Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMAKIN GENCAR
Pukul sepuluh pagi, Baruna sudah datang menjemput Vallery untuk berkumpul di rumah Yanti dimana semua para anggota karang taruna sudah sepakat untuk membuat semua perlengkapan untuk lomba Agustus disana.
“Sudah siap?”, tanya Baruna begitu melihat Vallery keluar dari halaman rumah nenek Gendhis.
“Ayo berangkat”, jawab Vallery yang sudah naik keatas boncengan motor Baruna.
Keduanya pun segera melesat pergi dan mampir sebentar di toko untuk membeli beberapa kebutuhan yang masih kurang sebelum sampai di rumah Yanti.
Begitu tiba, keduanya pun segera bergabung dengan yang lain untuk membuat hiasan gantung yang akan dipasang di sepanjang jalan yang ada didesa.
Tema yang diusung untuk lomba hias desa kali ini adalah jaman kerajaan karena menurut Vallery suasana pedesaan yang alami ini sangat cocok dengan tema tersebut karena mereka tak terlalu perlu banyak mengubah apa yang ada, cukup dihias sesuai dengan jaman kuno karena memang nuansa pedesaan disini masih kental dengan aura tema yang diusung.
Karena dijaman kolonial tak ada lampu maka disepanjang desa akan di buat hiasan berbentuk obor dimana di tengahnya akan dipasang lampu kecil yang berbentuk lilin yang sudah Vallery check out dari keranjang oranye begitu proposal pengajuan kegiatan di ACC oleh pak kades dan kini tinggal tunggu barangnya datang saja.
Selain memasang hiasan obor disepanjang jalan utama desa, gerbang masuk desa menjadi hal yang paling utama untuk di hias dengan potongan bambu dan juga sabut kelapa di bagian atasnya sebagai hiasan sehingga kesan jaman dulunya benar-benar kental.
Rumah-rumah warga yang ada di pinggir jalan masuk desa juga rencananya akan dilapisi poster dengan gambar gedhek (tembok yang terbuat dari bambu) yang biasanya digunakan pada rumah-rumah jaman dulu sebelum warga mampu membangun rumah bata dengan atap rumah mereka akan di hiasi dengan atap jerami kering yang akan di taruh diatas genteng.
Beberapa properti yang dibutuhkan masih banyak ditemukan di Desa Maju Bersama sehingga untuk beberapa properti mereka tak perlu beli hanya perlu mencarinya sehingga bisa mengurangi budget anggaran yang ada untuk kegiatan lainnya.
Konsep yang mudah, murah tapi jarang terpikir karena kebanyakan warga desa lainnya lebih senang menghias desa mereka dengan aneka macam pernak-pernik mewah yang terlihat meriah sehingga semua orang sangat yakin jika tahun ini desa mereka akan menang dalam lomba hias desa karena konsep yang mereka usung sangat berbeda, hal ini tentu saja membuat semua orang sangat bersemangat.
Menjelang siang, ketika semua orang tengah sibuk dengan tugas masing-masing, tiba-tiba lek Kardi, tukang ojek yang biasanya mangkal digerbang desa mengetuk pintu.
Sebagai tuan rumah, Yanti pun segera keluar untuk menyapa, “Ada apa lek?”, tanyanya.
Bukannya menjawab, Kardi malah balik bertanya. “Mbak Vallery nya ada?”.
Karena Kardi mencari Vallery maka Yanti pun segera memanggilnya. “Vallery, ada yang nyari tu…”, teriak Yanti, membuat Vallery yang mendengarnya segera menghentikan aktivitasnya dan berjalan menuju kearah pintu masuk rumah Yanti.
“Siapa yang nyari aku?”, tanya Vallery sambil menatap Yanti dan Kardi bingung karena ia merasa tak mengenal pria yang ada didepan Yanti itu.
Kardi yang tersadar setelah terpesona akan kecantikan Vallery segera memberikan beberapa bungkus makanan yang baru saja dibelinya.
“Ini dari mas kades, untuk mbak Vallery”, ucap Kardi sambil tersenyum lebar.
Ucapan Kardi yang lumayan keras membuat semua orang segera menghentikan kegiatan mereka dan menoleh kearah pintu luar dimana Kardi, Vallery dan Yanti masih berdiri dengan kedua mata melotot dan mulut terbuka lebar akibat terkejut akan apa yang baru saja mereka dengar.
Meski sedikit bingung, Vallery yang tak ingin mempersulit Kardi pun segera mengucapkan terimakasih sambil tersenyum tipis, membuat Kardi kembali ke motornya sambil salah tingkah mendapatkan senyum manis dari gadis cantik tersebut.
“Pantesan mas kades kesengsem, lha mbak Vallery uayu poll ngene, sopo seng nggak gelem”, guman Kardi masih dengan semburat merah di wajahnya akibat mendapatkan senyum manis Vallery yang tak ia duga.
Begitu Vallery masuk dan meletakkan semua makanan yang Dirga kirim, semua orang pun segera mengerubunginya.
“Kamu ada hubungan apa sama pak kades Vall?”, tanya Yanti yang sejak tadi gatal ingin bertanya.
Vallery yang masih sibuk mengirim pesan kepada Dirga mengenai makanan yang dikirimnya hanya menjawab santai, “Nggak memiliki hubungan apa-apa”.
Jawaban Vallery tentu saja tak memuaskan rasa kepo semua orang yang kembali mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan.
“Nggak mungkin kalau nggak ada hubungan apa-apa, pak kades mau memberimu makanan sebanyak ini?”, ucap Lutfi curiga.
“Iya Val, meski baik tapi pak kades itu nggak pernah sebaik ini kepada lawan jenis selain janda-janda tua yang usianya diatas delapan puluh tahunan yang jelas nggak mungkin untuk pak kades lirik”, timpal Rokhim.
“Pak kades pasti suka sama kamu Vall”, celetuk Idris yang diangguki oleh semua orang sebagai respon.
Vallery yang memang merasa curiga sejak semalam ketika Dirga memberinya berkat dan juga tadi pagi yang tiba-tiba dibeliin sarapan, tak ingin mengambil kesimpulan sepihak dan salah mengartikan perhatian ini sehingga ia memilih diam sambil menunggu Dirga menjawab pertanyaan yang diajukannya melalui pesan yang baru saja dikirimnya.
Triiing…
Begitu pasan dari Dirga masuk, iapun segera menjawab , “Kata pak Kades ini konsumsi untuk seluruh anggota karang taruna”.
Melihat reaksi semua orang yang tak percaya, Vallery pun menunjukkan chat balsan yang Dirga kirim, membuat semua orang hanya bisa terdiam karena tak menyangka jika pak kades mereka akan bergerak secepat dan seagresif itu kepada lawan jenis yang disukainya karena semua orang masih pada kesimpulan mereka masing-masing jika Dirga menyukai Vallery karena perhatian seperti ini sangat tak wajar bagi mereka yang sudah tiga tahun mengenal sosok Dirga yang biasanya bersikap dingin dan berwajah datar itu.
“Daripada sibuk menebak sana-sini, lebih baik makanan ini cepat dimakan keburu dingin dan nggak enak lagi untuk dimakan”, ucap Baruna mencairkan keadaan,membuat fokus semua orang mulai teralihkan begitu satu persatu bungkusan dibuka dan merekapun segera berebut makanan yang sudah dipindahkan kedalam piring yang baru saja Yanti bawa dari dalam.
Sementara itu, didalam kantor kepala desa, Dirga yang baru saja mendapatkan pesan dari Vallery merasa sangat senang meski pesan tersebut sangat sederhana dan hanya menanyakan kenapa ia mengirim banyak makanan kepadanya dan mengucapkan terimakasih setelah ia jawab, tanpa ada kata-kata hangat atau intim melainkan kata-kata biasa yang diucapkan semua orang ketika mendapatkan kiriman seperti itu, tapi cukup membuat hati Dirga merasa sangat senang sehingga seharian inipun suasana hatinya menjadi sangat baik.
Semua staf yang bekerja dibalai desa, melihat mood Dirga yang sejak pagi sudah sangat baik cukup lega setidaknya hari ini mereka tak lagi tertekan dengan aura ganas Dirga dan juga tak perlu lagi merevisi banyak hal ketika melaporkan pekerjaan yang telah mereka selesaikan.
“Semoga saja mood pak Kades setiap hari seperti ini agar suasana kerja menjadi sangat nyaman dan tak banyak tekanan”, celetuk salah satu satu staff yang diangguki oleh semua orang sebagai respon.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA