NovelToon NovelToon
Aku Belum Mati, Suamiku!

Aku Belum Mati, Suamiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Berondong / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.

Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.

"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"

Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani

Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.

Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?

Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Hidup 24

"Rinda, aku mohon jangan melakukan ini padaku. Aku mohon Rin, aku tidak mau pisah dari kamu. Aku masih sangat mencintaimu Rinda. Aku, aku tidak bisa hidup tanpa mu."

Hanya senyum kecut yang terbit di bibir Rinda mendengar semua ucapan Gani yang isinya hanya omong kosong belaka.

"Tidak bisa hidup tanpa ku, hahaha lucu kamu Gan. Sangat lucu sekali. Tidak bisa hidup tanpa aku, tapi kamu langsung menikah lagi bahkan saat belum jelas aku hidup atau mati. Sudahlah Gan, jangan akting, tidak ada yang panggung dan tidak ada yang melihat aksimu itu. Jadi berhenti bersikap menjijikkan."

Gani yang ada di seberang sana terdiam untuk beberapa saat. Mungkin pria itu kehabisan kata-kata. Dan itu kesempatan bagi Rinda untuk langsung mematikan telepon itu.

"Dia pikir dirinya siapa?" ucapnya lirih dan kembali ke meja dimana tempatnya bersama Jexen menikmati sarapan.

Rinda sama sekali tidak membahas tentang telepon yang tadi diterimanya. Dia kembali ke meja dengan senyum seperti biasa. Jexen sendiri juga tak ingin bertanya. Rinda memiliki ruangnya sendiri sehingga Jexen tak ingin mencampuri urusan hati Rinda sampai wanita itu membukanya sendiri.

Jam bergulir sedikit lambat. Tapi Rinda tampak menikmati setiap menitnya di sana.

"Siap Mbak? jadi kita tidak perlu pulang dulu kan?"

"Iya Jex, pulangnya nanti saja sekalian setelah selesai dari SJ."

Keduanya menuju ke SJ yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka sarapan. Rinda memegang proposal itu dengan erat. Berkali-kali ia mengatur nafasnya.

Ekor mata Jexen menangkap setiap gerakan yang Rinda lakukan. Ia hanya tersenyum tipis, sangat mengerti bahwa saat ini Rinda sangat gugup.

Ckiiit

Mobil berhenti tepat di depan gedung SJ. Jexen turun lebih dulu, dan membukakan pintu untuk Rinda.

Keduanya berjalan masuk kedalam gedung. Seorang petugas keamanan membulatkan matanya saat melihat Jexen.

"Selamat datang Tu~"

Ketika satpam itu hendak menyapa Jexen, mata Jexen langsung melotot tajam. Meski tanpa suara, sang satpam paham bahwa itu adalah ancaman. Ia yang hendak menyapa Jexen pun memilih untuk meralat sapaannya.

"Selamat pagi, Bu."

"Oh iya, selamat pagi."

Rinda tersenyum lebar. Wanita itu lansung menuju ke bagian resepsionis.

Reaksi yang sama diberikan oleh bagian resepsionis ketika melihat sosok Jexen. Mulai dari terkejut hingga takut.

Jexen yang berdiri di belakang Rinda, memberi isyarat kepada dua karyawan SJ itu. yakni dengan meletakkan jarinya di bibir.

Rinda yang tetap tersenyum merasa sedikit heran. Dua karyawan yang ada di depannya terlihat tidak nyaman.

"A-ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya salah satu dari mereka. Keringat langsung mengucur deras. Telapak tangan pun menjadi begitu basah.

"Ah ya, saya sudah ada janji temu dengan Tuan Jeremy pada pukul 10.00," jawab Rinda.

Resepsionis itu tak langsung menjawab. Matanya melihat lurus ke arah depan, bukan ke arah Rinda melainkan ke arah Jexen.

Alis Jexen terangkat, itu adalah sebuah isyarat agar mereka berkata untuk Rinda segera naik ke lantai dimana Jeremy berada.

"Oh langsung saja Bu. Pak Jeremy ada di lantai paling atas."

"Baik, terimakasih ya Mbak. Ayo Jex."

"Iya Mbak."

Rinda tersenyum lega. Pun dengan Jexen. Keduanya pun bergegas masuk ke lift yang pas sekali terbuka.

"Ya Tuhan, aku seperti mau kehabisan nafas. Tuan Muda lebih menakutkan bekali-kali lipat dari pada Tuan Besar."

"Iya ih, tapi apa wanita itu tidak tahu siapa Tuan Muda Jexen?"

"Sepertinya tidak. Dan Tuan Muda sepertinya juga tidak menjelaskan siapa dirinya. Lihat saja sedari tadi Tuan Muda memberi kita kode terus."

Dua orang yang ada di meja resepsionis itu hanya menggelengkan kepalanya. Mereka tidak tahu dan juga tidak perlu banyak tahu apa yang tengah dilakukan sang tuan muda. Mereka cukup bekerja dengan benar tanpa perlu mengurusi urusan sang atasan.

Tak hanya resepsionis dan juga satpam, semua karyawan SJ yang berpapasan dengan Jexen pun harus berusaha untuk menahan mulut mereka untuk tidak menyapa. Tentu saja semua itu sudah ada isyarat terlebih dulu dari Jexen.

Hingga pada akhirnya mereka sampai di ruangan Jeremy.

"Apa Anda Bu Rinda, Saya Marwan. Saya yang menghubungi Anda kemarin."

"Ah ya, Pak Marwan. Saya Rinda dan ini asisten saya, Jexen."

"Baiklah Bu Rinda dan Pak Jexen. Silakan masuk. Pak Jeremy sudah menunggu."

Rinda mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan sebelum melangkahkan kaki ke ruangan Jeremy. Rumor yang beredar Jeremy adalah pria yang sulit untuk dihadapi, dingin dan juga kaku. Rinda sudah sangat bersiap untuk menghadapi pria itu.

Namun dugaannya tak sesuai dengan kenyataan. Ketika masuk ke ruangan, Jeremy yang tadinya duduk langsung berdiri dan menghampiri Rinda. Pria yang katanya kaku itu tersenyum hangat ke arah Rinda sambil mengulurkan tangannya.

"Apa ini Rinda dari TBBA?" tanya Jeremy. Senyumnya sangat lebar dan matanya juga berbinar.

"Ah I-iya saya Rinda, Pak Jeremy," jawab Rinda kaku. Tangannya dengan ragu menjabat uluran tangan Jeremy.

"Silakan duduk, Rinda. Santai saja," ujar Jeremy. Dia membawa Rinda duduk di sofa. "Marwan tolong minta OB untu bawakan minuman dan camilan. Kamu suka camilan apa Rinda?" imbuhnya.

Rinda melihat ke arah Jexen. Ekspresi wajahnya jelas sekali menunjukkan kebingungan. Jeremy yang ada di depannya sungguh sangat berbeda dari apa yang dirumorkan.

Jexen hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dan Rinda kembali melihat ke arah Jeremy. Padahal dalam hari Jexen, dia merasa sangat kesal dengan ayahnya.

"Kenapa Papa bersikap seperti itu sih?" gerutunya. Namun Jexen memilih diam. Saat ini keberadaannya di tempat ini hanya sekedar menemani Rinda.

"A-apa saja Pak. Saya tidak pemilih," jawab Rinda dengan perasaan yang tidak nyaman sekaligus bingung.

"Waah bagus sekali. Tidak seperti putra bungsuku yang kalau makan kebanyakan milih. Oke oke, biar Marwan menyiapkannya. Lalu bagaimana, aku cukup mendengar berita tentang kamu di internet?"

Rinda menganggukkan kepala lalu seutas senyum terbit di bibirnya. Berita tentang dirinya lumayan besar jadi pasti akan menarik perhatian banyak orang, termasuk pimpinan SJ Grup.

"Iya Pak, sepert itu keadaan saya. Andai itu menjadi keraguan Anda untuk berinvestasi, saya~"

"Tidak, bukan begitu. Aku tahu kamu bisa. Aku tidak meragukan kemampuan mu hanya karena berita yang bertebaran itu. Aku hanya mau bilang, kamu hebat, Nak. Kamu sangat hebat sudah bertahan dan masih berdiri hingga saat ini."

Degh!

Perkataan Jeremy menyentuh hati Rinda. Tanpa sadar, air mata itu luruh. Ucapan orang yang katanya dingin, kaku dan juga kejam itu, ternyata begitu hangat dan menenangkan.

"Terimakasih Pak Jeremy. Ah saya minta maaf, ini jatuh sendiri," jawab Rinda sambil mengusap air matanya yang terlanjur luruh.

"Tidak apa-apa Nak. Bukan sesuatu yang buruk untuk meluapkan perasaan."

TBC

1
GiZaNyA
denger tuh Jexen.. jangan kebablasan lhooo sama Rinda... bisa dijadiin penyetan kamu sama keluarga kamu kalo macem2🤣🤣🤣
GiZaNyA
heh Gani... situ kenapa Rinda kecelakaan ngga dicari dulu main langsung nikah aja... ya sekarang makanlah penyesalan kamu dan bersiap untuk diceraikan oleh Rinda...
dewi rofiqoh
Harus bersabar jexen! Dan harus bisa menahan diri 🤭🤭
GiZaNyA
akhirnya Rinda ngurus berkas cerai nya.... gaya banget si Teani mau balik ke TBBA... bae2 kena sleding Jexen kalo kerjanya main2...
Arin
Tapi lumayan lah hari ini bisa peluk Rinda sambil curi kecupan di kepala nya..... iya kan Jex. Mumpung Rinda gak sadar🤣🤣🤣
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
huh sok pamer tp bukan harta km dasar mokondo
GiZaNyA
pepet teeusss Rinda nya Jex... 🤣🤣
Arin
Ternyata yang ditakutkan Gani adalah kehilangan penopang hidupnya🤣🤣🤣. Gak ada yang biayain lagi untuk berfoya-foya dan bergaya seperti orang kaya. Sokor
Mundri Astuti
makanya buruan pisah rinda
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
di kristen mana bisa suami atau istri lebih dari satu
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: berarti mualaf cmn buat bisa nikah aja?
total 6 replies
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
bisa jd kecelakaan itu emng disengaja tinggal siapa pelakunya blm jelas
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
pede bgt km masih ditempatkan posisi direktur kerjaan ajh g becus
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
orang numpang tapi mau menguasai huh,ada itu g ada hak ny
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
boleh g sih di gampar biar tau km tuh g PNY apa apa atas harta rinda
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
ada hak apa yang bangun itu rumah PNY ibunya Rinda,hak apa yg km mau akui km tuh cm numpang
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
alasan aja padahal mah mau dekat sama Rinda
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
hahahah kaget kan km
dewi rofiqoh
Sepertinya rinda harus mengkaji ulang jabatan yang diberikannya pada temani! 🤔🤔Jika perlu tendang aja si tes dari TBBA
Sri Supriatin
Kalau kalimatnya bisa dimengerti hanya typo buat sy g masalah thor 👍👍👍
Ilfa Yarni
yg tegas ya rinda parasit hrs disingkirkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!