Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Mobil-mobil jemputan mulai tiba satu persatu di halaman rumah. Pertama datang mobil untuk keluarga sepupu Nara, kemudian diikuti oleh mobil yang akan menjemput orang tua dan adik Nara.
"Kami pulang dulu ya, sayang," ucap Anita sambil mendekat untuk mencium peluk Nara. "Semoga ulang tahunmu penuh kebahagiaan ya. Jangan terlalu memaksakan diri jika kamu merasa tidak enak badan,"
Nara memberikan senyum lembut. "Iya, Ma. Kalian hati-hati dijalan,"
Wira menghela napas, lalu mendekat dan mengusap lembut lengan Nara dengan penuh kasih sayang. "Jaga dirimu baik-baik, Nara. Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami."
"Baik, Pa," angguk Nara.
Setelah Anita dan Wira masuk ke mobil, Tiara, adik kandung Nara yang berusia dua puluh tahun cepat-cepat mendekat dan menarik lengan Nara dengan ekspresi penasaran di wajahnya.
"Kak," bisik Tiara dengan suara rendah, matanya berbinar. "Tadi yang namanya Rendra itu temannya Kak Arga kan? Dia kelihatan baik dan juga tampan. Kalau Kakak tidak keberatan, bisa tidak aku dikenalin sama dia? Aku pengen tahu dia lebih dekat lagi."
Nara yang masih terpuruk pun terkejut mendengar kata-kata adiknya. Dia menghela napas panjang. "Tiara, kamu tidak tahu situasinya sekarang. Lagipula... Kakak juga tidak terlalu akrab dengannya,"
"Tidak akrab tapi tadi bisa pulang bareng. Ayolah Kak... mau ya?" ucap Tiara dengan nada mendesak, "Aku cuma mau kenalan aja kok."
Nara menghela napas pelan. Dia masih belum bisa berpikir jernih tentang apa yang terjadi dengan hubungan antara dirinya dengan Arga, malah sekarang ditambah adiknya minta dikenalkan dengan Rendra. Namun melihat wajah Tiara yang penuh harapan, dia tidak bisa langsung menolaknya.
"Nanti saja ya. Nanti Kalau Kakak ketemu kak Rendra lagi, Kakak coba bilang," jawab Nara dengan suara lemah.
Tiara tersenyum gembira dan mencium pipi Nara. "Terima kasih ya Kakakku yang paling cantik! Aku tunggu kabar baiknya ya."
Wira yang sudah menunggu didalam mobil bersama dengan istrinya pun segera memanggil putri bungsunya itu, "Ayo Tiara, kamu mau ikut pulang atau masih mau tetap disini?"
"Ya, Pa, ini aku naik," seru Tiara sambil mengucapkan salam perpisahan lagi pada Nara. "Jangan lupa janjinya ya Kak!" ucapnya dengan senyum bahagia sebelum berlari menuju mobil.
Setelah Tiara masuk dan mobil mulai melaju, Nara berdiri sendirian di halaman yang kini sunyi. Udara malam yang sejuk menyentuh wajahnya, namun tidak mampu mendinginkan kegelisahan yang sedang melanda hatinya. Dia merenung sejenak, memikirkan bagaimana harus menghadapi Arga setelah semua orang pergi nanti.
Tak lama kemudian, mobil putih yang menjemput Niken dan Bayu pun datang dan berhenti di halaman rumah. Niken keluar bersama dengan suami dan putranya, wanita itu mendekati Nara dengan wajah penuh perhatian.
"Kami juga pamit ya Nak," ucap Niken sambil merapikan rambut Nara yang sedikit berantakan. "Mama dan Papa sangat berharap, secepatnya kamu dan Arga bisa memberi kami cucu yang lucu-lucu,"
Nara yang mendengar permintaan ibu mertuanya pun merasa sedikit tertekan. Jangankan untuk memberikan cucu, untuk disentuh lagi oleh Arga pun dia sudah enggan.
Bayu yang berada di belakangnya segera menepuk lembut punggung istrinya. "Jangan membebani menantu kita dengan permintaan seperti itu, Ma. Sekarang sudah larut, sebaiknya kita pulang. Biarkan Nara dan Arga beristirahat."
Niken menghela napas dan mengangguk pelan, menyadari bahwa ucapannya mungkin membuat Nara tidak nyaman. "Maaf ya Nak. Kamu dan Arga bahagia saja sudah cukup buat kami," ucapnya dengan suara lembut, lalu menoleh pada Arga yang berdiri tidak jauh darinya. "Arga, kamu harus menjaga istri kamu dengan baik. Jangan sampai membuat Nara menangis apalagi sampai terluka hatinya."
Arga menatap Nara sejenak sebelum mengangguki ucapan Mamanya. "Iya Ma, aku pasti akan selalu menjaga Nara dengan sebaik-baiknya."
Niken kembali mendekat untuk mencium peluk Nara sebelum masuk ke mobil. "Kami pulang dulu ya, sayang."
Nara memberikan senyum lembut sebagai balasan. "Terima kasih untuk kejutannya malam ini, Ma."
Setelah Niken dan Bayu masuk ke mobil dan mobil melaju menjauh, Arga perlahan mendekati Nara yang masih berdiri di halaman. Udara malam semakin dingin, dan ketenangan di sekitar mereka hanya membuat ketegangan antara keduanya terasa lebih berat.
"Sayang..." panggil Arga dengan suara rendah, tangannya ingin meraih lengan Nara tapi segera dia urungkan. "Bolehkah kita masuk dan berbicara sebentar? Aku ingin menjelaskan semuanya."
Nara menoleh dan menatapnya tajam, "Tidak ada yang perlu untuk dijelaskan lagi karena semuanya sudah jelas. Mulai malam ini aku akan tidur di kamar tamu, dan jika situasinya sudah memungkinkan, aku akan tetap mengatakan semuanya pada keluarga kita tentang perselingkuhan kamu dengan sekretaris kamu itu!"
Tanpa menunggu jawaban, Nara berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Dia langsung menuju kamar tamu dan menutup pintunya dengan keras, menyisakan Arga sendirian di halaman rumah yang sunyi. Arga menjambak rambutnya kuat-kuat kebelakang, air mata akhirnya menetes bebas di pipinya. Dia tahu bahwa jalan untuk mendapatkan maaf dari Nara tidak akan mudah, bahkan mungkin tidak ada jalan sama sekali.
-
-
-
Keesokan harinya, sinar matahari mulai menerobos celah tirai kamar tamu tempat Nara bermalam. Dia terbangun dengan rasa badan yang lelah dan hati yang masih berat. Setelah mandi dan berpakaian sederhana, dia keluar ke ruang makan dimana asisten rumah tangga, Bi Imah, sudah menyajikan sarapan.
"Non Nara, sarapan sudah siap ya," ucap Bi Imah dengan senyum ramah. "Mas Arga sudah berangkat ke kantor sekitar lima belas menit yang lalu. Mas Arga juga bilang kalau Bibi disuruh jagain dan nemenin Non dirumah."
Nara hanya mengangguk pelan dan duduk di mejanya. Makanan yang biasanya dia nikmati dengan berselera kini terasa hambar di lidahnya. Setelah hanya menyantapnya sedikit, dia pindah ke ruang tamu dan duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela.
Tak lama kemudian, suara bel rumah berbunyi dengan keras, membuatnya sedikit terkejut. Bi Imah ingin pergi membukanya, namun suara Nara menghentikannya.
"Biar saya saja yang buka, Bi. Bibi bisa lanjutkan pekerjaan dibelakang,"
Nara berdiri perlahan dan menuju pintu depan dengan langkah yang masih terasa berat. Ketika dia membuka pintu, sosok Rendra tampak berdiri di luar dengan memakai kemeja berwarna putih yang digulung bagian lengannya sampai ke siku.
"Hai Nara," sapanya dengan senyum hangat begitu melihat wanita pujaan hatinya kini berdiri dihadapannya.
Nara sedikit terkejut, namun tetap memberikan senyum lembut. "Hai Ren. Tapi mas Arga-nya sudah berangkat ke kantor,"
Rendra menyunggingkan senyum licik, "Aku kesini bukan untuk Arga, tapi untuk kamu Nara. Aku ingin memastikan kamu dalam kondisi yang baik hari ini."
"O-oh, begitu..." ucap Nara sedikit canggung. Dia melihat ke mata Rendra, dimana ada perhatian yang tulus yang membuat hatinya sedikit tergerak.
Rendra mengeluarkan setangkai bunga mawar merah yang dia disembunyikannya di belakang tubuhnya. Bunga itu masih tampak segar, dengan diikat dengan pita sutra putih yang simpel namun elegan.
"Untukmu," ucapnya dengan suara lembut, memberikan bunga itu pada Nara. "Warna merah mewakili cinta yang tulus dan abadi."
Nara terpana sejenak, matanya menatap bunga yang diberikan sebelum melirik wajah Rendra. Dia menerima bunga dengan hati-hati, menghirup aroma harumnya yang khas. Rasa haru mulai merasuk hati, membuat matanya sedikit berkaca-kaca.
"Terima kasih, Ren... Bunganya sangat cantik," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Rendra mengangguk, matanya tidak pernah lepas dari wajah Nara. "Aku ingin mengajakmu pergi keluar untuk jalan-jalan, kamu mau?"
Nara terkejut mendengar ajakan Rendra, matanya sedikit berbinar meskipun masih ada rasa canggung di dalam hatinya. Dia menatap bunga mawar merah yang masih dipegangnya, lalu menatap wajah Rendra kembali yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Tapi aku..."
-
-
-
Bersambung...