NovelToon NovelToon
Menghempas Keluarga Benalu

Menghempas Keluarga Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.

Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Apa?!

"Perempuan tidak boleh makan paha ayam!" teriak sang nenek.

Naya, seorang gadis kecil, terdiam saat melihat neneknya mengambil ayam goreng yang baru saja ia ambil.

"Paha ayam besar ini harus diberikan kepada Arkan."

Nenek itu menaruh paha ayam tersebut ke dalam mangkuk anak laki-laki yang berdiri di sebelah Naya. Naya hanya menatap mangkuk itu dalam diam. Matanya mengikuti paha ayam yang sebelumnya berada di piringnya, lalu beralih kepada sepupunya yang kini sudah tersenyum lebar.

Anak laki-laki itu segera mengambil ayam tersebut dengan kedua tangannya.

"Terima kasih, Nek!"

"Iya. Cucu kesayangan nenek harus makan yang banyak supaya cepat besar."

Naya menundukkan kepalanya. Tangannya yang masih menggenggam sendok perlahan mengepal. Ia sebenarnya sangat menyukai paha ayam. Baginya, bagian itu adalah bagian paling enak karena dagingnya lebih banyak dan kulitnya terasa renyah.

Namun, setiap kali ada paha ayam di meja makan, neneknya selalu memberikan bagian tersebut kepada anak laki-laki. Seolah ia tidak pernah dibiarkan merasakan lezatnya ayam goreng itu.

"Kenapa Naya tidak boleh makan paha ayam, Nek?" tanyanya pelan.

Neneknya langsung menoleh. "Karena kamu perempuan."

Jawaban itu begitu singkat hingga Naya semakin bingung.

"Memangnya kalau perempuan kenapa?"

"Sudah, jangan banyak bertanya. Perempuan harus mengalah dengan laki laki!"

Naya terdiam lagi. Ia menatap nasi putih di dalam mangkuknya. Lauknya hanya sepotong tahu dan beberapa potong sayur. Sementara itu, sepupunya sudah mulai menyantap paha ayam dengan lahap.

Suara kriuk kulit ayam yang digigit terdengar jelas di telinga Naya. Perutnya terasa semakin lapar. Namun, ia berusaha menahannya.

"Naya juga mau ayam..." gumamnya hampir tidak terdengar.

Nenek tidak peduli, ia segera menatap ke arah cucu laki lakinya yang tengah memakan ayam itu dengan lahap. Naya menatap adik sepupunya itu, sambil menelan salivanya. Naya menghela napas sejenak, sebelum ia berjalan ke meja makan untuk duduk di sebelah sepupunya.

Namun, baru saja ia menggeser kursi sang nenek segera mendorong tubuh kecil itu untuk menjauh.

"Naya! Sudah nenek katakan anak perempuan jangan makan di meja makan!"

Nenek itu menarik tangan Naya dan memintanya untuk duduk di karpet yang berada di depan televisi. Nadira Suryani — sang ibu yang baru saja membawa beberapa masakan ke meja makan segera mendekat ke arah putri dan mertuanya itu.

" Apa yang ibu lakukan? " teriak Nadira.

Nadira segera membantu putrinya untuk berdiri, ia menatap tajam ke arah ibu mertuanya itu.

"Apa yang ibu lakukan! Naya hanya seorang anak kecil, biarkan dia duduk bersama keluarga yang lain."

Nenek itu yang bernama Imah, segera mendengus. "Seorang perempuan harus sadar diri! Anak perempuan tidak pantas duduk di meja makan."

Nadira menatap ibu mertuanya dengan tidak percaya.

"Sejak kapan anak perempuan tidak boleh duduk di meja makan?" tanyanya, suaranya bergetar menahan amarah.

Imah mendengus pelan. "Sejak dulu. Di keluarga kita memang seperti itu."

"Kalau memang seperti itu, bukan berarti Naya harus mengikutinya!"

Nadira memeluk tubuh kecil putrinya yang berdiri di sampingnya. Naya masih terlihat kebingungan. Matanya menatap bergantian antara sang ibu dan neneknya. Ia tidak mengerti mengapa suasana yang awalnya tenang tiba-tiba berubah menjadi tegang.

"Naya cuma mau makan, Bu," ucap Nadira. "Dia lapar."

"Kalau lapar, makan saja di depan televisi. Anak perempuan harus menuruti peraturan keluarga Hermawan!"

Nadira segera menatap ke arah suaminya, seolah meminta pembelaan. Namun, pria itu segera menatap ke arah istri dan ibunya.

"Sudah lah Nadira, biarkan Naya makan disana. Lagi pula ini hari lebaran, tidak baik kita bertengkar bersama keluarga yang lain."

Nadira menatap suaminya itu dengan tatapan kecewa, bagaimana bisa pria itu malah membela ibunya sendiri dibanding dirinya dan putrinya sendiri. Nadira menghela napas, ia tidak mau membuat putrinya sedih.

Ia segera berjongkok dihadapan Naya dan membantu gadis kecil itu untuk duduk di sofa ruang tamu.

"Naya, kamu makan disini dulu ya. Nanti setelah mama selesai masak, mama akan temani kamu."

Naya mengangguk dan tersenyum kecil ke arah ibunya, "Iya mama, Naya tunggu mama disini."

Nadira segera berdiri dan menatap kesal ke arah suaminya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan kembali menuju dapur. Arhan yang melihat sikap istrinya segera menyusul. Ia tahu Nadira sedang menahan emosi, terlebih setelah melihat perlakuan ibunya terhadap Naya.

Baru saja mereka memasuki dapur, Imah sudah lebih dahulu menghampiri mereka.

"Nadira, Arhan. Ibu ingin membicarakan sesuatu."

Nadira dan Arhan segera menoleh. Keduanya menatap wanita tua itu dengan tatapan bingung.

"Ada apa, Ma?" tanya Arhan.

Imah tidak langsung menjawab. Ia justru memasukkan tangannya ke dalam tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih. Wanita tua itu kemudian menyodorkannya kepada Nadira dan Arhan.

"Apa ini?" tanya Nadira.

"Buka saja."

Nadira menerima amplop tersebut dengan raut wajah penuh tanda tanya. Ia membukanya perlahan, lalu menarik selembar surat yang ada di dalamnya. Matanya mulai membaca tulisan di atas kertas tersebut. Arhan ikut mendekat untuk melihat isinya. Beberapa detik kemudian, ekspresi Nadira berubah.

"Apa maksudnya ini, Bu?"

Imah menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Ibu tahu kalian sudah mempersiapkan sekolah yang bagus dan mahal untuk Naya."

Nadira mengerutkan kening. "Lalu?"

"Ibu ingin kalian mengganti pendaftaran itu untuk Arkan."

Nadira terdiam. Ia menatap Imah seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Maksud Ibu, apa?"

"Biarkan Arkan sekolah di sana."

Imah berbicara seolah permintaannya merupakan sesuatu yang sangat wajar.

"Lagi pula, Naya hanya seorang perempuan. Lebih baik dia sekolah di sekolah biasa saja. Biayanya juga jauh lebih murah."

Nadira mengepalkan tangannya.

"Jadi Ibu ingin Naya dipindahkan hanya supaya Arkan bisa memakai sekolah yang sudah kami siapkan untuk anak kami?"

"Ibu bukan meminta kalian memindahkannya," jawab Imah tenang. "Ibu hanya ingin kalian berpikir dengan lebih masuk akal."

"Masuk akal bagaimana?"

"Arkan laki-laki." Imah menatap putranya. "Dia nantinya yang akan membawa nama keluarga. Pendidikan yang bagus lebih penting untuk dia."

Nadira langsung menatap suaminya. Arhan masih terdiam. Ia memandangi surat yang berada di tangan Nadira, kemudian menatap ibunya.

Imah kembali melanjutkan perkataannya. "Naya tidak perlu sekolah di tempat semahal itu. Dia perempuan. Pada akhirnya dia juga akan menikah dan mengikuti suaminya."

Wajah Nadira semakin tegang. "Jangan bicara seperti itu tentang anak saya, Bu!"

1
Noey Aprilia
Mampooosss.....
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡
Heny
Harus berpisah biar nggak di ganggu lg km berhak menentukan sikao
Heny
Mertua pilih kasih
Adinda
laporin aja langsung kok hak orang diambil
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
falea sezi
🤣🤣 arhan liat kelakuan emak mu
Adinda
tinggalin aja punya orang tua seperti itu,apalagi anakmu gak dianggap dan cuma dijadikan atm berjalan
Adinda
jadi selama nadira jadi istri gak dikasih nafkah yang layak semua gaji arhan buat keluarganya begitu thor
Adinda
suruh suamimu nikah lagi bu imah mungkin kamu punya anak kecil laki laki🤣🤣
Adinda
keluarga parasit takut kehilangan atm berjalan kalau arhan cerai sama nadira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!