Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - JEBAKAN DI GUDANG PELABUHAN
Cahaya lampu sorot yang menyilaukan mata itu bikin suasana di lapangan beton pelabuhan berasa kayak panggung teater maut. Di tengah-tengah sorotan cahaya, Paman Surya berdiri santai dengan payung hitamnya. Senyum kebapakannya yang dulu selalu bikin Valeria merasa aman, malam ini kelihatan kayak seringai iblis yang baru keluar dari kerak neraka.
Puluhan titik laser merah dari senapan *sniper* menari-nari di atas dada, dahi, dan tubuh Valeria serta pasukannya.
Tanpa ragu sedetik pun, Kael langsung melangkah maju, memosisikan tubuh besarnya tepat di depan Valeria, menjadikan dirinya tameng hidup untuk memblokir belasan titik laser merah yang tadinya mengarah ke kepala ratunya.
"Paman Surya..." desis Valeria. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah dan rasa sakit yang luar biasa. Harapannya kalau Haris cuma ngarang cerita hancur lebur malam ini.
"Malam, Val. Paman lihat kamu bawa lumayan banyak mainan malam ini," sapa Surya santai, suaranya menggema lewat *megaphone* yang dipegang oleh salah satu komandan bayaran Viper di sebelahnya. "Tapi sayang, Paman bawa lebih banyak teman."
Valeria melangkah keluar dari balik punggung Kael, menolak untuk sembunyi meski Kael udah berusaha menahannya. Dia menatap lurus ke arah pamannya, rahangnya mengeras.
"Jadi ini caramu ngebalas semua yang udah ayahku bangun? Dengan ngejual klan kita ke anjing-anjing Viper?!" teriak Valeria, suaranya membelah keheningan malam dan deru angin laut.
Surya tertawa renyah, tawa yang sama persis kayak waktu dia ngasih kado ulang tahun ke Valeria sepuluh tahun lalu.
"Menjual? Oh, Val, sayangku. Paman nggak menjual klan kita. Paman sedang *merebut kembali* apa yang seharusnya jadi milik Paman," balas Surya, nadanya mendadak berubah dingin dan penuh kedengkian. "Ayahmu itu pencuri. Dia merebut posisi pemimpin klan dari Paman bertahun-tahun yang lalu hanya karena dia lebih tua! Dan saat dia mati, bukannya menyerahkan takhta itu pada Paman, dia malah mewariskannya pada anak perempuan bau kencur yang cuma tahu cara pakai lipstik!"
"Aku bikin klan ini sepuluh kali lipat lebih besar dan lebih kaya dari zamannya ayah, Paman!" bentak Valeria nggak terima. "Aku ngasih Paman kekuasaan, saham, rumah mewah. Kurang apa lagi?!"
"Kurang gelar 'Bos Besar', Val!" potong Surya garang, wajahnya memerah karena emosi. Pria paruh baya itu menurunkan payungnya, menatap Valeria dengan penuh kebencian. "Paman muak harus tunduk sama keponakan sendiri. Paman muak melihat para tetua lebih takut pada anjing penjagamu itu daripada pada Paman. Viper menawari Paman kesepakatan yang adil. Mereka membantuku menyingkirkanmu, dan sebagai gantinya, aku membiarkan mereka mengambil rute penyelundupan utara."
Kael, yang sejak tadi diam memindai situasi, mencondongkan kepalanya sedikit ke arah Valeria.
"Val, mereka mengepung kita dari tiga ratus enam puluh derajat," bisik Kael sangat pelan, hanya bisa didengar oleh Valeria. Matanya terus bergerak menghitung moncong senjata yang mengintip dari sela-sela kontainer. "Jumlah mereka setidaknya lima kali lipat dari pasukan kita. Belum termasuk penembak jitu di atap. Ini pembantaian sepihak."
Valeria menggigit bibir dalamnya sampai berdarah. Kael benar. Insting pria itu lagi-lagi terbukti akurat. Dia udah masuk ke dalam jebakan maut karena membiarkan emosinya mengambil alih logika.
"Nyonya, apa perintahnya?" bisik Bastian dari balik pintu SUV yang terbuka, keringat dingin membanjiri wajah bertatonya. Pasukan elit klan udah membidikkan senjata mereka, tapi formasi mereka sangat tidak menguntungkan. Mereka berada di tengah lapangan terbuka, sementara musuh berada di *high ground* dan berlindung di balik kontainer baja.
Valeria menarik napas panjang. Otaknya berputar cepat mencari celah, tapi sejauh mata memandang, yang ada cuma tembok kematian.
"Menyerahlah, Val," seru Surya lagi, nadanya kembali melembut dengan gaya manipulatifnya. "Suruh monyet-monyetmu itu meletakkan senjata. Paman janji, Paman nggak akan menyiksamu. Paman akan pastikan kamu mati dengan cepat dan nggak sakit. Itu bentuk kasih sayang terakhir Paman buat kamu."
Valeria mendengus sinis. Ratu mafia itu menegakkan punggungnya, mencabut kedua pistol Glock-19 dari sarung di pahanya, lalu mengokangnya dengan suara *klik-klak* yang nyaring.
"Kasih sayang? Simpan aja omong kosong itu buat di neraka nanti, Paman," ancam Valeria dengan senyum iblis yang sangat menawan namun mematikan. "Aku Valeria. Aku nggak pernah berlutut sama pengkhianat. Kalau malam ini aku harus mati, aku bakal pastiin Paman mati duluan!"
Melihat keponakannya yang keras kepala, Surya mendesah kecewa. Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu membalikkan badan berjalan masuk kembali ke dalam gudang yang aman.
"Sayang sekali. Padahal Paman sudah berbaik hati," gumam Surya sebelum melambaikan tangannya ke udara tanpa menoleh ke belakang. "Bunuh mereka semua. Tapi biarkan Valeria hidup. Aku mau dia melihat klannya hancur berkeping-keping."
Tangan komandan Viper yang memegang *megaphone* langsung terangkat tinggi, lalu turun dengan cepat.
Itu adalah aba-aba kematian.
"TEMBAAAAAK!" teriak komandan itu.
*TATATATATATATA!*
*DOR! DOR! DOR!*
Ratusan laras senapan menyalak serentak dari segala arah. Langit malam pelabuhan yang gelap mendadak terang benderang oleh ribuan kilatan api dari moncong senjata. Suara tembakan terdengar seperti kiamat yang turun ke bumi, memekakkan telinga dan menggetarkan aspal.
"LINDUNGI NYONYA!" raung Bastian kalap.
Namun sebelum Bastian sempat bergerak, Kael sudah bereaksi jauh lebih cepat dari kedipan mata.
Di detik pertama tembakan meletus, Kael menerjang tubuh Valeria, memeluk pinggang wanita itu dengan tangan kirinya dan membantingnya ke aspal tepat di balik ban belakang SUV anti peluru mereka.
*TRANG! TRANG! TRANG!*
Ratusan peluru menghujani bodi mobil mereka dalam hitungan detik, merobek logam dan memecahkan kaca peluru seolah itu cuma plastik murahan. Percikan bunga api dan serpihan aspal beterbangan ke mana-mana, mengenai wajah dan pakaian mereka.
"Bastian! Bawa pasukanmu mundur ke celah kontainer barat! Kita nggak bisa bertahan di ruang terbuka!" teriak Kael lewat *earpiece*, suaranya nyaris tenggelam oleh suara tembakan yang menggelegar.
Tapi situasi udah benar-benar di luar kendali. Pasukan elit klan Valeria memang terlatih, tapi mereka terjebak di tengah *kill box*. Dalam semenit pertama, belasan anak buah Valeria langsung tumbang, tubuh mereka terkoyak peluru dari *sniper* dan berondongan senapan mesin Viper dari atas kontainer. Jeritan kesakitan dan bau amis darah langsung memenuhi udara pelabuhan.
"Sialan! Sialan! Maju! Balas tembakan mereka!" teriak Bastian membalas berondongan sambil menarik salah satu anak buahnya yang terluka.
Valeria meringkuk di bawah perlindungan tubuh raksasa Kael. Jantungnya berpacu gila. Dia mengangkat pistolnya dan membalas tembakan dari bawah kolong mobil, berhasil menumbangkan dua tentara bayaran Viper yang mencoba mendekat.
"Kael, peledak C4 kita ada di bagasi mobil belakang! Kalau kita bisa ledakin itu, kontainer di sebelah timur bakal roboh dan kita punya jalan keluar!" teriak Valeria di telinga Kael, berusaha menyaingi suara desingan peluru.
"Terlalu jauh, Val! *Sniper* mereka mengunci setiap inci lapangan ini!" tolak Kael tegas.
Pria itu beranjak dengan posisi setengah berjongkok, menyandarkan punggungnya ke bodi SUV. MP5 di tangannya menyalak panjang. *TATATATA!* Kael menembak dengan akurasi mematikan, menjatuhkan tiga *sniper* Viper yang mengintai dari atas tumpukan kontainer terdekat. Mayat mereka jatuh berdebum ke atas aspal.
"Nyonya! Kita nggak bisa nahan lebih lama lagi! Pasukan kita habis!" lapor Bastian lewat komunikasi radio. Suaranya terdengar panik dan putus asa. "Mereka pakai peluru penembus baja! Mobil pelindung kita bentar lagi tembus!"
Kael melirik ke arah mobil-mobil klan mereka yang kini kondisinya udah kayak saringan tahu. Benar kata Bastian. Pertahanan mereka cuma tinggal menghitung menit.
"Val, dengarkan saya," ucap Kael mencengkeram erat bahu Valeria, memaksa wanita itu menatap matanya di tengah kekacauan yang gila itu. Mata Kael terlihat sangat gelap, insting monsternya kini sepenuhnya bangkit. "Saya akan menembus garis pertahanan mereka di sebelah kiri, menarik perhatian semua *sniper*. Begitu tembakan mereka terfokus pada saya, Anda dan Bastian lari ke arah dermaga lama di belakang gudang. Mengerti?"
Valeria melotot kaget. "Kamu gila?! Itu namanya bunuh diri, Kael! Aku nggak bakal ninggalin kamu di sini!"
"Ini bukan waktunya berdebat, Nyonya!" bentak Kael untuk pertama kalinya seumur hidup. Suara baritonnya menggelegar, penuh dengan otoritas mutlak yang bikin Valeria terdiam sesaat. "Anda adalah nyawa dari klan ini. Kalau Anda mati, semuanya berakhir. Tapi kalau saya mati... saya mati melakukan tugas saya."
"Kael, jangan berani-beraninya—"
Belum sempat Valeria menyelesaikan kalimatnya, sebuah peluru kaliber besar dari *sniper* menembus tangki bensin mobil SUV yang mereka jadikan tempat berlindung. Bensin menyembur keluar, membasahi aspal di dekat kaki mereka.
Kael mencium bau bahan bakar itu dan matanya langsung melebar.
"LARI!" teriak Kael kalap.
Kael menarik kerah jaket Valeria, melemparkan tubuh wanita itu menjauh dari mobil dengan sisa tenaga di lengannya, tepat sedetik sebelum sebuah peluru *tracer* (peluru api) menghantam tumpahan bensin tersebut.
*BLAAAAAAAARRRRRR!*
SUV hitam itu meledak dengan dahsyat. Bola api raksasa melahap malam, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan tubuh Valeria hingga berguling-guling di atas aspal kasar. Telinga Valeria berdenging hebat. Pandangannya kabur, pandangannya dipenuhi asap tebal dan kobaran api.
"Kael..." rintih Valeria, berusaha bangkit dengan kepala yang pusing dan darah yang menetes dari pelipisnya.
Di tengah kepulan asap tebal dan hujan peluru yang terus berlanjut, Valeria menatap nanar ke arah bangkai mobil yang terbakar. Pasukannya dibantai habis-habisan, dan kini, bayangan yang selalu melindunginya itu tertelan oleh ledakan. Malam ini, kerajaan sang ratu mafia benar-benar runtuh berkeping-keping.