Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Bertemu dengan pria itu?
Benakku terusik dengan saran Indah, membuat mataku terjaga sepanjang malam ini. Apakah perlu aku menemuinya? Untuk meminta pertanggungjawaban? Tidak. Meski pengadilan belum resmi memutuskan perceraianku, tapi aku masih istri Farhan.
Ya Tuhan, perihnya hati ini ketika masih menganggap Farhan sebagai suami. Padahal situasinya kini berbeda, ada sesuatu dalam rahim ini yang tak mungkin kutolak keberadaannya. Sering kali aku jijik dengan diriku sendiri, andai malam itu aku bisa lebih cepat mengambil inisiatif pasti kejadian naas itu tidak akan menimpaku. Bodoh! Rutukku.
Suara berisik dari pohon bambu yang tertiup angin menjadi kawan setiaku malam ini. Kos tempatku tinggal berada di halaman samping sebuah rumah. Hanya ada empat kamar kos yang saling berhadapan disini, keempatnya sudah dilengkapi dapur dan kamar mandi masing-masing sehingga tidak perlu keluar kamar jika hanya sekedar membuang hajat.
Ada jalan seluas dua meter yang membelah empat kamar kos ini, jalan tersebut merupakan jalan alternatif orang-orang yang akan pergi ke sawah. Di sisi kanan kamar kosku ada sebidang tanah yang biasa kami gunakan untuk menjemur pakaian, lalu ada kebun kosong yang bertanamkan pohon bambu, baru setelahnya ada sawah yang terhampar cukup luas sehingga jalan depan kosku ini tidak pernah sepi karena dijadikan lalu lalang warga yang beraktivitas di sawah.
Jam dua tepat. Alarm di ponselku berbunyi, memberitahuku bahwa sudah waktunya aku mengambil wudhu dan mendirikan salat tahajud. Banyak sekali hikmah yang kudapat sejak berada di kota ini, salah satunya adalah kedekatanku dengan Sang Pencipta. Pertemuanku kembali dengan Indah membuat sisi religiku banyak berubah, aku yang dahulu belum memakai kerudung kini telah mengenakannya meski masih sering bertabrakan warna antara baju dan penutup kepalanya. Maklum saja, aku memang tidak punya banyak kerudung, beberapa yang ada di lemari kosku juga pemberian Indah.
Lalu ada lagi perubahanku yang lain, jika dahulu aku hanya melaksanakan salat lima waktu maka kini aku mulai merutinkan salat sunah seperti yang disarankan Indah. Ya, sahabatku itu kini memang berubah menjadi sosok yang religius. Tak banyak kata yang diucapkannya saat aku datang ke kota ini malam itu, dia hanya berkata ‘tahajudlah dulu, Dira.’ Sejak itulah aku merutinkannya, ada perasaan damai dan tenang yang menyelusup ke ruang hati ini ketika selesai berkeluh kesah di heningnya malam.
Kuulang kembali doa itu setiap harinya. Memohon kekuatan dan kemudahan segala urusan. Sederhana, namun sangat dalam maknanya untukku. Aku sadar, masalah yang saat ini kuhadapi bukanlah masalah kecil, bukan masalah sepele. Sebab itulah aku memohonkannya pada Sang Pemilik Cerita, aku yakin dan percaya kejadian yang menimpaku adalah salah satu bentuk pelajaran sekaligus kasih sayang-Nya.
Selesai salat kurebahkan tubuhku di atas pembaringan, mataku masih belum terasa redup sama sekali. Pikiranku menerawang kembali pada perkataan Indah tadi pagi. Sepertinya aku mulai sependapat dengan Indah, biar bagaimanapun aku harus menemui pria itu untuk sekedar menampar batinnya. Aku ingin melihat tanggung jawab moril apa yang nantinya ia tawarkan. Usianya yang terpaut jauh dariku pasti dapat membuatnya lebih bijak dalam mengambil keputusan. Tapi aku juga menimang kembali kemungkinan terburuknya. Aku tidak ingin jika hal mengerikan terjadi padaku. Mengingat banyaknya kejadian miris di luar sana tentang penyekapan, penyiksaan, bahkan pembunuhan yang dialami oleh wanita. Amit-amit.
Tentang Farhan, biarlah. Rumah tanggaku sudah selesai, terlalu banyak kemelut di dalamnya. Sedih, itu pasti. Tapi aku juga tidak mungkin meratapinya terus menerus, ada cerita lain yang harus kuberi perhatian lebih saat ini.
Kuraba perutku perlahan, masih belum percaya jika ada manusia yang akan hidup di dalam sana. Sempat ragu, sepulang dari rumah Indah tadi aku mampir ke apotek dan membeli alat tes yang biasa kubeli dulu. Harganya berpuluh kali lipat dari alat tes yang kugunakan tadi pagi. Dan ya, hasilnya memang yes. Maka benar sudah, aku memang tengah hamil dan harus siap dengan episode-episode hariku berikutnya.
***
“Dira, kapan kamu ke Surabaya?” tanya Indah. Sore ini Indah sengaja mampir ke tempat kosku, dibawakannya aku seporsi bakso beranak dari kedai bakso ternama di kota ini.
“Belum tahu, Ndah. Mungkin Jumat depan waktu libur.” Jawabku sambil memindahkan bakso ke dalam mangkok.
“Perlu aku temani? Aku khawatir kalau kamu kesana sendiri.” Ucap Indah khawatir.
“Nggak perlu, Ndah. Biar aku sendirian saja, insya Allah aku baik-baik aja kok. Oh iya, Mas Irwan tahu nggak soal ini?”
“Nggak lah, Dir. Bisa runyam kalau suamiku sampai tahu. Dia tahu kamu ditinggal pergi Farhan sampai berhari-hari saja sudah emosi tingkat dewa.” Indah dan aku paham betul tabiat Mas Irwan yang tidak akan diam jika keluarga maupun temannya disakiti. Profesi serta badannya yang lumayan kekar sering kali membuat lawannya ciut.
Mas Irwan merupakan anggota polisi lalu lintas di Surabaya. Konon pertemuannya dengan Indah diawali saat razia kendaraan bermotor. Kala itu Indah masih kuliah, dan Mas Irwan sudah menjalankan tugas kepolisiannya. Menurut cerita, saat Indah mengeluarkan kartu SIM, Mas Irwan langsung SKSD dengannya karena sama-sama berasal dari Kota Jombang. Hanya sekilas percakapan mereka, namun keesokan harinya Indah mendapatkan DM di instagram.
Berbekal nama lengkap Indah, ternyata Mas Irwan berhasil menemukan kontak Indah. Sejak itulah mereka dekat, sampai akhirnya mereka menikah dan tinggal di Jombang. Namun untuk Mas Irwan sendiri masih dinas di Surabaya, ia hanya pulang satu minggu sekali saat libur piket.
“Terus rencananya kamu mau menemui dia dimana? Di rumahnya? Apa di tempat kerjanya?” Indah masih penasaran dengan rencanaku ke Surabaya minggu depan.
“Sebaiknya nggak di dua tempat itu. Aku nggak mau semua semakin rumit, paling tidak untuk saat ini.” Jawabku gamang.
“Kamu hati-hati, ya. Kalau ngajak dia ketemu di tempat ramai aja.” Saran Indah. Aku mengangguk.
“Ndah, aku nggak tahu apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Tapi satu-satunya jalan yang harus aku tempuh saat ini ya cuma menemui laki-laki itu. Aku nggak ingin dia bertanggung jawab atas kehamilanku, Ndah. Sama sekali aku nggak berharap itu, tapi aku cuma ingin kasih tahu dia aja bahwa ada sebuah akibat dari kejadian malam itu.” Aku menjelaskan detail tujuanku pada Indah.
“Kamu sudah melakukan langkah yang tepat, Dir. Sebagian besar orang pasti berpikir seharusnya kamu melakukan ini sejak awal, menemui pria itu dan menampar atau bahkan menendangnya berkali-kali. Tapi untuk apa? Yang kamu lakukan sudah sangat tepat, menepi, mengasingkan diri, lalu setelahnya kamu jadi bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan semua. Aku salut sama kamu, nggak semua orang bisa melakukan hal ini, Dir.” Tutur Indah dengan tersenyum.
Jika mengingat kejadian empat puluh tiga malam yang lalu, aku tidak menyangka masih bisa bangkit dan berdiri setegar ini. Ditinggalkan suami, menjadi korban perbuatan tak senonoh dari seorang pemuda mabuk, lalu kabur ke Jombang saat tengah malam seorang diri. Bersyukur karena Indah mau menampungku beberapa hari di rumahnya, memberiku banyak nasihat-nasihat menyejukkan sehingga aku bisa pulih dan semangat lagi.
“Doakan urusanku lancar, ya.” Ucapku, Indah mengangguk mantap.