**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Tiga Belas Tahun Lalu
Tiga belas tahun sebelum mobil hitam itu menunggu di bawah jendela Hotel Serenata, aku melihat Arkana Wardhana untuk pertama kalinya.
Saat itu aku baru tujuh tahun dan belum mengenal arti dendam.
Aku sedang duduk di ambang jendela lantai dua rumah kami, menggoyangkan kaki sambil menghitung layang-layang yang tersangkut di kabel listrik. Gang di bawah sempit dan panas. Bau minyak goreng dari warung ujung jalan bercampur dengan asap knalpot angkot yang baru lewat.
"Turun dari sana, nanti jatuh," tegur Kakak dari balik buku pelajarannya.
"Aku cuma lihat layang-layang."
"Kalau Ibu tahu, aku yang dimarahi."
Aku menjulurkan lidah, tetapi tetap menarik kedua kaki ke dalam. Di meja kayu dekat jendela, sebuah gelas sirup merah tinggal separuh. Semut sudah membuat barisan menuju ceceran gula di pinggir piring.
Hari itu seharusnya sama seperti hari-hari lain.
Ibu sedang menjahit ujung seragam sekolahku di ruang tengah. Ayah belum membuka kios sejak pagi. Dia duduk di depan kipas angin yang berderit, memegang ponsel lama dengan kedua tangan. Setiap kali benda itu bergetar, bahunya terangkat.
"Ayah sakit?" tanyaku saat turun dari tangga.
"Tidak."
"Kenapa tidak ke kios?"
"Sedang libur."
Ayah tidak pernah meliburkan kios pada hari kerja. Bahkan ketika demam, dia tetap duduk di balik etalase kecilnya dan meminta Kakak membantu melayani pembeli.
Pagi itu dia juga tidak menyentuh sarapan. Telur dadar yang dibagi Ibu menjadi empat bagian masih utuh di piringnya. Ketika aku diam-diam memindahkan bagianku ke piring Kakak, Ayah biasanya akan mengetuk meja dan berkata anak perempuan harus makan cukup agar cepat tinggi. Hari itu dia tidak melihat.
Teleponnya berdering.
Ayah mematikannya tanpa menjawab.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk. Aku belum lancar membaca kalimat panjang, tetapi bisa mengenali satu kata yang muncul dua kali di layar.
Pergi.
Ayah segera membalik ponsel.
"Siapa yang menyuruh kita pergi?" tanyaku.
Kakak memandangku tajam. "Jangan mengintip ponsel orang."
"Aku tidak mengintip. Tulisannya besar."
Ayah akhirnya menatapku. Dia mencoba tersenyum, tetapi bibirnya hanya bergerak sedikit. "Tidak ada yang pergi. Rumah kita di sini."
Kemudian dia memanggil Kakak ke dapur. Mereka berbicara sangat pelan. Aku menempelkan telinga ke dinding, tetapi hanya menangkap potongan kata: terminal, uang, dan kalau Ayah terlambat.
Kakak keluar dengan wajah pucat. Saat kutanya, dia mengacak rambutku terlalu keras.
"Nanti sore kita beli es lilin," katanya.
"Rasa cokelat?"
"Dua."
Janji itu membuatku berhenti bertanya.
Ibu menusukkan jarum terlalu dalam ke kain. "Sudah, jangan ganggu Ayah. Bantu Ibu cari kancing yang jatuh."
Aku merangkak di bawah meja. Kancing putih itu kutemukan di dekat kaki kursi, tetapi sebelum sempat menyerahkannya, suara mesin mobil berhenti di mulut gang.
Anak-anak yang bermain kelereng berlarian mendekat. Jarang ada mobil mewah masuk ke kampung kami. Jalanannya terlalu sempit, selokannya terlalu dalam, dan kabel-kabel menggantung seperti sarang laba-laba.
Aku berlari kembali ke jendela.
Sebuah sedan hitam berhenti di antara gerobak mi ayam dan tumpukan galon. Pintu belakangnya terbuka. Seorang pria turun dengan setelan hitam yang terlalu rapi untuk gang kami.
Dia masih muda. Jauh lebih muda daripada bayangan yang kelak hidup dalam mimpi burukku.
Wajahnya tampan, tetapi bukan seperti aktor di televisi yang membuat Ibu tersenyum. Ada sesuatu dalam caranya berdiri yang membuat orang-orang di gang menyingkir tanpa disuruh. Dia memandang nomor-nomor rumah, lalu menyalakan rokok.
Di belakangnya turun seorang pria besar dengan kepala nyaris gundul. Orang-orang memanggilnya Jagal. Aku baru mengetahui nama itu bertahun-tahun kemudian.
Saat itu, bagiku dia hanya lelaki menyeramkan dengan tangan sebesar piring makan.
"Kak," panggilku. "Ada orang ganteng."
Kakak bangkit malas, lalu berdiri di sampingku. Senyumnya lenyap begitu melihat pria-pria berpakaian hitam.
"Masuk."
"Kenapa?"
"Masuk saja."
Dia menarik lenganku menjauh dari jendela.
Di lantai bawah, kursi terjungkal.
Ayah berdiri begitu cepat sampai ponselnya jatuh. Wajahnya berubah pucat. Ibu mengikuti pandangannya ke arah pintu, lalu menutup mulut dengan tangan.
"Mereka menemukan kita," bisik Ayah.
Aku tidak mengerti siapa mereka. Aku hanya tahu Ibu mulai menangis tanpa suara.
Ayah menyambar tas kain dari bawah meja dan memasukkan beberapa lembar uang, surat-surat, serta botol minum. Tangannya gemetar sampai dua lembar uang jatuh ke lantai.
"Bawa anak-anak lewat belakang," katanya.
"Pintu belakang dikunci dari luar oleh pemilik kontrakan," jawab Ibu. "Kuncinya dibawa pemilik kontrakan."
"Jendela dapur."
"Terlalu sempit."
Ketukan terdengar di pintu depan.
Tiga kali.
Pelan. Sopan.
Ayah membeku.
Ketukan itu justru lebih menakutkan daripada gedoran.
"Pak," suara seorang laki-laki memanggil dari luar. "Bos ingin bicara."
Ayah mendorong lemari kecil ke depan pintu. Benda itu ringan dan salah satu kakinya patah. Bahkan aku tahu lemari itu tidak akan menahan siapa pun.
"Naik ke atas," perintahnya. "Sekarang."
Ibu menggandeng tanganku. Kakak menyambar tas sekolah dan memasukkan roti, sebotol air, serta uang receh yang berserakan di meja.
"Kita mau ke mana?" tanyaku.
Tidak ada yang menjawab.
Kami berlari menaiki tangga. Anak tangga ketiga berbunyi nyaring seperti biasa. Ibu berhenti sesaat, seolah bunyi kecil itu bisa menunjukkan tempat persembunyian kami kepada seluruh dunia.
Ketukan kembali terdengar.
"Kami masuk, Pak."
Pintu depan dihantam satu kali.
Lemari kecil itu roboh.
Aku memekik, tetapi Kakak menutup mulutku. Ayah mendorong kami ke ujung lorong lantai dua. Di sana ada tangga lipat menuju loteng, ruang rendah yang penuh kardus, pakaian lama, dan perabot rusak.
"Ibu dan anak perempuan masuk," katanya.
"Kita semua masuk," Ibu memohon.
"Kalau tidak ada orang di bawah, mereka akan mencari."
"Jangan."
"Dengar aku."
Ayah memegang kedua bahu Ibu. Untuk pertama kalinya aku melihat mata ayahku penuh ketakutan. "Jangan keluarkan suara apa pun. Apa pun yang kalian dengar."
Kakak berdiri di samping kami. "Aku ikut Ayah."
"Kau jaga tangga. Kalau ada kesempatan, bawa mereka lari."
"Tapi, Yah..."
"Kau anak laki-laki Ayah."
Kalimat itu membuat Kakak mengatupkan mulut. Wajahnya masih terlalu muda untuk ketakutan sebesar itu.
Ayah mengangkatku ke tangga lipat. Telapak tangannya dingin dan basah. Ibu naik setelahku, lalu menarik penutup loteng sampai hanya tersisa celah tipis.
Ruangan itu gelap. Debu masuk ke hidungku. Kardus menekan punggung, dan sepotong kayu patah menusuk telapak kakiku.
"Ibu, sakit," bisikku.
Ibu segera menarikku ke pangkuannya. Satu tangannya menutup mulutku, sementara tangan lain memeluk pinggangku. Bibirnya menempel di rambutku.
"Diam sebentar, Sayang. Tolong diam."
Dari celah lantai, aku melihat sebagian lorong. Sepatu hitam naik satu per satu melalui tangga. Tidak terburu-buru. Tidak ada yang berteriak.
Itu membuat setiap bunyi terasa lebih jelas.
Gesekan sol sepatu.
Derit anak tangga.
Tarikan napas Kakak.
Lalu bunyi pemantik api.
Pria tampan yang kulihat dari jendela berhenti di ujung lorong. Asap rokok melingkar di sekitar wajahnya. Dia melepaskan jas, menyerahkannya kepada Jagal, lalu menggulung lengan kemeja putih sampai siku.
"Kau membuatku mencarimu dua tahun," katanya.
Ayah berdiri di depannya dengan kedua tangan terangkat. "Saya bisa menjelaskan, Bos."
"Dua tahun cukup untuk menyiapkan penjelasan yang bagus."
"Saya tidak berniat mengkhianati Om Guntur."
Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku. Namun tubuh Ibu menegang ketika mendengarnya.
Pria itu mengisap rokok. "Kau memberi tahu mereka siapa ayah tiriku. Kau memberi polisi jalan masuk. Setelah itu Om Guntur mati."
"Bukan saya yang membunuh beliau."
"Tapi mulutmu membuka pintunya."
"Saya cuma menjawab satu pertanyaan," Ayah berkata cepat. "Mereka bilang sudah tahu Pak Suryo polisi. Mereka cuma ingin memastikan hubungan beliau dengan Anda. Saya tidak memberi alamat, tidak memberi nama tempat, tidak memberi jadwal siapa pun."
Rokok Arkana berhenti di depan bibirnya.
"Satu jawabanmu membuat Om Guntur menganggapku mata-mata polisi."
"Saya tidak tahu itu akan terjadi."
"Dia mengusirku pada malam ketika musuh datang. Polisi memborgolku sebelum aku bisa kembali menolongnya."
Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajah pria itu retak. Hanya sekejap. Bara rokok memerah di antara jarinya, lalu dia mengembuskan asap perlahan.
"Dua tahun aku mencari orang-orang yang membuatnya mati," lanjutnya. "Semua nama mengarah kepadamu."
"Mereka berbohong untuk menyelamatkan diri."
"Kau juga sedang berbohong untuk menyelamatkan diri."
Ayah menggeleng berkali-kali. "Saya punya anak. Saya takut. Itu saja kesalahan saya."
"Di dunia kita, takut tidak menghapus akibat."
Dari loteng, aku tidak mengerti polisi, pengkhianatan, atau laki-laki bernama Om Guntur. Aku hanya mengerti suara Ayah telah berubah seperti suara orang yang kedinginan. Aku ingin turun dan memegang tangannya, tetapi kuku Ibu menekan lenganku, memaksaku tetap diam.
Ayah jatuh berlutut.
Lututnya menghantam lantai begitu keras sampai aku ikut tersentak.
"Anak-anak saya tidak tahu apa-apa," katanya. "Istri saya juga tidak tahu. Ambil hidup saya, tapi biarkan mereka pergi."
Arkana menatapnya lama. Tidak marah. Tidak berteriak. Wajahnya lebih tenang daripada Ayah saat menutup kios setiap malam.
"Di mana keluargamu?"
"Sudah pergi."
"Jagal."
Pria besar itu membuka pintu kamar pertama. Kasur dibalik. Lemari dihantam sampai terbuka. Pintu kamar kedua menyusul.
Kakak berdiri di balik dinding dekat tangga loteng. Dia menggenggam gagang sapu dengan kedua tangan. Aku bisa melihat jemarinya gemetar.
Ibu menggigit bibir begitu keras sampai setetes darah jatuh ke punggung tanganku. Dia kembali menutup mulutku ketika isak kecil lolos dari tenggorokan.
Di bawah, Arkana mematikan rokok dengan ujung sepatunya.
"Kau tahu hukum kami," katanya.
Ayah merangkak maju dan memegang ujung celananya. "Tolong. Anak perempuan saya baru tujuh tahun."
Mata Arkana bergerak ke arah langit-langit.
Tepat ke tempat kami bersembunyi.
"Bos," panggil Jagal dari ujung lorong. "Ada tangga ke loteng."
Ayah menerjang kakinya.
Kakak mengangkat gagang sapu.
Ibu menarikku ke dada dan menutup mulutku dengan seluruh kekuatannya.
Lalu langkah pertama menginjak tangga lipat.