NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Menyamar

Hari-hari berikutnya berlalu dalam kehangatan yang dibumbui kegelisahan. Tiap sore kami bertemu, bercerita, saling belajar tentang dunia masing-masing. Orion mengajarkanku mendengarkan suara angin, membaca tanda-tanda di perubahan kabut, mengenali mana hewan biasa dan mana makhluk yang menyamar. Aku mengajarkannya tertawa tanpa alasan, menikmati sinar matahari pagi meski hanya dari kejauhan, memahami bahwa kelembutan bukanlah kelemahan.

"Lihatlah burung itu," katanya suatu sore, menunjuk seekor burung kecil yang hinggap di dahan tak jauh dari kami. "Gerakannya terlalu kaku. Bulu-bulunya tidak berkilau terkena cahaya. Itu bukan burung sungguhan."

Hatiku mencelos. "Lalu apa itu?"

"Mata-mata ayahku," jawabnya pelan, matanya tetap menatap makhluk itu. "Mereka mengamati, mengumpulkan informasi. Belum berani menyerang, tapi mereka sudah tahu di mana kita bertemu."

"Apakah kita harus pindah tempat?"

"Belum saatnya," Orion menggeleng. "Mereka belum yakin sepenuhnya. Jika kita pindah terlalu cepat, mereka makin curiga. Tapi kita harus lebih berhati-hati."

Hari itu kami berpisah lebih awal dari biasanya. Orion memintaku tidak pulang sendirian lewat jalan setapak, menyuruhku memanggil Dinda untuk menemaniku sampai ke persimpangan jalan raya.

"Janji?" tanyanya sekali lagi sebelum aku melangkah pergi.

"Janji," jawabku.

Namun takdir punya caranya sendiri untuk menguji. Sore itu Dinda tertahan di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas, mengirim pesan agar aku pulang duluan. Aku ragu sejenak, lalu memutuskan berjalan cepat—hanya sepuluh menit, pikirku, aku bisa menjagaku sendiri.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Langit masih cukup terang, suara burung terdengar biasa. Namun semakin jauh berjalan, suhu udara tiba-tiba turun drastis. Angin berubah menjadi dingin yang menusuk, dan kabut yang biasanya tipis kini menebal hingga aku hampir tak bisa melihat ujung kakiku sendiri.

"Orion?" panggilku pelan, berhenti melangkah. Tidak ada jawaban.

Dari balik kabut itu muncul sosok seseorang. Langkahnya akrab, pakaiannya seragam seperti yang biasa dipakai Dinda.

"Aruna!" suaranya terdengar sedikit berbeda, lebih berat, tapi aku terlalu cemas untuk memperhatikan. "Aku berlari menyusulmu. Maaf tadi terlambat."

Aku menghela napas lega, mendekat. "Kau membuatku khawatir, Dinda. Tadi pesannya bilang..."

Saat aku berdiri di hadapannya, tiba-tiba sesuatu terasa salah. Matanya—bukan mata Dinda. Tatapannya kosong, dingin, tanpa kehangatan yang selalu ada di sahabatku.

"Kau bukan Dinda," ucapku pelan, mundur perlahan.

Sosok itu tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. Wajahnya perlahan berubah, meleleh seperti lilin yang terkena panas, berubah menjadi wajah yang mengerikan—kulitnya pucat kelabu, matanya hitam pekat tanpa bagian putih.

"Pintar," suaranya mendengung di telingaku, bukan dari mulutnya, melainkan dari sekelilingku. "Kau lebih peka daripada yang kukira, gadis kecil."

"Siapa kau?" tanyaku, tanganku gemetar meraba saku tempat kelopak bunga hitam itu tersimpan.

"Utusan Raja," jawab makhluk itu, melangkah maju. "Datang untuk memberi pesan. Tinggalkan Orion. Kembalilah ke duniamu yang terang dan membosankan. Atau kau akan terseret ke dalam kegelapan yang takkan bisa kau tinggalkan lagi."

"Orang mengirim pesan dengan menakuti-nakuti?" tanyaku, berusaha terdengar berani meski lututku lemas.

Makhluk itu tertawa—suara yang tajam dan menusuk. "Kau pikir pangeran itu begitu istimewa? Dia hanyalah pembangkang yang dikucilkan. Ayahnya masih memberinya kesempatan untuk menyerah. Katakan padanya: kembalilah, dan kau akan dibiarkan hidup. Jika tidak... kalian berdua akan hancur bersama."

"Dia tidak akan pergi ke mana pun tanpa aku," jawabku tegas, mencengkeram kelopak bunga itu erat di dalam saku. "Dan aku tidak akan meninggalkannya."

Wajah makhluk itu berubah menjadi marah. "Kecil sekali untuk memutuskan nasib dua dunia!" Ia melangkah maju, tangannya menjulur ke arahku.

Aku tidak berpikir dua kali. Aku mencengkeram kelopak bunga itu, berteriak sekuat tenaga: "ORION!"

Suaraku memecah keheningan. Kelopak di tanganku terasa panas, memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Makhluk itu menjerit, mundur menutupi wajahnya. Dan dari kabut yang terbelah oleh cahayanya, muncul sosok yang kucari.

Orion tiba di hadapanku dalam sekejap, menempatkan dirinya di antara aku dan makhluk itu. Tubuhnya memancarkan aura yang mengerikan—dingin, tajam, penuh kemarahan yang tertahan ribuan tahun.

"Beraninya kau," suaranya rendah namun bergema hingga ke tulang-tulangku. "Beraninya kau menyamar sebagai sahabatnya."

Makhluk itu gemetar, mundur terhuyung-huyung. "Tuan... aku hanya menyampaikan pesan..."

"Pergilah," bentak Orion, dan angin kencang seketika mendorong makhluk itu mundur. "Dan katakan pada ayahku: pilihannya sudah dibuat. Aku tidak akan menyerahkannya. Biar terjadi apa pun."

Saat makhluk itu lenyap tersapu kabut, Orion langsung berbalik ke arahku. Wajahnya tegang, matanya memancarkan kekhawatiran yang luar biasa. Dia memeriksa seluruh tubuhku dengan pandangannya.

"Apakah kau terluka? Apakah ia menyentuhmu?"

"Tidak," jawabku, napasku masih terengah. "Kau datang tepat waktu."

Dia menarikku ke pelukannya, erat, seolah takut aku akan lenyap jika dilepaskan sedetik saja. "Maafkan aku. Seharusnya aku mengantarmu pulang. Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendirian."

"Aku memaksanya pulang duluan," aku mengusap punggungnya pelan, mencoba menenangkannya. "Bukan salahmu."

Dia melepaskan pelukan sedikit, menatapku lekat-lekat. "Mulai sekarang, tidak ada lagi sendirian. Di mana pun kau berada, aku akan ada di dekatmu. Bahkan jika tak terlihat."

"Baik," aku tersenyum tipis, meski hatiku masih berdebar. "Tapi Orion..."

"Apa?"

"Makhluk itu bilang... ayahmu masih memberimu kesempatan untuk menyerah. Apa yang akan kau lakukan?"

Dia menatapku dalam-dalam, lalu mencium keningku dengan lembut namun tegas. "Menyerah berarti hidup tanpa kamu. Itu bukan hidup, Aruna. Itu sekadar menunggu mati."

Kami berjalan pulang beriringan, tangannya tak melepaskan tanganku sedetik pun. Langit sudah gelap, tapi aku tidak lagi takut. Karena di sampingku berjalan seseorang yang rela menentang seluruh duninya demi memastikan aku aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!