NovelToon NovelToon
Bukan Drama Pernikahan 2

Bukan Drama Pernikahan 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shann29

Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.

Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.

Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.

Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.

Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.

Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.

“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”

“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”

Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Pagi Pertama di Rumah Keluarga Dewantara

Pagi datang perlahan.

Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar Jove, membuat ruangan yang didominasi warna putih dan soft tosca itu perlahan menjadi terang.

Jove membuka matanya.

Untuk beberapa detik ia masih terdiam di atas tempat tidur, mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin.

Kemudian ia melihat ke arah sofa.

Nic masih tertidur di sana.

Pria itu terlihat begitu tenang. Salah satu tangannya berada di atas perut, sementara selimut yang digunakannya semalam masih menutupi sebagian tubuhnya.

Jove menatapnya sebentar.

Tidak ada yang istimewa.

Hanya seorang pria yang sedang tidur setelah melewati hari yang cukup melelahkan.

Jove kemudian turun dari tempat tidur.

Ia mengambil beberapa pakaian dan masuk ke walk-in closet untuk membersihkan diri.

Tidak lama kemudian, Jove keluar.

Penampilannya kali ini jauh berbeda dari yang biasa dilihat Nic.

Tidak ada blazer.

Tidak ada celana formal.

Tidak ada sepatu kerja dengan hak yang biasanya selalu melengkapi penampilannya sebagai CEO Dewantara Group.

Jove mengenakan dress sederhana dengan potongan elegan. Rambutnya ditata rapi dan wajahnya hanya diberi riasan tipis yang terlihat natural.

Sederhana, tetapi membuatnya terlihat sangat berbeda.

Jove sedang mengambil ponselnya ketika tanpa sengaja melihat ke arah sofa.

Nic sudah bangun.

Pria itu sedang duduk sambil merapikan selimut yang digunakannya semalam.

Rambutnya masih sedikit berantakan. Wajahnya juga masih menunjukkan sisa-sisa kantuk.

Namun tetap saja…

Jove tidak bisa menyangkal.

Nic memang tampan.

Bahkan dengan wajah baru bangun tidur sekalipun.

Tatapan mereka bertemu.

Nic yang awalnya sedang fokus melipat selimut tiba-tiba berhenti.

Ia menatap Jove beberapa detik lebih lama.

Sekali lagi ia melihat sisi Jove yang berbeda.

Selama ini yang paling sering ia lihat adalah Jove dengan pakaian formal. Jas, blazer, rok atau celana kerja, dan ekspresi serius ketika membicarakan pekerjaan.

Namun pagi ini berbeda.

Dress yang dikenakannya membuat Jove terlihat jauh lebih lembut dan elegan.

Riasan natural di wajahnya juga membuat kecantikannya terlihat tanpa kesan berlebihan.

Nic sampai terpaku beberapa saat.

Jove yang menyadari tatapan itu akhirnya berkata,

“Kenapa?”

Nic segera mengalihkan pandangan.

“Tidak apa-apa.”

Jove tidak bertanya lagi.

Matanya kemudian jatuh pada selimut yang sedang dilipat Nic.

“Tidak perlu dilipat, nanti akan ada pelayan yang membersihkannya.”

Nic berhenti.

“Kalau pelayan yang merapihkannya, pasti akan ada gosip dan sampai ke telinga kedua orang tuamu.”

Jove mengernyit.

“Maksudnya?”

Nic bangkit dari sofa sambil membawa selimut yang sudah dilipat.

“Pasti pelayan akan mengatakan, ‘Ada selimut dan bantal di sofa.’”

Ia kemudian menambahkan dengan santai,

“Mereka akan curiga kita tidak tidur bersama.”

Jove terdiam.

Ia langsung memahami maksud Nic.

Benar juga.

Rumah sebesar ini tetap memiliki orang-orang yang bekerja di dalamnya. Dan meskipun mereka tidak berniat ikut campur, hal-hal kecil seperti itu bisa saja menjadi bahan pembicaraan.

Terlebih lagi, Jove baru saja menikah.

Jika sampai Alaska dan Jihan mendengar bahwa Nic tidur di sofa, tentu akan muncul pertanyaan.

Jove menghela napas pelan.

“Masuk akal.”

Nic tersenyum tipis.

“Makanya lebih baik kita rapikan sendiri.”

Jove kemudian mengambil selimut yang sudah dilipat Nic.

Ia membawanya menuju lemari.

“Aku simpan.”

Setelah meletakkannya kembali, Jove berbalik.

“Ada handuk untukku?” tanya Nic.

Ia kembali masuk ke walk-in closet dan mengambilkan sebuah handuk baru.

“Ini.”

Nic menerimanya.

“Terima kasih.”

Setelah itu Nic mengambil pakaian dari koper kecil yang dibawanya semalam.

Ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Jove sendiri duduk di depan meja rias sambil memeriksa beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada sesuatu yang canggung.

Mereka hanya menjalani pagi pertama sebagai pasangan suami istri dengan cara yang sangat biasa.

Setelah selesai membersihkan diri, Nic keluar dari kamar mandi.

Ia sudah berganti pakaian.

Jove yang sedang memasukkan beberapa barang ke dalam tas kecil menoleh.

Nic menghampirinya.

“Sudah siap?”

Jove menatapnya bingung.

“Siap untuk apa?”

Nic memasukkan ponselnya ke saku.

“Kembali membuat drama.”

Jove masih menatapnya.

“Drama?”

“Menjadi suami istri di depan keluargamu.”

Jove terdiam.

Kemudian ia menghela napas pelan.

Benar.

Mereka masih harus memainkan peran yang sama.

Keluarga Dewantara mengira mereka benar-benar mulai dekat setelah perjalanan ke Bandung. Mereka tidak tahu bahwa semua itu merupakan bagian dari kesepakatan yang mereka buat.

Jove mengangguk pasrah.

“Baiklah.”

Nic kemudian mengulurkan tangannya.

Jove menatap tangan itu.

Beberapa detik.

Ada sedikit keraguan.

Bukan karena ia tidak ingin menggandeng tangan Nic.

Namun tetap terasa aneh.

Mereka baru menikah kemarin.

Dan sekarang mereka harus berakting seperti pasangan yang sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil seperti ini.

Jove menarik napas.

Ia akhirnya memberikan tangannya kepada Nic.

Jari-jari mereka bertaut.

Nic membuka pintu kamar.

Mereka keluar bersama.

Kemudian berjalan menuruni tangga dengan tangan masih saling bergandengan.

Dari bawah, Alaska dan Jihan yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh.

Keduanya saling bertukar pandangan.

Senyum kecil muncul di wajah mereka.

“Pagi, Mom. Dad.”

Jove dan Nic menyapa hampir bersamaan.

“Pagi, Sayang. Pagi, Nic,” balas Alaska.

Jove dan Nic kemudian berjalan mendekat.

Namun baru beberapa langkah, Jonathan dan Jordi muncul dari arah tangga.

Jonathan melihat tangan Jove yang masih digenggam Nic.

Kemudian melihat wajah adiknya yang pagi itu terlihat begitu segar.

Ia langsung menyenggol Jordi.

“Jord, kenapa pagi-pagi sudah terasa panas, ya?”

Jordi langsung memahami maksud kembarannya.

“Iya, jadi gerah nih.”

Ia bahkan menarik kerah bajunya sendiri sambil berpura-pura kepanasan.

Jihan yang mendengar percakapan mereka langsung menoleh.

“Apa kalian tidak mandi pagi jadi merasa kegerahan?”

Jonathan dan Jordi tertawa.

Alaska yang sejak tadi hanya memperhatikan kedua putranya akhirnya ikut bersuara.

“Bukan karena tidak mandi, Mom.”

Ia menatap kedua anak laki-lakinya dengan senyum jahil.

“Tapi karena melihat kemesraan sepasang pengantin baru.”

Jove langsung memutar malas bola matanya.

Nic justru tertawa.

Jonathan menunjuk Alaska.

“Nah, Dad juga ngerti.”

“Memangnya kalian tidak senang melihat kakak kalian bahagia?”

“Senang, Dad.”

Jordi mengangguk.

“Senang sekali.”

Jove akhirnya melepaskan tangannya dari genggaman Nic.

Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Jonathan sudah kembali menggoda.

Jove menatap kedua adiknya.

“Makanya cepat punya pacar. Usia kalian cuma berbeda dua tahun denganku, harusnya sudah menikah.”

Jonathan langsung memasang wajah tidak terima.

“Ciyee…”

Ia menatap Jordi.

“Yang sudah tidak jomblo sekarang sudah bisa nyuruh orang menikah.”

Jordi tertawa.

“Benar juga.”

Jove hanya menggeleng.

“Kalian berdua memang…”

“Memang apa?”

“Sudahlah.”

Tawa kembali terdengar di ruang keluarga.

Nic yang sejak tadi memperhatikan semuanya ikut tersenyum.

Ia tidak menyangka keluarga Dewantara akan terasa sehangat ini.

Sebagai anak tunggal, ia terbiasa dengan suasana rumah yang lebih tenang.

Tidak ada saudara yang tiba-tiba menggodanya.

Tidak ada yang sengaja mencari bahan untuk membuatnya kesal sejak pagi.

Tidak ada percakapan kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi justru membuat suasana rumah terasa hidup.

Ia melihat Jonathan dan Jordi yang masih saling melempar candaan.

Kemudian melihat Alaska dan Jihan yang hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak mereka.

Untuk sesaat, Nic merasa nyaman.

Ada sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki sebagai anak tunggal.

Kehangatan seperti ini.

“Maafkan Twin ya, Nic,” ujar Alaska. “Mereka memang senang sekali menggoda kakaknya.”

Nic tersenyum.

“Tidak apa, Dad. Justru seru seperti itu.”

Ia menatap Jonathan dan Jordi.

“Aku terlahir sebagai anak tunggal. Jadi melihat Jo dan Jord seperti ini malah terasa menyenangkan.”

Jonathan langsung menunjuk dirinya sendiri.

“Berarti aku menyenangkan, dong?”

“Jangan terlalu percaya diri,” sahut Jove.

Semua kembali tertawa.

Jordi kemudian mendekati Nic.

“Kak Nic, harusnya menginap lebih lama di sini. Kita bisa bermain game bersama.”

“Jangan game,” sela Jonathan. “Lebih baik main billiard di atas.”

Jordi mengangguk setuju.

“Benar juga.”

Rumah keluarga Dewantara memang memiliki berbagai fasilitas, termasuk sebuah ruang billiard yang cukup luas di lantai atas.

Nic tersenyum.

“Akan aku pikirkan.”

“Jangan dipikirkan terlalu lama,” kata Jonathan.

Jove hanya menggeleng melihat kedua adiknya yang sudah mulai merencanakan kegiatan bersama Nic.

Pagi itu terasa begitu ringan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik genggaman tangan mereka tadi, Jove dan Nic hanya sedang memainkan peran sebagai pasangan yang baru menikah.

Namun tanpa Jove sadari, ada satu hal yang mulai berubah.

Nic tidak lagi merasa seperti orang asing ketika berada di rumah Dewantara.

Dan mungkin…

itulah bagian pertama dari kehidupan baru mereka yang tidak pernah mereka masukkan ke dalam kesepakatan.

1
Warningsih Ningsih
absen dulu ✌️✌️✌️
Miss. Shann (IG: miss.shann29): Hai Kak🤏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!