Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantangan Suku Anak Dalam
Setelah mendapat restu dari tetua adat tiga pemuda itu kembali ke sudung tempilak guna menyampaikan berita gembira yang mereka dapat.
Pandi, Genta, dan Meranting berjalan cepat dengan dada membusung gembira. Wajah ketiga pemuda itu itu berbinar-binar.
"Pras! Paman!" panggil Pandi dari luar ambang pintu.
Prasetio yang sedang menyuapkan air hangat ke bibir ayahnya langsung menoleh. Pak Burhan pun ikut mengalihkan pandangannya dengan senyum lemah tapi terlihat makin bertenaga.
Pandi masuk ke dalam disusul Genta dan Meranting yang membawa gulungan tali rotan serta dua bilah beliung bersepuh baja tajam di pinggang mereka.
"Bagaimana, Pandi? Tetua Adat apakah mengizinkan?" tanya Prasetio, ada nada cemas bercampur harap di suaranya.
mereka bertiga duduk melingkar mengelilingi Pak Burhan dan Prasetio, Genta yang pembawaannya tenang itu berkata kalem dengan logat bahasa daerahnya.
"Kito bertigo tadi sudah cakap depan Tetua. Dada kito pasang jadi jaminan! Tetua Adat sudah beri restu terang-terangan. Kau dengan Pak Tua boleh tinggal di sini sampai kaki Pak Tua tegap melangkah lagi!"
"Iyo, Pras!" timpal Meranting antusias. Ia mengacungkan beliung di tangannya dengan gerakan mantap, membuat Prasetio sedikit terkesiap, karena posisi tepat di depan wajahnya.
Pandi tersenyum melihat ulah Meranting yang terlihat gegabah itu karena saking semangatnya. "Awas Meranting beko beliung tajam kena muko kawan tu, berdarah darah pula beko. " Ucap Pandi ikut memakai bahasa setempat sambil tertawa renyah.
Suasa di dalam gubuk itu menjadi penuh tawa karena guyonan Pandi pada Meranting.
Pak Burhan dan Prasetio merasa sangat terhibur berada dekat pemuda pemuda yang terlihat seram kalau di lihat sepintas itu.
"Mulai besok pagi, hopi usah kau risaukan tempat berteduh. Kito be tigo—ditambah budak-budak pemukiman—bakal tegakkan sudung tampilak buat kau dekat aik terjun kecil di hulu!" Ujar Meranting.
Mata Prasetio nampak berkaca tak hentinya dia bersyukur dan mengucap "Terima kasih... Terima kasih banyak, Genta, Meranting, Pandi..."
"Aih, sanak tak usah kau mengalirkan air mata melulu, budak!" Meranting mengibaskan tangannya, tertawa renyah. "Di rimba iko, kalau sudah dikata saudara, pantang kito biarkan berteduh di bawah daun pisang bolong! Besok, kau tengok sendiri bagaimana keahlian kito membuat rumah!" Ucap Meranting.
"Terima kasih banyak atas kebaikan kalian semua. " Pak Burhan bicara dengan sangat santun sambil menempelkan tangan di dada dengan kepala mengangguk hormat pada ke tiga anak muda itu yang duduk mengelilinginya.
Terlihat di sudut ruangan wanita tua yang di panggil Induk itu, sedang asik menumbuk beberapa dedaunan terlihat banyak dedaunan segar dan akar di sekelilingnya. Dia Fokus dengan pekerjaannya hingga mendengarkan saja perbincangan di dalam sudung itu tanpa ikut bicara.
Dia sebenarnya adalah tetua adat wanita yang menguasai ilmu pengobatan. Dalam adat Suku Anak Dalam wanita yang melakukan pengobatan terhadap laki laki harus selalu di temani oleh keluarganya, itulah kenapa Genta dan Meranting selalu ada dekat Induk mulai dari pertama kali Pandi mengajak Prasetio ke sudung itu.
"Paman" ujar Pandi lembut. "Besok pagi kito mulai tebang kayu ulin muda dengan kayu kelat buat tiang utama. Budak Orang Rimba iko kalau sudah megang beliung dengan parang, pakai lama. Kito racik tiangnya, kito pasak pakai pasak kayu jati, pakai paku besi! Atapnya kito anyam dari daun serdang tebal. Dingin kalau panas, hangat kalau malam."
"Iyo, Pak Tua!" potong Genta semangat, matanya berbinar memperagakan gerakan memotong kayu di udara. "Kayu rimba iko kito pilih yang lurus tegap. Kito kupas kulitnya biar dak do dimakan anai-anai. Tali pengikatnya kito pakai rotan manau yang sudah disalai api—kuatnya bisa nahan angin badai! Dalam sehari, sudung tampilak itu sudah bisa kau pakai tidur nyenyak!"
Pak Burhan tersenyum tulus, dadanya berdesir oleh rasa kemanusiaan yang begitu murni dari masyarakat asing ini.
"Dekat dengan dirimu kah sudung yang akan di buat untuk kami nanti Pan? " Tanya Prasetio penasaran karena semalam Pandi memang membahas masalah itu.
"Tidak Pras sesuai perintah dari Tetua Tadi, kamu di buatkan dekat air terjun agar pengobatan Paman Burhan semakin cepat karena bisa langsung menyatu dengan tenaga alam.
Prasetio terlihat manggut manggut mendengar penjelasan Pandi.
Pandi mencondongkan badan. "Tapi Pras, Paman." Ada pantang-larangan adat yang wajib kita pegang teguh. Dalam Rimba ini ada adat turun menurun yang di jaga sejak jaman nenek moyang. "
Pandi berucap dia menyampaikan amanah dari tetua tadi, meski diapun sudah banyak tahu tentang larangan tersebut, dulu pertama kali dia datang ke sini.
Genta dan Meranting ikut fokus mendengarkan penuturan Pandi menyampaikan amanah Tetua adat yang adalah ayahnya sendiri itu.
"Pertama, soal wanita rimba" kata Pandi pelan. "Di sini, wanita terutama para gadis dan Induk sangat dihormati. Pras, kalau kau jalan di semak atau dekat air lalu berpapasan dengan wanita rimba, jangan kau menatap matanya lama-lama, apalagi menyapa duluan kalau dia sedang sendirian. Kalau ingin lewat, tundukkan pandangan, ambil jarak jauh. Jangan sekali-kali menggoda apa lagi menyentuh, walau cuma ujung kainnya. Apa bila Melanggar itu, kamu bisa kena denda adat puluhan kain sarung dan cuci kampung."
"Betul itu, Pras," sahut Genta menimpali dengan nada bersahabat tapi terdengar serius. "Betina rimba itu kehormatan kelompok kito. Tapi kau tidak usah takut, asal kau bertata krama dan menunduk hormat, mereka bakal segan dengan kau." Betina dalam bahasa adat yang artinya wanita.
Pandi melanjutkan, jarinya menunjuk ke arah barat belantara yang pepohonan nya tampak lebih rindang, gelap, dan menjulang tinggi.
"Yang kedua... Soal Hutan Larangan dan Wilayah Cenaku."
Suasana di dalam sudung mendadak hening sejenak. Desir angin yang bertiup menggesek dedaunan di luar terdengar bagai bisikan gaib.
"Di seberang aek bukit kedua," bisik Pandi mantap, "ada kawasan hutan keramat. Di sana tempatnya pohon-pohon Sialang raksasa tempat lebah bersarang, dan tanah tempat bersemayamnya dewa penjaga hutan. Pantang ditebang kayunya, pantang berucap sembarangan dan pantang masuk tanpa dipimpin Tukang Besale."
Meranting maju satu langkah, menaikkan alisnya dengan raut misterius. "Dan ingat Pras! Di balik rimba dalam dekat celah batu hitam... itu wilayah jelajah orang tua-tua kito yang bisa berubah wujud." Ujar nya.
Kito sebut Cenaku manusia harimau penjaga batas adat! Kalau kau mendengar suara auman berat di tengah kabut sore hari, jangan sekali-kali kau panggil atau kau cari asal suaranya. Tetap diam di dalam sudung, bakar kemenyan atau kayu manis, lalu berdoa." Lanjutnya lagi.
Prasetio merinding mendengar penjelasan itu, namun rasa hormatnya pada adat rimba makin membumbung tinggi. Ia mengangguk mantap.
"Kami mengerti, Pandi, Genta, Meranting. Kami berjanji akan mematuhi semua pantang-larang itu. Kami di sini menumpang, dan kami akan menjaga rumah kalian seperti menjaga rumah kami sendiri."
Mendengar jawaban Prasetio yang begitu sopan dan jujur, Genta tersenyum cerah seraya menepuk dadanya hingga berbunyi buk-buk!
"Nah! Itu baru budak jantan namanya! Mantap nian!" begitulah ciri khas Suku Anak Dalam cara mengekspresikan sikapnya bila merasakan gembira memukul dadanya sendiri. Jantan itu artinya pria.
"Selesai sudah urusan cakap-cakap iko!" seru Meranting riang seraya mengaitkan beliungnya di pinggang. "Malam iko kito makan sedap! Akeh tadi sudah pasang jerat dekat alur aek, dapet ubi rimba segar dengan ikan tapah besar! Biar Induk masak dengan bumbu kayu rimba, buat nambah tenaga kito besok pagi biak dak gampang litak" Meranting berucap penuh semangat.
Gelak tawa dan kehangatan kembali memenuhi sudung kayu itu. Di luar, sinar matahari pagi makin benderang, menyinari dedaunan rimba Jambi yang seolah-olah ikut tersenyum merestui awal kehidupan baru bagi Prasetio dan ayahnya.
Pembaca, Kita tinggalkan dulu Prasetio dan Pak Burhan yang sedang melakukan pembersihan jiwa di pedalaman hutan Jambi, kita lihat lagi beberapa bulan ke depan keadaan mereka. Di Bab berikutnya Author akan kembali pada kehidupan Maya yang jauh di kota, berlawanan dengan Prasetio. Tuhan sudah membersihkan kesalahan kesalahan masa lalu Prasetio dan terutama Pak Burhan, dengan kesulitan demi kesulitan yang mereka terima. Terima kasih sudah jauh sampai di bab ini.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇