Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - NAMA YANG SAMA, DAUN YANG BERBEDA
Lin Feng bangun sebelum ibunya menyalakan tungku.
Ia tidak tidur nyenyak. Setiap kali berganti posisi, rusuknya mengingatkan bahwa tubuh ini belum pulih. Namun rasa sakitnya tidak setajam kemarin, dan kepalanya tak lagi berdenyut setiap kali ia membuka mata. Dari kamar, ia mendengar suara ibunya menimba air dan langkah ayahnya di halaman.
Dunia tidak menunggu sampai ia merasa siap.
Ketika ia keluar, ayahnya sedang membetulkan gagang cangkul. Ia mengangkat wajah, memperhatikan Lin Feng berdiri sendiri.
“Kau mau ke mana?”
“Ke halaman.”
“Kalau begitu, jangan berpura-pura sudah sembuh.”
“Aku hanya ingin berdiri.”
Ayahnya mengangguk seolah itu jawaban yang cukup. Lin Feng melangkah ke bangku di dekat pintu. Otot pahanya terasa berat setelah beberapa langkah, tetapi ia sampai tanpa perlu ditopang. Baginya, itu kemenangan kecil yang tidak datang dengan kilatan cahaya atau bunyi pemberitahuan.
Tak lama kemudian, Wu Shun datang membawa kendi kecil dan gulungan kain.
“Obat dari tabib,” katanya sambil menyerahkan gulungan itu kepada ibu Lin Feng. “Oleskan tipis di bagian yang memar. Jangan biarkan dia menghabiskan setengah kendi hanya karena mengira obat lebih banyak berarti sembuh lebih cepat.”
“Aku tidak akan melakukannya,” kata Lin Feng.
Wu Shun meliriknya. “Bagus. Orang yang bilang begitu biasanya yang paling ingin melakukannya.”
Ibunya membuka kain. Di dalamnya ada sebuah pot kecil berisi salep cokelat kehijauan. Aromanya menusuk hidung Lin Feng—pahit, bersahaja, dengan sedikit bau minyak. Ia pernah melihat pil pemulihan dasar di menu alkimia game, tetapi salep ini tidak menyerupai benda apa pun dalam ingatannya. Ia tidak tahu bahan-bahannya atau cara pembuatannya.
“Boleh aku lihat?” tanyanya.
“Lihat saja,” jawab Wu Shun. “Jangan dijilat.”
“Memangnya ada orang yang menjilat obat?”
“Pamanmu pernah melakukannya.”
“Aku bukan pamanmu.”
“Kalau begitu, jangan mulai.”
Ayah Lin Feng terkekeh. Suasana di halaman terasa ringan, tetapi Wu Shun tampak sungguh-sungguh ketika ia menjelaskan cara mengoleskan salep. Ia tidak menganggap obat itu barang ajaib. Jumlahnya harus cukup tipis agar menempel, dan tidak boleh dibubuhkan pada luka terbuka. Aturan sederhana, diperoleh dari pengalaman dan kesalahan orang-orang yang hidup di sekitar mereka.
Setelah salep dioleskan, Wu Shun berjongkok di dekat pagar untuk memeriksa rumpun tanaman yang tumbuh di sana. Lin Feng memperhatikannya dari bangku.
“Rumput urat perak?” tanyanya.
“Yang itu.” Wu Shun menunjuk daun-daun ramping yang berkilau pucat. “Kau memperhatikannya kemarin.”
“Daunnya punya garis seperti urat.”
“Karena itu namanya.”
Lin Feng menunjuk tanaman lain yang tumbuh di sela-selanya. Daunnya hampir sama panjang, tetapi warnanya sedikit lebih gelap dan tepinya bergerigi. “Yang itu juga rumput urat perak?”
Wu Shun menatap tanaman tersebut, lalu melirik Lin. “Tidak. Itu rumput duri kelabu. Tumbuh di tempat yang sama, dan dari jauh memang mudah tertukar. Tabib desa tidak membelinya.”
Lin Feng menahan diri. Di game, bahan yang ia kenal memiliki bentuk daun serupa. Namun gambar dalam menu berwarna cerah, bersih, dan selalu ditampilkan dari sudut yang sama. Ia belum tahu apakah tanaman itu sama dengan yang tumbuh di dunia ini. Ia hanya memiliki nama yang cocok.
“Bagaimana membedakannya?”
“Lihat tepinya. Rumput urat perak halus di sisi daun. Yang itu punya gigi kecil.” Wu Shun mengambil satu daun yang sudah layu dan memberikannya kepadanya. “Jangan hanya melihat warna. Daun muda rumput duri lebih pucat. Kalau hanya mengandalkan warna, kau akan salah.”
Lin Feng memutar daun itu di antara jari. Serat-serat kecilnya menempel pada kulit. Ia mencium aromanya, tetapi hidungnya belum tahu apa yang harus dicari.
“Apa akibatnya kalau tertukar?”
“Kalau kau cuma menyentuhnya, tidak ada apa-apa. Kalau kau merebusnya untuk obat, hasilnya akan pahit dan tidak berguna. Mungkin membuat perut sakit kalau diminum banyak.” Wu Shun merebut daun itu sebelum Lin meremasnya terlalu keras. “Orang-orang yang mengumpulkan bahan untuk dijual belajar membedakan keduanya. Yang terburu-buru akan membayar dengan waktu dan uang.”
Kalimat itu membekas di benaknya. Dalam game, kesalahan biasanya berarti bahan terbuang atau angka keberhasilan berkurang. Di sini, kesalahan itu akan menunda pekerjaan seseorang, mengurangi uangnya, atau membuat orang sakit. Tak ada layar yang mengembalikan waktu.
“Di kota, alkemis menggunakan rumput urat perak?”
“Entahlah. Aku menjualnya kepada tabib dan pengumpul bahan. Mereka yang tahu akan membawanya lebih jauh.” Wu Shun mengikat kembali gulungan kain. “Aku menanamnya karena tabib membeli dalam jumlah tetap. Itu cukup bagiku.”
Jawaban itu biasa saja. Wu Shun tidak sedang menyembunyikan resep rahasia atau menunggu Lin Feng meminta bimbingan. Ia menanam tanaman, menjual hasilnya, dan memakai uang itu untuk kebutuhan rumah tangga. Pekerjaan sederhana itu memiliki batas dan hitungannya sendiri.
Lin Feng memandang kebun kecil tersebut. Ada keranjang anyaman, gunting besi tua, dan beberapa daun yang telah dipisahkan berdasarkan ukuran. Tidak ada tungku, tidak ada api spiritual, tidak ada aura yang membuat tanaman bersinar. Namun Wu Shun tahu di mana rumput tumbuh, kapan memotongnya, dan bagian mana yang akan ditolak pembeli.
“Kalau aku sudah pulih,” kata Lin Feng, “bolehkah aku belajar membedakannya?”
Wu Shun memiringkan kepala. “Untuk apa?”
“Aku ingin tahu lebih banyak tentang tanaman obat.”
“Kemarin kau bahkan tidak peduli pada tanaman.”
“Aku berubah pikiran.”
“Orang biasanya berubah pikiran setelah melihat harga jualnya.” Wu Shun mengangkat kendi kosong. “Kalau kau sungguh ingin belajar, mulailah dengan menghafal dua jenis yang tumbuh di halaman ini. Jangan memetik apa pun sampai kau bisa membedakannya tanpa bertanya.”
Itu bukan tawaran menjadi murid. Tidak ada janji bahwa ia akan mengajarkan alkimia atau membuka jalan menuju sekte. Hanya syarat kecil yang wajar dari seseorang yang tak ingin tanamannya rusak.
Lin Feng mengangguk. “Aku akan mengingatnya.”
“Jangan cuma mengingat. Lihat.”
Wu Shun beranjak pergi. Lin Feng mengikuti gerak tanaman yang bergoyang ketika lelaki itu menutup pagar. Kini ia bisa melihat perbedaan bentuk di antara kedua daun, tetapi kalau diminta mengenalinya di antara banyak rumpun, ia masih bisa keliru.
Ia teringat daftar bahan dalam game dan menyadari betapa sedikit yang sebenarnya ia ketahui. Nama bisa sama, bentuk bisa mirip, tetapi dunia tidak berkewajiban menyesuaikan diri dengan gambar yang ia hafal. Jika ia ingin menggunakan pengetahuan itu, ia harus membangun ulang cara memahami setiap bahan dari tanah, cuaca, dan tangan orang yang menanamnya.
Di dalam rumah, ibunya memanggilnya untuk sarapan. Ia menoleh, lalu menatap tanaman sekali lagi.
Kali ini ia tidak membayangkannya sebagai ikon bahan di layar.
Ia mengingat daun halus, tepi bergerigi, dan rasa getir yang mungkin belum ia kenali.