Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTEROGASI YANG GAGAL TOTAL
Ruang kerja di kediaman Kevin adalah definisi literal dari "meja yang lebih besar dari orangnya". Meja kayu mahoni solid di tengah ruangan itu begitu panjang dan lebar hingga Vania merasa perlu membawa peta dan kompas jika ingin berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya. Lampu meja berujung hijau menyala remang, menciptakan bayangan dramatis di wajah Kevin yang duduk di balik benteng kayu tersebut.
Vania duduk di kursi tamu berlapis kulit yang empuknya tidak masuk akal. Dia menyilangkan kakinya, menatap pria di depannya dengan ekspresi datar. Di kepalanya, dia sedang membandingkan ruangan ini dengan ruang meeting di kantornya yang dulu. Bedanya, di kantornya yang dulu, AC-nya tidak dingin sampai menusuk tulang, dan bosnya tidak menatapnya seperti ingin menculik dan mengurungnya di menara.
"Kita perlu meluruskan beberapa hal, Vania," suara Kevin memecah keheningan, berat dan penuh tekanan. Dia menyandarkan punggungnya di kursi kulit, jari-jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang mengintimidasi. "Aku tidak suka ketidakkonsistenan. Dan perilakumu belakangan ini... sangat tidak konsisten."
Vania tidak menjawab. Dia hanya menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat rak buku berisi ensiklopedia yang pasti tidak pernah dibaca. Ini dia. Adegan interogasi klasik. Biasanya di sinetron, heroine akan gemetar, menangis, atau pingsan di titik ini. Tapi aku? Aku cuma pengen tahu kapan makan siang.
Kevin mencondongkan tubuhnya ke depan, siku-sikunya bertumpu di atas meja. Tatapannya mengunci Vania, tajam dan menuntut. "Mari kita ingat kembali. Sebelum aku 'diusir' secara tidak hormat dari mansion ini oleh Pak Darmawan, kau mengejarku mati-matian. Kau mengirim surat, kau menunggu di depan gerbang kantorku, kau bahkan pernah memanjat pagar taman semata-mata untuk melempar kotak bento ke arahku. Kau obsesif, Vania. Kau gila."
Vania mengedip. Memanjat pagar? Serius? Nona Vania yang asli punya kemampuan atletik yang tidak disadari. Atau dia cuma nekat.
"Dan setelah aku keluar dari sini," lanjut Kevin, suaranya merendah, menjadi lebih gelap, "kau langsung mengalihkan targetmu. Kau mulai mengejar Raka. Kau mencoba merebut Larasati. Kau membuat skandal di setiap pesta, mencoba menghancurkan hubungan mereka."
Kevin berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara yang ber-AC dingin. Dia menatap Vania, mencari-cari tanda penyesalan atau ketakutan di wajah wanita itu. Tapi yang dia temukan hanyalah tatapan kosong yang sedang menghitung berapa menit lagi dia bisa pulang.
"Jadi, jelaskan padaku," desis Kevin, alisnya berkerut. "Kenapa semua itu berubah sekarang? Kau tiba-tiba berhenti mengejar Raka. Kau bahkan membantu mereka. Dan kau menatapku... bukan dengan obsesi, tapi dengan tatapan seolah aku adalah laporan keuangan yang membosankan."
Kevin menyipitkan matanya, sebuah senyuman sinis dan penuh keyakinan diri muncul di sudut bibirnya. "Atau jangan-jangan... kau yakin pelarianmu ke Raka itu bukan karena kau ingin membuatku cemburu? Kau pikir dengan mendekati pria lain, aku akan kembali dan merebutmu? Kau pikir aku tidak melihat permainan psikologismu?"
Hening.
Vania menatap Kevin. Dia menatap rahang tegas pria itu, tatapan intensnya, dan aura dark romance yang dipancarkan dengan kekuatan penuh.
Astaga, batin Vania, menatap ke arah langit-langit ruangan. Narsis. Ini adalah narsisisme tingkat dewa. Pria ini benar-benar mengira aku melakukan semua itu buat mancing dia. Ini bukan lagi red flag, ini bendera merah raksasa yang dikibarkan di puncak Gunung Everest.
Vania menghela napas panjang, lalu menatap kembali Kevin. Dia memutuskan untuk menggunakan satu-satunya bahasa yang dia pahami dengan sangat baik: bahasa admin korporat tahun 2026.
"Tuan Kevin," ucap Vania, suaranya datar dan profesional, persis seperti saat dia menjelaskan revisi dokumen ke manajer divisinya dulu. "Izinkan saya menjelaskan ini dari sudut pandang manajemen proyek dan analisis risiko."
Kevin berkedip, alisnya yang tebal sedikit terangkat. "Manajemen... apa?"
"Proyek 'Mengejar Tuan Kevin' yang saya jalankan di masa lalu," Vania melanjutkan, tangannya membuat gestur presentasi imajiner di udara, "memiliki Return on Investment atau ROI yang sangat negatif. Saya mengeluarkan energi, waktu, dan harga diri yang besar, namun return-nya adalah penolakan, ancaman, dan pengusiran dari rumah ini. Dalam dunia bisnis, kami menyebutnya Sunk Cost Fallacy. Memaksakan proyek yang sudah jelas rugi hanya akan menghancurkan aset utama, yaitu kewarasan saya."
Kevin menatapnya, mulutnya sedikit terbuka. Otaknya yang terbiasa membaca neraca keuangan miliaran rupiah tiba-tiba mengalami error saat mencoba memproses istilah-istilah itu. "Aset... kewarasan? Vania, apa yang kau bicarakan? Kau berbicara tentang cinta, bukan saham!"
"Cinta adalah bentuk investasi emosional, Tuan Kevin," balas Vania tanpa jeda, wajahnya tetap serius. "Dan setelah proyek pertama gagal, saya melakukan pivot. Saya mengalihkan sumber daya saya ke 'Proyek Raka'. Sayangnya, setelah dilakukan analisis mendalam, target Raka memiliki risk profile yang terlalu tinggi. Dia terikat kontrak eksklusif dengan Larasati, dan campur tangan saya hanya akan memicu hostile takeover dari semesta ini yang berujung pada kehancuran total. Jadi, saya melakukan risk mitigation. Saya menarik diri, mendukung merger mereka, dan mengamankan aset saya sendiri."
Kevin menatap Vania dengan tatapan kosong. Dahi pria itu berkerut begitu dalam hingga terlihat seperti peta topografi. "Merger? Hostile takeover? Vania, kau sedang meracau. Kau sedang membicarakan Larasati dan Raka seperti mereka adalah dua perusahaan yang sedang bergabung. Dan apa maksudmu dengan 'kehancuran dari semesta'?"
"Itu metafora, Tuan Kevin. Metafora untuk konsekuensi sosial," Vania mengabaikan kebingungan pria itu, melanjutkan presentasinya. "Intinya, saya mengalami burnout. Lingkungan 'mengejar Tuan Kevin' dan 'bersaing dengan Larasati' adalah toxic workplace yang sangat buruk bagi kesehatan mental saya. Saya butuh work-life balance. Saya butuh ketenangan. Jadi, saya resign dari drama ini."
Kevin terdiam. Dia menatap Vania, mencoba mencari logika di balik kata-kata wanita itu. Burnout. Toxic workplace. Work-life balance. Kata-kata itu terdengar asing, seperti mantra sihir dari dimensi lain yang tidak pernah dia kunjungi. Dia mengira Vania akan menangis, mengakui cintanya, atau setidaknya berteriak histeris. Tapi wanita ini malah memberinya presentasi evaluasi kinerja.
"Kau..." Kevin memulai, suaranya terdengar ragu, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria itu. "Kau bilang kau mengalami... burnout? Karena mengejarku?"
"Dan mengejarnya," tambah Vania. "Jujur saja, Tuan Kevin. Dulu saya tidak waras. Tapi sekarang saya sedang dalam proses self-healing. Saya belajar untuk mencintai diri sendiri, menetapkan batasan yang sehat, dan menghindari hubungan yang tidak memberikan value positif."
Vania bersandar di kursinya, menatap Kevin dengan tatapan yang mengatakan 'sudah jelas, kan?'.
"Jadi, tolong jangan berasumsi bahwa saya melakukan ini untuk membuat Anda cemburu. Saya tidak punya energi untuk itu. Saya cuma ingin hidup tenang, minum orange juice, dan tidur delapan jam sehari tanpa harus memikirkan apakah ada yang akan menjatuhkan saya dari tebing."
Ruangan itu kembali hening. Hanya suara dengungan AC dan detak jam dinding antik yang terdengar. Kevin menatap Vania. Pria itu memproses setiap kata yang baru saja diucapkan wanita di depannya. Dia melihat ketulusan di mata Vania, kelelahan yang nyata, dan logika aneh yang sama sekali tidak masuk akal tapi terdengar sangat meyakinkan.
Tiba-tiba, bahu Kevin bergerak.
Sebuah suara rendah, serak, dan asing keluar dari tenggorokannya.
Hah.
Kevin tertawa kecil.
Itu bukan tawa meremehkan. Bukan pula tawa yang terdengar sinis. Itu adalah tawa tulus, tawa yang jarang sekali keluar dari bibir pria yang selalu mengenakan topeng dingin dan kejam ini. Suara tawanya menggemakan ruangan megah itu, membuat Vania sedikit terkejut dan menatapnya dengan alis terangkat.
"Kau..." Kevin menggelengkan kepalanya perlahan, senyum tipis yang aneh namun sangat tampan terukir di wajahnya. Matanya yang gelap menatap Vania dengan kilatan yang berbeda. Bukan lagi tatapan menginterogasi, tapi tatapan seorang pria yang baru saja menemukan mainan paling menarik di seluruh dunia.
"Self-healing?" gumam Kevin, suaranya bergetar karena sisa tawanya. Dia menatap Vania seolah wanita itu adalah teka-teki yang mustahil untuk dipecahkan. "Kau memang wanita yang aneh, Vania. Sangat aneh."
Vania menatapnya, lalu perlahan menoleh ke arah "kamera" imajinernya, memberikan tatapan 'kalian dengar kan dia ketawa?' sebelum kembali menatap Kevin dengan wajah datar.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Kevin. Sekarang, apakah interogasi ini sudah selesai? Saya ingin pulang dan melakukan self-healing dengan cara tidur siang."
BERSAMBUNG...