Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Malam makin larut ketika Arvin akhirnya tiba di rumah. Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lengang dan hening, seluruh sudut rumah mewah itu terasa sepi dan dingin.
Arvin melangkah naik ke lantai atas dengan tubuh yang teramat lelah. Pikirannya melayang pada nasehat Bagas tadi siang, memikirkan bagaimana cara memperbaiki hubungan dengan istrinya. Langkah kakinya membawa Arvin masuk ke dalam kamar utama.
Namun, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sofa kamar yang kosong. Bantal dan selimut tipis yang biasanya teratur di sana sudah tidak ada. Nadia tidak tidur di kamar mereka.
Arvin menghela napas, lalu beranjak menuju kamar Kenzo. Saat pintu didorong perlahan, terlihat Nadia tertidur lelap di ranjang sambil memeluk Kenzo. Wajahnya tampak begitu letih.
Arvin mendekat, lalu perlahan menyibakkan selimut. Ia menyusupkan tangannya ke bawah tengkuk dan lipatan lutut Nadia, memeluk lalu menggendong tubuh istrinya itu dengan hati-hati.
Nadia sempat bergumam halus dan meremas kemeja Arvin, namun tetap terlelap. Tanpa suara, Arvin melangkah membawa Nadia kembali ke kamar utama.
Arvin membaringkan Nadia secara perlahan di atas ranjang, lalu menarik selimut hingga menutupi dada istrinya. Ia berdiri sejenak, menatap wajah Nadia dalam diam sebelum akhirnya merebahkan diri di sisi lain ranjang dan terlelap.
Keesokan paginya, Nadia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Namun, saat hendak bergeser, ia merasakan sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya rapat ke dada bidang Arvin.
Nadia membelalak kaget. Rasa panik dan amarah mendadak membakar dadanya. Secara refleks, ia mendorong dada Arvin sekuat tenaga.
"Mas Arvin!" pekik Nadia.
Arvin tersentak bangun, menyipitkan mata menahan kantuk.
"Nadia... kamu apa-apaan sih?"
"Mas yang apa-apaan!" sergah Nadia.
"Kenapa saya bisa ada di sini? Dan kenapa Mas meluk-meluk saya?"
Arvin memijat keningnya, menghembuskan napas panjang. "Semalam kamu tidur di kamar Kenzo. Saya cuma pindahin kamu ke sini, dan saya nggak sengaja meluk kamu pas tidur. Jangan berlebihan."
"Berlebihan?" Nadia tertawa hambar, menatap Arvin dingin. "Mas lupa sama perjanjian kita? Dari awal kita sepakat nggak saling menyentuh dan jaga batasan! Kenapa sekarang Mas seenaknya begini?"
"Saya terpaksa, Nadia!" potong Arvin dengan nada meninggi.
"Pagi ini Papa sama Mama sampai! Saya cuma nggak mau mereka curiga kalau melihat kita tidur terpisah!"
Nadia menatap Arvin dengan sorot mata kecewa, lalu menggeleng pelan. "Jadi demi sandiwara di depan orang tua Mas, Mas rela melanggar perjanjian kita sendiri?"
"Terserah kamu mau mikir apa," sahut Arvin datar, lalu bangkit dari ranjang.
"Yang penting sekarang kamu mandi, siap-siap, dan pura-pura kalau hubungan kita baik-baik saja di depan orang tua saya."
Nadia mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap punggung Arvin yang melangkah masuk ke kamar mandi tanpa rasa bersalah.
Sekitar pukul sepuluh pagi, mobil mewah yang membawa orang tua Arvin tiba.
Jovan langsung berlari menyambut kakek dan neneknya. "Opa! Oma! Jovan kangen banget!"
Ranti memeluk cucunya erat sambil mencium pipinya. "Oma juga kangen, Sayang. Makin tinggi aja kamu sekarang."
Damian ikut mendekat, mencium tangan kedua kakek-neneknya dengan sopan. "Selamat datang kembali, Opa, Oma."
"Damian makin cakep ya, Pa," puji Ranti seraya mengelus kepala Damian, lalu pandangannya beredar.
"Kenzo mana?"
Kenzo yang pemalu maju pelan-pelan, menyalimi Haris dan Ranti.
"Pagi Opa, Oma..." lirihnya, lalu buru-buru balik badan dan bersembunyi di balik gaun Nadia.
Karena hari libur, mereka semua berkumpul di ruang tamu. Nadia menyajikan cangkir teh hangat dan camilan di meja dengan sikap sesopan mungkin.
Nadia menyajikan teh dan camilan. "Silakan diminum tehnya, pa, ma."
"Terima kasih, Nadia," balas Haris ramah.
Ranti memperhatikannya lekat. "Kenzo kok nempel terus sama kamu, Nad?"
"Kenzo lagi agak rewel beberapa hari ini, Ma," sela Arvin cepat.
Saat Nadia hendak duduk di sofa tunggal, Arvin menarik tangannya ke sofa utama lalu merangkul bahunya erat. Tubuh Nadia membeku. Sensasi sentuhan itu membuat jantungnya berdegup kencang.
"Perjalanan Papa dan Mama lancar?" tanya Arvin santai.
"Lancar. Lihat kalian rukun begini, capek Papa hilang," jawab Haris.
Ranti tersenyum tipis. "Mama lega kalian makin mesra."
"Kita baik-baik aja kok, Ma. Iya kan, Sayang?" Arvin menoleh, tersenyum buatan.
Nadia menelan ludah. "I-iya, Ma... Mas Arvin perhatian banget."
Damian tersenyum tipis mengamati mereka. Ia tahu ada kepalsuan di balik senyuman itu.
Setelah beberapa saat berbincang hangat, Arvin pamit ke lantai atas dengan alasan ada berkas pekerjaan yang harus ia periksa. Di ruang tengah, suasana tetap hangat. Nadia duduk mendampingi Kenzo yang sedang asyik mewarnai, sementara Jovan dan Damian duduk tak jauh dari kakek mereka, mendengarkan cerita Haris tentang perjalanan luar negerinya.
Di dalam ruang kerjanya, Arvin menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya.
Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar di pintu sebelum akhirnya terdorong terbuka. Ranti melangkah masuk dengan anggun, lalu menutup pintu di belakangnya hingga rapat.
Arvin tersentak dan langsung menegakkan posisi duduknya. "Mama? Ada apa, Ma? Ada yang kurang di bawah?"
"Kamu pikir Mama bisa kamu bohongi, Arvin?" tanya Ranti.
Ranti bersedekap di depan meja Arvin, menghela napas panjang. "Kemesraan kamu sama Nadia tadi... itu cuma akting, kan? Senyuman kamu kaku, dan Nadia kelihatan sangat tidak nyaman setiap kali kamu menyentuhnya. Mau sampai kapan kamu main sandiwara seperti ini di depan Mama dan Papa?"
"Ma... Arvin sama Nadia cuma butuh waktu buat penyesuaian," sahut Arvin pelan.
"Penyesuaian bukan berarti menyembunyikan kebohongan, Vin," ucap Ranti.
"Mama ini wanita. Mama bisa lihat dari mata Nadia, dia menyimpan rasa canggung yang besar, bahkan ada ketakutan setiap kali kamu mendekat. Apa kamu benar-benar memperlakukan dia dengan baik?"
Arvin menunduk, mengusap wajahnya kasar.
"Mama juga tahu hubungan kalian di ranjang belum ada apa-apanya, kan?" lanjut Ranti blak-blakan, membuat Arvin mendongak terkejut.
"Kalian itu suami istri, Arvin. Nadia itu umurnya sudah 32 tahun, sebentar lagi masuk 33. Masa keemasannya untuk hamil dan punya anak itu ada batasnya. Bagaimanapun, Nadia pasti menginginkan anak kandungnya sendiri. Jangan egois cuma minta dia mengurus anak-anakmu tanpa memberikan dia hak dan kebahagiaan sebagai seorang wanita."
Arvin menarik napas dalam-dalam, makin tersudut oleh penuturan ibunya. Kata-kata mengenai keinginan Nadia memiliki anak sendiri sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya selama ini.
"Keluarga itu dibangun dengan ketulusan, bukan sandiwara," sambung Ranti menasihati.
"Kalau kamu memang memilih Nadia jadi istrimu, hargai dia. Turunkan gengsimu, perlakukan dia layaknya seorang istri yang utuh, bukan cuma sekadar pengasuh anak-anakmu."
Arvin mengangguk pelan dengan helaan napas berat. "Arvin mengerti, Ma..."
"Bagus kalau kamu paham," Ranti berdiri, menepuk bahu Arvin pelan sebelum berbalik menuju pintu.
"Mama cuma nggak mau kamu menyesal nanti."