NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Xiao Mu Bangkit

Hutan di kaki Puncak Elang Hitam bukan tempat yang bersahabat bagi siapa pun yang berlari tanpa qi untuk melindungi diri, dan Ji Ming baru menyadari itu setelah cabang tajam merobek lengan bajunya untuk ketiga kalinya.

Di belakangnya, suara nyaring peluit formasi pengejar bergema di antara pepohonan — Tetua Kang tidak main-main. Setidaknya lima murid senior sudah dikerahkan, masing-masing dengan kecepatan yang jauh di atas kemampuan seorang buangan bermeridian kosong.

"Bertahanlah sebentar lagi," bisiknya pada boneka kayu di dadanya, meski tak yakin Xiao Mu benar-benar mendengar atau hanya kebetulan cahaya hijau di matanya berdenyut mengikuti detak jantungnya sendiri.

Ia tersandung akar pohon dan jatuh berguling ke jurang kecil berlumut. Rasa sakit menjalar di pergelangan kakinya — mungkin terkilir, mungkin lebih parah — tapi ia tak punya waktu memeriksa. Bayangan tiga sosok berjubah sekte sudah muncul di tepi jurang.

"Di sini!" salah satu dari mereka berteriak. "Menyerahlah, Meridian Kosong, kau tak akan bisa lari jauh dengan kaki seperti itu!"

Ji Ming mendekap Xiao Mu erat-erat, punggungnya menempel ke batu dingin. Tak ada tempat lari lagi. Tiga murid itu melompat turun satu per satu, qi mereka membuat udara di sekitar bergetar, jubah mereka berkibar meski tak ada angin.

Dalam keputusasaan itu, ingatan yang ditanamkan sang Grandmaster tiba-tiba berkelebat di benaknya — bukan sebagai kata-kata, melainkan sebagai naluri, seperti sesuatu yang sudah lama ia ketahui tapi baru sekarang teringat kembali.

Boneka bukan senjata yang kau perintah. Ia sahabat yang kau ajak bicara.

"Xiao Mu," Ji Ming berbisik, suaranya nyaris hilang ditelan detak jantungnya sendiri, "aku tidak tahu caranya. Tapi kalau kau bisa dengar aku... tolong."

Cahaya hijau di mata boneka kayu itu menyala terang, dan untuk pertama kalinya, tubuh kecil itu bergerak sendiri — melompat dari dekapan Ji Ming, mendarat di tanah dengan gerakan seringan bulu, dan tumbuh.

Bukan tumbuh membesar secara fisik — tapi Ji Ming bisa merasakannya, seperti benang tak kasat mata yang menghubungkan dadanya yang kosong dengan sosok kecil itu, mengalirkan sesuatu yang ia sendiri baru punya sejak sore tadi: kekuatan jiwa. Ranting-ranting kayu di sekujur tubuh Xiao Mu berderak, menyusun ulang diri menjadi bentuk yang lebih menyerupai manusia kecil bersenjata dahan runcing, matanya berpendar hijau terang di tengah kegelapan jurang.

Murid pertama yang menyerang tertawa mengejek. "Boneka kayu rusak? Kau pikir itu bisa—"

Xiao Mu bergerak lebih cepat dari yang bisa diikuti mata Ji Ming sendiri, menghindar dari serangan qi murid itu dengan kelenturan yang mustahil untuk benda mati, lalu membalas dengan tusukan dahan tepat ke titik meridian di pergelangan tangan si penyerang — bukan mematikan, hanya melumpuhkan sementara, seperti sudah tahu batasannya sendiri.

"Argh! Tangan— tanganku mati rasa!"

Kedua murid lainnya terkejut, mundur setengah langkah. "Itu... itu bukan boneka kultivasi biasa. Ini—"

"Relik terlarang," salah satu dari mereka mendesis, matanya melebar ngeri. "Dia benar-benar mencuri sesuatu dari Makam!"

"Aku tidak mencuri," Ji Ming berkata, mencoba berdiri meski pergelangan kakinya berdenyut sakit. "Itu diberikan padaku. Oleh yang berhak memberikannya."

Tapi tak ada yang mendengarkannya. Ketakutan di wajah mereka sudah berubah jadi sesuatu yang lebih berbahaya — kecurigaan bahwa ia adalah ancaman nyata, bukan sekadar buangan yang melarikan diri. Dua murid tersisa mulai membentuk formasi serangan bersama, qi mereka menyatu membentuk pilar cahaya biru yang mengarah lurus padanya.

Ji Ming tahu, dengan satu boneka kayu kecil dan kekuatan jiwa yang bahkan baru ia sadari keberadaannya beberapa jam lalu, ia tak mungkin menahan serangan gabungan seperti itu.

Tapi sebelum pilar cahaya biru itu menghantamnya, sebuah bayangan lain melesat dari balik pepohonan di atas jurang — bukan murid sekte, seseorang yang sama sekali asing, berjubah cokelat lusuh tanpa lambang sekte mana pun, dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari ketiga pengejar itu.

Sosok itu mendarat di antara Ji Ming dan serangan pilar cahaya, menangkisnya dengan satu ayunan pedang tumpul yang terlihat tua dan biasa saja — tapi entah bagaimana, serangan qi gabungan itu terpental balik, membuat kedua murid sekte terlempar mundur.

"Kalian berdua," suara sosok itu dingin, seorang wanita muda dengan bekas luka tipis di pipi kiri, "menyerang orang yang sudah terluka dan tak bisa melawan, bertiga lawan satu. Elang Hitam sekarang mengajarkan itu pada muridnya?"

"Ini bukan urusanmu, orang asing! Dia mencuri relik Perang Boneka dari Makam Terlarang sekte kami!"

"Relik curian atau bukan, bukan urusanku," wanita itu menjawab tenang, matanya sekilas melirik ke arah Ji Ming yang masih terduduk kesakitan, lalu kembali ke ketiga murid itu. "Tapi tiga lawan satu anak yang bahkan tak bisa berjalan tegak? Itu urusanku."

Dua murid yang tersisa saling pandang, ragu. Reputasi wanita berjubah cokelat itu, apa pun itu, cukup membuat mereka berpikir dua kali. Setelah beberapa detik hening yang tegang, mereka menarik rekan yang lumpuh tangannya dan mundur ke atas jurang.

"Kami akan lapor ke Tetua Kang. Ini belum selesai, Meridian Kosong."

Ketika langkah kaki mereka menghilang di kejauhan hutan, wanita itu baru berbalik menatap Ji Ming, menyarungkan pedang tumpulnya.

"Meridian Kosong," ia mengulang, nadanya penasaran, bukan mengejek. "Bukan hinaan yang biasa kudengar. Tapi boneka kayumu itu—" ia menatap Xiao Mu yang kini berdiri waspada di samping Ji Ming, cahaya hijau matanya masih menyala, "—itu teknik yang seharusnya sudah punah tiga ratus tahun."

"Kau tahu tentang Seni Pengukiran Jiwa?" Ji Ming terkejut, mencoba berdiri meski goyah.

"Aku tahu ceritanya. Semua orang tahu ceritanya — cerita tentang dosa yang nyaris menghancurkan dunia." Wanita itu mengulurkan tangan, membantunya berdiri. "Tapi setahuku, ceritanya berakhir dengan seluruh sekte pengukir dimusnahkan tanpa sisa. Jadi kau bisa bayangkan aku agak terkejut melihat boneka jiwa hidup di tengah hutan, dibawa anak buangan yang dikejar sektenya sendiri."

"Aku bukan pencuri," Ji Ming berkata, lebih pelan kali ini, lebih pada dirinya sendiri daripada pada wanita itu. "Sisa tekad seorang Grandmaster mewariskannya padaku. Sebelum ia lenyap."

Wanita itu terdiam sejenak, menimbang sesuatu di balik matanya yang tajam. "Namaku Yun Xia. Kultivator lepas, tanpa sekte, kalau itu yang ingin kau tahu." Ia melirik ke arah kaki Ji Ming yang bengkak. "Kau butuh tempat berlindung dan seseorang yang bisa mengobati kaki itu sebelum sektemu mengirim lebih banyak orang. Ada kota kecil dua hari perjalanan dari sini, tempat orang-orang tak banyak bertanya soal masa lalu siapa pun."

Ji Ming ragu. Delapan belas tahun hidupnya diajarkan untuk tak percaya pada siapa pun di luar hierarki sekte, dan kini seorang asing yang baru saja ia temui menawarkan bantuan tanpa alasan jelas.

Tapi Xiao Mu, di sampingnya, melangkah mendekati Yun Xia tanpa ragu sedikit pun — seolah sisa naluri dari jiwa lama yang mengisinya mengenali sesuatu yang tulus dalam diri wanita itu, jauh lebih peka daripada kecurigaan manusia biasa.

"Kenapa kau menolongku?" Ji Ming akhirnya bertanya. "Kau tidak mengenalku."

Yun Xia tersenyum tipis, senyum yang menyimpan sesuatu yang tak sepenuhnya ia jelaskan. "Karena aku juga pernah dikejar oleh orang-orang yang seharusnya melindungiku. Ayo. Kakimu perlu diobati sebelum bengkaknya makin parah, dan kau perlu tempat untuk memikirkan langkah selanjutnya — karena sekarang, resmi sudah, kau buronan dengan tuduhan mencuri relik terlarang, dan itu bukan status yang bisa kau bawa santai-santai."

Ji Ming menatap Xiao Mu yang mengangguk kecil ke arahnya — gerakan yang mustahil untuk kayu mati, tapi entah bagaimana terasa sangat wajar untuk sahabat pertamanya.

Untuk pertama kalinya sejak gerbang Makam Terlarang terbuka, Ji Ming merasakan sesuatu selain ketakutan: harapan tipis bahwa mungkin, di luar tembok Puncak Elang Hitam yang selama ini menyebutnya sampah, ada tempat baginya untuk menjadi sesuatu yang lebih.

Ia mengangguk pada Yun Xia, dan bersama-sama,

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!