Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : Saat Takdir Memilihku
Arrrrggghh!!
Hooeghhh!!
Eyang Suro terlihat memprihatinkan kondisi nya setelah dia berhasil, melarikan diri dari sosok ki Amar. "Cuihhh!! Siall! Ternyata dia masih ada!, kurang ajar awas kau Amar!" gumam eyang Suro. Dia bertapa untuk memulihkan diri nya, dirinya mungkin perlu berhari-hari untuk memulihkan luka nya itu.
Sementara disisi lain terlihat Devan, sedang berbincang santai dengan Yusa seraya mereka mengontrol kualitas produk mereka, karena mereka akan kedatangan tamu dari pihak yang tertarik berinvestasi, di pabrik milik Devan Karena produk yang dia produksi menjadi viral di kalangan masyarakat, bukan hanya Viral, produk Devan itu terbilang enak dan murah bagi masyarakat.
"Kapan orang itu akan datang kemari van?" tanya Yusa.
"Mungkin esok hari" jawab Devan
Setelah berbincang banyak hal Devan kembali ke kamar nya, dia membersihkan diri setelah dia berkunjung ke tempat produksi roti milik nya.
"Tuan apakah kau ingin kami temani?" tanya Malea.
"Tentu saja, seperti biasa" jawab Devan
Malea pun mengekor begitu pun dengan syafir. Malea mulai membantu menggosok badan Devan, begitupun dengan Syafir Devan hanya menikmati itu. Tangan Devan tak tinggal diam, dia tentu menggerayangi tubuh kedua wanita itu, dari mulai belakang depan hingga atas. Mereka bertiga saling menghangatkan. Di dalam dingin nya guyuran shower, Devan menikmati setiap goyangan tubuh Malea dan Syafir.
Hingga satu jam lebih mereka bergumul di dalam kamar mandi. Setelah usai Devan tak lupa bersemedi untuk meningkatkan kekuatan nya, dia menuju alam spiritual nya. Dia semakin tenggelam dan larut di dalam tapaan nya itu.
Di tempat lain terlihat seorang gadis cantik sedang di maki-maki oleh seorang wanita paruh baya."Kau gimana sih! Masa cuman kerja doang, bukan nya dapet orang nya kau malah jadi babu! Bego amat sih kamu Vi!!" teriak wanita setengah tua itu, yang tak lain adalah Ibu dari Vivi.
Vivi ijin tak masuk kerja kepada Devan karena sakit, sungguh memilukan memang nasib dari Vivi, sejak kecil dia seperti tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu nya itu, terlebih sejak sang ayah meninggal. "Kenapa sih bu! Aku selalu jadi bahan pelampiasan kemarahan ibu, kalau ibu kaya gini terus aku lebih baik pergi dari sini!" jawab Vivi seraya pergi ke arah kamar untuk mengemasi barangnya.
Hasna yang mendengar itu tentu geram dia ingin marah, namun saat dia ingin kembali memaki, mulut nya seperti terkunci. "Sia..mmm pfftttttf!" racau Hasna tak jelas.
Tubuh nya mematung, badan nya menggigil, serta bulu kuduk nya berdiri, seketika angin berhembus menerpa tubuh nya. Sebuah bisikan di telinga Hasna, membuat wajah nya pucat pasi. "Apa itu! Siapa itu" batin Hasna.
"Jika kau berbuat jahat lagi terhadap anak mu, kau akan mendapatkan terror yang sangat menakutkan dari ku, hihihihihi", bisik suara ghoib di telinga Hasna di iringi tawa yang begitu menyeram kan.
Membuat tubuh Hasna Luruh dan jatuh tak sadarkan diri.
"Hahahaha syukurin, makan nya jadi ibu jangan kejam! Sama anak sendiri ko kaya gitu!" ucap sosok ghoib setelah selesai menjahili Hasna, ibu dari Vivi.
"Meylin udah cukup, hentikan kurasa itu sudah cukup" ucap sosok yang lain nya. Dia adalah Yunsi dan ternyata ulah itu perbuatan dari Yunsi, Meylin serta Ayumi.
Mereka datang kemari karena di perintahkan oleh Devan, untuk mengawasi Vivi karena Devan takut jika Ibu dari Vivi, menjahati kembali Vivi, dan benar saja dugaan Devan ternyata benar. Setelah merasa puas, dengan kejahilan nya mereka pun lantas kembali menuju kediaman Devan.
Saat Vivi keluar dari kamar nya, dia melihat ibu nya seperti tertidur di atas sofa, dan Vivi pun pergi tanpa berpamitan dan tanpa mengetahui bahwa ibu nya pingsan karena ulah, dari Yunsi serta Meylin dan Ayumi.
"Bahkan ibu hanya tidur! Dan tak peduli" gerutu Vivi. Melangkah pergi dan menutup pintu rumah.
Badan Hasna di pindahkan oleh, Meylin sebelum mereka kembali menuju kediaman Devan
Sementara di toko milik Devan sudah terlihat tutup. Dan keadaan pun sudah mulai terlihat sepi. Hanya menyisakan Yusa dan Devan, yang asik menertawakan sesuatu.
"Hahahaha, kalau inget kayanya aku milih gak hidup di dunia dah van, hahahaa" ucap Yusa dengan tawa nya, yang
Devan hanya mengulum senyum nya saat mereka mengingat masalalu, mereka.
Namun saat tengah-tengah mereka asik berbincang, Devan dan Yusa di kejutkan kedatangan Vivi dengan wajah yang sudah sembab. "Vi! Kamu kenapa?" tanya Devan saat vivi sudah berada di dekat mereka.
"Yaa, kamu kenapa Vi, ada yang jahatin kamu, bukan nya kamu sakit vi?" sambung Yusa.
Lalu Vivi duduk terlebih dahulu serta menenangkan dirinya, setelah tenang Vivi menceritakan apa yang terjadi, sehingga membuat Yusa serta Devan menatap Vivi dengan iba, mereka geram dengan kelakuan Ibu nya vivi itu.
"Ya sudah kau tidur lah disini, Kau bisa tidur bareng Caca" ucap Devan setelah selesai mendengar cerita Vivi.
Setelah berbincang beberapa saat, Vivi di antar oleh Caca setelah Devan memanggil nya, Caca adalah salah satu karyawan Devan dari luar kota dia tinggal di mes yang di sediakan oleh Devan. Sehingga Devan tak perlu khawatir jika warga tau bahwa Vivi tinggal disana, karena tidak tinggal dengan Devan secara langsung.
Singkat waktu saat pagi hari menjelang, Aktivitas toko terlihat biasa ramai akan pembeli bahkan dari luar desa. Namun ada seorang pria memakai topi dan masker, mengawasi toko Devan seraya memfoto kegiatan disana, seperti hendak melaporkan nya kepada seseorang.
"Benar toko ini sangat ramai, bahkan sangat jarang terlihat sepi pembeli" gumam pria misterius itu.
Tentu hal itu tak luput dari perhatian Malea serta yang lain nya, namun kali ini mereka hanya membiarkan nya saja, karena ingin mengetahui maksud dan tujuan si pria.
"Syafir ikuti dia! Kemana dia pergi dan beritahu aku saat kau sudah mendapatkan informasi" ucap Malea.
Syafir pun mengerti dan segera mengekor, mengikuti kemana pria itu pergi. Tak berselang lama, pria itu tiba di depan rumah seseorang. Keluar lah seorang pria setengah tua, menghampiri si pria tadi setelah di panggil nya.
"Gimana hasil nya masih sama?" tanya si pria tua.
"Masih sama juragan, bahkan toko itu jarang terlihat sepi" jawab si pria.
"Kurang ajar! Kaya nya kita harus lakuin sesuatu buat si Devan itu, berani nya dia sudah merebut pelanggan saya!" gerutu si pria tua.
Mereka berdua pun berbincang, dengan berbisik merencanakan sesuatu untuk menjahili toko Devan Namun sayang rencana busuk mereka sudah ketahuan oleh syafir yang menguping di antara mereka.
"Sialan kau tua bangka! Berani nya kalian ingin membuat tuan ku celaka, mana bisa kau lakukan itu!" ucap Syafir mengutuk kedua orang di hadapan nya.