Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : DEMI TUKANG BAKMI
Malam itu, setelah Bintang masuk kamar mandi, Angkasa angkat telepon Jingga di teras belakang. Suaranya ditahan serendah mungkin. "Halo."
"Kassa, lo bisa jelasin gak? Mobil lo tadi di Diponegoro. Lu tuh ngilang di kantor, bilang ke Gudang, tiba gua liat mobil lu di deket warung? Lu ngapain di situ?" Suara Jingga masih terdengar panik, panjang hampir gak ada jeda.
Angkasa menghela napas panjang.
"Iya... gua makan di warung Bakmi itu." Jawab Angkasa pelan.
"Yakin cuma makan di daerah situ. Kok kita gak ketemu kalo lu makan di warung yang sama?" cecar Jingga lagi.
"Ya … gua emang habis dari warung itu. Gue udah kabur lewat samping, Jing. Sebelum Bintang liat gue." Jawab Angkasa.
“Lu ngapain di situ? Sampe harus pergi lewat samping juga? Tanya Jingga agak bingung. Emang kenapa kalo tadi mereka ketemu di warung itu.
“Ya … gak apa-apa.” Angkasa terdengar malas menceritakan yang sebenarnya.
“Kassa, lu bisa bohongin orang lain. Tapi gue gak. Elu nyimpan apa dari Bintang?” Tegas Jingga terdengar emosi. Jingga sudah sayang sama Bintang. Dia memang mantan Angkasa. Tapi dia tau, Angkasa bukan jodohnya, setidaknya cukup rumah tangganya saja yang hancur. Angkasa dan Bintang jangan.
“Gua gak bisa cerita di sini.” Tutup Angkasa. Dia hapal durasi waktu Bintang Mandi. Gak pernah lama. Keburu Bintang sudah keluar kamar, menemukan dia tidak ada di ruang tengah, ribut lagi nanti.
Belum Angkasa masuk sudah masuk lagi pesan dari Bumi.
“Langit. Sepertinya Bintang tadi tau kamu di warung.” Kalo call Jingga, mungkin Angkasa bisa tutu se enaknya. Tapi tidak dengan chat dari Bumi. Ia buru-buru menghubungi.
“Gimana, Umi?” Tanyanya langsung tanpa halo.
“Setiba mereka di depan. Damar tantrum panggil ayah Angit. Orang yang datang memang tidak tau yang Damar maksud. Tapi tidak dengan Bintang.” Jelas Bumi pada Angkasa.
“Ya…terus?” Angkasa sungguh tidak tau salahnya di mana.
“Sebaiknya kamu jujur saja sama Bintang. Aku gak enak kamu sering main sama Damar ke rumah. Apa lagi tanpa sepengetahuan Bintang. Pikiran istri itu tajam, Langit.”
“Tapi kita gak ngapa-ngapain, Umi.”
“Memang. Tapi bagaimanapun saya ini janda. Kamu pria beristri. Sering main ke tempatku sendirian, apa pandangan orang?”
“Aku cuma suka main sama Damar, juga sambil bantu kamu jaga Damar, sementara repot di warung. Kita gak ada hubungan lebih dari itu kan?” Sahut angkasa menganggap yang dia lakukan itu benar.
“Iya benar. Tapi akan lebih benar lagi jika kamu datang dengan Bintang juga ke sini.” Sahut Bumi penuh tekanan.
“Oh. Ya udah…ku tutup ya.” Pamit Angkasa pada Bumi. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Perempuan yang sangat sensitive. Memang nya kenapa kalo dia sayang Damar dan bantu Bumi. Sudah masuk zinah kah?
Pagi datang, seperti biasa Angkasa dan Bintang sudah akan Bersiap pergi ke kantor bersama. Di jalan angkasa minta tolong pada Bintang untuk cek jadwal janji temunya.
“Tang, hari ini tolong liat aku ada kemana?” pintanya yang sudah terlihat menyetir.
“Ada nih, di resto AvenDro. Ini yang mau kerja sama perbaikan dapur restonya sama kita, bukan?” Bintang membaca jadwal dengan seksama.
“Iya bener. Jam ?”
“Jam 10 kayaknya.” Jawab Bintang meneliti.
“Sama kamu ya.” Ajaknya.
“Boleh gak?” Tolak Bintang.
“Kenapa?”
“Coba sama Jingga. Biar dia semakin mengerti kerjaanya.” Saran Bintang.
Angkasa menoleh ke Bintang.
“Serius.” Pura-puranya saja nanya. Padahal pas banget tadi malam obrolan mereka terhenti dan butuh tempat untuk ngobrol banyak.
“Ngapain bercanda. Aku cukup pusing dengan 8 desain kitchen set sama Devan. Kalo aku ikut ke Resto AvenDro, ku jamin otakku pasti tambah mikir lagi. Jadi, No. Aku ijin dulu di proyek yang ini. Boleh?” Luar biasa Bintang ini, ia sendiri yang memberikan akses untuk Jingga dan Angkasa saling dekat.
Angkasa tersenyum sambil bilang "Boleh, ibu negara."
Selanjutnya, benar saja. Bintang tinggal di kantor. Angkasa dan Jingga pun pergi.
Jingga di jok depan, tempat yang biasanya diduduki Bintang. Meetingnya sendiri cuma 20 menit. Presentasi desain ruang cooking yang minta di bedah sedikit saja.
Klien setuju.
Selesai.
Tapi mereka tidak langsung pulang.
Angkasa menepikan mobil di sebuah cafe sepi di resto Avendro.
"Kita ngobrol di sini aja, Jing."Jingga mengangguk.
Pesan dua kopi hitam.
“Kassa … benernya kamu nyimpan apa sih dari Bintang, selama ini?” tanyanya tak sabar.
“Nyimpan kamu, nyimpan hubungan masa lalu kita.” Jawab Angkasa cepat.
“Bukan. Bukan tentang kita. Tapi kemana kamu yang sering ngilang dari kantor beberapa minggu ini. Kamu selingkuh?” tembak Jingga.
“Jing … apa an sih? Tuduhan kamu tuh lebih tajam dari Bintang tau gak?”
“Ya apa?”
“Aku ngilang itu ya … ke warung bakmi Jawa kemarin.” agak ragu Angkasa mengaku pada Jingga.
“Kassa Plis? Kamu gak waras. Bohongin Bintang demi tukang Bakmi. Aku menyatakan perang sama kamu, Ka!” Bentak Jingga sungguh emosi.
“Gak gitu konsepnya. Bintang kenal Bumi kok. Bumi itu janda suaminya sudah meninggal dua tahun lalu.” Angkasa coba menjelaskan.
“Bohong. Kamu bohong!” potong Jingga.
“Dengerin dulu, Jing.”
“Jelas-jelas kemarin anaknya tantrum bilang Ayah Angit… mau main sama ayah Angit. Suaminya itu ada Kassa.” Jingga makin marah.
“Yang di sebut anaknya ayah Angit itu aku.”
Bersambung …
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......