sampai utangnya lunas satu koma satu miliar."

Kirim.

Pesan itu terkirim memastikan bahwa penderitaan Rizky masih akan berlangsung sangat lama.

Rio meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali mengiris daging steak di piringnya dengan tenang.

Dia tidak akan pernah merasa kasihan pada orang yang sudah membuat ibunya menderita.

1
kiyoe
hehehe sabar kak 🤭
Sri rahayu
hidup melarat punya anak dajjal tidak berguna .bukannya bantu ibunya malah nyusahin
ceuceu
kejam jg rio
ALEXIS A.😇
thorr.. up dong
kiyoe: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
ceuceu
Alhamdulillah rio ketemu orang baik
kiyoe: iyaa kak alhamdulilah hehe
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
akhirnya kena karma juga anak laknat
Dewiendahsetiowati
dasar anak durhaka,jangan sampai kamu nanti ngaku anaknya Ibu Santi ketika ibumu diratukan Rio
Dewiendahsetiowati
bau2 adik durhaka nih
Dewiendahsetiowati
bikin nyesek bacanya😭😭😭
Dewiendahsetiowati: 1 ibu bisa merawat 10 anak giliran anak merawat 1 orang tua dioper2 bahkan di kasih dipanti jompo😭😭
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
kiyoe: terimakasih kak semoga senang dengan cerita nya 🙏
total 1 replies
Rifqy Channel
author please harus buat Rio ungkapkan dirinya biar ibunya Rio Santi dan Rizky itu semua orang yang hadir juga harus terkejut. dan juga buat Rio putus hubungan dengan rizky supaya tidak kembali. dan Santi ikut ke Rio. 🙏😭😭😭
kiyoe: terimakasih kak atas masukannya
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!