Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-7 Desakan Lagi
Damian baru saja kembali fokus pada pekerjaannya ketika ponselnya bergetar di meja. Ia melirik layar dan langsung menghela napas panjang. Nama yang terpampang di sana membuat kepalanya sedikit berdenyut—Mama.
Dengan setengah hati, ia membuka pesan yang baru masuk.
Mama: Damian, kapan kamu menikah lagi? Mama sudah lelah menunggu. Jangan buat Mama cari calon istri untukmu!
Damian mengusap wajahnya. Ini bukan pertama kalinya Diana, Mamanya, mengangkat topik ini. Bahkan, dalam sebulan terakhir, ia dihujani dengan foto-foto wanita dari keluarga terpandang yang katanya 'cocok' dengannya.
Damian: Aku sibuk.
Hanya beberapa detik kemudian, balasan datang.
Mama: Sibuk terus, sampai kapan? Kamu mau menua sendirian? Mama sudah mengatur pertemuan dengan putri teman Mama minggu depan. Datanglah, atau Mama yang akan menyeretmu ke sana!
Damian : Tidak perlu dijodohkan, Ma. Ini bukan jaman siti Nurbaya. Aku akan datang membawa calon istriku sendiri.
Mama : Wow! Baiklah. Mama akan tunggu. Kalau kamu tidak juga membawa calon istrimu ke hadapan Mama. Siap-siap melanjutkan jaman Siti Nurbaya!
Damian mendesah panjang. Ini tidak akan selesai kalau ia tidak segera menemukan solusi. Apalagi ia sudah terlanjur berkata seperti itu. Sudah pasti mamanya akan terus menagih janji itu.
Dan tiba-tiba, wajah seseorang terlintas di benaknya.
Amora.
*****
Setelah semalaman berpikir, Damian akhirnya mengambil keputusan. Esok paginya, saat Amora sedang sibuk di kafe, seorang pria dengan jas putih dan wajah serius tiba-tiba muncul di depannya.
Damian menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. “Kamu punya waktu sebentar?”
Amora yang sedang menuangkan kopi hampir saja menumpahkannya lagi. “Astaga, Dok! Munculnya jangan tiba-tiba begitu, dong! Saya ini manusia biasa, jantungnya bukan titanium.”
Damian tetap dingin. “Aku butuh bantuanmu.”
Amora mengerutkan dahi. “Bantuan? Jangan bilang... Anda mau minta saya jadi donor ginjal?”
Damian menghela napas panjang, menahan dorongan untuk menepuk keningnya sendiri. “Bukan.” Ia lalu menatap Amora dengan intens. “Aku ingin kamu berpura-pura jadi calon istriku.”
Amora terdiam selama tiga detik, lalu tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Aduh, saya baru sadar, Dokter punya selera humor juga!”
Damian tidak tertawa. Ia justru semakin serius. “Aku tidak bercanda.”
Amora langsung berhenti tertawa. Matanya membesar. “Hah?!”
Amora masih menatap Damian seakan pria itu baru saja meminta ginjalnya secara gratis. “Dok, saya nggak salah dengar, kan?”
Damian menghela napas. “Kamu tidak salah dengar.”
Amora menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi penuh skeptisisme. “Saya? Pura-pura jadi calon istri dokter? Astaga, saya memang sering berhalusinasi mau jadi istri orang kaya, tapi ini bukan caranya.”
Damian melipat tangan di dada, matanya tetap dingin seperti biasanya. “Mamaku ingin menjodohkanku dengan wanita pilihannya. Aku tidak tertarik. Jadi, aku butuh seseorang untuk menghalangi rencana itu.”
Amora memutar otaknya cepat. “Terus kenapa saya? Kan banyak wanita lain yang lebih cocok?”
Damian mengangkat alis. “Karena kamu cukup meyakinkan.”
Amora nyaris tersedak ludahnya sendiri. “Meyakinkan dari mana? Dok, saya ini cuma pelayan kafe. Dan kita baru kenal sebentar! Gimana kalau nanti mamanya dokter cari tahu latar belakang saya? Saya nggak bisa bohong soal pekerjaan dan kehidupan saya yang... yah, begini adanya.”
Damian mendekat sedikit, menurunkan suaranya. “Justru itu. Kalau kamu terlalu sempurna, Mama pasti curiga. Tapi kalau kamu tampak tidak mungkin untuk kupilih, dia pasti berpikir aku memang benar-benar menyukaimu.”
Amora memandangi pria itu dengan curiga. “Jadi, intinya dokter mau saya jadi tameng, gitu?”
Damian mengangguk. “Kamu cukup pura-pura jadi calon istriku selama beberapa bulan. Setelah itu, kita bisa cari alasan untuk berpisah secara baik-baik.”
Amora menggigit bibirnya. Tawaran ini gila. Betul-betul gila. Tapi di satu sisi… bayangan bisa mendekati dunia orang kaya cukup menggoda.
“Kalau saya setuju,” katanya ragu, “apa saya dapat bayaran?”
Damian menyeringai tipis, untuk pertama kalinya terlihat seperti seseorang yang bukan manusia es. “Tentu. Aku akan membayarmu dengan jumlah yang pantas.”
Amora menatapnya lekat-lekat. Uang. Sesuatu yang sangat ia butuhkan. Apalagi setelah tabungannya raib.
“Aduh, kok saya jadi kepikiran ya?” gumamnya pelan.
Damian menunggu dengan sabar.
Apakah Amora akan menerima tawaran ini?
Amora menghela napas panjang. Otaknya bekerja keras menimbang tawaran Damian. Uang memang menggoda, tapi ini gila!
“Saya butuh waktu untuk mikir,” katanya akhirnya.
Damian mengangguk. “Baik. Tapi jangan terlalu lama.”
Amora mendengus. “Iya, iya, Dok. Saya ngerti, kok.”
Damian menatapnya sesaat sebelum akhirnya pergi. Amora masih terdiam di tempatnya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
*****
Amora masuk ke rumah dengan perasaan lelah, hanya ingin segera bersantai setelah seharian penuh pekerjaan. Namun, begitu melangkah masuk, hatinya langsung tercekat.
Rumah yang biasa tenang itu kini seperti tempat pertempuran. Kursi terbalik, meja makan pecah, dan benda-benda berserakan. Semua terasa hening, namun ada ketegangan yang menggantung.
“Azka?” panggil Amora dengan cemas. Suaranya bergetar.
Azka muncul dari kamar belakang, berjalan tertatih dengan bantuan tongkat. Wajah adiknya terlihat pucat, matanya sembab, dan ia tampak terkejut sekaligus ketakutan. "Kak, mereka… mereka datang lagi."
Amora buru-buru meraih tangan Azka, menenangkan. “Siapa, Ka? Apa yang terjadi?”
Azka berusaha mengeluarkan kata-kata dengan susah payah. “Preman… yang sering datang. Mereka… bilang ayah menggadaikan rumah, Kak. Katanya kalau nggak bayar, rumah ini jadi milik mereka.”
Amora merasa jantungnya seperti berhenti. Tidak mungkin. Rumah ini satu-satunya yang mereka punya. Dan ayahnya—ayah yang selalu datang hanya ketika butuh uang—terus menerus menyia-nyiakan keluarga mereka.
“Jadi mereka datang lagi?!” Amora tidak bisa menahan amarahnya. “Kenapa kamu tidak memberitahu aku Azka?!” Ia berkata keras, bahkan sampai memekikkan suara, tapi hatinya sangat hancur.
“Mereka datang saat aku baru pulang sekolah,” jawab Azka dengan gugup.
“Maafkan aku ya, Kak. Aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku hanya bisa menyusahkanmu,” lanjut Azka yang merasa bersalah atas keadaannya.
“Sssstttt … tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah. Oke?” Kata Amora yang berusaha menenangkan adiknya.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka terdengar lagi, dan kali ini lebih keras. Seorang pria besar dan berotot muncul di ambang pintu, diikuti oleh dua pria lainnya. Semua membawa ekspresi marah dan ancaman di wajah mereka.
Amora berdiri di depan Azka, melindungi adiknya yang kini sudah sangat ketakutan. “Kalian… siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”
Pria besar itu melangkah maju, menatapnya dengan senyum sinis yang menyakitkan. “Kami datang untuk membereskan hutang ayahmu. Kalau tidak dibayar, rumah ini sudah jadi milik kami.”
“Tidak!” Amora berteriak, dengan tubuh gemetar. “Ini rumah kami! Jangan sentuh rumah ini!”
“Ini masalah hutang, bukan urusan kalian,” pria itu balas dengan keras, kemudian mendorong meja makan hingga Amora terhuyung. “Jangan coba melawan.”
Amora merasa lemas. Kepalanya berputar, dan matanya hampir berair. Ia merasa sangat sendirian di tengah situasi ini. Ayahnya—di mana dia? Lagi-lagi, ia yang harus menanggung segala beban ini sendirian.
“Kak, Kak…” suara Azka memanggil dengan gemetar, semakin panik. "Aku takut…"
Amora mencoba mengatur napasnya, berusaha tetap tegar di depan Azka. “Jangan takut, Azka. Kakak akan selesaikan ini.”
Namun, hatinya tetap meronta. Tidak ada uang, tidak ada pilihan. Ayahnya lagi-lagi mengkhianati mereka dengan cara yang tak bisa diterima.
Suasana semakin menegangkan saat pria besar itu semakin mendekat. “Tunggu saja kalau kami datang lagi. Rumah ini akan segera jadi milik kami.”
“Aku akan membayarnya. Memang berapa hutangnya?” tanya Amora dengan tatapan menantang.
“Lima ratus juta!” jawab pria berotot itu dengan lantang.
“Apa?!” Amora merasa lemas seketika. Namun kedua tangannya mengepal.
“Hutang Surya sudah menumpuk bersama dengan bunganya. Sebulan lalu dia memberikan jaminan sertifikat rumah. Dan kalau dia tidak bisa membayar juga, maka rumah ini jadi milik kami,” ucapnya dengan jelas.
Mereka mulai berbalik untuk pergi, tapi Amora masih terdiam di tempatnya, hatinya bergejolak. Setelah pintu tertutup dengan keras, ia baru bisa melangkah lemas, pelan-pelan menuju ruang tamu.
Azka masih menatapnya dengan penuh ketakutan. Amora mengelus kepala adiknya, berusaha menenangkan. “Kita harus kuat, Azka. Kakak janji, kita nggak akan kalah.”
“Kak, aku bantu cari kerja ya?” ucap Azka lirih.
“Nggak boleh! Kamu fokus sekolah. Oke? Ini semua biar Kakak yang urus,” ucap Amora dengan tegas.
Azka hanya bisa mengangguk pasrah. Tapi, diam-diam ia juga tidak bisa membiarkan kakaknya menanggung semua ini sendiri.
Ia tahu, sekarang semuanya kembali ke dirinya. Tidak ada yang bisa diharapkan dari ayahnya. Dan tanpa pilihan lain, ia harus menemukan cara untuk melunasi hutang-hutang itu.
Kecuali… Tawaran itu dari Damian…