Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Tidak Seharusnya Berharap
Retna masih berdiri kaku di samping Mas Bule.
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Retna adalah calon istriku.
Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jantungnya berdetak cepat, tangannya terasa dingin, sementara wajahnya masih menyisakan jejak air mata.
Di hadapannya, Arman berdiri tanpa suara. Tatapannya berpindah dari Mas Bule kepada Retna berkali-kali, seolah-olah berusaha memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Calon istri?"
Arman akhirnya bersuara.
Mas Bule menatapnya tenang.
"Ya."
Hanya satu kata, tetapi cukup untuk membuat suasana semakin tegang.
Claudia yang berdiri tidak jauh dari mereka tampak gelisah. Ia tidak menyangka percakapan yang semula dimaksudkan untuk mempermalukan Retna justru berakhir seperti ini.
"Kau serius?" tanyanya kepada Mas Bule.
Mas Bule menoleh.
"Aku tidak punya alasan untuk bercanda mengenai hal seperti ini."
Claudia terdiam. Tatapannya kembali kepada Retna. Beberapa menit lalu, ia masih memandang Retna sebagai perempuan dengan masa lalu memalukan yang datang ke pernikahannya. Kini ia tahu bahwa perempuan yang baru saja dihina itu memiliki hubungan khusus dengan pria yang cukup dihormati di lingkaran mereka.
"Aku tidak tahu..."
"Memang bukan kewajiban Retna untuk menjelaskan kehidupannya kepada semua orang," jawab Mas Bule datar.
Claudia tidak mampu membalas.
Sementara itu, Arman masih menatap Retna.
"Kau..."
Retna mengangkat wajah.
"Apa?"
"Kau akan menikah dengannya?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat dada Retna semakin sesak. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sebab dirinya sendiri bahkan belum pernah mendengar Mas Bule mengatakan hal tersebut.
Retna menoleh kepada pria di sampingnya. Mas Bule hanya memberinya tatapan singkat, tetapi sorot matanya seolah meminta Retna tetap berdiri di sisinya. Jemarinya bergerak sedikit, nyaris menyentuh punggung tangan Retna, lalu berhenti. Seakan-akan ia ingin menenangkannya, tetapi masih ragu apakah ia berhak melakukannya.
"Arman," sela Claudia. "Cukup. Kita sedang di tengah acara."
Ia berusaha mempertahankan senyum, tetapi wajahnya terlihat tegang.
"Para tamu sudah mulai memperhatikan."
Benar. Beberapa tamu masih melihat ke arah mereka. Ada yang berbisik, ada pula yang pura-pura sibuk dengan ponsel atau makanan, tetapi sesekali melirik.
Arman akhirnya menghela napas. Tatapannya kembali kepada Retna. Sesaat, ada sesuatu yang sulit dijelaskan di sana. Bukan sekadar marah atau terkejut, melainkan rasa tidak nyaman melihat perempuan yang pernah menjadi istrinya berdiri begitu dekat dengan lelaki lain.
Namun Retna tidak lagi ingin memikirkan perasaan Arman. Ia sudah terlalu lama memikirkan perasaan orang lain. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri.
"Aku permisi."
Retna hendak pergi, dan Mas Bule langsung mengikutinya. Setelah beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh kepada Arman.
"Selamat atas pernikahanmu."
Arman tidak menjawab.
Mas Bule kemudian kembali berjalan bersama Retna. Kali ini langkahnya lebih lambat, menyesuaikan langkah Retna yang masih kaku. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih dekat daripada sebelumnya.
Begitu keluar dari gedung, Retna menarik napas panjang. Udara malam terasa jauh lebih lega daripada udara di dalam ruangan.
Ia berjalan menuju mobil tanpa berkata apa-apa, seolah-olah ingin meninggalkan bukan hanya gedung itu, tetapi juga tatapan dan pertanyaan yang masih mengejarnya.
Mas Bule membuka pintu untuknya.
"MasukMasuk laj."
Retna menurut. Sebelum duduk, ia sempat menatap Mas Bule. Ada pertanyaan yang hampir keluar dari bibirnya, tetapi ia menahannya. Mas Bule pun tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menunggu sampai Retna masuk, lalu menutup pintu dengan hati-hati.
Beberapa saat kemudian, ia duduk di balik kemudi dan menyalakan mesin. Mereka meninggalkan gedung pernikahan dalam keheningan.
Retna menatap keluar jendela. Lampu-lampu jalan berkelebat, sementara pikirannya terus tertuju pada satu hal.
Mengapa Mas Bule mengatakan dirinya calon istri?
Bukankah sebelumnya pria itu meminta Retna melupakan ciuman yang terjadi di antara mereka? Bukankah ia selalu menjaga jarak? Bukankah Retna hanya seorang pekerja di rumahnya?
Lalu mengapa?
Di sampingnya, Mas Bule mencengkeram kemudi sedikit lebih kuat dari biasanya. Sesekali ia melirik Retna, tetapi setiap kali perempuan itu bergerak, pandangannya kembali lurus ke jalan.
Retna menyadari lirikan-lirikan itu, tetapi pura-pura tidak tahu. Keheningan di antara mereka terasa terlalu penuh, dipenuhi kalimat-kalimat yang sama-sama tidak berani diucapkan.
Akhirnya, Retna tidak sanggup menahannya.
"Mas."
"Hmm?"
Retna menelan ludah. Jemarinya meremas ujung kain di pangkuannya.
"Tadi..."
Mas Bule melirik sekilas.
"Tadi kenapa?"
"Kenapa Mas bilang saya calon istri Mas?"
Tangan Mas Bule tetap berada di kemudi, tetapi rahangnya mengeras sesaat. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
"Saya hanya ingin menghentikan mereka."
"Jadi..."
Retna terdiam. Mas Bule menunggu tanpa mendesaknya.
"Jadi saya bukan benar-benar calon istri Mas,'kan?"
Pertanyaan itu keluar begitu pelan, tetapi setelah mengucapkannya, dada Retna justru terasa semakin sakit.
Mas Bule tidak langsung menjawab. Lampu merah di persimpangan membuat mobil berhenti. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan gedung, ia menoleh penuh kepada Retna. Perempuan itu masih menatap jendela, tetapi pantulan wajahnya menunjukkan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maaf kalau saya bertanya," ujar Retna.
"Tidak." Mas Bule menggeleng. "Kamu berhak bertanya."
Suaranya rendah dan lebih lembut dari sebelumnya.
"Saya mengatakan itu karena keadaan tadi."
Retna mengangguk pelan.
"Saya mengerti."
Namun nada suaranya terdengar berbeda. Mas Bule meliriknya dan melihat Retna sedang menahan sesuatu. Bibirnya terkatup rapat, bahunya menegang.
"Saya tidak ingin kamu dipermalukan di sana," lanjut Mas Bule. "Saya juga tidak ingin mereka melihatmu sebagai seseorang yang tidak punya siapa-siapa."
Retna terdiam. Kalimat itu menghangatkan hatinya, tetapi sekaligus membuatnya semakin bingung.
"Terima kasih."
"Kamu tidak perlu berterima kasih."
Retna menunduk. Beberapa detik kemudian, ia berkata,
"Tapi lain kali jangan mengatakan sesuatu seperti itu tanpa memberitahu saya terlebih dahulu."
Mas Bule tersenyum tipis, meski senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.
"Baik,aku mengerti."
"Saya benar-benar kaget."
"Saya juga."
Retna menoleh.
"Kaget?"
"Iya. Saya tidak pernah tahu bahwa kamu adalah mantan istri Arman."
Retna kembali menunduk.
"Saya memang tidak pernah ingin menceritakannya."
"Kenapa?"
Retna terdiam cukup lama. Mobil kembali melaju, diiringi suara mesin dan gesekan ban dengan aspal.
"Karena saya tidak ingin orang melihat saya hanya sebagai perempuan yang gagal mempertahankan rumah tangga."
Mas Bule tidak menjawab.
"Saya sudah cukup sering mendengar orang mengatakan bahwa semua itu salah saya," lanjut Retna lirih. "Saya tidak ingin Mas juga berpikir seperti itu."
Mas Bule menghela napas.
"Retna."
"Hmm?"
"Saya tidak pernah melihatmu seperti itu."
Retna menoleh. Mas Bule masih menatap jalan.
"Saya tidak peduli siapa yang salah dalam pernikahanmu dulu. Yang saya lihat adalah Retna yang sekarang."
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Dan menurut saya, kamu jauh lebih kuat daripada yang kamu kira."
Retna tidak mampu menjawab. Ia kembali memalingkan wajah ke jendela agar Mas Bule tidak melihat matanya.
Namun diam-diam, pertanyaan lain muncul di dalam hatinya.
Kalau semua yang Mas Bule katakan tadi hanya untuk melindunginya, lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri?
Mengapa mendengar bahwa dirinya bukan benar-benar calon istri Mas Bule justru membuat hatinya kecewa?
Retna menggigit bibir. Ia tidak seharusnya berharap. Pria itu adalah majikannya, sedangkan dirinya hanya perempuan yang bekerja di rumahnya.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Retna mulai takut pada satu kemungkinan.
Bagaimana jika perasaannya kepada Mas Bule sudah lebih dari sekadar rasa nyaman?
Ia menutup mata sebentar.
Di balik kemudi, Mas Bule diam-diam meliriknya. Ia melihat wajah Retna yang tampak sedih. Ada keinginan untuk mengatakan sesuatu, menarik kembali ucapannya, atau setidaknya menjelaskan bahwa kalimat di pesta tadi tidak sepenuhnya dibuat-buat.
Namun ia menahannya. Tangannya hanya bergerak sedikit di atas konsol tengah sebelum kembali menggenggam kemudi.
Untuk pertama kalinya, Mas Bule menyadari bahwa mungkin kalimat yang ia ucapkan di pesta tadi bukan sekadar kebohongan untuk melindungi Retna.
Mungkin, ada bagian dari dirinya yang memang menginginkan kalimat itu menjadi kenyataan.