NovelToon NovelToon
Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
​Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
​Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
​Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
​Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
​Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Pagi Pertama, Omelan Manis, dan Luka Memar

​Sinar matahari pagi menyelusup masuk melalui celah gorden kamar utama, membiaskan cahaya hangat yang menyapu wajah Nadira. Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka. Namun, baru saja ia berniat menggerakkan tubuhnya untuk mengubah posisi tidur, rasa nyeri yang hebat dan pegal yang menyengat di area pinggang hingga selangkangannya langsung membuat wanita itu meringis kesakitan.

​"Aww! Shh... aduh..." ringis Nadira memegangi pinggangnya, mukanya berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa.

​Sensasi hangat dan beban berat terasa menempel di pinggangnya. Nadira menoleh ke samping. Askara sedang tidur telentang di sebelahnya tanpa mengenakan atasan, dengan sebelah lengan kekarnya melingkar posesif di pinggang Nadira, menyatukan tubuh mereka rapat-rapat di bawah selimut tebal. Wajah pria itu tampak begitu damai, tenang, dan menyunggingkan senyuman tipis dalam tidurnya.

​Mengingat kembali apa yang terjadi semalaman—bagaimana Askara mengambil keperawanannya dan menggempurnya tanpa ampun hingga larut malam—wajah Nadira langsung terbakar hebat. Rasa malu, jengkel, dan rasa sakit fisik menyatu menjadi emosi yang mendidih di dadanya.

​"Askara..." panggil Nadira, suaranya terdengar agak serak.

​Pria di sebelahnya tidak bergeming, hanya mempererat pelukannya pada pinggang Nadira.

​"Askara Pradipta! Bangun gak lo!" bentak Nadira sambil menepuk-nepuk dada bidang Askara dengan sisa tenaganya.

​Askara perlahan membuka matanya. Iris mata hitamnya yang tenang menatap Nadira. Bukannya panik, senyuman manis dan jahil justru langsung terukir sempurna di bibir tampannya.

​"Selamat pagi, Istriku," bisik Askara rendah dengan suara khas bangun tidur, mendekatkan wajahnya hendak mengecup bibir Nadira.

​TAK!

​Nadira menepis pelan rahang Askara dengan telapak tangannya, memalingkan wajahnya bersungut-sungut dengan mata melotot tajam.

​"Gak usah cium-cium! Gue lagi marah ya sama lo!" semprot Nadira dengan napas memburu.

​Askara mengerutkan dahi bingung, lalu mendudukkan tubuhnya perlahan. Ia menyandarkan punggungnya pada headboard tempat tidur, membiarkan selimut melorot hingga memamerkan dada bidang dan perut berototnya.

​"Loh? Marah kenapa, Nad? Gue ada salah apa lagi pagi-pagi gini?" tanya Askara heran, menyibakkan rambutnya ke belakang.

​"Masih nanya salah apa?!" jerit Nadira histeris, menyambar bantal di sampingnya lalu memukulkannya ke dada Askara tanpa ampun. "Gue tuh nyesel banget ya semalem ngomong siap! Lo tuh jahat banget tahu gak!"

​"Aduh, Nad... pelan-pelan," Askara menangkap bantal itu sambil tertawa kecil. "Jahat kenapa sih? Kan semalam lo sendiri yang bilang siap dan meluk gue duluan."

​"Ya tapi gue gak tahu kalau bakal sesakit ini, Askara!" omel Nadira menggebu-gebu, air mata kekesalan dan rasa sakit mendadak menggenang di sudut matanya. "Sakit banget, tahu gak! Punya lo itu... punya lo itu gede banget, monster! Kenapa gak bilang-bilang dari awal sih?!"

​Askara yang mendengar ucapan polos sekaligus ceplos dari istrinya itu seketika terpaku. Tawa renyah yang sangat keras meluncur bebas dari tenggorokannya.

​"Punya gue apa? Monster?" ledek Askara tertawa lebar hingga matanya menyipit. "Ya mana gue tahu ukuran standar di otak lo gimana, Nadira. Lagian kan gue udah pelan-pelan banget semalam."

​"Pelan-pelan dari mananya?!" tembak Nadira melotot, mukanya sudah merah padam seperti buah naga. "Awalnya doang lo pura-pura lembut! Begitu udah masuk pertengahan... lo kayak kesetanan! Gue udah minta ampun, minta berhenti karena kehabisan napas, lo malah makin jadi! Sekarang pinggang gue serasa mau patah, bawah gue perih banget buat gerak doang!"

​"Ya maaf, Sayang..." ujar Askara melunak, mencoba mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu mulus Nadira yang tak tertutup selimut. "Gue kan udah tahan-tahan selama bertahun-tahun. Jadi begitu dapet lampu hijau dari lo... ya gue tahanannya jebol. Lagian lo semalam juga mendesah nikmat banget kan? Panggil-panggil nama gue terus."

​"ASKARA MESUM! DIEM GAK LO!" jerit Nadira histeris, menyambar bantal satu lagi dan melemparkannya tepat ke wajah Askara. "Jangan dibahas lagi! Muka gue mau ditaruh di mana coba?!"

​Askara menangkap bantal itu, lalu bergerak cepat merangkak mendekati Nadira. Sebelum wanita itu sempat kabur atau menarik selimutnya lebih tinggi, Askara sudah menyelipkan tangannya di bawah tubuh Nadira dan mengangkatnya pelan ke dalam pangkuannya.

​"Mhnggh... Aska! Sakit, ih! Jangan diangkat-angkat!" lenguh Nadira mendesah pelan saat benturan kecil pada area sensitifnya menimbulkan sensasi nyeri bercampur geli yang aneh.

​"Katanya sakit, kok mendesah?" ledek Askara berbisik mesra di telinga Nadira, merapatkan tubuh mereka.

​"Gue gak mendesah! Itu refleks karena sakit, bego!" bentak Nadira bersungut-sungut, menyandarkan kepalanya di dada hangat Askara karena memang tubuhnya terasa begitu lemas.

​Askara mengusap-usap punggung polos Nadira dengan lembut, memberikan pijatan halus di area pinggang istrinya yang pegal. Tatapan matanya berubah menjadi sangat tulus dan penuh penyesalan.

​"Beneran sakit banget ya, Nad?" tanya Askara pelan, menyapukan ujung hidungnya di leher Nadira.

​"Iya lah! Coba posisi kita ditukar, mau gak lo?!" omel Nadira merengek. "Mana hari ini harus ngantor lagi. Mana bisa gue jalan tegak kalau kayak gini bentukannya? Odelia pasti langsung tahu!"

​"Siapa yang bilang lo boleh ngantor hari ini?" potong Askara tegas.

​Nadira mendongak. "Hah?"

​"Gue udah kirim pesan ke Bimo sama Odelia tadi pas lo masih tidur nyenyak," jelas Askara santai. "Gue bilang lo lagi gak enak badan dan kita berdua ambil izin libur dua hari."

​"Aska! Kok main izin gitu aja sih?! Draf pekerjaan gue—"

​"Draf pekerjaan lo bisa ditunda," potong Askara tak menerima bantahan, menatap mata Nadira dengan protektif. "Tugas lo hari ini cuma istirahat di kasur, mandi air hangat, sama gue manja-manjain."

​Nadira menatap suaminya itu dengan bibir yang memanyun. Rasa jengkelnya perlahan menguap, berganti dengan rasa hangat yang memenuhi dadanya. Walau Askara terkadang sangat menyebalkan dan dominan di atas ranjang, perhatian pria itu selalu berhasil membuatnya tak berkutik.

​"Tapi lo harus tanggung jawab," cicit Nadira pelan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Askara.

​"Tanggung jawab gimana, Hm?" tanya Askara mengusap rambut gelombang Nadira.

​"Gendong gue ke kamar mandi," pinta Nadira menahan malu. "Gue beneran gak sanggup jalan sendiri ke bathtub."

​Askara tersenyum manis, senyuman paling hangat yang membuat ketampanannya makin memancar.

​"Dengan senang hati, Nyonya Pradipta," jawab Askara mantap.

​Pria itu berdiri sambil menggendong tubuh Nadira secara bridal style dengan sangat mudah. Nadira refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Askara, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya saat Askara melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk menyiapkannya berendam air hangat.

​Di pagi pertama mereka sebagai sepasang suami istri seutuhnya, di antara omelan manis dan rasa nyeri yang tersisa, Nadira tahu bahwa di dalam pelukan Askara, ia akan selalu menjadi wanita paling dijaga dan dicintai di dunia.

1
Azizah az
ikutan disini Thor ☺️🤗
Fitra Sari
lanjut lagi KK 🙏🥰
N07
New reader nie Thor. Suka sama gaya berceritanya, susunan kata & tanda baca juga rapi jadi enak bacanya. Semoga ceritanya juga menarik sampe ending ga bertele2.
mak mak doyan novel
nah gini kan adem.. g ada gengsi yg tinggi lgi
mak mak doyan novel
ini mah calon suami idaman
mak mak doyan novel
udah ya nad gengsinya.. semua dukung kmu sama aska
Fitra Sari
lanjut KK sampe halal 🥰
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏
aku jadi semangat nih...
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut thor
umie chaby_ba
ceritanya ringan, dan bagus...
semangat terus thor...
/Heart/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️
total 1 replies
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
waduh... askara serem juga...
umie chaby_ba
lah aska mah lemah banget ngambek bentaran doang... 🤣
umie chaby_ba
hayo loh ...
umie chaby_ba
nadira ngeselin ih... malah cerita lagi udah tahu suasananya lagi ga beres malah cerita
mak mak doyan novel: setuju..
ngeselin bgt dia
total 1 replies
umie chaby_ba
nah kan... bukan orang biasa aja yang ujug-ujug dateng. pasti ada maksud terselubung 🤭
umie chaby_ba
mode protektif nih🤭
umie chaby_ba
dih... bisa aja brondong... bahaya banget nih... nanti nadira tergoda lagi, kesempatan banget buat nadira malah ini mah...🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
kagak inget umur banget si nad sumpah 30 tahun masih begitu, askara lo sabarnya kebangetan ini mah !!!
umie chaby_ba
sumpah nadia ini ngeselin! main nuduh penjahat kelamin lagi🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
nah loh... kan bader banget lo nad udah tua geh🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!