Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK KAKI
"Mbak Sora... maaf mengganggu, ada seseorang yang menunggu Mbak di luar."
Suara Lisa, asisten galerinya, terdengar ragu dari balik pintu kaca ruang kerja Sora.
Sora meletakkan kuas cat minyaknya di atas tatakan kayu. Tangan kanannya yang menegang perlahan rileks saat ia menyapu keringat di keningnya. Sudah dua bulan sejak hari pembebasan di bunker Bogor. Kehidupannya perlahan kembali normal. Galeri seninya kini berdiri atas namanya sendiri secara sah, dan nama-nama yang dulu menghantuinya—Rian, Aris, Danu—telah terkunci rapat di balik dinding hukum.
Sora melepaskan celemek lukisnya, merapikan gaun terusan simpel berwarna krem yang membalut tubuhnya, lalu melangkah keluar.
"Siapa yang datang, Lisa?" tanya Sora lembut sambil memoleskan senyum ramah.
Lisa menunjuk ke arah sudut galeri yang remang, di balik deretan lukisan lanskap alam buatan Sora. Seorang wanita paruh baya berdiri di sana, membelakangi pintu masuk. Wanita itu mengenakan gaun hitam anggun bersiluet klasik dengan selendang sutra yang tersampir di bahunya. Aura dingin dan berkelas menguar kuat dari caranya berdiri.
Ketika mendengar langkah kaki Sora mendekat, wanita itu memutar tubuhnya perlahan.
Sora mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak pelan saat menatap garis wajah wanita itu. Tatapan matanya yang cokelat gelap, tajam, dan penuh perhitungan... persis sama dengan milik Aris.
"Selamat sore, Sora," panggil wanita itu dengan suara bariton halus yang sarat akan dominasi. "Senang akhirnya bisa melihat langsung sosok wanita yang membuat putraku kehilangan akal sehatnya."
Sora menelan saliva, mengepalkan jemarinya di samping tubuh. "Anda... ibu Aris?"
Wanita itu tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan. "Namaku Helena. Dan ya, aku ibu dari Aris."
Dada Sora naik-turun tak beraturan. Bayangan malam-malam mencekam di bunker mendadak melintas di ingatan, membuat buku-buku jarinya memutih karena tegang.
"Mau apa Anda ke sini?" tanya Sora tegas, memaksakan suaranya agar tidak terdengar gentar. "Aris dan kawan-kawannya sudah menerima hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka. Jika Anda ke sini untuk membela mereka—"
"Membela mereka?" Helena tertawa tawar, sebuah tawa halus yang terasa amat sangat dingin. Ia melangkah satu tapak mendekati kanvas lukisan Sora yang belum selesai. "Aris dan Danu adalah dua anak muda bodoh yang terbawa emosi mentah. Mereka merusak rencana besar keluarga kami hanya demi obsesi picisan pada seorang wanita."
Helena menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata Sora dengan binar mata yang begitu tajam.
"Aku ke sini bukan untuk membela Aris, Sora. Aku ke sini untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak milik keluargaku."
"Galeri ini berdiri di atas aset almarhum ayahku yang dipulihkan negara!" balas Sora cepat. "Anda tidak punya hak sedikit pun atas tempat ini!"
Helena merogoh tas tangan kulitnya, mengeluarkan sebuah map tipis berwarna abu-abu, lalu meletakkannya di atas meja kaca di antara mereka.
"Buka dan baca sendiri, Sora," ucap Helena tenang.
Dengan tangan yang gemetar halus, Sora mendekati meja dan membuka map tersebut. Di dalamnya tertera salinan dokumen surat utang dan pengalihan sertifikat tanah kompleks galeri seni tersebut.
Tanggal yang tertera di surat itu adalah sepuluh tahun lalu—jauh sebelum Rian maupun Aris masuk ke dalam hidupnya. Dan nama pemegang hak tanggungan pertama yang membiayai seluruh pembelian tanah galeri tersebut adalah... almarhum Ayah Sora, tetapi dengan tanda tangan saksi tunggal: Helena Kusuma.
"Ayahmu tidak sebersih yang kamu kira, Sora," bisik Helena intim, melangkah mengikis sisa jarak di antara mereka. "Sebelum Aris dan Rian menjebak bisnismu lima tahun lalu... ayahmu lebih dulu menjual setengah dari aset rahasianya kepada perusahaan milikku untuk menutupi judi sahamnya di luar negeri."
Sora membelalakkan mata, memegang tepi meja karena lututnya mendadak terasa lemas bagaikan jelly. "Ngg-nggak mungkin... Ayahku tidak mungkin..."
"Ayahmu adalah manusia biasa yang penuh celah, Sora. Sama seperti Rian, sama seperti Aris," potong Helena dingin. "Dan surat tanah yang kamu pijak saat ini... sebenarnya masih atas namaku."
Sora menatap wanita tua anggun di hadapannya dengan air mata ketakutan dan kebingungan yang kembali menyeruak di dadanya. Perjuangan dan kebebasannya yang baru dirajut selama dua bulan mendadak terasa berguncang hebat di bawah pijakan kakinya.
Helena menyisipkan sehelai rambut Sora ke belakang telinganya dengan usapan sarung tangan kulit yang sangat dingin, menyulut bulu kuduk Sora merinding hebat.
"Aku berikan kamu waktu tiga hari, Sora..." bisik Helena dengan nada bariton yang amat sangat mengancam di samping telinga Sora.
"Kosongkan galeri ini dan serahkan seluruh lukisanmu padaku... atau aku buka semua dokumen kejahatan finansial almarhum ayahmu ke media besok pagi?"