NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Ketukan di Pintu Depan dan Bayang-Bayang yang Tersingkap

Pagi di Kediaman Ardiansyah disambut oleh kabut tipis dan gemericik gerimis yang membasahi kaca-kaca jendela setinggi tiga meter. Di dalam kamar utama, Naya duduk bersila di atas karpet samping tempat tidur. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan menyisakan lingkaran hitam pekat akibat malam yang panjang tanpa tidur. Di pangkuannya, gelang tasbih kayu milik almarhumah ibunya terlingkar rapat di antara jemarinya yang dingin.

Setiap kali mendengar derap langkah kaki pelayan di koridor luar, jantung Naya berdegup kencang seperti drum perang. Ia merasa seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis eksekusi. Sangkar emas ini mendadak terasa begitu sempit dan mencekik.

Tiba-tiba, suara dengung bel pintu utama menggema lembut namun tegas dari lantai bawah.

Naya tersentak. Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Gavin biasanya sudah berangkat ke kantor Ardiansyah Group sejak satu jam lalu untuk mengawasi langsung proses penghancuran bisnis Rian melalui tim hukumnya. Siapa yang datang sepagi ini?

Rasa penasaran Naya beradu cepat dengan ketakutan saat ia mendengar derap langkah kaki tegap tergesa-gesa menaiki anak tangga kayu jati. Kunci otomatis kamar berbunyi klik, lalu pintu terdorong terbuka.

Gavin berdiri di sana. Pria itu masih mengenakan kemeja putih kemarin yang kini agak kusut, tanpa jas maupun dasi. Matanya merah dan menyimbolkan kelelahan luar biasa, namun raut wajahnya menyiratkan kepanikan yang teramat pekat—sesuatu yang sangat jarang terlihat dari sosok pebisnis dingin seperti Gavin Ardiansyah.

"Naya," panggil Gavin parau. Suaranya rendah, mengintimidasi namun dipenuhi nada mendesak. "Ibu ada di bawah."

Seketika itu juga, darah di dalam tubuh Naya serasa membeku. "I-Ibu...?" bisik Naya dengan nada gemetar hebat. "Ibu mertua... datang?"

"Beliau datang mendadak tanpa memberi tahu," kata Gavin, melangkah cepat masuk dan menutup pintu di belakangnya. Tangannya yang dingin meraih bahu Naya, memeganginya dengan cengkeraman ketat. "Beliau membawakan makanan favoritmu dan bermaksud mengajakmu ibadah bersama pagi ini sebelum acara yayasan."

Naya merasakan Mual mendadak menghantam dadanya. Ibu Gavin—Eleanor Ardiansyah—adalah wanita bangsawan yang sangat taat pada keyakinannya, memegang teguh norma, dan teramat membanggakan kesucian serta latar belakang Naya. Bagi Eleanor, Naya adalah simbol menantu idaman yang taat, lembut, dan sempurna. Jika Eleanor mengetahui bahwa selama tiga tahun ini seluruh status agama, dokumen kependudukan, hingga doa-doa yang diucapkan Naya hanyalah sebuah pemalsuan demi menikahi anaknya... akibatnya tak hanya akan menghancurkan nama baik Ardiansyah, tetapi juga bisa memicu serangan jantung bagi wanita tua itu.

"Gavin... bagaimana ini?" tangis Naya pecah seketika dalam bisikan panik. Tangannya meremas kemeja Gavin. "Aku tidak bisa menemuinya... Wajahku hancur, dan... dan aku tidak bisa berpura-pura lagi, Gavin! Aku tidak sanggup!"

"Kamu harus sanggup," pangkas Gavin tajam, meski matanya memancarkan rasa sakit yang mendalam melihat ketakutan istrinya. Gavin berlutut di depan Naya, tangannya bergerak cepat membelai pipi Naya yang basah oleh air mata. "Dengarkan aku, Naya Farasya. Aku sudah mengunci pintu ini dari luar sejak semalam untuk menyembunyikanmu dari dunia, tapi aku tidak bisa mengusir ibuku sendiri. Jika Ibu curiga kenapa kamu dikurung... Ibu akan membocorkan hal ini ke seluruh keluarga besar."

Gavin merogoh lipatan gaun Naya, mengambil gelang tasbih kayu kokka itu dari jemari Naya, lalu menyembunyikannya ke dalam saku celananya sendiri.

"Gavin, jangan!" rintih Naya.

"Tahan dirimu demi kita berdua, Naya!" bisik Gavin tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Naya. "Pakai gaun yang bersih. Buat dirimu terlihat seperti biasanya. Cukup bertahan selama tiga puluh menit di depan Ibu, setelah itu aku akan membawanya pergi dari rumah ini. Apakah kamu mengerti?"

Naya mengangguk lemah dalam keputusasaan yang meremukkan dada. Kebohongan baru kini dipaksakan lagi di atas tumpukan luka yang belum sempat mengering.

Sepuluh menit kemudian, Naya melangkah turun menaiki anak tangga dengan gaun panjang berwarna merah muda lembut. Riasan tipis di wajahnya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan kepucatan bibirnya dan bengkak di sudut matanya. Di sampingnya, Gavin berjalan menempel ketat, seolah menjadi pengawal pribadi sekaligus sipir yang siap menahan Naya jika wanita itu lepas kendali.

Di ruang tamu yang mewah, Eleanor Ardiansyah tampak berdiri anggun membelakangi mereka, menatap buket bunga mawar yang kemarin sempat berantakan namun telah dibersihkan rapi oleh para pelayan. Eleanor berbalik ketika mendengar gesekan gaun Naya.

"Naya, Sayang!" puji Eleanor dengan senyum hangat yang memancar dari wajah cantiknya yang matang. Ia melangkah maju dengan tangan terentang, merengkuh tubuh menantunya dalam pelukan erat. "Maafkan Ibu ya, datang sepagi ini tanpa mengabari. Ibu sangat merindukanmu."

Naya mematung dalam pelukan itu. Aroma parfum lavender mahal milik ibu mertuanya menusuk hidungnya. Hati Naya menjerit oleh rasa bersalah yang amat dahsyat. Ibu mertua yang memeluknya begitu hangat ini sama sekali tidak tahu bahwa sosok yang didekapnya adalah seorang wanita Muslimah yang memalsukan seluruh identitasnya demi bersanding dengan putranya.

"I-Ibu..." bisik Naya parau, berusaha memaksakan seulas senyum. "Tidak apa-apa, Bu... Naya juga senang Ibu datang."

Eleanor melepaskan pelukannya, lalu mengamati wajah Naya dengan cermat. Dahi wanita tua itu berkerut halus. "Astaga, Naya... Kenapa matamu sembap sekali? Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali, Sayang."

Gavin dengan cepat memotong, merangkul pinggang Naya rapat-rapat. "Naya kurang tidur, Bu. Semalam dia agak demam dan kepalanya pusing, jadi saya menyuruhnya beristirahat seharian."

"Oh, kasihan sekali anakku..." Eleanor mengusap pipi Naya dengan kelembutan seorang ibu. "Pantas saja Gavin terlihat sangat cemas di telepon tadi. Tapi Naya, Ibu ke sini sengaja membawakan kalung salib keluarga peninggalan nenek. Ibu ingin kita berdoa bersama di ruang doa atas kesembuhanmu dan kelancaran bisnis Gavin."

Kata-kata Eleanor menghantam dada Naya bagaikan hantaman gada tebal. Berdoa bersama di ruang doa. Memegang simbol keyakinan yang bukan miliknya.

Naya merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tidak... Ya Allah, jangan lagi... Hamba tidak sanggup lagi menjual iman hamba... jiwanya menjerit pilu.

"Ibu, Naya masih sangat lemas," sela Gavin cepat, menyadari tubuh Naya yang mulai gemetaran hebat di sampingnya. "Mungkin lebih baik Naya makan sup yang Ibu bawa saja dulu di meja makan—"

"Hanya sepuluh menit, Gavin," potong Eleanor lembut namun tak terbantahkan. "Doa bersama keluarga selalu memberikan kedamaian. Mari, Naya."

Eleanor memegang jemari Naya yang dingin lalu menuntunnya menuju koridor barat rumah—ruang khusus ibadah keluarga yang dipenuhi kaca patri berwarna-warni dan altar kayu jati yang indah. Gavin berjalan di belakang mereka dengan raut wajah tegang luar biasa, jemarinya di dalam saku celana meremas erat gelang tasbih kayu milik Naya hingga matanya memerah menahan badai emosi.

Pintu ruang doa terbuka. Harum lilin aromaterapi dan kayu cendana menyergap indra penciuman mereka. Eleanor melangkah menuju altar, menyalakan lilin, lalu mengambil sebuah Alkitab bertepi emas dan kalung salib perak dari tasnya.

"Sini, Sayang. Berlutut di samping Ibu," panggil Eleanor penuh kasih.

Naya berdiri membeku di ambang pintu altar. Kakinya terasa seperti ditancapkan pada pasak besi. Matanya menatap altar kayu di depannya, lalu bergulir menatap Gavin yang berdiri di samping pintu dengan pandangan memohon.

"Naya?" panggil Eleanor heran, menoleh melihat menantunya yang masih berdiri kaku. "Kenapa melamun, Nak?"

"Naya... kemarilah," gumam Gavin pelan, suaranya sarat akan peringatan tersembunyi agar Naya tidak merusak segalanya di depan sang ibu.

Namun, sesuatu di dalam jiwa Naya mendadak pecah. Rasa bersalah pada Allah, rasa sakit karena dikurung, serta siksaan atas kebohongan bertahun-tahun ini mencapai titik kulminasi yang tak lagi mampu ditampungnya. Naya memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa. Air mata mendadak meluncur deras membasahi pipinya tanpa bisa dibendung.

"Naya! Kamu kenapa, Nak?!" Eleanor terperanjat, segera meletakkan kalung itu dan menghampiri Naya dengan raut wajah panik. "Gavin, ada apa dengan istrimu?!"

"Naya!" Gavin bergerak cepat hendak meraih tangan Naya, tetapi sebelum Gavin sempat menyentuhnya, sebuah benda terjatuh kasar dari saku celana Gavin akibat gerakan dadakannya yang tergesa-gesa.

Klitik.

Benda kecil berwarna cokelat tua itu terpental di atas lantai marmer yang mengilap, menggelinding tepat dan berhenti di depan ujung sepatu mahal milik Eleanor Ardiansyah.

Suasana di dalam ruangan ibadah itu seketika menjadi hening yang mencekam. Bahkan bisikan angin dari luar pun seolah mati.

Eleanor menundukkan pandangannya. Matanya membelalak menatap benda yang tergeletak di matanya: sebuah gelang tasbih kayu kokka dengan ukiran kaligrafi arab yang sangat khas.

Gavin membeku total. Wajahnya luntur menjadi pucat pasi. Tangannya yang terulur di udara bergetar hebat.

"A-Apa... apa ini?" gumam Eleanor kebingungan. Sambil mengerutkan kening dalam-dalam, Eleanor membungkuk dan memungut gelang tasbih tersebut. Ia mengamatinya dengan seksama, menyapu butiran-butiran kayu itu dengan jarinya. "Tasbih... Muslim? Gavin, kenapa ada barang seperti ini di sakumu?"

Naya menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah dalam isakan yang begitu memilukan. Seluruh persendiannya meluruh hingga ia jatuh terduduk berlutut di atas lantai marmer ruang doa tersebut.

Eleanor mengalihkan pandangannya dari tasbih itu ke arah Naya yang menangis histeris di lantai, lalu bergulir menatap putranya yang berdiri mematung dengan mata memerah. Firasat buruk yang teramat pekat mulai merayapi pikiran Eleanor.

"Gavin... Naya... Tolong jelaskan pada Ibu," suara Eleanor berubah menjadi sangat dingin dan bergetar hebat. "Kenapa ada tasbih di rumah ini? Kenapa Naya menangis seperti orang yang kehilangan jiwanya setiap kali diajak berdoa?! APA YANG SEBENARNYA KALIAN SEMBUNYIKAN DARI IBU?!"

Gavin mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melangkah maju satu langkah, berdiri tepat di antara ibunya dan Naya, memasang tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi istrinya.

"Ibu... jangan tekan Naya," kata Gavin dengan suara bariton yang dalam, dingin, namun bergelombang oleh keputusasaan mendalam. "Tasbih itu... milikku. Aku yang menyimpannya."

Eleanor menatap putranya tak percaya. "Milikmu?! Jangan bohongi Ibu, Gavin! Kamu dibesarkan dalam keluarga Ardiansyah! Untuk apa kamu menyimpan barang ibadah agama lain?!"

"Ibu, cukup!" bentak Gavin tiba-tiba, membuat Eleanor terlonjak kaget. Gavin menatap ibunya dengan mata menyala oleh gabungan rasa sakit dan obsesi yang pekat. "Apapun yang ada di dalam rumah ini, apapun yang terjadi pada Naya... itu adalah urusan rumah tanggaku! Ibu tidak berhak mencampurinya!"

"Gavin!" jerit Eleanor syok, memegangi dadanya. "Ibu ini ibumu! Dan Naya adalah menantu Ibu! Jika ada hal menyimpang yang terjadi di rumah tangga kalian—"

"TIDAK ADA YANG MENYIMPANG!" raung Gavin, akhirnya pecah di hadapan ibunya sendiri. Air mata pria itu menetes merembesi wajah tampannya. "Naya adalah istriku! Dia adalah wanita yang kupilih, wanita yang kusembah keberadaannya! Mau dia menyimpan tasbih, mau dia membawa seluruh isi dunia ini ke dalam rumahku... dia tetap istriku dan tidak ada satu orang pun—bahkan Ibu sekalipun—yang boleh mengusik atau membawanya pergi dariku!"

Naya meraung-raung dalam sujudnya di lantai, meratapi kehancuran yang kini terhampar nyata di depan matanya. Sangkar emas ini benar-benar telah retak berkeping-keping, menelanjangi seluruh Dosa dan penipuan di bawah pendar cahaya lampu ruang doa yang dingin.

Eleanor mundur beberapa langkah, menatap putra tunggalnya dan menantunya dengan tatapan penuh kengerian dan kekecewaan yang tak terlukiskan. Rahasia besar itu memang belum terucap secara gamblang dari bibir Naya, namun benang kepalsuan yang menyelimuti pernikahan mereka kini telah terkelupas, menyisakan badai kehancuran yang siap meratakan seluruh Kediaman Ardiansyah.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!