NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Target konspirasi

Arya menurunkan tudung jaketnya perlahan, hingga memperlihatkan wajahnya yang tenang namun tegas. "Nama saya Arya Wijaya. Saya bukan orangnya Hendra Wijaya, dan saya tidak punya niat buruk pada Anda, Mbak Dian."

Dian mengerutkan dahi, dan mencoba mengingat-ingat wajah Arya. "Arya Wijaya...? Kamu... petugas rumah sakit? Petugas di ruang jenazah RSUD Bina Husada?"

"Benar," sahut Arya singkat. "Saya adalah petugas pemulasara yang mengurus jasad Pak Bambang Gunawan saat beliau dibawa ke rumah sakit dini hari itu."

Dian tersentak pelan. Sikap bertahannya sedikit melunak, namun rasa curiga masih terpancar jelas di matanya. "Pak Bambang... polisi dan rumah sakit bilang beliau meninggal karena serangan jantung biasa. Pihak keluarga bahkan langsung menandatangani penolakan autopsi atas desakan pengacara. Kenapa kamu mendadak menceritakan hal ini padaku?"

Arya menatap lurus mata jurnalis muda itu. "Karena Pak Bambang tidak meninggal karena serangan jantung biasa. Beliau dibunuh."

Dian menahan napasnya. Tangan wanita itu yang berada di atas meja mendadak gemetar. "Di-dibunuh...? Kamu punya buktinya? Jangan main-main, Arya! Ini tuduhan yang sangat berat!"

Arya merogoh saku dalam jaketnya, dan mengeluarkan botol tembus pandang berisi tutup ampul kaca racun yang ia temukan di selokan Taman Kota, lalu meletakkannya dengan pelan di atas meja di antara mereka.

"Pak Bambang disergap di gang sempit belakang Taman Kota oleh seorang pria berjas hitam," ujar Arya dengan nada suara yang begitu teratur dan penuh kepastian. "Pria itu menyuntikkan cairan racun pelumpuh saraf ke leher sebelah kiri Pak Bambang. Racun itu bereaksi cepat, dan memicu kegagalan organ yang gejalanya persis seperti serangan jantung mendadak. Sebelum Pak Bambang kehilangan kesadarannya, pembunuh itu berbisik: 'Serangan jantung yang sempurna, Pak Tua.'"

Dian terbelalak lebar. Wajahnya seketika pucat pasi. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu detail itu?! Cerita soal pembunuh berjas hitam dan luka suntikan di leher... tidak pernah ada dalam laporan kepolisian mana pun!"

Arya tidak bisa menceritakan tentang kemampuan magis sentuhannya, hal itu hanya akan membuat Dian menganggapnya gila. Sebaliknya, Arya menggunakan penjelasan yang lebih masuk akal bagi seorang pekerja medis.

"Saya memeriksa kondisi fisik jasad Pak Bambang secara langsung sebelum dibersihkan," jawab Arya dusta dengan tenang. "Saya menemukan bekas titik injeksi mikroskopis di lipatan leher kirinya yang tidak terdokumentasikan dalam laporan luar, dan saya menemukan tutup ampul racun ini di TKP beberapa jam setelah jasad dipindahkan. Pak Bambang adalah korban pembunuhan berencana yang sangat rapi."

Air mata mulai menggenang di sudut mata Dian. Ia meremas jemarinya sendiri. "Aku tahu... aku sudah menduga ada yang tidak beres! Pak Bambang telepon aku jam enam sore sebelum kejadian. Beliau bilang beliau sudah berhasil dapatkan bukti transaksi suap antara komisaris Nusantara Utama Group dan pejabat dinas kesehatan terkait proyek RSUD baru! Beliau janji mau serahkan salinan dokumen itu padaku besok paginya... tapi malamnya beliau malah dikabarkan meninggal!"

Arya condong ke depan, suaranya pun makin direndahkan. "Mbak Dian, apakah salinan dokumen suap itu ada pada Anda sekarang?"

Dian menggeleng pelan dengan raut wajah yang penuh penyesalan. "Tidak. Pak Bambang sangat hati-hati. Beliau menyimpan berkas aslinya di sebuah flashdisk enkripsi dan menyembunyikannya di suatu tempat yang hanya beliau dan orang terdekatnya yang tahu. Beliau cuma sempat kasih aku sebuah kode unik lewat pesan singkat sebelum ponselnya mati total."

"Kode unik?" cecar Arya. "Kode seperti apa?"

Dian merogoh tasnya dan mengeluarkan lembaran catatan kecil. "Isi pesannya cuma deretan angka dan kata-kata aneh: 'Lantai 3, Lemari 07, Di balik suara yang tak terdengar.' Aku sudah mencoba mencari maksud kode ini ke kantor redaksi, ke rumah almarhum, bahkan ke perpustakaan kota, tapi tidak ada yang cocok."

Arya terdiam. Kata-kata itu bergema di dalam kepalanya. Lantai 3, Lemari 07, Di balik suara yang tak terdengar...

Tiba-tiba, ingatan Arya melayang kembali ke masa-masa awal ia bertugas di RSUD Bina Husada. Gedung lama RSUD memiliki lantai tiga yang kini dialihfungsikan menjadi ruang arsip medis tua dan penyimpanan alat-alat kedokteran yang sudah tidak terpakai, sebuah tempat yang sangat sunyi dan jarang dikunjungi orang.

Di sana terdapat barisan lemari besi tua berisi rekam medis pasien puluhan tahun lalu.

"Lantai tiga RSUD..." bisik Arya mendadak.

Dian menatap Arya dengan mata berbinar. "Maksudmu lantai tiga rumah sakit tempatmu bekerja?!"

"Gedung tua RSUD punya ruang arsip di lantai tiga," jelas Arya cepat. "Pak Bambang pernah dirawat di sana dua tahun lalu karena cedera saat meliput. Beliau punya akses dan kenal baik dengan petugas arsip tua di sana! Itu tempat teraman untuk menyembunyikan sesuatu tanpa ada yang curiga!"

Belum sempat Dian membalas, tiba-tiba suara decitan rem mobil yang keras terdengar dari luar warung kopi. Dua buah mobil SUV hitam meluncur berhenti tepat di depan pintu warung.

Lampu sorot tinggi dari mobil-mobil tersebut menembus kaca depan warung, hingga menyilaukan pandangan Arya dan Dian.

BRAK!

Pintu warung didobrak kasar! Tiga orang pria berbadan tegap mengenakan jaket kulit hitam melangkah masuk dengan tatapan dingin dan menusuk. Salah satu dari mereka adalah pria berkumis tipis yang dulu pernah mendatangi ruang IKKJ!

"Kalian tidak bisa lari lagi," ujar pria berkumis itu dengan suara berat yang dipenuhi ancaman. "Serahkan lembaran catatan itu dan ikut kami secara baik-baik, atau malam ini kalian berdua akan menyusul Bambang Gunawan ke meja pemulasaraan."

Dian menjerit kecil dalam ketakutan, dan refleks bersembunyi di belakang tubuh Arya.

Arya berdiri pelan sambil menyembunyikan botol ampul dan catatan kode ke dalam saku dalam jaketnya. Matanya menatap tajam ketiga pria berbadan besar di hadapannya.

Rasa takut memang ada di dalam dirinya, namun keberanian untuk menegakkan keadilan dan melindungi jurnalis di belakangnya jauh lebih bergelora.

"Mbak Dian... saat saya beri aba-aba, lari ke pintu belakang warung," bisik Arya sangat pelan tanpa mengubah arah tatapannya.

"Tapi kamu gimana, Arya?!" bisik Dian panik.

"Lakukan saja!" tegas Arya.

Arya mendadak meraih cangkir kopi panas di atas meja dan melemparkannya tepat ke arah wajah pria berkumis di depan!

PRANG!

Cairan kopi panas menghantam mata pria itu, hingga membuatnya berteriak kesakitan! "ARGH! SIALAN! TANGKAP MEREKA!"

"LARI, MBAK DIAN!" jerit Arya seraya membalikkan meja kayu besar untuk menghalangi jalan dua pria lainnya!

Suasana warung kopi seketika menjadi kacau balau. Arya bergerak cepat mendorong Dian menuju pintu dapur belakang.

Salah satu anak buah penjahat mencoba menerjang Arya, namun Arya dengan sigap memukul perut pria itu menggunakan bangku kayu hingga pria itu tersungkur menabrak rak piring.

Arya dan Dian berhasil menerobos pintu belakang warung, melompat ke dalam lorong gang yang gelap dan diguyur hujan deras. Mereka berlari sekuat tenaga menembus kegelapan malam, diiringi teriakan murka para pengejar yang bergema di belakang mereka.

"JANGAN LARI!!"

Malam itu, perburuan kebenaran telah resmi dimulai. Arya tidak hanya sekadar penemu rahasia orang mati, ia kini menjadi target dari konspirasi berdarah yang siap menghancurkan siapapun yang berani membongkar rahasia para penguasa.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!