NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Menyelamatkan Chongyue

Jika Istana Shiyue benar-benar turun tangan, keluarga Xuan tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan.

Keringat dingin perlahan mengalir di pelipisnya. Dia segera mengatupkan kedua tangannya dan membungkuk hormat.

"Tenang saja. Selama Xuan Chongyue berada di Kediaman Jenderal, saya jamin tidak akan ada yang berani menyakitinya lagi."

Mendengar janji itu, Chongyue hanya tersenyum sinis.

Baru beberapa saat yang lalu, pria yang sama bersikeras ingin membunuhnya. Sekarang, dia justru berjanji akan melindunginya.

Benar-benar menggelikan.

Sementara itu, Putra Mahkota kembali menatap Chongyue. Tatapannya kali ini jauh lebih rumit daripada sebelumnya.

Dia teringat pada pertarungan yang baru saja disaksikannya.

Seorang gadis yang disebut idiot ternyata mampu bertahan cukup lama menghadapi Xuan Qing, seorang seniman bela diri tingkat lima.

Sekarang, bahkan Istana Shiyue ikut melindunginya.

Apakah... keputusannya untuk membatalkan pertunangan dengannya benar-benar sudah tepat?

Namun, pikiran itu hanya melintas sesaat di benaknya.

Begitu merasakan tubuh Chongyue tetap tidak memiliki energi spiritual, dia kembali menepis dugaannya.

Bagaimanapun juga, seorang gadis yang tidak bisa berkultivasi tetap tidak layak menjadi pendamping Putra Mahkota.

Saat semua orang masih tenggelam dalam keterkejutan, suara Bei Mingye kembali memecah keheningan.

"Jika kejadian hari ini terulang lagi, Tuan Xuan, kau tentu tahu apa akibatnya, kan?"

Nada bicaranya tenang. Namun, setiap kata yang diucapkannya terasa lebih tajam daripada ancaman apa pun.

Jantung Xuan Yang berdegup semakin kencang. Butiran keringat dingin kembali membasahi pelipisnya.

Tentu saja dia mengerti.

Siapa pun yang berani menentang Istana Shiyue tidak pernah berakhir dengan baik.

Membiarkan Xuan Chongyue tetap hidup sama saja dengan memelihara benih malapetaka bagi masa depan keluarga Xuan.

Kalau begitu...

Aku hanya perlu menunggu sampai pria dari Istana Shiyue ini pergi. Setelah itu, aku akan mencari kesempatan untuk membunuhnya.

"Saya mengerti."

Xuan Yang segera mengangguk hormat. Setelah itu, dia berbalik menghadap Putra Mahkota dan membungkuk.

"Yang Mulia, mohon maaf atas keributan hari ini. Saya telah membuat Anda menyaksikan hal yang tidak menyenangkan. Mari kita kembali."

Putra Mahkota hanya mengangguk pelan tanpa berkata apa pun.

Dia kemudian berbalik dan melangkah pergi bersama Xuan Yang beserta seluruh rombongannya.

Di antara rombongan itu, Xuan Xi ikut berjalan pergi sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesalnya.

Dia tidak sebodoh itu hingga berani berhadapan langsung dengan Xuan Chongyue sekarang.

Terlebih lagi, wajah Xuan Qingqing sudah hancur di tangan gadis itu.

Sekalipun mengetahui bahwa Chongyue mendapatkan perlindungan dari Istana Shiyue, Xuan Qingqing tidak mungkin menelan penghinaan sebesar ini begitu saja.

Jika suatu hari nanti Chongyue benar-benar mati, semua orang pasti akan mengira Xuan Qingqing-lah pelakunya.

Memikirkan hal itu, sudut bibir Xuan Xi perlahan terangkat membentuk senyum puas.

Setidaknya, untuk sementara, dia tidak perlu melakukan apa pun.

Kemudian, Xuan Xi meninggalkan halaman bersama rombongan lainnya.

Setelah semua orang pergi, halaman yang sebelumnya dipenuhi ketegangan akhirnya kembali sunyi.

Bei Mingye berbalik.

Tatapannya langsung jatuh kepada Chongyue yang masih bertumpu dengan satu lutut di atas tanah.

Darah membasahi pakaian putihnya, sementara wajahnya terlihat semakin pucat.

Bei Mingye mengerutkan kening.

Tanpa mengatakan apa pun, dia menghampiri Chongyue, memapah tubuh gadis itu, lalu membopongnya masuk ke dalam rumah.

Begitu memasuki kamar, pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan.

Tempat itu begitu sederhana, bahkan tidak layak disebut kamar.

Perabotannya sudah tua dan usang. Atapnya bocor di beberapa bagian, sedangkan dindingnya dipenuhi retakan.

Keadaannya bahkan jauh lebih buruk daripada tempat tinggal para pelayan keluarga Xuan.

Bei Mingye mendudukkan Chongyue di atas kursi kayu, lalu melepaskan topi bambu hitam yang menutupi wajahnya.

"Selama ini... kau tinggal di tempat seperti ini?" tanyanya pelan.

"Ya," jawab Chongyue singkat.

Dia tidak memperdulikan Bei Mingye dan langsung memeriksa luka-luka di tubuhnya.

Luka yang dia berikan kepada Xuan Qing tadi hanyalah luka luar. Dengan obat biasa, luka itu akan sembuh dalam beberapa hari.

Namun, kondisinya sendiri jauh lebih buruk.

Selain beberapa luka tebasan pedang, dia juga mengalami cedera dalam akibat serangan telapak tangan Xuan Yang. Jika tidak segera diobati, lukanya itu bisa memengaruhi kultivasinya di kemudian hari.

Sepertinya aku harus meminum ramuan penyembuh selama setidaknya satu bulan.

Sayangnya, dia tidak memiliki uang untuk membelinya.

Haruskah dia kembali masuk ke pegunungan untuk mencari tanaman obat?

Tidak...

Akan lebih cepat jika dia menyelinap ke tempat penyimpanan keuangan keluarga Xuan dan mengambil sedikit uang dari sana.

Bagaimanapun juga, uang itu memang pantas menjadi ganti rugi atas semua penderitaan yang pernah mereka berikan kepadanya.

Melihat dirinya terus diabaikan, Bei Mingye mendecakkan lidahnya pelan. "Tidak sopan sekali."

Sebelum Chongyue sempat bereaksi, Bei Mingye tiba-tiba mencengkeram dagunya hingga mulutnya terbuka, lalu memasukkan sebuah pil ke dalamnya.

Glek~

Pil itu meluncur masuk ke tenggorokannya.

Setelah melepaskan tangannya, Bei Mingye tersenyum tipis.

"Kau adalah wanita pertama yang berani mengabaikanku seperti ini."

Sejak pertama kali bertemu dengannya di pegunungan, dia sudah menyadari bahwa gadis ini berbeda dari wanita lain.

Seandainya orang lain yang menyelamatkan nyawanya saat itu, mereka pasti akan meminta imbalan atau memanfaatkan kesempatan hutang budi untuk mendekatinya.

Namun, Chongyue justru melakukan hal sebaliknya.

Begitu memastikan dirinya selamat, gadis itu langsung pergi seolah-olah takut terlibat dengannya.

"Di mana bungkusan milikku?" tanya Chongyue datar.

Entah mengapa, setiap kali bertemu pria ini, selalu saja ada masalah.

Bei Mingye tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, dia menatap wajah Chongyue cukup lama sebelum berkata, "Lepaskan penyamaran di wajahmu."

Chongyue sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Bei Mingye mengetahui bahwa wajahnya sedang disamarkan.

Meski begitu, ekspresinya tetap tenang.

"Penyamaran? Aku tidak mengerti maksudmu."

"Kalau begitu..." Bei Mingye mengangkat selembar kain yang diambilnya dari cincin penyimpanannya. "...bagaimana dengan benda ini?"

Dia mengibaskan kain itu perlahan di depan Chongyue.

"Ini adalah peninggalan ibumu. Di dalamnya tertulis siapa dirimu yang sebenarnya."

Tatapan Bei Mingye kemudian bergeser ke arah liontin kristal yang sedikit menyembul dari balik kerah pakaian Chongyue.

"Aku juga pernah melihat kalung itu sebelumnya."

Chongyue spontan menunduk. Liontin kristalnya memang sedikit terlihat.

Jadi, alasan Bei Mingye menyelamatkannya tadi bukan karena kebetulan?

Pria itu telah mengenalinya sebagai wanita yang ditemuinya di pegunungan sebulan yang lalu.

Chongyue menghela napas. Lalu, dia melepaskan penyamaran yang menutupi wajahnya.

Begitu topeng penyamarannya dilepaskan, wajah aslinya terlihat jelas.

Paras yang begitu indah...

Bei Mingye menatapnya tanpa berkedip.

Wajah itu benar-benar sama seperti wanita yang ditemuinya di pegunungan.

Hanya ada satu perbedaan.

Sepasang mata birunya yang dulu begitu mencolok kini telah berubah menjadi hitam pekat.

Sambil menopang dagunya dengan satu tangan, Bei Mingye tersenyum tipis. "Terakhir kali kita bertemu, warna matamu biru."

Mendengar itu, Chongyue memutar bola matanya dengan kesal.

"Semua anggota keluarga Xuan memiliki warna mata yang normal. Kalau mataku tiba-tiba berubah menjadi biru, bukankah itu sama saja dengan memberitahu semua orang bahwa aku bukan bagian dari keluarga Xuan?"

Apa pria ini benar-benar tidak memikirkan hal sesederhana itu?

Bei Mingye hanya tersenyum kecil. "Lalu, kenapa warna matamu bisa berubah?"

Dia sedikit mengernyit sebelum melanjutkan, "Selama ini tidak pernah ada kabar bahwa Nona Kelima keluarga Xuan memiliki mata berwarna biru. Bahkan, catatan yang ditinggalkan ibumu juga tidak menyebutkan hal itu."

Sambil berbicara, dia menyerahkan lembaran kain itu kepada Chongyue.

Chongyue menerimanya dan mulai membaca tulisan yang tertera di atas kain itu.

Semakin jauh dia membaca, semakin rumit perasaannya.

Wanita yang telah membesarkannya ternyata mengetahui bahwa kematiannya sudah dekat. Namun, di saat-saat terakhir hidupnya, dia masih memikirkan masa depan Chongyue.

Dia berharap gadis itu bisa meninggalkan Kediaman Jenderal dan menjauh dari kehidupan yang selama ini menjadi neraka baginya.

Lebih dari itu, dia juga berharap suatu hari nanti keluarga kandung Chongyue dapat menemukannya.

Perlahan, mata Chongyue memerah.

Namun, dia tetap menahan air matanya yang hampir jatuh. Perasaan seperti ini sudah tidak asing lagi baginya.

Di kehidupan sebelumnya, dia juga hanya bisa menyaksikan kedua orang tuanya meninggal tanpa bisa melakukan apa pun.

Ternyata, pemilik tubuh ini mengalami nasib yang sama.

1
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!