"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Semua mata di ruangan itu langsung menoleh. Lisa menautkan kedua alisnya, menatap putra bungsunya itu dengan tatapan menyelidik.
"Reygan? Kamu nggak sekolah?"
Mendengar pertanyaan mendadak dari sang mama, Reygan langsung tersentak kaget. Detik itu juga, cowok itu mati-matian menahan muka paniknya agar tidak ketahuan kalau dia lagi di skors. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, sambil memasang wajah melas yang di buat-buat.
"Sebenarnya... Reygan hari ini kurang enak badan, Ma. Agak demam," kilah Reygan berbohong. "Tapi tadi dipaksa sama Abang buat keluar beli sarapan."
Erlangga yang mendengar namanya di sebut langsung melotot tajam.
"Ck... Lo cari mati?! Bisa-bisanya lo numbalin gue," batinnya berteriak geram.
Bagaimana mungkin ia menyuruh Reygan membeli sarapan, sementara dirinya saja baru bangun tidur dan langsung dihadapkan dengan sidang orang tua.
Tanpa rasa berdosa, Reygan langsung melangkah gontai ke arah sofa. Dengan gerakan santai, ia langsung menghempaskan tubuhnya tepat di tengah-tengah Kara dan Erlangga, membuat kedua orang itu kompak bergeser menjauh.
Reygan menaruh beberapa kantong kresek itu ke atas meja.
"Nih, sarapan lo, Bang. Seperti biasa, telur rebus kan?" ucap Reygan sambil menyodorkan sebuah bungkusan kecil ke hadapan Erlangga. Lalu, ia beralih menyodorkan sebungkus nasi uduk ke depan Kara. "Dan ini nasi uduk buat lo," ucap Reygan santai. "Lo pasti pacarnya Abang gue, kan? Semalam lo itu pingsan. Nggak tahu deh habis diapain aja sama Abang gue sampai lemes begitu."
Kara rasanya ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Kalimat blak-blakan dari Reygan sukses memperkeruh suasana yang sudah keruh sampai menjadi lebih keruh lagi.
Lesmana yang sejak tadi hanya diam menyimak langsung menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Kamu pingsan semalam?"
Kara langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia meremas ujung kaosnya dengan jemari yang gemetar. "Sebenarnya, Kara semalam ma..."
"Masuk angin!" potong Erlangga cepat. "Jadi Erlangga nggak tega ngantar Kara pulang."
Tidak mungkin Erlangga berkata jujur kalau Kara semalam habis mabuk berat. Bisa-bisa wanita itu digantung hidup-hidup oleh papanya.
Reygan yang mendengar itu langsung mengernyitkan keningnya sambil menatap heran ke arah Erlangga. "Emang kalau orang lagi masuk angin, bisa bikin Abang teriak sakit-sakit gitu, ya?"
Pertanyaan polos itu sukses membuat empat orang tua di hadapan mereka langsung melotot tajam.
"Apa maksud kamu, Reygan?!" bentak Lisa.
Reygan yang merasa tidak bersalah langsung menggedikkan bahunya santai. "Semalam Reygan dengar sendiri kok Abang bilang 'aduh-aduh sakit, sialan' gitu. Mesum banget, kan? Untung Reygan langsung pasang headset dan setel musik kencang-kencang. Kalau nggak, bisa ternodai kuping suci ini."
Kara langsung memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki nasib sialnya ini.
"Reygan sialan! Habis ini awas aja ya lo. Gue bakal geprek-geprek badan lo sampai remuk. Bisa-bisanya lo malah menjerumuskan gue!" batin Kara menjerit frustrasi.
Ridwan langsung menghela nafas panjang sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. Lalu, ia menatap ke arah Lesmana.
"Nah kan... sepertinya kita harus memajukan tanggal pernikahan mereka. Nggak bisa nunggu tiga bulan lagi."
"Bagaimana kalau minggu depan?" usul Lesmana.
"Nggak, nggak! Minggu depan kelamaan!" potong Lisa. "Bagaimana kalau besok aja kita nikahkan mereka? Kalau nggak cepat-cepat, mama takut Kara malah hamil duluan!"
"Tante! Ini semua hanya salah paham!" protes Kara dan langsung menegakkan tubuhnya.
"Ini sudah jelas, bukan salah paham lagi!" sahut Sonya sembari berkacak pinggang, menatap tajam dua orang yang terus mengelak itu. "Pokoknya kalian besok harus menikah. Biar kami para orang tua yang urus semuanya dari sekarang."
"Betul. Bukannya kalian kemarin udah fitting baju? Berarti sekarang kita tinggal sewa gedung dan urus penghulu!" pungkas Ridwan final, mengabaikan tatapan syok dan pasrah dari Kara yang besok terpaksa harus menikah.
"Kalau gitu, kami akan pulang dulu dan mengurus semuanya. Erlangga, antar Kara pulang setelah kalian selesai mandi dan dandan rapi, mengerti!" ucap Ridwan.
Erlangga hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.
Setelah mengucapkan itu, keempat orang tua langsung bangkit serentak dari duduknya. Dengan langkah lebar, mereka melangkah keluar dari apartemen.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat, kebeningan langsung melingkupi ruangan.
Kara perlahan memutar kepalanya, menatap tajam dan penuh dendam ke arah Reygan yang masih duduk santai di tengah-tengah. Remaja itu bahkan dengan santainya menyuap satu buah bakwan goreng ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya tanpa beban.
"Heh, sialan! Lo bisa-bisanya nggak belain gue tadi! Malah bikin fitnah!" ucap Kara geram sambil menoyor pelan kepala Reygan dari samping.
"Aduh!" Reygan langsung melenguh kesakitan yang di buat-buat. Ia memegangi kepalanya lalu perlahan menoleh ke arah Kara dengan tatapan sinis. "Ngapain gue harus belain lo, emangnya lo siapa? Sorry ye, kita nggak kenal."
Mendengar respons itu, emosi Kara langsung memuncak. Ia menjangkau lengan Reygan dan mencubit kulit lengan remaja itu kuat-kuat hingga memerah. "Lo udah ngelupain gue, hah?! Sialan lo, ya!"
"Aduh, aduh! Sakit! Lepasin nggak!" Reygan langsung menjerit histeris, tubuhnya menggeliat ke kanan dan ke kiri mencoba untuk melepaskan diri dari cubitan maut wanita di sampingnya itu.
Setelah cubitan itu terlepas, Reygan langsung mengusap lengannya sambil menatap lekat-lekat ke wajah Kara. Ia menyipitkan matanya, memandangi guratan wajah perempuan di sampingnya dengan saksama.
Sialnya, memori di otaknya masih belum sinkron. Ia benar-benar lupa siapa wanita galak di sampingnya ini. Karena buntu, Reygan akhirnya menoleh ke kanan, menatap Erlangga dengan dahi yang berkerut.
Erlangga langsung menghela nafas pendek. "Dia Kara. Lengkara Anasera," bisiknya pelan.
"Uhukk... Uhukk!"
Reygan langsung tersedak oleh sepotong gorengan yang baru saja dikunyahnya. Wajahnya langsung memerah. Ia terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya yang mendadak sesak karena terkejut.
"Kara? Jadi lo Kak Kara?!" ucap Reygan setelah batuknya agak mereda, matanya membelalak lebar dan kembali menatap ke arah wanita itu.
Ingatan Reygan langsung berputar cepat ke sepuluh tahun yang lalu, saat keluarganya memutuskan untuk pindah rumah. Saat itu, Reygan masih bocah ingusan yang berumur enam tahun. Dulu, Reygan kecil sangat manja dan selalu menempel pada Kara. Kara adalah kakak perempuan favoritnya yang selalu pasang badan dan membelanya jika ia berbuat nakal.
"Jadi, lo benar-benar lupa kan sama gue? Oke baik, kita rival sekarang," ucap Kara sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aelah Kak, wajar nggak sih kalau gue lupa sama lo? Lagian gue juga masih kecil banget waktu itu," bela Reygan. Ia kembali memperhatikan wajah Kara sekali lagi, lalu menyeringai jahil. "Apalagi sekarang wajah lo jadi tua banget, mirip tante-tante."
Mata Kara langsung membelalak lebar. "Apa lo bilang? Lo mau gue bunuh, hah?!"
Melihat kilatan amarah di mata Kara, Reygan buru-buru bangkit dari sofa dengan gerakan cepat. Lalu ia langsung berlari menjauh sebelum wanita itu menganiayanya lagi.
"Kabur... Ada singa marah!" teriak Reygan lantang sambil lari terbirit-birit menuju kamarnya.
Kara yang tidak terima karena dihina tua langsung bangkit dan bersiap untuk mengejar Reygan. Namun, baru saja ia hendak melangkah, pergelangan tangannya langsung ditahan oleh Erlangga.
Kara langsung tersentak dan menoleh ketus.
"Lo mau berantem sama anak kecil?" tanya Erlangga tenang sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan urusan lo, Erlangga! Lepasin tangan gue!" sentak Kara sambil mencoba menyentakkan tangannya kuat-kuat.
Bukannya melepaskan cengkeramannya, Erlangga justru menarik paksa tangan Kara, dan menyeret pelan wanita itu menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
"Erlangga! Lo mau bawa gue kemana?! Lepasin nggak!" teriak Kara yang terus meronta-ronta.
"Mending lo mandi, badan lo bau banget," ucap Erlangga datar setelah mereka sampai di depan pintu kamar mandi. Tanpa aba-aba, ia langsung mendorong tubuh Kara masuk ke dalam, lalu dengan cepat menutup pintu itu dan menguncinya dari luar.
Dug! Dug! Dug!
"Erlangga! Sialan lo ya! Buka nggak?!" teriak Kara dari dalam kamar mandi sambil menggedor pintu dengan kepalan tangannya.