"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Samantha dan Evelyn
Di seberang meja, Putra Mahkota Arthur duduk bersandar santai. Senyum tipis yang amat menyebalkan terukir di bibirnya, seolah memancarkan kemenangan. Sementara Samantha duduk di depannya dengan muka sendu.
"Waktumu habis, Lady Pendragon," ucap Arthur pelan, suaranya terdengar seperti alunan musik kematian yang merdu di telinganya sendiri. "Apakah gaun pengantinmu sudah mulai dijahit? Atau kamu lebih memilih melihat jantung kakakmu tercinta membusuk perlahan dalam waktu dua puluh empat jam ke depan?"
Samantha menatap pria itu dengan tatapan yang sanggup membunuh jika saja mata bisa melukai. Tidak ada kata-kata makian yang keluar dari mulutnya, karena ia tahu percuma. Arthur memegang kartu as yang tidak bisa ia bantah. Nyawa Matthew.
"Oke, Oke kamu menang. Kamu puas sekarang?" suara Samantha keluar begitu dingin. Ia mendongak, mengunci pandangan Arthur tanpa keraguan. "Aku akan menikahi mu. Aku akan berdiri di sisimu sebagai Permaisuri Kekaisaran saat kamu naik tahta."
Arthur tertawa kecil, rasa puas terlihat di matanya. Ia berdiri dari kursinya, mengambil sebuah tabung kaca kecil berisi cairan keperakan yang berkilau di bawah temaram lampu—penawar racun Black Widow's Tears.
"Keputusan yang sangat bijaksana, Samantha," bisik Arthur saat menyerahkan tabung kecil itu di atas meja. Memandang gadis itu dan menciumnya yang disambut Samantha dengan gigitan. Tapi Arthur tidak malah malah tersenyum puas dan mencium lembut bibir Samantha. "Kau tidak tahu betapa aku sudah menunggu saat-saat seperti ini, Milady. Besok kita akan mengumumkan pertunangan resmi kita ke seluruh penjuru negeri."
Samantha mengambil tabung kaca itu dengan gerakan cepat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia berbalik dan melangkah keluar meninggalkan Istana Barat, membiarkan kebencian membakar dadanya sepanjang perjalanan kembali ke Mansion Pendragon.
Malam itu, di dalam kamar utama yang sunyi, aroma obat-obatan dan rempah bercampur pekat. Matthew terbaring dengan napas yang memburu lemah. Keringat dingin terus mengucur membasahi pelipisnya; racun itu telah merusak sebagian besar sistem syarafnya, membuat kulitnya pucat pasi seperti mayat hidup.
Evelyn duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan pria itu dengan air mata yang menetes tanpa suara.
"Minumlah ini, Matthew..." bisik Evelyn serak. Ia membuka tabung kaca kecil yang baru saja dibawa Samantha, lalu dengan hati-hati membantu Matthew meneguk cairan penawar racun tersebut.
Beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Tiba-tiba, tubuh Matthew tersentak pelan. Batuk kecil disertai darah kehitaman keluar dari bibirnya, sebelum akhirnya napas pria itu berangsur-angsur menjadi teratur. Warna kulitnya perlahan kembali normal, dan kerutan kesakitan di dahinya mengendur.
Matthew selamat. Racun itu telah lenyap dari aliran darahnya.
Evelyn menghembuskan napas panjang yang amat berat. Beban ribuan ton seolah terangkat dari dadanya. Ia mengecup punggung tangan Matthew yang mulai menghangat, tersenyum pahit di balik linangan air matanya.
"Terima kasih... karena kamu sudah berjuang," bisik Evelyn lembut di dekat telinga Matthew yang masih terlelap dalam pengaruh obat penawar.
Evelyn berdiri perlahan. Malam ini, saat seluruh penjaga mansion terlelap dan keheningan menyelimuti kediaman Pendragon, ia mengemasi beberapa pakaian seadanya ke dalam tas kecil.
Tidak ada surat perpisahan. Evelyn memang sengaja tidak meninggalkan surat atau tulisan apapun. Agar Matthew tidak mencarinya. Evelyn juga tidak berniat pamit ke Samantha atau siapapun di mansion itu. Evelyn tidak mau menangis. Ia sudah cukup lelah.
Evelyn juga tahu, jika ia tinggal sehari lagi, ia hanya akan menjadi belenggu yang menghancurkan masa depan Matthew dan Samantha.
Ia melangkah keluar dari jendela kamar utama, menyelinap ke dalam kegelapan malam, meninggalkan tanah Pendragon untuk selamanya.