NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Beban Hidup Di Dalam Tesla dan Bayangan Meja KUA

"Oke kalau begitu. Saya tidak mau ada drama panjang atau negosiasi bisnis lagi di rumah ini. Besok pagi-pagi buta, kalian berempat akan saya antar langsung di bawah pengawalan ketat menuju ke kantor KUA untuk dinikahkan secara massal!"

DEG!

Sella langsung mendongakkan kepalanya ke atas dengan kedua mata yang membelalak sempurna karena terkejut. Suara isakan tangisnya mendadak terhenti seketika, berganti dengan rasa sesak luar biasa yang menghantam rongga dadanya.

Menikah? Di usianya yang baru menginjak 19 tahun? Ditambah lagi harus menikah dengan seorang pria kaku sekaku robot yang baru ia kenal lewat insiden salah kamar dan buku dewasa di kafe? Seluruh cita-citanya untuk menjadi seorang desainer internasional di Paris dan berkuliah mode di sana seolah-olah lumat menjadi abu rokok di depan matanya sendiri. Mengapa garis takdir mahasiswi semester awal seperti dirinya harus berakhir tragis di meja perjamuan nikah paksa?

Kaizen melangkah maju satu langkah, menundukkan tubuh tegap militernya tepat berada di depan hidung Adit yang saat itu masih mandi keringat dingin di atas lantai marmer.

"Dan untuk kamu, Raditama Abraham... Jangan pernah sekali-kali berpikir atau mencoba untuk lari dari tanggung jawab ini. Saya tunggu kehadiranmu besok pagi tanpa ada keterlambatan walau hanya satu detik pun. Kalau kamu nekat coba-coba kabur dari pernikahan ini, saya pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit lagi di dunia ini! Paham?!"

Suasana di dalam kabin mobil yang sedang melaju membelah malam menuju ke rumah kediaman Reno terasa jauh lebih berat daripada beban hidup seluruh umat manusia. Reno menyetir kemudi dengan ekspresi wajah yang kaku tanpa suara untuk mengantarkan Rika pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Di kursi baris belakang, Rika tidak berhenti memijat pelipis kepalanya yang terasa pening akibat syok berat yang bertubi-tubi malam ini.

Sementara itu, Adit hanya bisa bersandar lunglai di kursi penumpang depan, meratapi nasib garis hidupnya yang berubah drastis dari seorang CEO muda elit menjadi seorang tahanan cinta dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

"Mama benar-benar nggak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Adit!" suara Rika akhirnya memecah keheningan malam yang mencekam di dalam mobil. "Adit... bagaimana ceritanya kamu bisa sampai bertindak sejauh itu sama putri sahabat Mama? Bahkan dia itu adiknya Sindy, sekretarismu sendiri?! Nama baik keluarga dan harga saham Abraham Company taruhannya, Adit!"

Adit menghela napasnya dengan sangat berat, kedua bahunya merosot drastis kehilangan kekuatan eksekutifnya. Wajah cantik Sella yang sedang menangis histeris di bawah selimut terus-menerus terbayang di dalam pikiran terdalamnya.

"Ada pihak musuh yang sengaja menjebak saya malam itu, Tante Rika. Cairan jus jeruk yang saya minum di aula pesta itu... rasanya sangat aneh di tenggorokan. Saya dan Sella sama-sama kehilangan kendali kesadaran penuh kami malam itu akibat efek zat kimia berbahaya. Semuanya terasa gelap gulita di otak saya, dan saya mendadak terbangun dalam kondisi pakaian berantakan tepat pada saat ayahnya mendobrak pintu balkon," jelas Adit dengan nada frustrasi.

Rika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah saat mobil akhirnya berhenti dengan presisi di depan pintu gerbang rumah. "Nasi sekarang sudah berubah menjadi bubur, Adit. Mau tidak mau, kamu harus bersikap sebagai pria gentle dan bertanggung jawab penuh. Ingat, seluruh masa depan hidup Sella sekarang ada di dalam tanganmu."

Rika melangkah turun dari dalam mobil dengan satu kali bantingan pintu yang terdengar cukup keras, meninggalkan gema sunyi di tengah keheningan malam yang dingin. Sebagai seorang wanita yang sudah menganggap Adit seperti anak kandungnya sendiri, ia merasa jantungnya mencelos hancur. Harapan besarnya untuk melihat Adit menikah dengan pesta resepsi megah nan mewah di hotel bintang lima kini harus berganti dengan bayangan meja kayu KUA yang sederhana akibat kecelakaan skandal jus jeruk di Paris.

Setelah Rika melangkah masuk ke dalam rumah, Adit menyandarkan kepalanya ke jok mobil Tesla miliknya yang terasa dingin. Pria itu memejamkan kedua matanya sejenak untuk menenangkan pikiran, tangannya bergerak meremas kantong kertas perhiasan (paper bag) yang berada di pangkuannya. Di dalam kantong itu, terdapat dua buah cincin emas putih polos yang tadi sempat dibeli secara darurat. Benda kecil yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan sepasang kekasih, kini justru terasa seberat rantai besi penjara yang mengikat kebebasannya sebagai pria lajang.

"Gue beneran gak menyangka kalau lo ternyata tipe cowok yang langsung gas pol rem blong sampai bertindak nekat sama anak orang, Dit," celetuk Reno memecah keheningan sambil melirik nakal dengan senyum meledek ke arah Adit yang tampak frustrasi berat di sampingnya.

"Sembarangan lo, sialan! Belum tentu ada apa-apa, lagian baru juga kejadian semalam!" balas Adit dengan nada suara tinggi penuh emosi yang tertahan. Pria itu meremas rambut hitamnya sendiri dengan frustrasi. "Masalah utamanya adalah gue sama sekali gak punya rasa cinta sama mahasiswi ajaib itu! Gue bahkan gak kenal siapa dia sebenarnya!"

"Sekali kejadian lo bilang? Ah, gue sih nggak percaya," goda Reno lagi, tidak mempedulikan wajah Adit yang sudah ditekuk menyerupai kertas lipat origami. Ia mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, lalu berbisik tepat di samping daun telinga Adit dengan nada sok tahu yang memicu emosi. "Tapi lo ingat nggak mainnya berapa kali semalam di kamar hotel? Bisa saja itu bibit unggul langsung jadi dalam sekali tancap gas, apalagi lo bilang sendiri tubuh lo rasanya lemas banget pas bangun subuh tadi."

Adit makin menciutkan badannya di kursi penumpang mobil Tesla, menyembunyikan wajah tampannya yang mendadak berubah menjadi merah padam sampai ke batas leher karena malu sekaligus panik.

"Gue... gue beneran nggak ingat secara detail kejadiannya, Ren. Tapi rasa capek di badan gue... kayaknya emang efeknya luar biasa berat. Seluruh otot tubuh gue bener-bener berasa remuk dan rontok," rintih Adit pelan dengan suara parau. Ia mengingat kembali bagaimana rasa lelah yang mendera fisiknya pagi ini (padahal aslinya itu karena efek digendong dan ditabok Sella semalam).

Adit menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha keras menepis semua bayangan pikiran buruk dan skenario fiksi romantis dewasa yang berputar di otaknya.

"Ren, lo sadar nggak, sih, dengan posisi kita sekarang? Besok pagi-pagi buta kita berdua bukan mau tanda tangan kontrak proyek ekspor-impor bernilai triliunan di aula mewah, tapi kita mau tanda tangan buku nikah! Di kantor KUA, Ren! KUA!" keluh Adit dengan volume suara yang nyaris hilang, berusaha mati-matian mengalihkan topik pembicaraan dari bahasan area vital yang sensitif.

Reno yang saat itu sedang sibuk mengecek digit saldo rekening di layar ponsel pintarnya hanya bisa menyengir lebar tanpa beban moral. Ia merasa nasibnya jauh lebih beruntung daripada Adit yang terkena bogem mentah mantan komandan militer.

"Sama aja kali, Dit. Intinya kan kita berdua sama-sama melakukan aktivitas tanda tangan dokumen resmi perusahaan kehidupan. Bedanya, kalau yang ini bonus transaksinya dapat istri sah, bukan komisi persentase saham korporasi. Lagian lo harusnya banyak-banyak bersyukur, Sella itu aslinya cantik banget, aset masa depan yang luar biasa. Gue aja kemarin pas kebagian tugas mengojek dia sempat terpesona sesaat—ya, sebelum dia nekat ngasih lembaran struk belanjaan lecek buat bayar ongkos bensin, sih," kekeh Reno mengingat kelakuan ajaib calon istri sahabatnya tersebut.

1
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!