Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
"Kau berhasil tidur dengan daddy-mu?"
Nafas Mirella tercekat mendengar pertanyaan itu. Ia tahu ibunya pasti akan menanyakan itu. Tapi tetap saja ia kaget.
"Anu, itu bunda aku ..." Mirella ingin bohong. Tapi tatapan sang ibunda membuat dia ragu-ragu.
Viona sendiri menatap tajam ke dalam mata putrinya, seakan mencoba menembus setiap kebohongan yang mungkin tersembunyi di sana. Senyum miring itu perlahan lenyap, berganti dengan tatapan yang semakin menusuk.
"Jangan berpikir kau bisa menyembunyikan apapun dariku, Mirella. Aku melahirkanmu. Aku tahu setiap ekspresi di wajahmu." suaranya rendah, namun berat dan menekan.
"Jadi, jawab pertanyaanku. Apakah semalam kau sudah menjadi ditiduri pria itu? Kau berhasil?"
Jantung Mirella berdegup kencang seakan mau meledak di dadanya. Ia menelan ludah dengan susah payah, tangannya mencengkeram ujung gaun tidurnya dengan erat. Otaknya berputar cepat, mencari kata-kata yang bisa menenangkan ibunya. Ia ingin mengangguk, ingin berkata iya, ingin mengatakan semuanya berjalan lancar, tapi lidahnya terasa kaku. Di hadapan Viona, kebohongan terasa seperti batu yang tak bisa ia telan.
"A-aku... Bunda..." suaranya nyaris tak terdengar, matanya beralih ke lantai, tak berani menatap lagi.
Viona mendengus kasar, langkah kakinya maju selangkah, membuat Mirella mundur spontan hingga punggungnya menabrak dinding lorong.
"Lihat aku saat aku bicara padamu!" tegurnya tajam.
"Kenapa kau diam saja? Apa aku harus menebak jawabannya sendiri?"
Mata tajam wanita itu menyapu seluruh wajah putrinya, meneliti setiap inci, mencari jejak apa saja yang mungkin tertinggal. Dan saat ia melihat pipi Mirella yang memerah bukan karena rona kebahagiaan melainkan karena rasa takut, saat ia melihat tidak ada bekas sedikit pun di leher atau pergelangan tangan gadis itu, ia tahu.
Wajah Viona mengeras.
"Tidak." ucapnya dingin, seakan menegaskan fakta yang menyakitkan.
"Kalian tidak melakukan apa-apa, bukan? Kau gagal."
Mirella menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, air mata mulai menggenang di matanya. Ia takut mengangguk, tapi ia juga takut berbohong. Ibunya selalu tahu kalau dia berbohong.
Viona tertawa sinis, namun tawanya sama sekali tidak terdengar gembira. Ia mundur selangkah, menatap Mirella seakan gadis itu adalah benda yang tidak berguna.
"Dasar gadis bodoh. Aku sudah memberikanmu kesempatan emas ini. Aku sudah menyusun semuanya dengan rapi. Dan kau? Kau bahkan tidak bisa melakukan satu hal kecil untuk bunda. Benar-benar bodoh. Kenapa aku bisa melahirkan gadis bodoh sepertimu?"
Mirella menunduk. Sakit sekali rasanya. Tapi dia sudah terbiasa. Dari kecil ibunya memang selalu mengatakan kalimat yang sama padanya.
"Bunda, daddy Zavian gak mau nyentuh Mirella. Mirella juga nggak peng-"
"Itu karena kau terlalu bodoh!" potong Viona kasar. Ia mendekati sang putri.
"Zavian itu berbeda dengan laki-laki lain. Dia sangat dingin pada perempuan dan terlalu sombong. Tapi seangkuh dan sedingin apapun seorang pria, dia tetap laki-laki normal. Kau saja yang bodoh tidak memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Kau cantik karena aku yang menurunkannya padamu. Tapi itu saja kemiripanmu denganku. Selain cantik, kau tidak ada apa-apanya. Jadi, pakai kecantikan itu untuk menggoda ayah tirimu. Buat dia menghamilimu. Aku tidak percaya dia bisa tahan dengan wajah cantik dan tubuhmu ini. Tubuh perempuan remaja jelas-jelas adalah yang paling disukai oleh laki-laki seumuran mereka."
Viona mendekat lagi. Kali ini dekat sekali, berbicara tepat di telinga gadis itu.
"Aku akan memberimu waktu satu bulan. Kalau kau tidak berhasil juga, aku pastikan mengirimmu ke Austria. Ke sekolah asrama yang tidak kau sukai itu. Biar kau rasakan bagaimana rasanya tersiksa di sana. Kau paham?"
Nafas Mirella tercekat. Ia mengangguk dengan tubuh sedikit bergetar. Austria adalah mimpi buruknya. Saat bersekolah di sana, di sekolah asrama putri setahun yang lalu, dia pernah mengalami perundungan oleh teman-teman sekolahnya. Dia di kunci di ruangan gelap, di diisolasi dari semua teman, dan sering diabaikan oleh para guru dan pengurus sekolah. Ia tidak sanggup kembali ke sana.
Ibunya juga tidak menuntut orang-orang yang merundungnya. Dia hanya merasa itu adalah hal biasa yang dilakukan oleh anak-anak remaja. Dari kecil Mirella sudah tumbuh dengan penuh ketakutan, jadi dia terbiasa melawan, karena terlalu penakut.
"Paham, bunda ..." jawabnya lirih, air mata menetes di pipi yang ia buru-buru usap dengan punggung tangan.
Viona tersenyum puas, lalu menepuk pipi Mirella pelan, seperti menepuk kepala anak kecil yang baru saja diberi peringatan.
"Bagus. Sekarang bersiaplah. Sarapan sebentar lagi siap. Jangan tunjukkan wajah cengengmu di depan Zavian. Tersenyumlah. Jadilah gadis yang manis. Ingat, pria menyukai yang menyenangkan, bukan yang cengeng sepertimu."
Viona berbalik dan pergi dengan langkah tegap, meninggalkan Mirella sendirian di lorong yang terasa semakin sempit. Gadis itu menekan punggungnya ke dinding, menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak terdengar. Satu bulan. Hanya satu bulan. Bagaimana ia bisa membuat daddy Zavian mau tidur dengannya?
Setelah menenangkan diri cukup lama, Mirella berjalan perlahan menuju ruang makan. Langkahnya berat, seakan ada batu besar yang mengikat kakinya. Saat ia masuk, Zavian sudah duduk di meja makan, sedang menyesap teh hangat sambil membaca berita di ponselnya.
Pria itu terlihat tenang dan bersikap lembut padanya. Rasanya aneh. Ia harus menggoda pria yang semalam tidak mau menyentuhnya? Bagaimana caranya? Pria itu pasti menganggapnya masih anak-anak.
"Kenapa tidak makan, kau tidak suka makanannya?" tanya Zavian lembut. Di meja makan saat ini hanya ada mereka berdua. Viona belum turun. Lebih baik wanita itu tidak usah turun juga, pikir Zavian. Kehadirannya hanya merusak suasana.
Mirella menggeleng. Ia cepat-cepat mengunyah sandwich di piringnya namun langsung terbatuk-batuk. Zavian segera berdiri, menuangkan segelas air putih dan menyerahkannya dengan cepat.
"Pelan-pelan, tidak ada yang mengejarmu."
Mirella menerima gelas itu dengan tangan gemetar, meminumnya sedikit demi sedikit sampai napasnya kembali teratur. Wajahnya memerah karena malu, matanya menunduk menatap permukaan meja. Zavian menatapnya lama. Mungkin gadis itu masih malu dengan kejadian semalam.
Zavian hendak bicara, tapi tidak jadi karena si penyihir gila itu tiba-tiba muncul. Wajahnya yang tadinya lembut menatap Mirella, berubah datar.
"Good Morning, suamiku."
Zavian mendengus. Suami? Huh. Dia bahkan tidak menganggap wanita gila itu istrinya. Viona duduk di samping putrinya, mengambil makanan dengan sikap santai.
"Aku dengar semalam kalian tidak berhasil. Putriku sangat cantik sepertiku, kenapa kau tidak tergoda?"
Zavian duduk tegak dan meletakkan sendok dan garpunya sambil menatap Viona tajam. Wanita itu membuat mood pagi harinya memburuk.
apa ada yang sabotase ...
zavian jangan takut sama ancaman wanita iblis itu, kasian hidupnya mirella sangat menderita. penuh tekanan dan ancaman ibunya yg gila dan stress itu🤭
daddy zavian merasa kasian dan prihatin sama mirella punya ibu sakit jiwa dan stress itu, makanya daddy zavian tidak akan membiarkan mirella menderita. akan menjaga dan melindunginya..
hanya daddy zavian dan bara sangat peduli dan perhatian sama mirella, daddy davian berangkat kerja viona pasti akan marah dan memaki-maki mirella.
viona emang gila dan stress anak kandung sendiri diperlakukan seperti anak tirinya, ibu macam apa viona itu tidak sayang dan perhatian sama mirella...
mirella sangst lemah dan tidak berdaya selali nurut ancaman viona, sabar ya mirella suatu nanti kamu berhak bahagia...
lanjut mae..
ditunggu updatenya lagi...
zavian ayah tiri yg baik👍
bisa gak zavian tetap jd ayah tiri ny mirrela aja, jng nyimpang2 ke ayah tiri cinta ke ank,, emg sih cerita kk mae bnyak pria dewasa suka sama gadis kecil cinta beda usiaaaaaa jauhhh bnget ,, tp kan status ny gak ad hubungan gitu,,
kan mirrela bisa sama bara yg jg baik🙏🙏🙏🙏🙏🙏