Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Dera dan Rere masih duduk di pojok kafe yang relatif sepi. Suara gemerisik cangkir dan dentingan sendok bercampur dengan obrolan pelan pengunjung lain. Bau kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan, hangat namun tidak mampu menghangatkan dada Dera sepenuhnya.
Mereka sudah mengobrol cukup lama tentang hal-hal ringan. Rere bercerita tentang pekerjaannya, tentang tetangga yang suka ribut di kosan, bahkan tentang harga makan siang yang semakin mahal di Jakarta. Dera sesekali mengangguk, tersenyum tipis, atau menjawab singkat. Namun Rere yang sudah mengenal temannya sejak lama bisa melihat bahwa ada sesuatu yang mengganjal.
Sesekali Dera terdiam. Matanya kosong, menatap jauh ke luar jendela kaca seolah sedang memandang sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Jari-jarinya bermain gelisah dengan tepi cangkir kopinya yang sudah hampir dingin. Senyumnya muncul dan hilang terlalu cepat.
Rere mengamati dalam diam beberapa saat. Akhirnya ia menarik napas, memberanikan diri.
“Kamu tidak ingin bercerita sesuatu?” tanya Rere pelan, suaranya lembut namun tegas. “Aku perhatiin dari tadi. Kamu kayak lagi di tempat lain, Der.”
Dera mengangkat wajahnya. Tatapan kosong itu sempat bertemu dengan mata Rere sebelum ia menunduk lagi. Ia menghela napas panjang, seolah membuang beban yang sudah terlalu lama dipikul. Di dalam hatinya, ia menimbang. Apakah pantas menceritakan semua kehancuran itu? Apakah Rere akan melihatnya sebagai orang yang lemah? Atau justru akan menghakiminya seperti orang tuanya?
Namun semakin lama ia memendam, semakin sesak dadanya. Di Bandung ia sudah terlalu banyak diam. Di Jakarta, setidaknya ada satu orang yang masih peduli.
“Galih selingkuh dengan Kak Vivian,” lirih Dera akhirnya. Suaranya hampir tenggelam di antara keramaian kafe. “Sekarang mereka sudah menikah, Re.”
Rere membelalakkan mata. Sendok di tangannya terhenti di udara. Ia menatap Dera seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Kau serius? Selingkuh dengan kak Vivian, kakak kandungmu itu?” tanyanya, suaranya naik satu oktaf karena kaget. Dia mengetahui siapa Vivian, karena dulu pernah main ke rumah Dera.
Dera mengangguk pelan. Bibirnya bergetar sedikit, tapi ia menahan diri agar tidak menangis di tempat umum.
“Bukan cuma itu,” lanjutnya, suaranya semakin pelan namun penuh kepahitan. “Hubungan mereka didukung penuh oleh orang tuaku. Mereka menikah dengan menggunakan uangku. Gaun pengantin yang aku pesan, dekorasi, bahkan cincin yang aku beli dengan tabunganku sendiri… semuanya dipakai untuk mereka.”
Rere terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia menggelengkan kepala pelan, masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Kakakmu gila,” ujarnya akhirnya, nada suaranya campuran marah dan kasihan. “Mereka semua gila. Orang tua yang mendukung pengkhianatan seperti itu, bukan orang tua, Der. Itu orang yang sudah kehilangan akal sehat.”
Dera menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Jari-jarinya menggenggam erat gagang cangkir seolah itu satu-satunya yang bisa menahannya agar tidak goyah.
“Aku sudah mencoba menerimanya, Re” bisiknya. “Aku sudah mencoba diam. Tapi setiap kali aku mengingat wajah Vivian yang mengenakan gaun pengantin itu, aku merasa seperti bukan bagian dari keluarga itu lagi.”
Rere meraih tangan Dera di atas meja. Genggamannya hangat dan kuat.“Kamu tidak sendirian sekarang, ada aku sahabatmu” katanya tegas. “Mereka boleh gila. Tapi kamu tidak harus ikut hancur bersama mereka.”
Dera mengangkat wajahnya. Kini matanya tidak kosong lagi seperti tadi. Ada kelegaan tipis di sana, bercampur dengan rasa sakit yang masih belum sepenuhnya hilang. Ia mengangguk pelan, membiarkan Rere terus memegang tangannya.
Rere mengaduk es tehnya pelan sambil menatap Dera yang masih terlihat lesu. Suasana kafe semakin ramai. Beberapa pengunjung baru masuk, membawa tawa dan suara langkah sepatu yang beradu dengan lantai kayu. Bau roti bakar dan kopi masih memenuhi udara, bercampur dengan aroma parfum orang-orang yang lewat di dekat meja mereka.
“Kamu mau bekerja di mana?” tanya Rere tiba-tiba, suaranya lebih ringan setelah percakapan berat sebelumnya. “Kebetulan di kantorku masih ada lowongan. Kalau kamu mau, aku coba bantu. Posisinya administrasi, gajinya lumayan untuk ukuran Jakarta.”
Dera mengangkat wajahnya. Ada bayangan rasa terima kasih di matanya, tapi juga keraguan.
“Nanti saja, Re,” jawabnya pelan. “Aku sudah masukkan lamaran ke beberapa perusahaan lain. Lusa sudah dijadwalkan interview di salah satunya.”
Rere mengangguk-angguk. “Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti kalau butuh apa-apa, bilang saja. Aku siap bantu. Jangan malu-malu.”
Dera tersenyum tipis. “Makasih, Re.”
Mereka kembali mengobrol. Topik bergeser ke hal-hal yang lebih ringan, harga sewa apartemen, cara naik TransJakarta tanpa tersesat, dan rekomendasi warung makan murah di sekitar. Rere banyak bicara, sesekali membuat Dera tersenyum meski hanya sebentar.
Tiba-tiba tatapan Rere terhenti. Matanya membelalak ke arah pintu masuk kafe. Seorang laki-laki baru saja masuk. Tinggi, berbahu lebar, memakai kemeja putih yang digulung di siku, dan rambut hitam yang sedikit berantakan karena angin luar. Wajahnya tegas, rahang tajam, dan matanya yang dalam membuat beberapa pengunjung perempuan ikut menoleh.
Rere menepuk lengan Dera dengan semangat.
“Gila, Der! Itu cowok cakep amat. Pengin aku nikahi!” serunya pelan namun penuh antusiasme, hampir tidak bisa menahan diri.
Dera menoleh mengikuti arah pandang temannya. Pandangannya hanya bertahan sekejap. Ia melihat sosok laki-laki itu yang sedang berjalan menuju meja di pojok, diikuti oleh seorang rekan kerja. Senyum tipis sempat terulas di wajah pria tersebut saat ia menyapa pelayan. Tapi Dera langsung memalingkan muka, kembali menatap piring makanannya yang sudah hampir kosong.
Di dalam dadanya, ada rasa aneh. Bukan ketertarikan. Bukan juga rasa tidak suka. Hanya… kehati-hatian yang tajam.
Setelah apa yang dilaluinya dengan Galih, Dera merasa dunia laki-laki menjadi tempat yang penuh tipu daya. Senyum manis bisa berubah menjadi pengkhianatan. Janji setia bisa hancur dalam semalam. Ia masih terluka. Luka itu belum menutup sempurna. Setiap kali melihat laki-laki yang tampan atau ramah, ingatannya otomatis kembali ke wajah Galih yang dulu juga pernah membuatnya percaya sepenuhnya.
Rere masih terus mengomentari.“Lihat badannya, Der. Pastinya olahraga. Aku rela antre buat ngobrol sama dia.”
Dera hanya tersenyum kecil, tanpa mengangkat wajah. “Kamu saja yang deketin, Re. Aku lagi tidak mood.”
Rere mendengus, tapi tidak memaksa. Ia tahu temannya masih membawa luka yang dalam. Jadi ia hanya mengedikkan bahu dan kembali mengobrol tentang topik lain, meski sesekali matanya masih melirik ke arah laki-laki itu.
Dera menghela napas pelan. Ia menusuk sisa salad di piringnya meski sudah tidak lapar. Jakarta mungkin menawarkan banyak wajah baru. Tapi untuk saat ini, Dera memilih untuk menjaga jarak.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa