【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34- Di Bawah Bayang- Bayang Gelanggang
Menjalani hubungan tanpa status resmi setelah putus via layar HP ternyata punya sensasi tersendiri yang unik dan menggelitik. Di luar, tidak ada satu pun orang di SMA Negeri kami yang tahu bahwa ikatan asmara itu sebenarnya sudah kandas di atas kertas. Di mata Diko, para guru, dan anak-anak sekelas X IPA 2, aku dan Nara masih tercatat sebagai pasangan paling serasi di barisan belakang.
Tapi bagi kami berdua, status itu cuma formalitas kosong.
Faktanya, Nara masih tetap bersikap sebagai cewek yang paling berhak mengatur keseharianku. Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, dia pasti melirik ke arah bangku belakang untuk memastikan aku tidak datang terlambat atau keluyuran malam sebelumnya. Sesekali, dia bahkan masih rajin memeriksa isi tasku atau mencomot jajanan yang kubeli di kantin.
"Nandut, kamu semalam begadang ya? Matanya agak berkantung gitu," tegur Nara suatu pagi sambil meletakkan buku catatan di mejaku dengan gaya galak manisnya yang khas.
Aku mendongak, menyunggingkan senyum tipis sambil mengusap mata. "Gak kok, Antet. Cuma agak larut malam ngerjain tugas sambil mikirin kamu."
"Alah, gombal!" balas Nara sambil merona merah, meski sudut bibirnya jelas-jelas tertarik menahan senyum bahagianya.
Meskipun hubungan rahasia kami adem ayem dalam selimut kerahasiaan itu, duniaku di luar kelas mulai mengalami pergeseran besar. Memasuki pertengahan tahun ajaran kelas X, intensitas latihan pencak silat di sekolah mendadak meningkat drastis.
Mas Teguh, pelatih kepala kami, memanggilku usai latihan sore di aula bawah. Wajahnya serius, memegang lembaran formulir seleksi tingkat kabupaten dan provinsi untuk ajang olahraga pelajar terbesar: Pekan Olahraga Nasional (POPNAS).
"Satria, tenaga dan ketahanan fisikmu udah masuk standar buat turun di kelas tanding remaja," kata Mas Teguh tegas sambil menepuk bahuku yang basah oleh cucuran keringat. "Tapi kalau mau tembus ke tingkat nasional, latihannya harus dua kali lebih keras. Kamu siap?"
Mendengar nama POPNAS disebut, darah mudaku langsung berdesir hebat. Ini adalah panggung impian setiap atlet pelajar di seluruh Indonesia. Sebuah kesempatan emas untuk membuktikan diri bahwa anak yang sering dipandang sebelah mata dalam bidang akademis sepertiku, bisa berdiri tegak membawa nama daerah di gelanggang nasional.
"Siap, Mas! Saya bakal ikut seleksi sampai tembus!" jawabku mantap tanpa ada rasa ragu sedikit pun.
Sejak hari itu, hari-hariku berubah jadi perlombaan melelahkan antara ruang kelas dan aula latihan silat.
Pagi sampai siang kuhabiskan dengan duduk di bangku belakang kelas X IPA 2, mencoba memahami rumus-rumus Fisika dan Matematika yang diajarkan guru—sesekali mencuri pandang ke arah Nara yang duduk manis di barisan depan. Begitu bel pulang berbunyi, saat murid-murid lain berhamburan pulang untuk beristirahat atau jalan-jalan santai, aku langsung berlari menuju matras latihan di aula bawah.
Latihannya jauh lebih berat dari biasanya. Porsinya ditambah dengan latihan beban, teknik bantingan keras, sparring partner non-stop, hingga lari keliling lapangan sepak bola sepuluh putaran di bawah terik matahari sore yang menyengat. Seringkali aku pulang ke rumah dengan badan linu-linu, lebam biru di sekujur lengan, dan tenaga yang terkuras habis.
Di tengah kesibukan dan rasa lelah yang luar biasa itu, Nara menjadi satu-satunya tempat aku pulang untuk mengisi ulang tenaga.
Suatu sore menjelang seleksi tingkat kabupaten, usai latihan berat di aula yang mulai sepi, aku duduk bersandar di dinding luar ruang ganti sambil memegang botol air mineral kosong. Tanganku masih gemetar saking capeknya usai melahap porsi latihan fisik dari Mas Teguh.
Tiba-tiba, bayangan kerudung putih tertangkap oleh sudut mataku. Nara berjalan mendekat dengan membawa kantong plastik kecil berisi es teh manis dan roti basah. Dia langsung duduk di sebelahku di atas lantai semen tanpa peduli bajunya sedikit berdebu.
"Nih, diminum dulu. Keliatan banget capeknya dari tadi," kata Nara lembut sambil membuka tutup botol es teh dan menyodorkannya kepadaku.
Aku menerima botol itu, meneguknya pelan-pelan hingga tenggorokanku yang kering terasa segar kembali. "Kamu kok belum pulang, Ra? Ini kan udah hampir jam lima sore."
Nara menatapku lekat-lekat, jemarinya merapikan tali tas ranselnya. "Aku nungguin kamu selesai latihanlah. Tadi di kelas aku lihat mukamu pucat banget pas jam terakhir."
Aku tersenyum tipis, menatap matanya yang jernih. Rasa lelah di sekujur tubuhku seolah menguap seketika begitu melihat perhatian tulus yang dia berikan. Meskipun kami sudah resmi "putus" via pesan beberapa waktu lalu, perhatian dan tatapan hangat Nara tidak pernah berubah sedikit pun—bahkan terasa makin dalam dan nyata.
"Makasih ya, Antet... selalu repot-repotin diri nungguin aku," kataku pelan.
Nara mendengus kecil, mencubit pelan lengan atasku yang terbungkus jaket training. "Siapa juga yang repot! Aku cuma gak mau atlet andalan kelas kita ini tumbang sebelum tanding. Pokoknya, seleksi POPNAS nanti kamu harus lolos, Sat. Jangan bikin malu!"
"Siap, laksanakan!" gerakku setengah berbisik sambil tersenyum lebar menatapnya.
Dukungan dari Nara, ditambah bimbingan ketat dari Mas Teguh dan semangat pantang menyerah yang membara di dalam dada, akhirnya membuahkan hasil manis.
Beberapa minggu kemudian, pengumuman hasil seleksi tingkat kabupaten dan provinsi ditempel resmi di papan pengumuman aula olahraga. Di antara puluhan nama atlet pelajar dari berbagai sekolah, namaku—Satria—muncul di daftar utama perwakilan kontingen daerah untuk berlaga di ajang POPNAS remaja!
Kabar itu langsung menyebar cepat di sekolah. Diko jadi orang pertama yang berteriak heboh di kelas, menepuk meja keras-keras dan merangkulku erat-erat.
"Anjir, temen sebangku gue mau berangkat tanding nasional, Bro! Pecel lele seporsi malam ini wajib traktir!" seru Diko kegirangan di hadapan anak-anak kelas.
Di barisan depan, Nara tidak ikut berteriak heboh seperti Diko. Tapi saat matanya menangkap namaku di lembaran kertas pengumuman yang kubawa ke kelas, senyuman paling indah merekah di wajah cantiknya. Dia mengatupkan kedua tangannya di dada, memancarkan rasa bangga yang amat sangat.
Saat suasana kelas sedang ramai oleh ucapan selamat dari teman-teman lain, Nara berjalan melewati mejaku. Tanpa berkata apa-apa di depan orang banyak, sebuah secarik kertas kecil diselipkan dengan cepat di bawah buku catatanku.
Aku membuka lipatan kertas itu diam-diam saat Diko sedang ke toilet. Di dalamnya tertulis rapi sebuah kalimat singkat tulisan tangan khasnya:
"Selamat ya, Nandut-ku... Aku bangga banget sama kamu. Buktiin kalau kamu juara sejati di gelanggang nanti."
Jantungku berdegup kencang membaca tulisan tangan itu. Di tengah persiapan berat menuju pemusatan latihan nasional dan masa asrama yang akan segera kuikuti, kalimat sederhana dari Nara menjadi bahan bakar paling kuat yang membuatku siap menghadapi rintangan apa pun di depan mata.
Dunia SMA kami terus berputar, membawa kami pada babak baru yang lebih menantang—menghubungkan mimpi besar di gelanggang silat dengan rahasia cinta anak remaja yang terus terjaga di sudut-sudut sunyi sekolah.