NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

​Sisa aura kemenangan dari penyusupan simulasi level empat tadi malam masih menyisakan kelelahan di persendian Aria. Namun, Devan Argantara bukanlah pria yang mengenal kata puas dalam hal kesiapan taktis. Hanya berselang beberapa jam, sebelum fajar menyingsing di atas bukit markas, Devan kembali menyeret Aria ke fasilitas latihan Bawah Tanah Sektor Tiga—sebuah area pengujian tertutup yang dirancang khusus untuk mereplikasi skenario kekacauan ekstrem di ruangan terbatas.

​"Pengujian tahap akhir," suara Devan bergema dingin melalui sistem pengeras suara internal dari dalam ruang kendali berdinding kaca tebal. "Di Kasino Royale nanti, Hector Vane tidak akan ragu mengunci seluruh sektor dan mengaktifkan protokol pembersihan total jika peretasanmu terdeteksi. Kamu harus membuktikan bahwa kamu bisa meretas master terminal di bawah ancaman kegagalan sistem otomatis."

​Aria berdiri di tengah area simulasi. Di depannya berdiri sebuah konsol terminal baja bertingkat yang dikelilingi kabel-kabel tebal bertegangan tinggi. Berbeda dari simulasi sebelumnya, ruangan ini dipenuhi beban daya listrik nyata untuk menguji daya tahan alat peretas portabel Aria terhadap interferensi gelombang elektromagnetik.

​"Mulai," perintah Devan singkat.

​BZZZZT!

​Lampu indikator di sekujur dinding seketika berganti menjadi warna oranye pekat. Aria bergerak cepat. Ia berlutut di depan konsol utama, menancapkan peranti flashdisk titanium miliknya, lalu membiarkan jemarinya menari cepat di atas papan ketik mekanis. Garis-garis kode bergerak cepat di layar monitor mini miliknya.

​Namun, di dalam dinding ruang kendali, Marco yang mengawasi generator daya mendadak membelalakkan matanya. Jarum indikator tekanan listrik di papan instrumen melonjak drastis melewati garis merah.

​"Tuan Devan! Ada fluktuasi daya dari peladen utama Bawah Tanah Sektor Tiga!" seru Marco panik, jemarinya bergegas menekan tombol penghentian darurat. "Sistem pendingin busi otomatis gagal merespons! Trafo listrik simulasi mengalami lonjakan arus berlebih!"

​Devan berdiri tegak secara instan. Iris mata kelamnya menangkap pijar api biru yang mendadak muncul dari sirkuit utama di bawah platform tempat Aria berada.

​BOOM!

​Sebuah ledakan arus listrik berskala sedang menghantam panel utama di dekat konsol Aria. Percikan api berukuran besar menyembur kencang, menghancurkan kaca pelindung terminal dan melempar tubuh kecil Aria hingga jatuh terjerembap ke atas lantai beton tebal!

​"Aria!" pekik Devan. Suara dingin dan tenang yang biasanya melekat pada dirinya lenyap seketika, digantikan oleh nada kepanikan liar yang belum pernah didengar siapa pun sebelumnya.

​KLANG! KLANG! KLANG!

​Sistem keamanan darurat fasilitas yang mendeteksi adanya kebakaran otomatis mengaktifkan Protokol Isolasi Bahaya. Pintu baja pelindung ruang simulasi tebal berkapasitas sepuluh ton mulai meluncur turun dengan cepat untuk mengurung area kebakaran dari sisa kompleks markas.

​"Pintu otomatisnya terkunci! Tombol override tidak merespons!" teriak Marco, terus mengetuk papan kendali yang kini dipenuhi warna merah bertuliskan GAGAL SISTEM.

​Tanpa berpikir dua kali, Devan memutar tubuhnya dan berlari kencang keluar dari ruang kendali. Pria itu menuruni tangga besi dengan langkah-langkah lebar yang seperti menembus angin.

​Di dalam ruang simulasi, asap hitam tebal bercampur bau plastik terbakar mulai memenuhi udara dengan cepat. Pipa gas pendingin ruangan pecah akibat lonjakan arus, menyemburkan gas freon dingin yang beracun jika terhirup dalam jangka panjang.

​Aria terbatuk-batuk hebat di atas lantai. Bahu kirinya menghantam sudut platform baja saat terlempar tadi, menyebarkan rasa nyeri menjalar di sekujur lengannya. Penglihatannya samar-samar akibat asap pekat, dan napasnya mulai terasa sesak.

​"Sial..." bisik Aria terengah-engah, mencoba merangkak menjauhi kabel-kabel berisiko sengatan listrik yang melilit liar di lantai.

​Di pintu masuk utama, pintu baja raksasa telah turun hingga menyisakan celah kurang dari setengah meter dari lantai.

​"Tuan Devan, jangan masuk! Ruangan itu penuh gas beracun dan kebocoran arus!" teriak Marco dari atas koridor.

​Devan tidak memedulikan peringatan itu. Tanpa ragu sedikit pun, pria berjas tegap itu menjatuhkan tubuhnya, meluncur mulus melintasi celah sempit di bawah pintu baja yang hampir menyentuh tanah, dan menerobos masuk tepat sebelum pintu itu menutup rapat dengan dentuman keras!

​BAM!

​Ruangan simulasi kini terkunci total dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh kobaran api sirkuit dan pendar lampu darurat yang merah membara.

​Devan bangkit berdiri, menggunakan lengan kemejanya untuk menutupi hidung dan mulutnya dari asap pekat. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan cepat hingga menangkap sosok Aria yang terbaring lemah di dekat sudut platform.

​"Aria!"

​Devan melompati kabel-kabel bertegangan tinggi yang memercikkan api di lantai, memangkas jarak dalam hitungan detik. Ia berlutut di samping Aria, mengangkat kepala dan bahu wanita itu ke dalam dekapannya.

​"Aria, buka matamu! Lihat aku!" panggil Devan, suaranya berat dan sarat akan ketakutan mendalam yang tak mampu ia sembunyikan lagi.

​Aria membuka matanya perlahan, melihat wajah Devan yang berada sangat dekat di atasnya. Di balik asap pekat dan pendar api merah, ia bisa melihat raut wajah sang bos mafia yang biasanya tak tersentuh kini dipenuhi kecemasan murni.

​"Devan... kamu... kenapa masuk?" bisik Aria dengan suara serak, terbatuk pelan.

​"Diam," potong Devan tegas. Pria itu menyusupkan tangan kekarnya ke bawah lutut dan punggung Aria, mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya tanpa memedulikan berat beban atau bahaya di sekeliling mereka.

​SPARK!

​Sebuah tiang kabel di samping mereka mendadak roboh, memercikkan percikan api listrik yang mengarah langsung ke tubuh Aria. Refleks Devan bekerja secepat kilat—ia memutar tubuhnya, menggunakan punggung tegapnya sendiri sebagai perisai untuk melindungi Aria dari semburan api dan percikan besi panas.

​Devan meringis pelan saat kain jas mahalnya robek dan panas percikan menyengat punggungnya, namun cengkeraman tangannya pada tubuh Aria tidak mengendur sedikit pun.

​"Pegang leherku rapat-rapat, Aria!" perintah Devan rendah di dekat telinga wanita itu.

​Aria menuruti perintah itu tanpa ragu. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Devan, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, mendengarkan detak jantung Devan yang berdegup kencang dan liar—sebuah bukti nyata bahwa pria yang sering dianggap tak berhati ini sedang panik setengah mati demi dirinya.

​Devan membawa Aria berlari menuju saluran pembuangan udara darurat di bagian belakang ruangan—satu-satunya jalur evakuasi manual yang tidak terhubung ke sistem kelistrikan otomatis.

​Menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa, Devan menghantam kait besi penutup saluran udara dengan tendangan keras hingga engselnya jebol. Udara segar dari luar seketika berhembus masuk, mengikis asap pekat yang menyelimuti mereka.

​Devan melompati ambang pintu saluran darurat, membawa Aria keluar menuju lorong evakuasi yang aman. Begitu kaki mereka menyentuh lantai bersih, Devan mendudukkan Aria dengan sangat perlahan di atas sebuah bangku besi.

​Devan berlutut di depan Aria, kedua tangannya yang besar menangkup wajah lembut Aria, memeriksa setiap senti kulit dan tubuh wanitanya dengan pandangan mata yang gemetar.

​"Mana yang sakit? Bicaralah, Aria! Mana yang luka?" tanya Devan tergesa-gesa, suaranya dalam dan bergetar.

​Aria menatap lurus ke dalam iris mata kelam Devan. Di bawah pencahayaan lampu lorong yang terang, ia melihat noda jelaga di pipi Devan, rambut pria itu yang sedikit berantakan, serta kain jas punggungnya yang hangus terbakar. Pria yang memegang kendali atas ribuan nyawa di dunia bawah tanah ini baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan seorang peretas yang seharusnya cuma menjadi 'alat' operasinya.

​Aria mengulurkan tangannya yang gemetar, menyapu perlahan noda hitam di pipi tegap Devan. "Aku cuma memar di bahu... dan sedikit sesak. Kenapa kamu melakukan ini, Devan? Kamu bisa mati di dalam sana."

​Devan membeku sejenak merasakan sentuhan jemari halus Aria di wajahnya. Tatapan matanya yang tajam perlahan melunak, memancarkan kehangatan dan rasa kepemilikan yang teramat dalam hingga membuat dada Aria berdesir hebat.

​Devan menggenggam jemari Aria yang berada di pipinya, menekan telapak tangan wanita itu rapat-rapat ke kulit wajahnya sendiri.

​"Aku sudah pernah bilang padamu, Little Bird," bisik Devan dengan suara rendah yang mengikat seluruh jiwa Aria, "kamu adalah kunci dari segalanya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan apa pun di dunia ini merenggutmu dariku... bahkan jika tempat ini harus kubakar habis."

​Aria menahan napasnya, terkunci dalam tatapan mata Devan yang sarat akan dominasi, ketakutan akan kehilangan, dan ikatan berbahaya yang kini telah melampaui batas kesepakatan bisnis di antara mereka. Di koridor yang dingin itu, di balik sisa asap simulasi yang lepas kendali, Aria menyadari satu hal yang pasti: Devan Argantara telah menyerahkan satu bagian dari jantungnya ke dalam genggamannya.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!