"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 RENCANA NGE-DATE PERTAMA
Hari Kamis di SMA Budi Bangsa selalu memiliki atmosfer yang sedikit berbeda dibandingkan hari-hari lainnya. Ada semacam kelegaan tak kasat mata yang mengudara di setiap sudut koridor, sebuah antisipasi wajar karena akhir pekan sudah mulai mengintip dari balik pintu hari Jumat.
Angin pagi yang berhembus melewati jendela-jendela yang sedikit terbuka di kelas XI IPS 2 terasa sejuk, membawa aroma khas spidol papan tulis, kertas buku paket, dan wangi seragam yang baru disetrika.
Namun, bagi seorang pemuda bernama Wira Aji Pratama, angin pagi Jogja belakangan ini selalu membawa satu aroma tambahan yang diam-diam telah menjadi candu baru di dalam sistem pernapasannya: aroma parfum melati yang lembut.
Pemuda itu duduk dengan posisi menyamping di kursinya, siku kanannya bertumpu santai di atas meja, sementara tangan kirinya memutar-mutar sebuah pulpen mekanik dengan ritme lambat. Mata elangnya yang tajam—yang dulu selalu memancarkan kilat amarah dan arogansi—kini selalu dan selalu terkunci pada satu objek di sebelahnya.
Asmara Putri sedang sibuk menyalin catatan Sejarah dari papan tulis. Wajah kuning langsatnya terlihat begitu serius. Helaian rambutnya yang terlepas dari ikatan cepol bergerak-gerak pelan setiap kali angin menerobos masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
Sudah hampir satu minggu berlalu sejak momen magis di mana mereka berdua duduk lesehan menyantap nasi kucing di angkringan dekat Alun-alun Utara. Satu minggu sejak Asmara membuang wibawa keratonnya dan berlari menyusul Wira di bawah lampu kota. Satu minggu sejak Wira menyadari bahwa Jogja adalah rumah yang selama ini ia cari.
Dan selama satu minggu itu pula, dinamika di antara mereka berdua telah berevolusi menjadi sesuatu yang sangat manis, sedikit gila, dan luar biasa membuat candu.
"Lo kalau nyatet nggak usah ditekan banget gitu kenapa sih, Ra? Tembus tuh kertas sampai ke meja," tegur Wira tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka berdua dengan nada tengil andalannya.
Asmara menghentikan gerakan tangannya.
Ia tidak menoleh sepenuhnya, hanya melirik Wira dari sudut matanya. Seulas senyum tertahan berkedut di bibir gadis itu.
"Tangan, tangan gue... Pulpen, pulpen gue... Buku juga buku gue... Kenapa lo yang repot?" balas Asmara dengan nada santai, menggunakan kosakata begajulan yang kini menjadi bahasa wajibnya setiap kali berhadapan dengan Sang Matahari.
Wira terkekeh pelan.
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, memangkas jarak di antara meja mereka. "Ya repot dong! Meja ini kan inventaris sekolah... Kalau sampai ada jejak cetakan tulisan lo yang kaku itu di kayunya, nanti yang disuruh nge-ampelas pasti gue! Lo lupa? Kan gue ini lulusan terbaik program hukuman sosial sekolah ini. Hahaha..."
Asmara memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Wira.
Ia meletakkan pulpennya dan menaikkan sebelah alisnya, sebuah gestur menantang yang entah sejak kapan mulai berani ia tunjukkan secara terang-terangan.
"Oh, jadi sekarang lo bangga jadi mantan narapidana Ruang Budaya? Hihihi..." sindir Asmara, tawa kecilnya mengalun merdu. "Bukannya dulu ada yang mau kabur ke Bogor gara-gara disuruh pegang sapu ijuk?"
"Itu masa lalu, Tuan Putri..." Wira menyeringai lebar, sama sekali tidak tersinggung.
"Orang bijak bilang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dan lagian, gue rela kok dihukum lagi sebulan penuh, asalkan... mandor pengawasnya tetap elo... Lumayan kan? Bisa numpang cuci mata tiap sore." goda Wira blak-blakan.
Kalimat godaan yang dilontarkan secara blak-blakan itu seketika membuat pergerakan Asmara terhenti.
Gadis itu menelan ludah. Wajahnya yang semula tenang kini mulai dihiasi semburat merah muda yang tipis. Ia buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke arah papan tulis, pura-pura memperbaiki letak kacamatanya meski ia sama sekali tidak sedang memakai kacamata.
"Gombalan lo murahan banget, Wir! Mending lo lanjutin nyatet, bentar lagi Pak Budi masuk tuh dari teras kelas, dihapus tuh tulisan di depan," kilah Asmara, berusaha menetralkan debar jantungnya yang tiba-tiba berakselerasi.
Wira kembali tertawa lepas, sebuah tawa berat yang menggetarkan rongga dadanya. Ia sangat menikmati pemandangan ini. Membuat sang putri abdi dalem salah tingkah adalah hobi barunya yang paling menyenangkan.
"Udah kelar dari tadi kaleee... Hahaha..." jawab Wira sambil menunjuk buku catatannya yang sudah tertutup rapi. "Tulisan gue emang kayak ceker ayam, tapi kecepatan nulis gue setara sama mesin tik tua di kantor kelurahan."
Di meja depan, Danang yang sejak tadi tak sengaja menguping percakapan mereka, akhirnya memutar kursinya ke belakang.
Sang ketua kelas itu menatap Wira dan Asmara bergantian dengan raut wajah pura-pura kesal.
"Wir, Ra, lo berdua bisa nggak sih sehari aja nggak usah bikin gue merasa jomblo ngenes?" keluh Danang sambil memegangi dadanya yang dibalut seragam putih. "Dari pagi sampai siang, bawaannya lovey-dovey mulu. Mana gaya ngomongnya Asmara sekarang kalau sama Wira udah kayak preman Kebun Raya Bogor. Pusing gue lihatnya!"
Wira mendengus, menendang pelan kaki kursi Danang dari bawah mejanya.
"Yeeeh... Iri bilang, Bos! Makanya, punya pacar dong! Jangan cuma ngurusin uang kas sama spidol papan tulis doang lo!" ucap Wira.
"Pacar matamu!" balas Danang sewot.
"Lo kira nyari cewek di Jogja gampang? Harus seleksi bibit, bebet, bobot! Nggak kayak lo, yang modal tampang tengil sama modal sok-sokan ngangkat meja doang langsung dapet jackpot ketua OSIS." tambah Danang.
"Heh, Danang!" Asmara langsung melotot, matanya menyalang tajam meski pipinya semakin memerah. "Siapa yang kamu maksud jackpot? Dan siapa juga yang pacaran sama Wira? Kita berdua cuma teman sebangku!"
"Halaaah... teman sebangku mana ada yang tatap-tatapan sambil senyum-senyum mesem gitu tiap lima menit sekali, Ra," celetuk Nisa yang tiba-tiba ikut menimbrung dari meja belakang. "Udah deh, Ra... ngaku aja... Satu kelas juga udah pada sadar kok... Kalian tuh auranya udah beda banget semenjak UTS kemarin selesai..."
"Bener tuh kata Nisa," tambah Dinda, teman sebangku Nisa, ikut memanaskan suasana. "Dulu si Wira kamu usir-usir, dimarah-marahin... Sekarang, kalau ada Wira, dunia serasa cuma milik kalian berdua. Kita yang di kelas ini cuma ngontrak!"
Mendengar godaan beruntun dari teman-teman sekelasnya, Asmara benar-benar mati kutu.
Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan kekurangan oksigen, tak mampu menemukan kata-kata untuk membantah. Apalagi semua yang dikatakan teman-temannya memang seratus persen benar.
Sementara itu, Wira justru tampak sangat menikmati situasi tersebut.
Bukannya membantu Asmara membantah, pemuda itu malah menyandarkan punggungnya dengan nyaman, melipat tangan di dada, dan tersenyum sangat pongah.
"Udah, udah, jangan pada ngiri sama gue! Rezeki anak shaleh emang nggak ke mana," ucap Wira dengan gaya arogan yang sengaja dilebih-lebihkan. Ia menoleh menatap Asmara yang sedang menutupi sebagian wajahnya dengan buku Sejarah.
"Tenang aja, Ra... Nanti kalau kita 'jadian' beneran, gue traktir mereka semua soto Pak Min sepuasnya biar mulutnya pada dower!" tambah Wira. Sengaja lebih menggoda Asmara.
Mendengar kata 'jadian', mata Asmara membelalak sempurna di balik bukunya. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut Wira bisa mendengarnya.
"Wira! Jangan ngaco deh!" desis Asmara, menendang pelan tulang kering Wira di bawah meja.
"Aduh!" Wira meringis palsu, mengusap kakinya. "Kekerasan dalam pertemanan nih namanya!"
Seisi kelas langsung tertawa riuh melihat tingkah mereka berdua.
Tidak ada lagi ketegangan.
Tidak ada lagi rasa segan yang berlebihan.
Wira telah berhasil membaurkan dirinya secara penuh ke dalam ekosistem kelas XI IPS 2, membawa serta Asmara keluar dari cangkang emasnya yang selama ini membuatnya kaku di hadapan teman sekelas.
Namun, di balik semua tawa lepas dan candaan tengil yang ia lontarkan pagi itu, ada sebuah misi besar yang sedang Wira susun dengan sangat hati-hati di dalam kepalanya.
Sebuah misi yang anehnya, membuat sang preman Bogor itu berkeringat dingin setiap kali memikirkannya.
.....
.....
Jam istirahat kedua tiba.
Sebagian besar murid berhamburan ke kantin untuk mengisi perut mereka sebelum menghadapi dua jam terakhir pelajaran Matematika yang terkenal mematikan kewarasan para pelajar.
Wira memutuskan untuk tetap tinggal di kelas. Ia tidak lapar.
Atau... Lebih tepatnya...
Rasa gugup di dadanya berhasil menekan rasa laparnya.
Pemuda itu menatap Asmara yang juga memilih tetap di bangkunya, sedang sibuk membaca sebuah novel fiksi remaja.
Ini adalah kesempatan yang sangat sempurna. Teman-teman mereka sedang berada di luar. Kelas cukup sepi, hanya ada beberapa siswa yang sedang tidur di bangku paling belakang.
Wira menghela napas panjang. Ia menautkan jari-jarinya di atas paha.
Bagi Wira Aji Pratama, berhadapan dengan pentolan geng sekolah lawan atau dikeroyok tiga orang sekaligus di gang sempit adalah hal yang biasa. Ia tidak pernah merasa takut. Ia selalu tahu ke mana harus mengayunkan tinju dan kapan harus menghindar.
Urusan perempuan pun sama.
Dulu di Bogor, Wira tidak pernah harus bersusah payah merangkai kata atau menyusun strategi untuk mendekati seorang gadis.
Karena reputasinya sebagai jagoan sekolah yang tampan dan tajir, gadis-gadis lah yang biasanya datang mencari perhatiannya. Ia hanya perlu tersenyum miring, membalas sapaan mereka sekadarnya, dan mereka sudah akan luluh dengan sendirinya.
Namun...
Gadis yang duduk di sebelahnya ini sama sekali berbeda.
Asmara Putri bukanlah gadis-gadis pemandu sorak di Bogor yang bisa digoda dengan rayuan receh atau diajak pergi bermodal motor sport.
Asmara adalah gadis yang memiliki prinsip baja, memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi, dan memiliki kelas sosial yang tak bisa sembarangan disentuh.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun hidupnya...
Wira merasa...
TAKUT DITOLAK. 😂😂😂
.....
"Gue bisa ngelakuin ini! Cuma ngajak jalan doang... Apa susahnya sih?!" rutuk Wira di dalam hati, memotivasi dirinya sendiri.
.....
Ia kembali menarik napas panjang, menyingkirkan keraguannya, lalu mengubah posisi duduknya hingga sepenuhnya menghadap Asmara.
"Emmm... Ra," panggil Wira. Suaranya terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya, kehilangan nada tengilnya untuk sesaat.
Asmara tidak langsung mengangkat wajahnya dari buku novel yang sedang ia baca.
"Hmmm? Apa? Kalau lo mau nyalin PR Matematika lagi, gue nggak mau ngasih ya... Kerjain sendiri!"
"Bukan itu, Ra," jawab Wira cepat. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Lo... emmm... Lo sibuk nggak malam Minggu besok?" tanya Wira.
Gerakan mata Asmara yang sedang menyusuri deretan kalimat di dalam novelnya terhenti seketika. Pertanyaan itu meluncur begitu saja, namun efeknya bagaikan bom waktu yang meledak pelan di dalam telinga gadis itu.
Malam Minggu???
Asmara menutup novelnya perlahan. Ia meletakkannya di atas meja, lalu memutar wajahnya menatap Wira.
Di balik wajah tenangnya, otak Asmara sedang bekerja dengan kecepatan maksimal untuk mencerna maksud dari pertanyaan tersebut.
"Malam Minggu? Hari Sabtu malam besok maksud lo?" tanya Asmara, mencoba menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar, meski dadanya sudah tak karuan karena gugup.
"Iya, Sabtu besok, Ra. Lo... ada acara nggak?" ulang Wira. Mata elangnya menatap lurus ke dalam mata Asmara, tak membiarkan gadis itu mengalihkan pandangan.
Asmara mengerutkan keningnya pelan, berpikir sejenak.
"Sabtu malam sih biasanya gue di rumah aja. Paling bantu-bantu Ibu bikin pesanan kue, atau baca buku. Nggak ada acara OSIS juga. Kenapa emangnya, Wir?"
Mendengar jawaban itu, Wira merasakan sebuah beban seberat puluhan kilogram baru saja terangkat dari pundaknya.
Ia tersenyum tipis. Rasa percaya dirinya yang sempat menguap kini kembali berkumpul, mengambil alih kendali. Sang Matahari siap melancarkan serangannya.
"Gini," Wira mencondongkan tubuhnya, menyandarkan sikunya di atas meja Asmara, sangat dekat.
"Gue ini kan laki-laki yang sangat menjunjung tinggi yang namanya utang budi. Bokap gue di Bogor selalu ngajarin, kalau kita dikasih sesuatu yang berharga sama orang, kita harus bales dengan yang lebih berharga." ucap Wira.
Kening Asmara semakin berkerut. Ia sama sekali tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan pemuda begajulan ini.
"Utang budi apaan? Perasaan lo nggak pernah minjem duit gue deh. Kalau soal utang lo nyontek PR, ya itu nggak usah dibales juga nggak apa-apa, asal lo sadar diri aja."
Wira mendecak pelan, namun senyum di bibirnya semakin lebar.
"Bukan utang duit, Ra. Ini lebih penting dari duit."
"Terus?"
"Lo inget minggu lalu? Pas kita jalan dari sekolah, terus lo nekat nyusul gue sambil lari-lari buat ngerasain pulang telat?" Wira mengingatkan, suaranya kini mengalun berat dan sedikit parau, sengaja membangkitkan memori romantis di antara mereka berdua.
Mendengar kejadian memalukan sekaligus mendebarkan itu diungkit kembali, pipi Asmara langsung memanas.
Tentu saja ia ingat!
Bagaimana mungkin ia lupa pada hari di mana ia membuang seluruh wibawanya demi mengejar punggung pemuda ini?
"I-iya, gue inget. T-terus kenapa?" jawab Asmara sedikit defensif, matanya bergerak gelisah menghindari tatapan intens Wira.
"Waktu itu, lo nemenin gue makan di angkringan dekat Alun-alun Utara," Wira melanjutkan skenarionya, setiap kata ia tata dengan rapi untuk membangun alasan yang masuk akal namun tak bisa ditolak.
"Lo rela duduk di tikar pinggir jalan, makan nasi kucing sederhana, padahal gue tahu banget lo nggak pernah jajan sembarangan di luar. Lo nemenin gue ngerasain malam di Jogja waktu gue lagi ngerasa... kosong."
Wira menjeda kalimatnya sejenak.
Sorot matanya berubah menjadi sangat lembut, sebuah tatapan yang selalu sukses membuat pertahanan Asmara runtuh berkeping-keping.
"Bagi gue, itu utang budi yang lumayan besar, Ra," bisik Wira.
"Lo udah ngasih gue waktu lo... Dan lo udah nemenin gue. Dan sebagai laki-laki sejati dari tanah Pasundan, gue ngerasa punya kewajiban moral buat membalas kebaikan sang Tuan Putri Jogja." tambah Wira.
Asmara menelan ludah.
Ia sudah mulai bisa menangkap ke mana arah pembicaraan ini bermuara, dan hal itu justru membuatnya semakin panik sekaligus bahagia di saat yang bersamaan.
"Jadi... intinya lo mau ngapain, Wir? Nggak usah muter-muter deh ngomongnya. Bahasa lo kalau lagi serius malah kedengeran nggak jelas, tahu nggak," potong Asmara blak-blakan, mencoba menutupi kegugupannya dengan menggunakan senjata andalannya: meniru gaya bicara tengil Wira.
Wira tertawa renyah. Tawa yang sangat lepas. Ia mengangkat tangannya, menyerah pada kepura-puraan.
"Jiaaahhh... Hahahaha... Oke, oke, gue to the point sekarang," ucap Wira. Ia menegakkan punggungnya, menatap Asmara dengan raut wajah yang kini berubah menjadi serius, bercampur dengan sedikit keberanian nekat yang meletup-letup.
"Gue mau ngajak lo keluar malam Minggu besok," tembak Wira tanpa basa-basi lagi.
"Cuma lo dan gue... Nggak ada embel-embel OSIS, nggak ada embel-embel tugas sekolah, apalagi urusan hukuman Bude Ning." kata Wira langsung.
Keheningan yang sangat pekat menyergap meja mereka.
Udara di sekitar Asmara seolah tersedot habis.
.....
"Nge-date maksudnya kah???"
"Nge-date beneran???"
"Wira Aji Pratama..."
"Baru saja mengajakku nge-date secara resmi???"
.....
Pikiran Asmara berkecamuk hebat.
Selama ini, interaksi mereka di luar sekolah selalu terjadi tanpa rencana.
Hukuman di Ruang Budaya adalah kewajiban.
Makan di angkringan Alun-alun Utara adalah spontanitas.
Tapi ajakan malam Minggu ini?
Ini adalah sebuah "Teks Proklamasi Kemerdekaan Hati" yang terencana.
Sebuah pernyataan tegas bahwa Wira menginginkan waktu khusus bersamanya, dalam kapasitas yang jauh berbeda dari sekadar teman sebangku.
"Keluar... ke mana?" tanya Asmara, suaranya terdengar jauh lebih pelan dari sebelumnya. Ia bahkan tidak berani menatap mata Wira. Tangannya saling meremas di bawah meja.
"Ada deh... Rahasia perusahaan!" jawab Wira dengan senyum penuh misteri.
"Pokoknya gue janji, gue bakal ngajak lo ke tempat yang jauh lebih bagus dari sekadar terpal angkringan pinggir jalan. Gue bakal ganti waktu lo yang minggu kemarin habis buat nemenin gue makan sate usus." tambah Wira.
Wira kembali mencondongkan tubuhnya, menatap gadis itu dengan pandangan memohon namun tetap penuh percaya diri.
"Gimana, Ra? Lo mau kan nemenin gue? Itung-itung lo ngasih gue kesempatan buat balas budi. Boleh, ya?"
Asmara terdiam cukup lama.
Di dalam kepalanya, berbagai pertimbangan saling berbenturan.
Ayahnya, Romo Dwijo, memang belum memberikan lampu hijau secara terang-terangan untuknya dekat dengan Wira.
Ibunya, Nyi Surti, mungkin akan banyak bertanya jika ia pamit keluar di malam Minggu bersama seorang teman laki-laki.
Anak perempuan di kawasan Jeron Beteng memiliki beban moral yang tidak ringan.
Namun, saat Asmara mengangkat wajahnya dan melihat pendar penuh harap di mata Wira...
Saat ia menyadari bahwa pemuda begajulan yang dulu selalu egois ini...
Kini sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghargainya dan memberikan yang terbaik untuknya...
Asmara tahu ia tak mungkin bisa mengatakan, "Tidak".
Akar keraton mungkin mengikatnya dengan kuat, tapi sayap yang diberikan Wira kepadanya jauh lebih menggoda untuk dikepakkan.
Asmara menarik napas dalam-dalam.
Perlahan, wajahnya yang sedari tadi memerah padam, kini dihiasi oleh sebuah senyuman yang sangat manis, namun di saat bersamaan, menyimpan sebuah kilat "kenakalan" yang baru saja ia pelajari dari sang matahari.
"Oke!" jawab Asmara mantap, matanya berbinar menantang. "Gue terima ajakan balas budi lo itu."
Wira yang mendengarnya nyaris saja melompat dari kursinya saking senangnya. Wajahnya seketika berseri-seri, senyum lebarnya tak bisa ditahan lagi. "Beneran, Ra? Lo serius mau? Lo nggak lagi nge-prank gue kan?"
"Iya, gue serius, Wira, hihihi..." jawab Asmara, tawanya kembali mengalun melihat kepanikan kecil Wira.
"Waaah, Yes!!! Mantap!!!" seru Wira tertahan, mengepalkan sebelah tangannya di bawah meja layaknya seseorang yang baru saja memenangkan judi slot ratusan juta rupiah. Ia kembali menatap Asmara dengan mata berbinar.
"Sip! Nanti malam Minggu, jam tujuh gue jemput lo di depan... eh, tunggu. Gue jemputnya di mana nih? Langsung ke rumah lo atau gimana? Romo lo galak nggak kalau nerima tamu cowok?"
Mendengar pertanyaan itu, Asmara tertawa pelan.
Ia tahu Wira masih memiliki trauma kecil dengan aturan-aturan kaku dari orang-orang tua di Jogja.
"Nggak usah lebay, lo! Romo gue nggak bakal gigit! Tapi... mending nggak usah langsung ke rumah deh, takutnya ntar malah ditanya macam-macam dan lo malah diinterogasi disuruh baca macapat," canda Asmara, membuat Wira bergidik ngeri.
"Gue tunggu di depan gapura gang masuk rumah gue aja ya. Jam tujuh malam. Jangan sampai ngaret!" kata Asmara
"Siap, Tuan Putri! Jam tujuh kurang lima menit gue jamin udah standby ganteng di depan gapura gang lo," janji Wira dengan nada tegas ala tentara, meletakkan tangannya di dahi untuk memberikan hormat palsu.
Asmara mendengus geli melihat kelakuan konyol pemuda itu.
Namun, sebelum percakapan itu benar-benar berakhir, sang putri abdi dalem memutuskan untuk memberikan satu serangan terakhir.
Sebuah serangan balasan yang membuktikan bahwa ia benar-benar telah menyerap ilmu begajulan Wira dengan sangat sempurna.
Asmara mencondongkan tubuhnya ke depan...
Menatap Wira dengan sebelah alis terangkat...
Dan raut wajah sok galak yang... sangat...
Sangat menggemaskan di mata Wira.
"Bagus," ucap Asmara blak-blakan, suaranya ditegaskan.
"Awas kalau lo sampai telat jemput gue... Lo yang ngajak, lo yang butuh balas budi, jadi lo yang harus on time! Kalau sampai jam tujuh lewat lima menit batang hidung lo belum kelihatan, gue tinggal masuk ke rumah, dan lo nggak usah ngarep utang budi lo lunas seumur hidup. Paham, Wir?"
Wira ternganga selama beberapa detik. Ia menatap gadis di depannya ini dengan rasa takjub yang luar biasa.
Kalimat bernada ancaman itu...
Gaya bicara yang sok mendominasi itu...
Persis seratus persen seperti gaya Wira saat sedang mengancam anak-anak buah geng motornya di Bogor.
Namun diucapkan oleh bibir Asmara yang tersenyum merona?
Itu adalah kombinasi paling mematikan yang pernah Wira hadapi.
Alih-alih merasa terintimidasi, Wira justru tertawa keras.
Tawanya bergema di dalam kelas yang untungnya masih cukup sepi. Ia mengacak-acak ujung rambut belakangnya, menyerah sepenuhnya pada pesona sang gadis.
"Paham, Bos!" jawab Wira dengan senyum miring yang memancarkan kekaguman absolut.
"Nggak bakal telat. Gue pastiin malam Minggu besok, bakal jadi malam yang nggak akan pernah lo lupain, seumur hidup lo!" tambah Wira.
Asmara tersenyum puas.
Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, membiarkan jantungnya yang sejak tadi berdebar tak karuan kini berdegup dengan ritme bahagia.
Di bawah hembusan angin siang Jogja yang menembus celah jendela kelas XI IPS 2, sebuah janji telah terucap.
Rencana nge-date pertama mereka telah disepakati, bukan dengan gaya romantis yang cengeng, melainkan dengan gaya tengil yang penuh tantangan.
Dan bagi Wira maupun Asmara...
Hari Sabtu yang biasanya hanya sekadar hari akhir pekan...
Kini berubah wujud menjadi hari yang paling mereka tunggu kedatangannya dengan sisa napas yang ada.