Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Michael?!" seru Franklin setengah tidak percaya, matanya membelalak sambil mengeratkan genggaman ponsel di telinganya.
Dari kejauhan di atas atap gedung seberang jalan, jeda suara tembakan kembali disusul dentuman berat senapan runduk milik Michael De Santa.
DSHUUKK!
Pria Ballas yang bersembunyi di balik pintu van langsung terkulai kaku saat peluru kaliber tebal menembus bodi seng mobil dan bersarang tepat di dadanya.
"Bagaimana bisa kau tahu saya ada di sini, Mike?!" tanya Franklin menembus bisingnya deru pertempuran.
Di seberang telepon, suara hembusan napas dan kekehan santai Michael terdengar diiringi bunyi pengokang senapan jitu yang renyah.
"Tentu saja dari Lester, kid," jawab Michael tenang. "Si Tua Bangkai itu menelponku setengah jam yang lalu. Dia bilang kau sempat curhat padanya soal kematian Lamar dan rencanamu menyerbu Little Seoul. Lester khawatir kau dan kawan barumu bertindak gegabah dan mati konyol di sini, jadi dia menyuruhku memantau dari atas sini."
DSHUUKK!
Satu lagi anak buah Lil Zi yang mencoba merayap di atas aspal tewas seketika dengan kepala hancur. Michael melanjutkan penjelasannya dengan nada santai seperti sedang berlatih menembak di tempat rekreasi.
"Dan sepertinya insting Lester tepat. Kau dikepung tikus-tikus ungu ini. Tenang saja, serahkan area luar padaku," tambah Michael dingin.
DSHUUKK! DSHUUKK!
Dua tembakan presisi beruntun mengakhiri hidup dua prajurit Ballas terakhir yang tersisa. Hanya dalam hitungan menit, seluruh tiga belas anak buah yang dibawa Lil Zi tewas bergelimpangan di pelataran, membasahi aspal dengan darah mereka sendiri.
Melihat seluruh pasukannya dibantai habis secara mengerikan oleh penembak jitu rahasia, rasa panik luar biasa menghantam dada Lil Zi. Wajah petinggi Ballas pengkhiat itu pucat pasi, matanya liar mencari celah keselamatan.
"BAJINGAN! INI GILA!" jerit Lil Zi histeris.
Tanpa memikirkan uang hadiah dari Lee Dong lagi, Lil Zi melompat bangun dan berhamburan lari menuju pintu pengemudi SUV Albany Cavalcade ungu miliknya. Ia membanting pintu, memutar kunci kontak, dan menginjak pedal gas penuh untuk kabur dari neraka Little Seoul!
SREEEEEECH!
Ban SUV itu memercikkan bunga api dan asap tebal saat mulai bergerak maju. Namun, Franklin dan Andika tidak memberi ruang sedikit pun bagi pengkhianat itu untuk lolos.
Menyadari bahaya sniper Michael membuat Lil Zi terdesak keluar dari area terlindung, Andika dan Franklin melompat serentak dari balik pilar marmer hall utama. Dua pistol di tangan mereka mengunci lurus ke arah kaca depan SUV yang sedang melaju!
"TIDAK ADA JALAN KELUAR, LIL ZI!" raung Franklin!
BANG! BANG! BANG! BANG! BANG! BANG! BANG!
Franklin dan Andika memuntahkan seluruh sisa amunisi pistol mereka secara bertubi-tubi! Badai peluru menghantam hancur kaca depan SUV ungu tersebut. Puluhan peluru menembus dada, leher, dan kepala Lil Zi yang berada di balik kemudi!
Tubuh Lil Zi tersentak-sentak hebat sebelum akhirnya terkulai kaku di atas roda kemudi. Kaki matinya menekan pedal gas tanpa kendali, membuat SUV ungu itu melaju liar hingga membentur keras tembok pilar luar gedung—
BRUAAAKKK!
Asap tebal membumbung dari kap mobil yang hancur. Lil Zi tewas seketika di tempat dengan tubuh bersimbah darah, mengakhiri upaya kudetanya terhadap Kane dan pengkhianatannya bersama Lee Dong.
Suasana di pelataran luar kediaman Little Seoul kembali disergap hening. Di balik kemudi mobil yang ringsek, jasad Lil Zi membisu. Franklin menarik napas dalam-dalam, menyapu keringat di dahinya, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinganya.
"Anak-anak Ballas pengkhianat itu sudah beres, Mike," kata Franklin dengan suara berat.
Dari atas atap gedung seberang, Michael menyandarkan senapan runduknya di bahu, menatap ke arah pelataran melalui teropongnya. "Bagus, kid. Sekarang naiklah ke lantai dua dan selesaikan urusanmu dengan Lee Dong. Aku tetap menjaga area luar dari atas sini."
Dengan langkah kaki yang mantap dan napas yang masih menderu, Franklin dan Andika melangkah menaiki anak tangga marmer melingkar menuju lantai dua. Sepatu bot mereka meninggalkan jejak darah kental di setiap pijakan. Di atas sana, di balik pintu kayu jati ruangan utama yang setengah terbuka, Lee Dong terduduk gemetar di sudut lantai. Bos besar Tionghoa yang biasanya angkuh itu kini pucat pasi, bernapas tersengal-sengal di tengah kepungan bau mesiu dan kematian.
Melihat bayangan Franklin dan Andika muncul di ambang pintu, Lee Dong merayap mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Matanya membelalak penuh horor.
"T-tunggu! Dengarkan aku dulu!" jerit Lee Dong dengan suara melengking dan gemetar, tangannya terangkat meminta ampun. "Kalian mau uang?! Berapa juta dolar?! Satu juta? Lima juta?! Aku punya kasino, aku punya bisnis properti, semuanya milik kalian! Kita bisa bicara, kita bisa buat kesepakatan!"
Franklin melangkah maju tanpa memedulikan racauan itu. Wajahnya mengeras, murni dipenuhi amarah yang membakar dada.
"Ini buat Lamar, bajingan," bisik Franklin dingin.
BANG!
Satu tembakan pistol meluncur presisi menembus lutut kaki kanan Lee Dong!
"ARGGGHHHH! BAJINGAN! KAKIKU!" raung Lee Dong histeris. Ia berguling di atas lantai marmer sambil mencengkeram kakinya yang menyemburkan darah segar.
Belum sempat raungan itu mereda, Andika menyusul melangkah perlahan. Wajahnya tetap datar, namun matanya memancarkan kegilaan yang membeku. Ia mengarahkan moncong pistolnya ke lengan kiri Lee Dong.
BANG!
"AAAGHHH! AMPUN! AMPUNNN!" jeritan Lee Dong makin pecah melengking, menggema di seluruh sudut ruangan lantai dua. Tangan kirinya terkulai lunglai bersimbah darah.
Franklin mendekat, mengangkat kaki botnya tinggi-tinggi, lalu menghantamkannya tanpa ampun ke dada dan wajah Lee Dong!
BUKK! BUKK! BUKK!
"Ini buat sahabatku! Ini buat Lamar, anjing!" raung Franklin membabi buta, terus-menerus menginjak-injak tubuh Lee Dong yang terkapar tak berdaya. Suara derakan tulang iga yang patah berpadu dengan muntahan darah dan jeritan kesakitan Lee Dong yang makin melemah.
Andika yang awalnya hanya berdiri menyaksikan penyiksaan itu mendadak menghentikan pandangannya ke sudut ruangan. Di dekat meja biliar, berdiri sebuah jeriken plastik besar berisi bensin yang biasa digunakan untuk bahan bakar mesin pemotong rumput taman balkon. Sebuah ide gila mendadak melintas di kepalanya.
Andika berjalan santai, menyambar jeriken bensin berat itu, lalu melangkah kembali mendekati Franklin.
"Pindah, Frank," kata Andika datar.
Franklin menghentikan injakannya, mengusap napasnya yang memburu, lalu melangkah mundur dua langkah.
Andika membuka tutup jeriken, lalu tanpa ragu menyiramkan seluruh isi bensin beraroma menyengat itu ke atas tubuh Lee Dong. Cairan bening itu membasahi pakaian mahal, luka tembak, dan wajah Lee Dong yang hancur berdarah. Bensin yang menyusup ke dalam luka terbuka membuat Lee Dong menjerit semakin histeris dalam rasa perih yang melipat ganda.
Sadar akan nasib mengerikan yang menantinya, Lee Dong menyatukan kedua tangannya yang gemetar, meratap dan menangis histeris di atas lantai.
"Tolong... aku mohon... jangan bunuh aku seperti ini! Ampuni aku! Tolonggg!" ratap Lee Dong dengan air mata bercampur darah.
Franklin menatapnya tanpa belas kasihan sedikit pun. "Kau tidak pernah memberi Lamar kesempatan untuk memohon ampuan, bajingan."
Andika merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah pemantik api (zippo) besi kustom. Ia membuka penutupnya dengan dentang khas, menyalakan apinya, lalu menatap Lee Dong dengan senyuman tipis yang membekukan darah.
"Salam dari neraka," bisik Andika.
Andika melemparkan pemantik api yang menyala itu tepat ke atas dada Lee Dong yang basah kuyup oleh bensin.
SZZZ-BARRR!
Kobaran api membumbung tinggi seketika! Api merah keemasan melalap habis seluruh tubuh Lee Dong dalam hitungan detik.
"AAAAAAAAAARRRRGGGGHHHIASSSHHH!"
Jeritan paling mengerikan dan melengking pecah dari tenggorokan Lee Dong. Bos Ying Long itu berguling-guling liar di atas lantai marmer, mencoba memadamkan api yang membakar kulit dan dagingnya hidup-hidup. Bau sengit daging terbakar memenuhi udara ruangan.
Franklin dan Andika berdiri berdampingan dalam hening, menatap dingin sosok pria yang telah membunuh saudara mereka kini meliuk-liuk di dalam kobaran api selama beberapa menit. Raungan kesakitan Lee Dong perlahan meredup, menjadi serak, hingga akhirnya gerakan tubuhnya terhenti kaku—tewas mengenaskan dalam wujud gosong yang tak lagi dikenali.
Dendam atas kematian Lamar Davis dan liitle Jacob akhirnya terbayar tuntas secara brutal di lantai dua kediaman Little Seoul.