Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok mengagumkan
Pagi yang cerah kembali menyambut semesta, Ali sedang sibuk mencuci piring bekas dari sarapan mereka tadi. Sedangkan Nisa hanya termenung membayangkan anaknya yang belum sempat lahir. Air matanya turun membayangkan buah hati yang di kandungnya, bahkan tidak pernah sempat dia lihat. Tapi, Allah maha adil akan segala sesuatu. Anak itu memang tidak seharusnya lahir, anak itu hanyalah anak haram hasil dari perbuatan zina, dan akan lebih baik jika Allah mengambilnya sekarang sebelum dia lahir. Karena jika Nisa sudah melihat rupanya akan semakin sulit baginya untuk merelakan bayinya itu.
"Assalamualaikum." salam pembuka tampak terdengar dari luar. Nisa segera memanggil kakaknya, dan Ali pun segera bergegas membuka pintu, dan...
"Waalaikum salam... Fatma!" seru Ali cukup terkejut saat calon istrinya kini berada di depannya.
"Apa kabar Mas Ali?" sapa Fatma tersenyum. Ali juga balas tersenyum memandang wajah cantik Fatma.
"Alhamdulillah, aku baik... Oh ya! Mari masuk. Adikku ada di dalam, biar ku perkenalkan kalian" sahut Ali seraya mempersilahkan Fatma masuk
"Oh benarkah. Adikmu pasti sangat cantik." selama ini Fatma hanya mendengar cerita Ali saja tentang dua adik perempuannya tapi dia belum pernah benar- benar bertemu dengan dua permata hati Ali itu.
"Mungkin, kau akan segera tahu begitu melihatnya"
Fatma berjalan perlahan memasuki ruang tamu yang di mana di situ berdiri seorang wanita berhijab yang tampak memandang kosong.
"Siapa kak?" tanya Nisa begitu merasakan langkah kaki mendekat.
"Calon kakak iparmu" jawab Ali lepas yang membuat Fatma menyembunyikan wajahnya yang memerah malu karena jawaban Ali.
"Fatma, kenalkan. Ini adikku, Annisa."
"Iya, kenalkan, namaku Fatma Aurelia," ujar Fatma sambil mengulurkan tangannya di depan Nisa. Dengan perlahan Ali mengambil tangan sang adik dan merekatkannya dengan tangan Fatma, yang membuat gadis yang baru saja sampai itu kebingungan melihatnya.
"Maaf, adikku tuna netra," kata Ali dengan mata hampir berair saat ingatan ingatan bagaimana Nisa bisa sampai seperti sekarang terbayang di kepalanya.
Fatma yang mendengar alasannya hanya bisa memandang terkejut wajah cantik di depannya yang tersenyum.
"Annisa Handayani, kak" ujar Nisa memperkenalkan diri.
"Wah, kamu sangat cantik apalagi kamu berhijab." puji Fatma masih memandang takjub wanita mungil di depannya. Wanita yang terlihat manis dan imut di saat bersamaan.
"Kamu juga akan segera memakainya jika sudah menjadi istriku nanti. Aku tidak ingin pria lain memandang surai indahmu," kata Ali yang memandang tajam Fatma.
"Iya- iya, aku mengerti. Aku akan mengikuti semua kemauan suamiku kelak." Ali tersenyum mendengar jawaban itu. Begitu pula Nisa, dia juga tersenyum. Ah, andai Rangga seperti kakaknya. Betapa manisnya rumah tangga mereka.
"Aku mencintaimu Fatma," ucap Ali tulus
"Akan ku sediakan minuman untukmu. Tunggu sebentar ya." Ali beranjak ke arah dapur segera setelah membuat hati Fatma berdetak dengan menggila karena ungkapan cinta itu.
Nisa yang mendengar itu, tersenyum. Kalimat ungkapan Ali barusan adalah kalimat yang selalu ingin di dengarnya keluar dari bibir Rangga untuknya, tapi sampai akhir pun Nisa tidak mendapatkan ungkapan itu. Rangga hanya mengucapkan ungkapan itu pada kekasihnya, Tiwi.
"Kak Ali pasti begitu mencintaimu kak Fatma," kata Nisa seakan memper-nyata perasaan Ali pada calon kakak iparnya.
" Iya, aku begitu bersyukur di cintai oleh pria seperti Ali. Aku juga begitu mencintainya. Dia benar- benar sosok yang sangat mengagumkan," ungkap Fatma tulus seraya melirik kearah lorong dapur dimana tadi Ali menghilang untuk mengambilkannya minuman.
"Kak Fatma benar. Kak Ali adalah sosok yang begitu mengagumkan. Sosok yang tiada dapat ku lupakan. Sosok kakak, sosok ayah dan juga sosok teman yang begitu sempurna. Setidaknya bagi diriku pribadi dia seperti itu."
"Mas Ali pasti begitu penting untukmu. Begitu juga bagiku. Oh ya... Apa kamu mau mengajariku cara berhijab dengan benar. Aku ingin membuat Ali terkesan denganku" ujar Fatma antusias.
"Kak Fatma, akan lebih baik jika kakak berhijab dengan niat karena Allah bukan untuk kak Ali," kata Nisa lembut, memberi pengertian dan penjelasan. Fatma tak henti-hentinya memandang takjub sosok mungil yang cantik itu.
Bahkan, dengan kekurangan pada penglihatannya seperti itu, Nisa selalu melabuhkan cinta utamanya pada sang pencipta. Tidak sepertinya yang sempurna dan normal tapi terkadang masih saja lalai dengan keindahan dunia.
Ah, andai Fatma tahu bagaimana Nisa yang sebelum ini?
"Iya, kakak janji. Kakak akan berhijab karena Allah bukan karena Mas Ali," ujar Fatma mantap dan yakin. Ali yang mendengar percakapan keduanya di balik dinding batas ruang tamu cukup terharu dengan keyakinan sang adik yang kini benar-benar di dasari karena Allah. Bukan lagi karena seorang manusia. Ali berharap agar keyakinan yang kini adiknya tuju takkan lagi berganti haluan pada ciptaan Allah yang hanya bersifat fana.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean