NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Rumah Leluhur Yang Masih Di Huni

Ribuan mata merah di hutan Alas Purwo itu tidak berkedip.

Angin busuk dari hutan membuat petromaks di dalam masjid ghaib itu hampir padam. Cahaya putih dari lantai masjid yang tadi tenang, sekarang bergetar hebat seperti ada gempa. Malik, Ustadz Jin Islam itu berdiri di depanku. Jubah putihnya berkibar padahal tidak ada angin di dalam masjid.

  "Masuk ke dalam shaf, Arga! Jangan di luar garis! ucap Malik.

Aku tidak mengerti, tapi semua Jin Islam yang ratusan itu tiba-tiba membentuk lingkaran mengelilingiku. Mereka mengangkat tangan, membaca sesuatu yang tidak aku dengar dengan telinga, tapi terasa di dada dan panas.

"Allahu Akbar..."

Dari arah hutan, suara jeritan perempuan itu semakin dekat. Dan kini aku melihat apa yang memiliki mata merah itu, bukan hewan bukan manusia. Asap hitam tebal setinggi pohon kelapa, membentuk sosok tanpa bentuk pasti. Di dalam asap itu ada wajah-wajah, wajah anak kecil menangis, wajah kakek-kakek tertawa, wajah perempuan menjerit. Semua jadi satu. Dan matanya... ratusan mata merah itu adalah mata dari wajah-wajah itu.

"Itu Banaspati. Raja Jin Kafir penunggu Alas Purwo. Dia yang membunuh ibumu dulu," bisik Malik di telingaku. "Dia lapar. Dan dia mencium bau darah penjaga baru. Bau darahmu..."ucap Malik lagi.

Aku merinding. Ibuku meninggal karena sakit mendadak di Banyuwangi 10 tahun lalu, Kata dokter serangan jantung. Kata kakek, "Ibumu diambil yang nunggu alas."

Aku kira itu kiasan.

Ternyata benar-benar diambil.

Asap hitam itu menabrak dinding cahaya masjid. Duarrr!

Masjid ghaib itu bergetar. Beberapa Jin Islam yang paling kecil, yang jubahnya masih pendek seperti anak-anak, terpental dan menghilang menjadi cahaya.

Malik mengangkat tongkat kayunya. Dari tongkat itu keluar cahaya putih membentuk kubah.

  "Dia tidak bisa masuk masjid! Selama azan kami masih ada, dia tidak bisa masuk! Tapi kami tidak bisa menahannya lama! Kamu harus pulang ke rumah leluhurmu, Arga! Rumah itu bukan rumah kosong! ucap Malik.

Aku bingung. "Maksudnya? tanyaku.

"Rumah itu dihuni! Tapi bukan dihuni dia! Dihuni kami! Keluarga kami! Kami yang bersihkan, kami yang masak, kami yang jaga agar Banaspati tidak masuk ke rumahmu! Jika kamu tidak kembali ke rumah itu sebelum jam 9 malam, rumah itu akan diambil dia! Dan kamu akan mati seperti ibumu! jawab Malik.

Jam di dinding masjid ghaib itu menunjukkan 20:47. Aku hanya punya waktu 13 menit.

Malik mendorongku pelan, tapi dorongannya membuatku terlempar keluar dari masjid. Aku jatuh di tanah becek di depan masjid tua yang lapuk lagi.

Aku menoleh ke belakang. Masjid itu sudah gelap lagi. Tertutup. Digembok rantai berkarat. Tidak ada cahaya. Tidak ada Jin Islam. Seperti tidak ada apa-apa.

Hanya bau kemenyan dan angin busuk dari hutan yang masih tertinggal.

Aku lari. Lari sekencang-kencangnya ke rumah kakek. Senter ku jatuh. Petromak Ku pecah. Aku lari dalam gelap, dalam kabut, dengan ribuan mata merah mengintip dari belakang. Sampai di halaman rumah, aku melihat rumah itu.

Dari luar, lampu petromak yang tadi aku tinggalkan masih menyala. Tapi dari jendela, aku melihat bayangan orang-orang bergerak di dalam sangat banyak bukan satu dua.

Aku mengintip dari celah dinding kayu dan darahku berhenti mengalir.

Di ruang tengah rumah kakek... ada sebuah keluarga sedang makan malam.

Seorang bapak tua dengan jubah putih dan sorban, mirip Malik tapi lebih tua. Seorang ibu tua dengan mukena putih bercahaya. Dan tiga anak kecil dengan jubah putih kecil, makan dengan tenang. Nasi yang tadi aku buang karena jadi belatung, sekarang menjadi nasi putih bersih lagi. Lauknya lengkap.

Mereka makan seperti keluarga manusia normal. Tertawa kecil. Sang ibu menyuapi anak terkecil.

Tapi mereka semua tembus pandang. Kakiku bisa melihat lantai kayu di balik tubuh mereka. Cahaya putih lembut keluar dari tubuh mereka.

Mereka adalah Jin Islam. Penghuni rumah leluhurku.

Bapak tua itu menoleh. Tepat ke arah celah tempatku mengintip. Dia tersenyum.

"Arga, masuklah. Jangan di luar. Banaspati sudah di halaman..."ucap bapak tua tersebut.

Aku kaget. Aku masuk dengan gemetar. Pintu terbuka sendiri.

Begitu aku masuk, keluarga itu berdiri. Mereka menunduk hormat padaku.

"Selamat datang, Tuan penjaga baru," kata bapak tua itu. "Saya Kiai Jirji, saya dan keluarga saya sudah menjaga rumah ini selama 40 tahun, sejak ayahmu pergi. Mbah Suro yang meminta kami...."ucap pria tua lagi.

Aku tidak bisa berkata-kata. Rumah yang aku kira kosong dan angker, ternyata selama ini penuh. Dijaga dan Dirawat.

"Kenapa... kenapa kalian masak untukku?" tanyaku, mengingat dua piring nasi tadi.

Anak terkecil mereka yang bermata hitam tadi...?Anak terkecil ini wajahnya bercahaya putih, tersenyum malu-malu.

"Itu kami yang masak, Tuan. Kami tahu Tuan lapar habis perjalanan. Maaf tadi jadi belatung, karena Jin Kafir mengganggunya. Dia tidak suka kami dekat dengan manusia..."ucap anak tersebut.

Saat itu, dari luar, terdengar suara garukan keras di dinding kayu rumah. "Kreeek... kreeek... kreeek..."

Seperti kuku panjang menggaruk kayu dari luar.

Lampu petromak bergoyang hebat.

Kiai Jirji dan keluarganya langsung panik. Mereka berlari ke setiap sudut rumah, menempelkan tangan mereka ke dinding. Dari tangan mereka keluar cahaya putih yang membentuk jaring-jaring di seluruh dinding rumah.

"Dia datang! Banaspati datang! Dia mau ambil rumah ini!" teriak Kiai Jirji.

Dari celah lantai kayu, asap hitam mulai masuk. Tipis. Berbau bangkai. Asap itu membentuk tangan hitam kecil, mencoba meraih kakiku.

Aku melompat ke atas kursi.

Kiai Jirji berteriak, "Baca, Arga! Baca apa yang ada di belakang foto itu! Baca perjanjian kakekmu!"

Aku ingat. Foto di dinding. Tulisan di belakangnya: "Arga, ojo lali perjanjian kita karo sing njogo."

Aku lari ke dinding, aku balik foto itu.

Dan di belakang foto itu bukan hanya tulisan itu. Ada tulisan Arab, panjang, dengan tinta emas yang bercahaya dalam gelap.

Aku tidak bisa baca Arab gundul. Tapi mulutku tiba-tiba bergerak sendiri. Lidahku seperti digerakkan oleh orang lain. Aku membaca tulisan itu dengan fasih, dengan suara yang bukan suaraku, suara kakekku.

"BISMILLAHI... INNA HADZAL BAITA LAHAQUN... WA INNA HARASAHU MINAL MUSLIMIN..."

Begitu kalimat terakhir ku baca, seluruh rumah meledak cahaya putih.

Sangat terang. Sampai aku harus menutup mata.

Aku mendengar jeritan yang sangat keras dari luar. Jeritan Banaspati. Jeritan kalah.

Asap hitam yang masuk dari lantai menjerit dan terbakar oleh cahaya itu, menghilang.

Suasana Pun Hening.

Aku buka mata.

Rumah kembali normal. Kiai Jirji dan keluarganya masih di sana, tapi mereka tersenyum lega. Cahaya mereka semakin terang.

"Alhamdulillah... perjanjian diperbarui," kata Kiai Jirji sambil menangis. Air matanya bercahaya. "Mulai malam ini, Tuan Arga, rumah ini resmi milik Tuan. Dan kami resmi menjadi keluarga Tuan. Kami yang akan menghuni bersama Tuan. Kami jaga Tuan, Tuan jaga kami...."ucap Kiai Jirji

Aku jatuh terduduk di lantai. Nafasku terengah-engah.

Baru aku sadar. Selama 10 tahun aku mengira rumah leluhur ini kosong, angker, dan ditinggalkan.

Ternyata tidak pernah kosong.

Rumah ini selalu dihuni. Dijaga. Dibersihkan. Dimasakkan nasi setiap hari.

Hanya saja yang menghuninya bukan manusia.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku sebagai cucu penjaga, resmi tinggal bersama mereka.

Dari luar jendela, ribuan mata merah di hutan Alas Purwo itu masih ada. Menatap. Tidak pergi dan menunggu.

Mereka tahu, perjanjian baru saja diperbarui. Dan mereka tidak suka itu.

Di pojok ruang tengah, boneka kayu kecilku yang basah tadi, sekarang sudah kering. Dan duduk sendiri di atas kursi, menatapku.

Tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!