Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar Maya.
Setelah peristiwa menyakitkan di acara kantor Bagas beberapa hari lalu, kata-kata kekasihnya itu terus berputar seperti kaset rusak di kepala Maya.
“Harusnya kamu dandan agak tebal... Penampilan kamu malam ini beneran bikin aku serba salah!”
Maya berdiri di depan cermin riasnya yang retak di bagian sudut.
Ia menatap wajahnya sendiri—kulit yang kusam karena kurang tidur dan kurang perawatan, serta rambut yang mulai bercabang.
Tangan Maya meraih dompet di atas meja, membukanya, lalu menghitung beberapa lembar uang kertas yang tersisa.
Ada sekitar tujuh ratus ribu rupiah sisa gaji bulanan yang sudah ia alokasikan khusus minggu ini.
"Mungkin Bagas ada benarnya," bisik Maya pada dirinya sendiri.
"Aku terlalu mengabaikan diriku sendiri. Tidak ada salahnya mencoba merawat diri, beli skincare dasar, atau sekali-kali ke salon..."
Maya tersenyum tipis. Ia mengambil ponselnya, mulai mencari referensi produk perawatan wajah dan salon terjangkau di dekat rumahnya.
Rasa percaya dirinya perlahan tumbuh kembali.
Namun, senyum itu sirna seketika saat terdengar ketukan keras di pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
"Maya! Kamu sudah bangun, Nak?" suara Ibu terdengar cemas dari luar.
Maya buru-buru memasukkan uangnya kembali ke dompet dan membuka pintu. "Iya, Bu. Ada apa? Ibu kelihatan panik begitu."
Ibunya menghela napas panjang, wajahnya yang keriput dipenuhi rasa bersalah.
Tangan tua itu memegang sebuah amplop cokelat yang sudah agak lusuh.
"Ini... tagihan listrik dan air bulan ini mendadak membengkak, May.
Belum lagi adikmu, Rian, baru saja menelepon dari sekolah," tutur Ibu dengan suara memelan.
Maya menautkan alisnya. "Rian? Ada masalah apa lagi di sekolahnya, Bu?"
"Uang buku LKS dan iuran kegiatan Pramuka harus dilunasi hari ini.
Kalau tidak, dia tidak boleh ikut ujian minggu depan," jelas Ibu seraya menunduk tak berani menatap mata anak perempuannya.
"Ibu tidak punya uang simpanan lagi, May. Uang pensiun almarhum Bapak baru cair minggu depan."
Rasa hangat dan optimisme yang baru saja mekar di hati Maya mendadak luluh pasak. Pilihan berat kembali bertengger di pundaknya.
"Berapa total semuanya, Bu?" tanya Maya pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Listrik dan air sekitar empat ratus ribu. Uang sekolah Rian tiga ratus ribu..." jawab Ibu lirih.
Tepat tujuh ratus ribu rupiah. Angka yang sangat presisi dengan jumlah uang simpanannya untuk merawat diri.
Maya diam sejenak. Hatinya menjerit, merasakan kekecewaan yang tak bersuara.
Bagas menuntutnya untuk tampil cantik dan elegan seperti wanita-wanita berkarier lainnya, namun Bagas tidak pernah tahu—atau tidak mau tahu—bahwa setiap sen yang Maya hasilkan selalu terserap habis untuk menopang kehidupan keluarganya.
Ibu yang melihat Maya termenung mulai merasa tidak enak.
"Kalau Maya tidak ada uang, tidak apa-apa, Nak. Nanti Ibu coba pinjam ke Tante Lina..."
"Jangan, Bu," sela Maya cepat. Ia memegang kedua tangan ibunya dengan lembut. "Jangan pinjam-pinjam ke tetangga lagi. Biar Maya yang bayar."
Maya berjalan kembali ke meja riasnya. Tangan yang tadi bercita-cita membeli cream malam dan serum wajah,
kini dengan pasrah mengeluarkan seluruh lembaran uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada sang ibu.
"Ini pas tujuh ratus ribu, Bu. Cukup untuk bayar tagihan dan kegiatan Rian," ujar Maya sembari tersenyum tulus, walau matanya menahan genangan air mata.
Mata Ibu berbinar lega, menggenggam tangan Maya erat-erat. "Terima kasih banyak ya, May. Kamu selalu jadi penyelamat di rumah ini. Ibu tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu."
"Sama-sama, Bu. Sudah kewajiban Maya," jawabnya singkat.
Setelah ibunya keluar kamar untuk membayar tagihan, Maya kembali duduk di depan cermin.
Ia menatap deretan produk skincare di layar ponselnya yang masih terbuka, lalu perlahan menutup aplikasi tersebut satu per satu.
Ponselnya kemudian bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bagas.
“May, sabtu ini ada gathering divisi aku lagi di cafe resto. Kamu ikut ya? Tapi tolong, kali ini dandannya yang rapi dan niat dikit ya.”
Maya membaca pesan itu dengan dada yang bergemuruh. Ia mematikan layar ponselnya tanpa membalas sepatah kata pun.
Maya mengusap wajah kusamnya dengan kedua telapak tangan, menyadari sebuah kenyataan pahit: ia terperangkap di antara tuntutan kekasih yang dangkal dan kenyataan hidup yang harus ia tanggung sendiri.