Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.
Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.
Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Obat Pahit dan Pelukan Hangat
Suasana kamar rawat inap anak malam itu jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Hujan di luar mulai reda, meninggalkan suara rintik kecil yang samar terdengar dari balik jendela kaca.
Liora duduk di atas ranjang rumah sakit sambil memeluk boneka kelincinya erat. Wajah kecilnya masih terlihat lemas, tetapi warna pipinya sudah mulai membaik.
Di samping ranjang, Alya sedang memegang sendok kecil berisi obat.
Sementara Leon berdiri beberapa langkah dari mereka dengan suasana canggung yang masih terasa jelas.
Tiga tahun terpisah tidak mungkin hilang hanya dalam satu malam.
Namun kini mereka berada di ruangan yang sama.
Dan anehnya…
Tidak ada satu pun yang ingin pergi lebih dulu.
“Lio, minum obat dulu ya,” bujuk Alya lembut.
Liora langsung menggeleng cepat.
“Nggak mau.”
“Sayang, biar cepat sembuh.”
“Nggak mauu…”
Anak kecil itu langsung bersembunyi di balik selimut sambil cemberut.
Alya menghela napas pasrah.
“Ini udah percobaan ketiga,” bisiknya lelah.
Leon memperhatikan diam-diam.
Sudah hampir lima belas menit Alya mencoba membujuk, tetapi Liora tetap menolak.
“Pahit…” keluh Liora dari balik selimut.
Alya mencoba lagi.
“Nanti Mama beliin es krim.”
“Nggak mau.”
“Boneka baru?”
“Nggak mau…”
Leon tanpa sadar tersenyum tipis melihat tingkah putrinya.
Keras kepala.
Mirip seseorang.
Tatapan pria itu perlahan melunak.
Selama ini ia tidak pernah membayangkan memiliki anak sekecil ini.
Dan fakta bahwa ada seorang gadis kecil yang membawa darahnya terasa begitu aneh sekaligus hangat.
“Aku coba?” tanya Leon tiba-tiba.
Alya langsung menoleh cepat.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
“Aku nggak yakin dia mau.”
Leon mendekat perlahan ke sisi ranjang.
Liora langsung mengintip sedikit dari balik selimut.
“Om taman…”
Leon duduk pelan di kursi kecil dekat ranjang.
“Kamu nggak suka obat?”
Liora langsung menggeleng kuat-kuat.
“Jahat.”
Leon hampir tertawa.
“Obat bukan jahat.”
“Pahit.”
“Hm… iya sih.”
Liora tampak kaget karena ada yang setuju dengannya.
Alya sampai menatap Leon tidak percaya.
Biasanya orang dewasa selalu memaksa anak minum obat tanpa banyak bicara.
Namun Leon malah ikut membenarkan.
“Kamu tahu?” Leon mencondongkan badan sedikit seperti sedang membagi rahasia besar. “Waktu kecil aku juga benci obat.”
Mata Liora langsung membulat penasaran.
“Beneran?”
Leon mengangguk serius.
“Dulu aku pernah sembunyiin obat di bawah meja.”
Liora langsung tertawa kecil.
“Dimarahin?”
“Parah.”
Anak kecil itu makin tertarik mendengar cerita Leon.
Sementara Alya hanya bisa diam memperhatikan.
Ini pertama kalinya ia melihat sisi lain Leon.
Pria dingin yang biasanya bicara seperlunya itu sekarang duduk sabar membujuk anak kecil dengan ekspresi lembut.
Dan anehnya…
Leon terlihat cocok.
“Aku kasih tahu rahasia lain nggak?” tanya Leon lagi pelan.
Liora mendekat sedikit.
“Apa?”
“Kalau minum obat sambil tutup hidung…” Leon mengambil sendok obat perlahan. “Rasa pahitnya hilang setengah.”
Liora tampak ragu.
“Masa?”
“Kita coba?”
Anak kecil itu menatap sendok obat dengan wajah serius seolah sedang mempertimbangkan hal paling penting di dunia.
Lalu perlahan ia mengulurkan tangan kecilnya pada Leon.
“Om dulu.”
Leon sedikit terpaku.
“Maksudnya?”
“Om contohin.”
Alya refleks menahan tawa.
Leon menatap sendok obat itu beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh kecil tidak percaya.
“Kamu pintar juga ya.”
Liora tersenyum bangga.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Leon benar-benar tertawa kecil tanpa dibuat-buat.
Suara rendah hangat itu membuat suasana kamar terasa jauh lebih ringan.
Akhirnya Leon mengambil gelas air putih, lalu pura-pura meminum obat imajiner sambil menutup hidung.
“Nah gini.”
Liora memperhatikan serius.
“Gampang kan?”
Anak kecil itu akhirnya duduk tegak.
“Oke…”
Alya langsung menyerahkan obat pada Leon tanpa sadar.
Dan keduanya sempat membeku sesaat karena gerakan kecil itu terasa terlalu alami.
Seperti keluarga sungguhan.
Leon menerima sendok itu perlahan lalu menghadap Liora.
“Siap?”
Liora menarik napas dalam-dalam.
“Siap…”
“Tutupan hidungnya.”
Liora langsung memencet hidung kecilnya lucu.
Leon menahan senyum sebelum menyuapi obat perlahan.
Beberapa detik hening.
Lalu—
“BLEEEGH!”
Liora langsung meringis hebat.
Leon spontan tertawa kecil sementara Alya buru-buru memberikan air putih.
“Cepat minum.”
Setelah menelan obat dengan susah payah, Liora langsung memeluk bonekanya dramatis.
“Aku hebat…”
“Iya,” ujar Leon sambil tersenyum tipis. “Hebat banget.”
Liora menatap Leon dengan mata berbinar.
“Om juga hebat.”
Deg.
Kalimat sederhana itu menghantam hati Leon anehnya sangat dalam.
Karena selama ini tidak pernah ada anak kecil yang memandangnya seperti itu.
Penuh kagum.
Penuh percaya.
Dan perasaan hangat itu membuat dadanya terasa sesak.
“Lio ngantuk…” gumam anak kecil itu pelan setelah efek obat mulai bekerja.
Alya langsung membantu menyelimuti putrinya.
Namun sebelum tidur, Liora tiba-tiba menarik ujung jas Leon kecil.
“Om…”
“Hm?”
“Besok datang lagi?”
Pertanyaan polos itu membuat ruangan mendadak hening.
Alya refleks menegang.
Sementara Leon hanya menatap wajah kecil putrinya cukup lama.
Lalu perlahan…
Pria itu mengangguk.
“Iya.”
Dan entah kenapa—
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun hidup dalam kekosongan, Leon merasa ada tempat yang akhirnya ingin ia datangi lagi.