NovelToon NovelToon
Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.

Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.

Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.

Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zemima 5

"Eh, Zemima..." Bu Rahmi menyapa lembut dengan suara jernih tanpa serak sedikit pun. Wajahnya terangkat ramah begitu melihat menantunya berdiri di ambang pintu.

"Baru pulang, Nak?"

Zemima tertegun sejenak. Ia mendekati ranjang, lalu menyentuh dahi dan leher ibu mertuanya dengan punggung tangannya. Suhunya benar-benar normal, bahkan terasa sejuk.

"Ibu... gimana keadaannya?" tanya Zemima melembutkan suaranya.

"Mas Arsyad tadi menelepon Zemima sambil marah-marah, katanya Ibu demam tinggi dan terlantar di rumah."

Bu Rahmi tertawa kecil, menggelengkan kepala melihat raut cemas menantunya. "Aduh, Arsyad itu suka berlebihan. Ibu tadi siang memang cuma agak pusing dan mual sedikit karena terlambat makan siang. Tapi begitu Mbak Mirna datang buatkan teh jahe hangat sama bubur, pusingnya langsung hilang. Ibu cuma butuh istirahat sebentar."

Mbak Mirna yang sedang memegang nampan ikut menimpali seraya tersenyum canggung.

"Iya, Bu Zemima. Saya tadi sudah cek suhu badan Ibu pakai termometer jam enam sore, cuma 36,8 derajat. Sudah normal sekali. Saya juga sudah kirim pesan ke Pak Arsyad kalau Ibu sudah membaik dan tidak apa-apa."

Zemima memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang. Mbak Mirna sudah mengabari Arsyad sejak siang.

Artinya, kepanikan Arsyad di telepon tadi dan makian suaminya yang menuduh Zemima melantarkan orang tua demi pekerjaan, hanyalah drama buatan Arsyad sendiri. Pria itu sengaja membesar-besarkan masalah demi meluapkan ego, kekesalan, dan rasa superioritasnya kepada Zemima.

"Mbak Mirna, tolong simpan piringnya ya. Saya mau bicara sebentar sama Ibu. Dan bantu saya siapkan bahan-bahan untuk makan malam nanti, sekalian agak lebih banyak untuk mbak bawa makan di rumah. Kasihan anak-anak mbak seharian ini di tinggal," ucap Zemima tenang.

"Baik, Bu Zemima," pamit Mbak Mirna seraya melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.

Zemima menarik kursi kayu di samping tempat tidur, lalu duduk memandangi ibu mertuanya. Rasa lelah bercampur aduk di dadanya, namun kehadiran Bu Rahmi selalu menjadi oasis di tengah keangkuhan Arsyad.

"Arsyad belum pulang, Zem?" tanya Bu Rahmi pelan, menyadari keterkejutan di wajah menantunya.

"Belum, Bu. Katanya Mas Arsyad masih ada deadline pekerjaan di kantornya," jawab Zemima tenang, menutupi rasa muaknya.

Bu Rahmi menghela napas panjang, menepuk-nepuk punggung tangan Zemima yang halus.

"Kalian berdua ini sama-sama sibuk... Ibu kadang khawatir, Zemima. Arsyad itu keras kepala, egonya tinggi sejak dia naik jabatan di perusahaan tempat kerjanya itu. Dia sering bercerita kalau pekerjaannya berat, tapi Ibu tahu dia cuma gengsi."

Zemima tersenyum tipis, mendengarkan dengan saksama. "Mas Arsyad memang sangat bertanggung jawab sama pekerjaannya, Bu."

"Tapi pekerjaan itu bukan segalanya, Nak," potong Bu Rahmi lembut, matanya menatap Zemima dengan binar kerinduan yang mendalam.

"Kalian ini sudah menikah hampir tiga tahun. Ibu... sebenarnya makin hari makin tua, Zem. Ibu sering merasa rumah ini terlalu sepi."

Zemima tertegun. Ia tahu betul arah pembicaraan ini. Padahal di rumahnya sudah ada dua cucu dari Mas Hendra.

"Ibu bukan mau menuntut atau membebani kamu," lanjut Bu Rahmi seraya mengelus jemari Zemima.

"Ibu tahu kamu juga kerja kantoran. Tapi... kapan kalian berencana kasih Ibu cucu? Apa belum ada tanda-tanda, Zem?"

Pertanyaan itu berhembus seperti angin dingin yang menusuk dada Zemima. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan tentang seorang anak, ketika suaminya sendiri bahkan tidak tahu siapa sosok istri yang didampinginya setiap hari? Ketika Arsyad masih terus merendahkannya dan membanggakan jabatan yang sebenarnya diberikan oleh Zemima secara tersembunyi?

"Ibu..." suara Zemima terdengar sangat lembut, namun ada getaran ketegasan di dalamnya.

"Zemima dan Mas Arsyad masih menata banyak hal. Zemima ingin memastikan kalau nanti anak kami lahir, Mas Arsyad sudah benar-benar siap... bukan cuma secara finansial, tapi juga secara sikap dan kedewasaan."

Bu Rahmi mengerutkan kening pelan, menangkap nada tersembunyi dari ucapan menantunya.

"Maksud kamu, Arsyad belum dewasa?"

"Mas Arsyad masih sangat terobsesi dengan pembuktian diri, Bu," bisik Zemima, menatap lurus mata ibu mertuanya.

"Dia merasa harus menjadi yang paling berkuasa, paling berhak mengatur, sampai-sampai dia sering lupa melihat siapa yang sebenarnya berdiri di samping dia dan mendukungnya."

"Zemima... apa Arsyad sering bersikap kasar sama kamu di luar pengetahuan Ibu?" tanya Bu Rahmi cemas, mempererat genggaman tangannya.

"Kalau anak Ibu ada salah, katakan sama Ibu, Nak. Jangan kamu simpan sendiri."

Zemima tersenyum hangat, menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa, Bu. Hanya saja, Zemima fikir bagaimana Mas Arsyad bisa mengurus dan memenihi kebutuhan anak dan istrinya nanti kalau sampai sat ini kebutuhan keluarganya menjadi yang utama..."

"Selama ini semua gaji Mas Arsyad bahkan habis untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan ibu, dan kedua saudaranya. Sedangkan kebutuhan rumah ini semuanya menggunakan gaji staf biasa ini, Bu. Lalu kalau kami punya anak apa Ibu dan kedua saudara Mas Arsyad sudah siap untuk tidak di tanggung mas Arsyad? Karena setelah punya anak nanti, saya tidak akan bekerja. Sehinga sudah jelas gaji Mas Arsyad untuk kebutuhan kami..." Jawab Zemima tenang.

"Nak... Bukan begitu maksud ibu, kamu kalau udah melahirkan kan anak kalian bisa di titip ke ibu dan kamu masih bisa bekerja kan? Agar di rumah juga ibu ada kegiatan mengurus cucu ibu..." Bu Rahmi terlihat seba salah, mana mungkin dia rela kehilangan semua uang dari Arsyad.

"Bisa dititipkan ke Ibu?"

Zemima menyunggingkan senyum tipis, senyum yang penuh dengan selapis kepahitan, namun begitu anggun hingga Bu Rahmi tidak bisa menangkap sinisme di dalamnya. Zemima memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke dalam manik mata wanita tua di hadapannya.

"Bu... membesarkan anak itu bukan sekadar dititipkan lalu ditinggal mencari uang. Dulu, ketika Zemima memutuskan tetap bekerja setelah menikah, Mas Arsyad yang minta. Dia bilang, gajinya sebagai staf waktu itu belum cukup. Tapi sekarang, setelah dia naik jabatan menjadi manajer... ke mana perginya gaji besar itu, Bu?"

Bu Rahmi terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang lolos.

"Seluruh gaji Mas Arsyad dialirkan untuk cicilan mobil baru Mas Hendra, biaya gaya hidup Siska, dan transfer bulanan untuk Ibu," lanjut Zemima dengan suara yang begitu tenang, hampir menyerupai bisikan, namun setiap kata-katanya menghantam ulu hati Bu Rahmi.

"Sementara listrik rumah ini, gaji Mbak Mirna, belanja bulanan, sampai obat-obatan Ibu sore ini... semuanya dibayar dari gaji 'staf biasa' yang selalu Mas Arsyad rendahkan itu."

"Zemima... tapi kan Hendra dan Siska itu saudara kandungnya Arsyad..." Bu Rahmi berusaha berkilah, suaranya terdengar makin gugup dan serak.

"Sebagai anak tertua yang sukses, sudah kewajiban Arsyad membantu..."

"Sukses karena siapa, Bu?" potong Zemima cepat. Matanya berkilat tajam.

"Arsyad bisa naik jabatan secepat itu bukan cuma karena dia lembur tiap malam. Ada tangan dingin yang membuka jalan untuk dia di jajaran eksekutif. Tapi apa yang Arsyad lakukan setelah berada di atas? Dia merasa menjadi raja. Dia merasa berhak memaki saya di telepon, menuduh saya melantarkan Ibu, hanya demi memuaskan rasa superioritasnya!"

Bu Rahmi tersentak, tangannya yang memegang jemari Zemima perlahan mengendur.

"Arsyad... membentak kamu di telepon?"

"Bukan cuma membentak, Bu. Dia mengancam akan memotong gaji saya, lalu menyombongkan gajinya yang dia klaim 'bisa menutupi kebutuhan rumah tangga'," Zemima terkekeh pelan, menggelengkan kepala.

"Bagaimana dia mau menutupi kebutuhan saya dan calon anak kami kelak, kalau untuk bayar token listrik rumah ini saja dia harus menunggu transferan bonus kuartalan?"

Atmosphere di dalam kamar tidur yang harum lavender itu mendadak terasa begitu menyengat dan dingin. Bu Rahmi menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang kayu jati, wajahnya tampak menyusut. Ketakutan yang sebenarnya mulai merayapi benaknya, bukan takut karena Arsyad belum siap punya anak, melainkan takut jika aliran uang yang selama ini menopang gaya hidup anak-anak kesayangannya mendadak terhenti.

"Zem... kamu jangan bicara seperti itu..." Bu Rahmi menelan ludah dengan susah payah.

"Kalian kan suami istri. Masalah rezeki kan bisa dicari sama-sama..."

"Mencari rezeki bersama itu kalau saling menghargai, Bu. Bukan yang satu memeras keringat di kantor pusat, sementara yang lain sibuk berakting jadi pahlawan keluarga pakai uang istrinya," tegas Zemima. Ia berdiri dari kursinya, merapikan gaun custom made yang membalut tubuhnya dengan sangat sempurna.

1
Ma Em
Arsyad bodoh dia kira sdh sukses dgn karirnya dan Arsyad kira Zemima cuma staf biasa bkn orang penting di perusahaan holding ga taunya Zemima pemilik saham terbesar di perusahaan tempat Arsyad bekerja , selamat menyesal Arsyad dan pasti menangis darah dan minta ampun pada Zemima .
Adinda
jijik aku lihat benalu mokondo pula ditambah tukang selingkuh,gak nafkahi zemima kayak punya kuasa aja
nely_48
blm jg zemima beneran selingkuh km suami dajjal udh kebakaran jenggot,, apa kabar nya diri km sendiri yg udh jelas n nyata selingkuh sm s dina n lg hamil pula tuh s gundik nya
nely_48
pria n suami yg mulia hati nya s Arsyad ini,, sampe² semua anggota keluarga nya D gundik nya D kasih makan n foya-foya pake uang haram dr hasil korupsi D kantor istri nya
Fitria Syafei
emang enak..rasain ..rasain... mati berdiri nti kau kalau kau tau siapa sesungguhnya Zamima ntuh Arsyad 😏 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Arieee
kebakaran jenggot tuhhhhhh🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
wkwkwkkwk.. siap2 arsyad sbentar lagi kamu kembali ke setelan awall 🤭🤭🤭
Yam_zhie: sabar ya
total 1 replies
Ilfa Yarni
kelamaan thor ah bosan munggunya terlalu diulur2
Yam_zhie: ya mau gimana Bun nanti aku kena sentil Edi kalau dari awal lambat terus cepet. gak dapat duit othor 🙈🙈🙈😭😭
total 1 replies
Aretha Shanum
sat set lah jangan ditunda2
Yam_zhie: kalau kecepatan hukumannya enak dong 🤣
total 1 replies
Fitria Syafei
syukurin semakin di gin kan istrimu Arsyad ...😏 KK cantik pinisirin 🙄
ryuka
senin adalah hari kehancuran mu arsen 🤭🤭🤭
Yam_zhie: biar dia pusing dulu 🙈🙈🙈
total 1 replies
Ilfa Yarni
aduuuh msh Lama bomnya iih aku yg gregetan jadinya
Yam_zhie: sabar ya maaaakkk🤣🤣🤣
total 1 replies
Ma Em
Mampus Arsyad kamu tdk akan menjadi kepala cabang malah kamu akan dipecat mungkin setelah Zemima tau tau semua kebusukan Arsyad juga keluarganya , selamat menyesal dan jadi gembel Arsyad .
Irsyad layla
jgn diundur terus deh ini mergokin nya malah bosen bacanya jadinya
nely_48
otak udang kau Arsyad,, nilep uang kantor buat foya-foya,, dasar org miskin d angkat derajat oleh istri bukanya bersyukur mlah makin menjadi korupsi
nely_48
josjis ath zemima,, jgn d ulur² trs
Fitria Syafei
hahahah baru jadi simpanan aja deh pengeretan apalagi jadi bini kedua ..ntuh laki orang lagi kelojotan ntuh kalau benar bini sah nya CEO di tendang deh kalian 😏 KK cantik kereen 🥰 terimakasih 🥰
ryuka
diihhh ada yg halu udah di nikahin 🤭🤭🤭🤭🤣
Oma Gavin
wkwkwk belum apa" sudah pusing arsyad baguslah nanti saat tau kebenarannya jadi stroke 🤣🤣🤣
Ilfa Yarni
aduh zemima kpn km Skalkmat ini orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!