Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.
Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Bayang yang Semakin Dekat
Tiga hari berlalu sejak malam itu, namun udara di kediaman Margaretha tak pernah kembali ringan. Setiap pagi saat aku terbangun, hal pertama yang kurasakan bukan semangat menyambut hari, melainkan kesadaran berat dunia di luar pagar rumah ini kini berubah. Musuh kami bukan sekadar kelompok yang ingin merebut kekuasaan. Mereka kini mencari siapa di antara kami yang bertanggung jawab atas kematian pemimpin mereka. Dan kami tahu, begitu mereka menemukan jejak, tak ada yang akan aman.
Pagi itu aku turun ke ruang kerja Daddy lebih awal. Pintu sedikit terbuka, dan suara percakapan terdengar jelas dari dalam. Aku berhenti di ambang pintu, tak berniat menguping, namun kata-kata itu seakan menarikku masuk.
“Mereka mulai menyebarkan orang-orangnya ke seluruh wilayah,” suara Edward terdengar tegas namun cemas. “Tiga kedai milik sekutu kami dikunjungi orang asing kemarin. Mereka bertanya tentang siapa yang memimpin pertemuan di pelabuhan.”
“Apakah ada yang tahu?” tanya Daddy.
“Sejauh ini belum,” jawab Will. “Tapi mereka semakin dekat. Jika mereka mengetahui nama keluarga itu, tidak ada tempat yang aman bukan rumah ini, bukan sekolah, bukan tempat mana pun.”
“Kita harus bersiap,” kata Charlotte tenang, namun ada ketegangan di setiap katanya. “Menambah pengawalan, mengubah rute perjalanan, memastikan Grace dan Sophie tidak pergi ke mana pun tanpa pengawalan ketat.”
Aku menarik napas pelan. Nama itu namaku disebut begitu saja, seolah aku hanya sesuatu yang harus dijaga, bukan seseorang yang punya hak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku mengetuk pintu pelan, lalu melangkah masuk. Semua menoleh serentak. George duduk di kursi di sudut ruangan, wajahnya masih pucat, namun matanya lebih tajam dari sebelumnya. Ia yang pertama kali berbicara.
“Grace... seharusnya kau belum bangun.”
“Aku tidak bisa tidur,” jawabku, berdiri tegak di depan mereka. “Dan aku tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil yang tak boleh tahu apa yang terjadi di luar pintu kamarnya.”
Daddy menatapku lekat-lekat, lalu mengangguk pelan. “Kau berhak tahu. Tapi ketahuilah juga ada hal yang akan membuatmu takut, Grace. Dan kami berusaha melindungimu dari ketakutan itu.”
“Aku sudah takut, Daddy,” ucapku jujur. “Setiap kali mendengar suara mobil lewat, setiap kali melihat seseorang menatap terlalu lama... aku sudah takut. Dan ketidaktahuan ini justru membuatnya semakin buruk.”
Henry meletakkan peta di meja, menunjuk beberapa titik yang ditandai dengan tanda silang merah. “Kelompok utara kini dipimpin oleh adik lelaki korban. Namanya Lucas Hale. Ia tidak seperti kakaknya yang berusaha berunding. Ia mencari balas dendam murni. Dan ia tidak peduli siapa yang terluka di sepanjang jalan.”
“Apakah ia tahu siapa yang melakukannya?” tanyaku pelan.
“Belum pasti,” jawab Edward. “Tapi ia tahu itu salah satu dari kami. Dan ia akan menggunakan segala cara untuk mengetahuinya termasuk menyakiti salah satu dari kami supaya yang lain mengaku.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Kata-kata itu tergantung di udara, dingin dan nyata.
George berdiri perlahan. “Kalau begitu, biarkan aku yang menghadapinya.”
“Tidak,” potong Daddy tegas.
“Tapi akulah yang melakukannya!” seru George, suaranya meninggi. “Ia mencari pelakunya. Kalau aku yang menyerahkan diri, semua ini berhenti. Kalian semua aman.”
“Kau pikir ia akan berhenti begitu saja?” Will melangkah mendekat, menatapnya tajam. “Ia tidak hanya ingin seseorang menyerahkan diri. Ia ingin membalas. Dan kau tahu itu, George. Jika kau pergi, kau tidak akan kembali. Dan kami tidak akan membiarkanmu binasa sendirian.”
“Lalu apa rencanamu?” tanya George, matanya berkaca-kaca namun suaranya tak goyah. “Menunggu salah satu dari kalian diserang? Menunggu Grace atau Sophie diculik supaya aku menyesal seumur hidup?”
“Kami tidak akan membiarkan itu terjadi,” kata Charlotte mantap. “Kami akan memperkuat pertahanan. Kami akan mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Kami akan bertahan.”
“Dan berapa lama?” tanyaku pelan, namun semua menoleh. “Berapa lama kami bisa bertahan seperti ini? Bersembunyi di balik tembok tinggi, takut pada setiap bayang, tak berani percaya pada siapa pun? Apakah ini kehidupan yang kita inginkan?”
Daddy menatapku dalam, seolah baru pertama kali melihat pertanyaan itu tertulis jelas di wajahku. “Tidak, Grace. Bukan ini.”
“Lalu mengapa kita tidak mencari jalan damai?” tanyaku. “Mengapa tidak ada yang mencoba berbicara dengan Lucas Hale? Menjelaskan apa yang terjadi, meminta maaf, menawarkan ganti rugi... apa pun itu, selain perang yang tak berujung ini?”
“Karena bagi sebagian orang, tidak ada maaf yang cukup,” jawab Henry pelan. “Dan tidak ada ganti rugi yang sebanding dengan nyawa saudara yang hilang.”
“Mungkin,” akuku. “Tapi setidaknya kita mencoba. Kalau kita langsung mengambil senjata sebagai jawaban, bukankah kita sama saja dengan mereka? Bukankah itu artinya pelajaran yang diajarkan George kemarin bahwa kita tidak boleh membiarkan kegelapan menelan kita hanya kata-kata kosong?”
Tidak ada yang menjawab. Kata-kataku menggantung di udara, menyentuh bagian yang paling mereka hindari.
Sophie yang sedari tadi diam akhirnya berbicara pelan. “Grace benar. Selama kita hanya bersiap untuk bertarung, kita tidak berbeda dari mereka. Kita menjadi apa yang paling kita takuti.”
“Tapi berdamai berarti menaruh nyawa di tangan orang yang ingin membunuh kita,” kata Edward tegas. “Aku tidak akan mengambil risiko itu untuk nyawa siapa pun di keluarga ini.”
“Dan aku tidak ingin hidup dalam ketakutan selamanya,” jawabku. “Ada perbedaan antara berhati-hati dan hidup dalam penjara, Kak. Dan rumah ini perlahan-lahan berubah menjadi penjara.”
Pertengkaran itu berhenti bukan karena ditemukan jawabannya, melainkan karena ketukan tajam terdengar di pintu. Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.
“Tuan... ada paket dikirim ke sini. Tidak ada pengirimnya.”
Daddy menerima bungkusan itu kotak kertas cokelat yang diikat tali kasar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar kertas, ditulis dengan tinta merah yang terlihat seperti darah kering.
Aku tahu kalian di dalam sana. Aku tahu salah satu dari kalian yang mengambilnya. Dan aku akan mengambilnya kembali satu per satu. Tunggu saja.
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada nama. Tapi semua paham.
Lucas Hale sudah dekat.
George mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. “Ia tidak akan menyentuh siapa pun di sini. Aku berjanji.”
“Kita tidak bisa menghadapi ini dengan kemarahan, George,” kata Daddy pelan namun tegas. “Itulah yang ia inginkan agar kita bertindak gegabah, agar kita terlihat bersalah, agar kita terjatuh sendiri.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya George.
Daddy menatap kami semua ketujuh anaknya, masing-masing dengan ketakutan dan keberaniannya sendiri. “Kita berdiri bersama. Tidak ada yang pergi sendirian. Tidak ada yang bertindak sendiri. Dan Grace...” ia menatapku khususnya. “Kau boleh mencari jalan lain. Tapi berjanjilah padaku jangan mendekat terlalu jauh. Jangan menempatkan dirimu di tempat yang tak bisa kami jangkau.”
Aku mengangguk pelan, meski di dalam hatiku aku tahu jika tidak ada yang berani melangkah keluar dari bayang-bayang ini, aku mungkin harus melakukannya sendiri.
Sore itu, saat semua sibuk memperkuat pengawalan dan menyusun rencana pertahanan, aku duduk sendirian di taman belakang, menatap bunga-bunga yang mekar tanpa tahu bahaya yang mengintai. Di tanganku tergenggam selembar kertas alamat yang kutemukan di berkas Daddy, tempat tinggal Lucas Hale.
Aku tahu ini gila. Aku tahu ini berbahaya. Tapi aku juga tahu satu hal selama tidak ada yang berbicara, hanya ada satu arah yang bisa diambil ke arah kehancuran.
Dan jika tidak ada yang berani melakukannya, maka aku yang akan melakukannya.
Aku melipat kertas itu, menyimpannya di saku baju, lalu berdiri menatap ke arah gerbang yang tertutup rapat.
Permainan catur belum berakhir. Tapi aku memutuskan untuk mengubah langkahnya. ♟️🖤
...~ Bersambung ~...