**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024
Aku Nggak Mau Nikah Lagi
Beberapa pekan setelah malam itu, proses perceraian Bram dan Tiara akhirnya selesai.
Tiara datang memenuhi panggilan, meninjau kesepakatan harta bersama dengan pengacaranya, dan tidak lagi menahan perkara hanya demi status. Setelah putusan berkekuatan hukum tetap dan akta cerai terbit, Bram mengirim foto dokumen tersebut kepada Laras.
`Sudah selesai dengan benar.`
Laras tidak tahu harus merasa lega atau semakin takut.
Tiara juga mengirim satu pesan beberapa jam kemudian.
`Sekarang dia bukan suami gue lagi. Jangan anggap itu berarti gue sudah maafin kalian.`
Laras membalas bahwa ia mengerti. Pesan tersebut dibaca tanpa jawaban. Tidak ada pertengkaran baru, tetapi akta cerai itu membuat semua yang mereka lakukan terasa semakin nyata. Dua pernikahan telah selesai. Tidak ada lagi status hukum yang bisa dipakai sebagai alasan untuk menahan langkah berikutnya.
Sore itu Bram datang ke kos membawa dua kantong belanja. Ia berhenti di ruang depan untuk melapor kepada ibu pengelola, lalu masuk setelah Laras membukakan pintu dan membiarkan pintunya tetap tidak terkunci.
“Aku beli bahan makan,” katanya.
“Kamu selalu beli terlalu banyak.”
“Kulkasmu kosong.”
“Karena aku baru belanja besok.”
Bram memasukkan telur, sayur, buah, dan daging ke kulkas kecil. Gerakannya terlihat semakin terbiasa berada di ruangan itu. Sofa baru yang ia beli sudah menjadi tempatnya duduk. Gelas tinggi di rak selalu dipakai Bram. Bahkan satu pasang sandal laki-laki tertinggal di depan pintu.
Hal-hal kecil itu membuat Laras waspada.
“Bram.”
“Hmm?”
“Jangan terlalu sering datang.”
Tangannya berhenti menata buah. “Kenapa?”
Laras duduk di sofa dan memandang sekeliling. “Rumah ini tempat berlindungku.”
“Aku tahu.”
“Aku menyewanya supaya punya tempat yang cuma milikku. Bukan untuk membangun rumah baru dengan orang lain.”
Di kamar itu Laras belajar tidur tanpa menunggu suara motor Wahyu. Ia belajar membeli air tanpa izin, mengatur penghasilan, dan menaruh foto rumah impian di tempat yang bisa dilihat setiap hari. Bahkan bunyi kasar pendingin ruangan terasa menenangkan karena ia sendiri yang memilih membayarnya.
“Waktu aku tinggal di rumah Tiara, semua benda mengingatkan bahwa aku cuma menumpang,” katanya. “Di rumah Wahyu, semua benda mengingatkan kewajiban. Cuma di sini aku bisa duduk tanpa menjadi istri atau menantu siapa pun.”
Bram menutup pintu kulkas. Ia duduk di kursi seberang, tidak mencoba mendekat.
“Aku nggak akan mengambilnya dari kamu.”
“Tapi kamu sudah mulai masuk ke setiap sudut.” Laras menunjuk sandal, gelas, dan kulkas penuh. “Aku takut suatu hari semua ini terasa milik kita, lalu kamu pergi dan aku harus belajar tinggal sendirian dari awal.”
Bram menatap wajahnya. “Tiara bilang aku akan mencampakkanmu?”
Laras menurunkan mata.
“Dia memang bilang begitu.”
“Dan kamu percaya.”
“Aku nggak tahu.”
Bram mengeluarkan akta cerai dari map dan meletakkannya di meja. “Kita sekarang sama-sama sudah cerai. Sama-sama single. Kalau mau, kita bisa menikah tanpa sembunyi.”
Kata `menikah` membuat dada Laras sesak.
“Nggak.”
Bram tidak bergerak. “Nggak sekarang atau nggak denganku?”
“Aku nggak mau nikah lagi.”
“Karena Wahyu?”
“Karena semuanya.” Laras berdiri dan berjalan ke jendela. “Lima tahun aku pikir pernikahan berarti bertahan. Aku menghilang sedikit demi sedikit dan bahkan nggak sadar.”
“Aku bukan Wahyu.”
“Sekarang bukan.”
Kalimat itu melukai Bram, terlihat dari cara rahangnya mengeras.
Laras melanjutkan sebelum kehilangan keberanian. “Wahyu juga bukan laki-laki jahat waktu aku menikah dengannya. Dia perhatian. Dia janji akan bekerja keras. Hidup yang membuat kami berubah.”
“Kamu pikir hidup akan membuatku memperlakukanmu seperti itu?”
“Aku pikir sekarang kamu sangat mencintaiku karena semuanya baru, salah, dan menegangkan. Bagaimana kalau setelah kita menikah, aku jadi biasa?”
“Laras.”
“Jangan cuma bilang kamu nggak akan berubah.”
“Baik.” Bram menarik kursi lebih dekat, tetapi tetap tidak menyentuhnya. “Aku nggak minta kamu berhenti kerja. Aku nggak minta kamu pindah ke rumahku. Kalau kita menikah, kamu tetap pegang uangmu dan pilih tempat tinggalmu. Kita buat semua keputusan berdua.”
“Semua orang bisa berjanji sebelum menikah.”
“Lalu apa yang bisa kulakukan?”
“Nggak ada.”
Jawaban itu menyakitkan mereka berdua.
“Aku bisa menunggu,” kata Bram.
“Sampai kapan?”
“Sampai kamu percaya.”
“Kalau aku nggak pernah percaya?”
Bram menatapnya tanpa menghindar. “Aku belum tahu jawabannya. Tapi hari ini aku tetap menunggu.”
“Bagaimana kalau Tiara benar? Kamu bosan, lalu menemukan perempuan lain seperti kamu menemukan aku?”
Bram bangkit, tetapi berhenti dua langkah darinya.
“Lihat aku.”
Laras tidak mau. Air mata sudah memenuhi matanya.
“Aku takut,” katanya. “Aku takut kutukan Tiara jadi nyata. Aku takut kebahagiaan sekarang cuma akan jadi kenangan paling indah di sisa hidupku yang buruk.”
Ia menghapus air mata dengan kasar. “Aku takut suatu pagi bangun dan menemukan aku sudah kembali jadi perempuan yang menghitung suasana hati suami sebelum bicara. Takut menyerahkan kunci rumah, rekening, dan mimpi kepada pernikahan lagi. Takut kamu mencintaiku karena aku memasak, merawat, dan membuat rumah nyaman, lalu kecewa saat aku sibuk bekerja.”
“Aku jatuh cinta bukan karena kamu melayaniku.”
“Tapi itu yang pertama kamu lihat.”
“Yang pertama kulihat adalah perempuan yang tetap membersihkan rumah sahabatnya meski hidupnya sendiri berantakan.” Bram menahan napas. “Yang membuatku bertahan adalah kamu berani mengubah hidupmu, bahkan ketika perubahan itu bisa membuatmu meninggalkan aku.”
Laras ingin percaya. Justru karena sangat ingin, ia semakin takut.
“Aku nggak percaya kutukan.”
“Tapi aku percaya pola. Kamu selingkuh dari Tiara. Aku selingkuh dari Wahyu. Apa yang membuat kita yakin akan jadi orang baik hanya karena sekarang legal?”
Pertanyaan itu membuat Bram diam.
Laras akhirnya menoleh. “Kita membangun cinta dari kebohongan. Mungkin rasa bersalah ini akan selalu ada di antara kita.”
“Aku siap menanggungnya.”
“Aku belum.”
Ia bahkan belum tahu apakah rasa cintanya kepada Bram cukup kuat untuk hidup bersama rutinitas. Cinta di kamar hotel terasa seperti api. Pernikahan adalah tagihan listrik, cucian basah, keluarga yang ikut bicara, dan dua orang lelah yang tetap harus memilih pulang. Laras pernah gagal di bagian itu. Ia tidak mau mengulanginya hanya karena kali ini jantungnya berdebar lebih keras.
Bram mengulurkan tangan, lalu menahannya sebelum menyentuh Laras. “Kamu mau aku pergi?”
Laras ingin mengatakan tidak. Yang keluar justru, “Aku butuh ruang.”
Bram mengangguk pelan. Ia mengambil map akta cerai, tetapi meninggalkan bahan makanan di kulkas.
Di depan pintu, ia menoleh sekali.
“Aku nggak akan paksa kamu.”
Laras memegang tepi jendela dan menunduk.
“Aku nggak mau nikah lagi,” ulangnya.
Bram diam cukup lama hingga suara kendaraan di gang masuk ke ruangan. Laras tidak tahu apakah diam itu berarti ia mengerti, terluka, atau mulai menyerah.