Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 20
Kepergian Kiara meninggalkan kekosongan yang mencekam di meja kafe itu. Aroma kopi yang hangat dan sisa cheesecake di piring tiba-tiba terasa muak bagi Rania. Di hadapannya, Vino, kakak laki-lakinya yang biasanya selalu memegang kendali. Kini menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas memburu, kedua tangannya menutupi wajah yang kian memucat.
Rania melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Vino dengan tatapan menuntut yang tidak bisa ditawar lagi.
"Mas Vin. Jangan diam aja kayak gini," suara Rania terdengar tajam, memecah kecanggungan di antara mereka.
"Jelasin ke aku. Sekarang. Ada apa sebenarnya antara Mas sama Mbak Kiara?"
Vino menurunkan tangannya perlahan. Matanya meredup, merah dan basah.
"Nggak ada apa-apa, Ran... Tolong, jangan tanyain hal ini sekarang. Kepala Mas mau pecah."
"Nggak ada apa-apa gimana?!" Rania menyela, tak lagi mampu menahan kejengkelannya.
"Mbak Kiara lepas cincin tunangannya, Mas! Mas pikir aku nggak tau? Aku lihat bekasnya di jari Mbak Kiara! Terus maksud ucapan Mbak Kiara soal 'Berkas Urusan' penting itu apa? Mas ulangin kesalahan yang sama lagi, kan? Mas hubungin perempuan gatal itu lagi?!"
Vino memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap tebakan Rania menghantam dadanya seperti pukulan telak. Kebisuan Vino sudah cukup menjadi jawaban bagi Rania. Gadis itu menghembuskan napas kasar, menatap kakaknya dengan kepedihan dan kekecewaan yang mendalam.
"Mas sadar dengan apa yang Mas lakuin kan? Apa mungkin Mas menyukai wanita gatal itu?" bisik Rania, suaranya gemetar karena marah.
"Mbak Kiara itu sabar banget, Mas. Tapi kalau orang sabar udah diam dan bersikap sehalus tadi, tu artinya dia udah selesai sama Mas. Mas yang hancurin semuanya."
Rania berdiri menyambar tasnya, menatap Vino yang masih mematung dengan pandangan ji-jik sekaligus kasihan.
"Aku pulang sendiri. Mas urus tuh kekacauan yang Mas buat. Tapi jangan salahin siapa-siapa kalau nanti malam Mas kehilangan Mbak Kiara selamanya."
Rania melangkah pergi meninggalkan kafe, meninggalkan Vino sendirian dalam sangkar penyesalan yang ia buat sendiri.
Vino melangkah gontai menuju mobilnya. Di dalam ruang tertutup itu, pertahanannya runtuh total. Ia memukul kemudi berulang kali, melampiaskan amarah pada dirinya sendiri. Bayangan jemari polos Kiara yang tanpa cincin terus membayangi pikirannya, membakar dadanya dengan rasa sesak yang tak tertahankan.
Bagaimana mungkin Kiara bisa setenang itu? Ketenangan Kiara justru menjadi penanda paling mengerikan bahwa wanita itu tidak lagi menyisakan ruang untuk negosiasi. Kiara tidak lagi marah, karena ia sudah siap untuk pergi.
Vino mengemudikan mobilnya pulang dengan pikiran yang kacau luar biasa. Sesampainya di rumah, suasana hangat keluarganya yang sedang bersiap-siap untuk acara makan malam justru terasa seperti siksaan. Orang tuanya tampak sibuk merapikan pakaian, tersenyum membicarakan rencana masa depan Vino dan Kiara.
"Vino? Kamu dari mana saja, Nak? Kok mukanya pucat begitu?" tanya ibunya cemas saat melihat Vino melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ayo cepat bersiap, kita tidak boleh terlambat ke rumah Kiara. Mungkin mereka akan membicarakan masalah pernikahan kalian..." Ucap Bu Indah membuat hati Vino tercubit.
"Iya, Bu..."
Vino hanya bisa mengangguk kaku, tak sanggup menatap mata ibunya. Ia berjalan naik ke kamarnya, mengunci pintu, dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang tertutup.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar berantakan, kusam, dan penuh ketakutan. Penyesalan terlambat kini menggerogoti setiap sel tubuhnya. Kebohongan demi kebohongan yang ia susun rapi demi wanita dari masa lalunya kini telah merobohkan benteng kepercayaan Kiara. Vino berlutut di samping tempat tidurnya, meremas rambutnya kuat-kuat, berjuang melawan rasa panik yang kian mencekik.
Jam dinding terus berdetak tanpa ampun, menunjukkan pukul enam sore. Tinggal satu jam lagi sebelum ia harus melangkah masuk ke rumah Kiara. Makan malam yang seharusnya membawa berkah kini terasa seperti panggung eksekusi bagi hidupnya.
Pukul tujuh malam tepat. Kediaman orang tua Kiara malam itu tampak begitu hangat dan terang. Lampu-lampu gantung berhawa kekuningan memancarkan suasana yang akrab, lengkap dengan aroma masakan rumahan yang menggugah selera terpancar dari area meja makan panjang. Ayah dan Ibu Kiara menyambut kedatangan keluarga Vino dengan senyum terkembang lebar, pelukan hangat, dan keramahan yang tulus.
Namun, bagi Vino, melangkah melewati pintu depan rumah itu terasa seperti berjalan menuju panggung eksekusi.
Keluarganya datang lengkap, Ayah dan Ibu Vino tampak begitu bersemangat membicarakan persiapan melangkah ke jenjang pernikahan yang lebih serius, sementara Rania berjalan agak jauh di belakang. Sepanjang jalan, Rania tak sekali pun menyapa kakaknya. Matanya hanya menatap Vino dengan pandangan dingin dan penuh peringatan.
"Ayo, ayo masuk... Wah, jeng, sudah lama ya kita tidak makan malam bersama seperti ini," ucap Ibu Anisa riang sambil mempersilakan tamu-tamunya duduk.
Di ujung meja makan, Kiara berdiri anggun membantu mengisikan air putih ke cangkir-cangkir yang tersedia. Dia mengenakan gaun simpel berwarna krem, wajahnya dipoles riasan tipis nan alami yang memancarkan kecantikan murni. Sama sekali tak terlihat raut dendam, kekecewaan, ataupun amarah. Kiara tersenyum lembut menatap orang tua Vino. Dai sangat cantik, baik, selama ini selalu mengerti dia. Lalu apa yang dia berikan kepada Kiara? Hanya kekecewaan.
"Malam, Tante, Om... Silakan duduk, masakan Ibu sudah siap semua," tutur Kiara halus, menyalami kedua orang tua Vino dengan sangat sopan.
Vino berdiri mematung di samping kursi. Napasnya tercekat saat mata Kiara melintas sejenak menatapnya, tatapan yang begitu bening, ramah, namun sama sekali tidak memiliki kehangatan cinta di dalamnya. Itu adalah tatapan seseorang kepada tamu biasa.
Di atas meja makan, obrolan mengalir santai. Ayah Kiara dan Ayah Vino bernostalgia tentang masa muda mereka, sesekali dibumbui tawa renyah. Ibu Anisa terus menyendokkan lauk ke piring orang tua Vino dan Rania.
"Vino, makan yang banyak, Nak. Kok dari tadi cuma diputar-putar aja nasinya? Kamu kelihatan pucat sekali, lesu. Apa banyak pekerjaan di kantor?" tanya Ibu Anisa perhatian, menatap calon menantunya. Dia pura-pura tak tahu tapi tidak dengan Pak Haidar.
Vino tersentak pelan. Tangannya yang memegang sendok bergetar tipis di atas piring.
"Ah... iiya, Tante. Sedikit padat minggu ini..." jawab Vino terbata-bata, tenggorokannya terasa sangat kering.
"Makanya, Mas Vin, kalau ada masalah atau urusan penting itu dibicarakan, bukan dipendam sendiri atau malah ditutup-tutupi. Jangan sampai hal itu membuat Mas Vino menyesal seumur hidup!" sahut Rania dari seberang meja. Suaranya terdengar kasual, namun penuh sindiran tajam yang membuat Vino makin menderita.
"Memang begit seharusnya jika menganggp hubungan serius dan percaya kepada pasangan. Pondasi dari hubungan adalah komunikasi dan saling terbuka jika ada masalah. Jangan sampai malah menutupi masalah hingga akhirnya membuat pasangan kita kecewa karena merasa dirinya tak di anggap dan tak pantas,"
Kalimat Ayah Kiara bagaikan godam yang menghantam dada Vino. Pria itu menunduk dalam-dalam, tak sanggup menyuap makanan sedikit pun. Di sampingnya, Kiara tetap menikmati makan malamnya dengan tenang, mengunyah perlahan seolah sindiran dan ketegangan di meja itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Setelah hidangan utama selesai, Ibu Anisa membawa pencuci mulut. Mereka semua sudah pindah ke ruang keluarga dan duduk jauh lebih santai. Vino bebeerapa kali mencoba untuk bicara berdua dengan Kiara. Namun Kiara dengan halus menolaknya. Suasana di ruangan itu cukup hangat bagi kedua orang tua Vino tapi tidak untuk ayah Kiara, Rania dan Vino sudah pasti. Sedangkan Kiara terlihat sangat tenang tanpa ada emosi yang meledak-ledak yang menunjukkan jika dia marah kepada Vino.
"Mas Vino, Om, Tante, serta Rania," panggil Kiara lembut, namun dengan suara yang cukup jernih untuk menyita perhatian seluruh ruangan.
Orang tua Vino tersenyum hangat, mengira Kiara akan membuka pembicaraan mengenai tanggal pernikahan atau venue yang mereka dambakan.
"Iya, Kiara Sayang? Ada yang mau kamu sampaikan? Apa ini tentang tanggal pernikahan kalian? Mama sangat menunggu hari itu..." tanya Ibu Indah penuh rasa sayang dan juga harapan. Rasanya Kiara tak tega melihat calon mertua sebaik itu harus kecewa mendengar apa yang akan dia sampaikan sekarang.
Kiara mengangguk kecil. Senyum manisnya terukir alami di bibir, menatap satu per satu wajah orang tua di hadapannya sebelum akhirnya tatapannya tertuju pada Vino yang kini sudah duduk kaku bak patung, dengan peluh dingin menetes di pelipisnya.
"Ra..." Pangil Vino lirih dengan suara bergetar ketakutan, dia tak mau kalau sampai Kiara mengambil keputusan untuk meninggalkan dia.
"Iya Mas Vino... "
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,