Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Krik.
Krik.
Suara jangkrik malam terdengar sangat nyaring dari luar gubuk sederhana itu.
Udara malam terasa sangat dingin menusuk tulang, berbanding terbalik dengan panasnya siang tadi.
Cahaya lampu minyak berkedip pelan menerangi ruangan tengah yang sempit.
Di atas ranjang bambu, Mira terbaring tak berdaya dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Wajah wanita paruh baya itu semakin pucat dan keringat dingin terus membasahi dahinya.
Arga duduk bersila di lantai tepat di samping ranjang istrinya.
Pria itu sedang sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas kain berukuran sedang.
Srek.
Srek.
Suara gesekan batu asah dan besi baja memecah keheningan malam saat Arga menajamkan golok perburuannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku dan Natasya, Mira."
Arga berbisik pelan dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh keputusasaan namun bercampur dengan tekad yang bulat.
"Tabib Karta bilang bunga teratai merah itu ada di tengah danau beracun."
Arga memasukkan golok yang sudah tajam itu ke dalam sarung kulit di pinggangnya.
"Aku tidak peduli seberapa banyak monster yang ada di sana, aku akan membawa bunga itu pulang untukmu."
Di sudut ruangan yang gelap, Natasya terbaring di atas tikar pandan.
Gadis kecil itu memejamkan mata rapat-rapat namun kedua telinganya mendengar semuanya dengan sangat jelas.
"Ayah benar-benar mau pergi ke Hutan Larangan sendirian," batin Natasya dengan cemas.
Arga bangkit berdiri dan memakai mantel kulit tebal miliknya.
Ia mengambil obor bambu yang belum dinyalakan dan seutas tali tambang panjang.
Pria itu kemudian melangkah pelan mendekati tempat Natasya berpura-pura tidur.
"Maafkan Ayah karena harus pergi diam-diam di tengah malam seperti ini, Natasya."
Arga berlutut dan mengusap kepala putrinya dengan sangat lembut.
"Kalau Ayah pamit padamu, kamu pasti akan menangis dan melarang Ayah pergi."
Natasya harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara isakan.
Air mata hangat mulai mengalir dari sudut matanya dan membasahi bantal tipisnya.
"Jaga Ibumu baik-baik selama Ayah tidak ada di rumah ya, nak."
Arga mengecup kening Natasya cukup lama sebelum akhirnya berdiri kembali.
"Ayah berjanji akan pulang membawa obat itu secepat yang Ayah bisa."
Kriet.
Pintu depan gubuk dibuka dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik.
Tap.
Tap.
Langkah kaki Arga terdengar semakin menjauh meninggalkan pekarangan rumah mereka.
Begitu suara langkah ayahnya hilang, Natasya langsung membuka matanya dan terbangun.
Gadis kecil itu menyeka air matanya dengan kasar menggunakan lengan bajunya.
"Aku tidak boleh membiarkan Ayah pergi ke tempat berbahaya itu sendirian."
Natasya segera mengambil tas kecil dari anyaman bambu miliknya di sudut ruangan.
Ia berlari ke dapur dan mengambil sisa singkong rebus serta sebuah pisau dapur berukuran kecil.
Tidak lupa ia memakai jaket kain yang paling tebal untuk menahan udara malam.
"Ibu, tunggu Natasya dan Ayah pulang ya."
Natasya menatap ibunya sejenak dari ambang pintu ruangan.
"Kami pasti akan membawa bunga teratai merah itu untuk menyembuhkan Ibu."
Gadis kecil itu langsung berlari keluar rumah menembus kegelapan malam.
Angin malam berhembus kencang menerpa wajahnya namun ia sama sekali tidak mempedulikannya.
Kaki kecilnya terus berlari dengan cepat menuju batas Hutan Larangan tempatnya biasa bermain.
Sesampainya di bawah pohon mangga besar, suasana terasa sangat mencekam.
Tidak ada suara tupai atau burung yang biasa menemaninya bermain di siang hari.
Hanya ada suara burung hantu yang sesekali terdengar dari kejauhan.
"Gaga!"
Natasya memanggil nama sahabatnya dengan suara setengah berbisik karena takut ketahuan.
"Gaga, tolong keluarlah sekarang, aku sangat butuh bantuanmu."
Srasak.
Semak belukar yang rimbun di depan Natasya bergerak dengan cepat.
Sosok serigala abu-abu raksasa melompat keluar dari kegelapan dan mendarat tepat di depan gadis itu.
"Natasya?"
Gaga menatap gadis kecil itu dengan raut wajah serigala yang terlihat sangat terkejut.
"Ini sudah tengah malam, apa yang kamu lakukan di tempat ini sendirian?"
"Aku butuh bantuanmu malam ini juga, Gaga."
Natasya memeluk leher serigala itu dengan erat sambil terengah-engah mengatur napasnya.
"Ibuku terkena penyakit demam darah siang tadi dan sekarang sedang sekarat di rumah."
"Demam darah?"
Bulu di tengkuk Gaga langsung meremang mendengar nama penyakit mematikan itu.
"Itu adalah penyakit kutukan yang sangat mengerikan, para hewan tua di hutan juga sangat takut dengan penyakit itu."
"Tabib desa bilang satu-satunya obat adalah bunga teratai merah."
Natasya melepaskan pelukannya dan menatap mata kuning Gaga dengan serius.
"Bunga itu ada di tengah danau beracun di dalam Hutan Larangan sana."
Gaga seketika memundurkan langkahnya dua langkah ke belakang.
"Danau beracun yang kamu maksud itu ada di jantung terdalam hutan ini, Natasya."
"Tempat itu adalah sarang para monster dan hewan buas yang tidak punya akal sehat sama sekali."
"Aku tidak peduli dengan semua monster itu."
Natasya mengepalkan kedua tangan kecilnya dengan kuat.
"Ayahku baru saja pergi menyusup masuk ke sana sendirian untuk mencari bunga itu."
"Ayahmu itu benar-benar manusia yang sudah gila."
Gaga menggeram pelan sambil menggelengkan kepalanya yang besar.
"Dia hanya mencari mati jika berani masuk ke zona hutan dalam sendirian di malam hari."
"Makanya aku harus menyusulnya sekarang juga."
Natasya menatap Gaga dengan pandangan memohon yang sangat tulus.
"Tolong antarkan aku menyusul ayahku, Gaga."
Serigala raksasa itu terdiam sejenak dan menatap ke arah gelapnya pepohonan di belakangnya.
Insting hewan liarnya berteriak keras memperingatkan bahaya besar jika ia berani masuk kembali ke wilayah itu.
Namun saat ia menatap wajah Natasya yang dipenuhi air mata keputusasaan, hatinya luluh.
"Kamu sudah menyelamatkan nyawaku dari jebakan besi waktu itu, Natasya."
Gaga menundukkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh tanah yang dingin.
"Aku sudah bersumpah akan melindungimu, jadi aku akan mengantarmu ke sana malam ini."
"Terima kasih banyak, Gaga."
Natasya tersenyum lega dan langsung memanjat naik ke atas punggung serigala itu.
"Bulu-bulumu sangat tebal dan hangat."
"Pegang bulu di leherku erat-erat agar kamu tidak jatuh, Natasya."
Gaga memperingatkan sambil mulai berdiri dengan tegak.
"Aku akan berlari sangat cepat mengikuti bau jejak ayahmu dari sini."
"Aku sudah pegangan dengan kuat."
Natasya membenamkan wajahnya di leher tebal Gaga untuk berlindung dari angin.
"Ayo kita berangkat sekarang."