Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sesampainya di halaman depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit, Narendra menginjak rem secara mendadak.
Tanpa mematikan mesin, ia melompat keluar dari mobil dan berteriak memanggil bantuan.
"Suster! Tolong! Ada pasien pingsan!" seru Narendra dengan suara bergetar panik.
Dua perawat dengan sigap berlari keluar membawakan brangkar (stretcher).
Narendra membatu mereka memindahkan tubuh Tiyas yang terkulai lemas dan sangat dingin ke atas brangkar.
Roda brangkar berderit nyaring menembus dorongan cepat para perawat membelah lorong rumah sakit.
Narendra terus berlari kecil di sampingnya, menggenggam erat jemari Tiyas yang membeku.
"Tiyas, dengar aku, kamu harus kuat," bisik Narendra penuh kecemasan mendalam di dekat telinga Tiyas, meski wanita itu sama sekali belum memberikan respons.
Brangkar dipacu masuk melewati pintu kaca otomatis menuju area tindakan UGD.
Dokter jaga dan tim medis langsung mengerumuni Tiyas, memasangkan alat pemantau tanda-tanda vital, memberikan bantuan oksigen, dan memasang infus di pergelangan tangannya.
Narendra terhenti di batas tirai pembatas, dadanya naik turun tak beraturan menahan gelombang rasa takut yang tiba-tiba menguasai dirinya.
Pria yang biasanya begitu tenang dan penuh perhitungan itu kini tampak rapuh, menatap cemas ke arah sosok Tiyas yang terbaring lemah di balik kerumunan tim medis.
Setelah tim medis melakukan pemeriksaan menyeluruh dan mengambil sampel darah Tiyas, dokter jaga melangkah keluar dari balik tirai UGD.
Narendra yang tak berhenti berjalan gelisah di lorong langsung menghampirinya dengan raut cemas.
"Dokter, bagaimana kondisi Tiyas?" tanya Narendra cepat.
Dokter tersebut menatap Narendra tenang lalu menghela napas pelan.
"Ibu Tiyas mengalami keluhan akibat stress-induced gastritis akut dan dispareunia sekunder yang diperparah oleh kelelahan fisik luar biasa. Tekanan emosional yang tinggi memicu kejang otot di area perut serta lambung, yang menyebabkan rasa nyeri hebat secara mendadak hingga tensinya drop dan ia pingsan."
Dokter menepuk pelan pundak Narendra untuk menangkis kekhawatirannya.
"Kondisi organ dalamnya secara keseluruhan aman, tetapi tubuh dan pikirannya sudah berada di titik batas kemampuan. Tubuhnya merespons stres emosional yang terpendam secara fisik."
Narendra mendengarkan setiap patah kata dokter dengan rahang mengetat.
Rasa bersalah dan kasihan berbaur menjadi satu di dadanya.
"Apakah dia boleh rawat jalan, Dok?" tanya Narendra.
Ia tahu Tiyas paling tidak suka berlama-lama di rumah sakit, terlebih dalam situasi di mana ia ingin menenangkan diri di rumah barunya.
Dokter tampak mempertimbangkan sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.
"Boleh, Bu Tiyas bisa dirawat jalan. Kami sudah menyuntikkan pereda nyeri dan vitamin melalui infus. Tapi ada syarat mutlaknya: beliau harus istirahat total (bed rest), tidak boleh kelelahan, dan terutama hindari pemicu stres berlebih untuk beberapa hari ke depan. Resep obat untuk lambung dan penenang ototnya juga harus diminum teratur."
"Baik, Dokter. Saya pastikan dia akan istirahat total," janji Narendra mantap.
"Baik kalau begitu. Setelah cairan infusnya habis dan kesadarannya benar-benar pulih, Bu Tiyas sudah diperbolehkan pulang," tutup sang dokter ramah.
Narendra menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas lega.
Ia melangkah perlahan memasuki bilik tindakan UGD, mendekati tempat tidur tempat Tiyas terbaring lemah namun kini helaan napasnya sudah mulai teratur.
Tak berselang lama, jemari Tiyas di atas peraduan bergerak pelan.
Kelopak matanya perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan silau lampu ruang UGD.
Pandangannya yang samar-samar mulai fokus, menangkap sosok Narendra yang duduk setia di samping brangkar sambil menatapnya penuh kecemasan.
"A-aku kenapa?" bisik Tiyas lirih. Suaranya terdengar sangat serak, dan jemarinya refleks bergerak menyentuh perutnya yang kini terasa lebih tenang berkat pengaruh obat pereda nyeri.
Narendra menghembuskan napas lega yang teramat dalam begitu melihat kelopak mata Tiyas kembali terbuka.
Pria itu menyentuh lembut punggung tangan Tiyas, menyalurkan kehangatan yang menenangkan.
"Kamu pingsan di rumah makan tadi, Tiyas," jawab Narendra halus.
"Tubuhmu sudah di titik batas. Dokter bilang kamu mengalami kejang otot perut dan asam lambung akut karena stres berlebih dan kelelahan fisik."
Tiyas memejamkan matanya sejenak, mengutuki kelemahan tubuhnya sendiri yang tertekuk di saat perjuangannya belum selesai.
"Maaf, aku malah merepotkan kamu, Naren."
"Jangan pernah minta maaf untuk hal seperti ini," potong Narendra tegas namun lembut, menatap lurus ke dalam manik mata Tiyas.
"Kamu sudah menahan beban yang begitu berat sendirian selama ini, Tiyas. Tubuhmu cuma sedang menjerit minta diistirahatkan."
Narendra mengambil segelas air hangat dari meja di samping tempat tidur dan membantunya meminumnya secara perlahan.
"Dokter membolehkan kamu rawat jalan malam ini juga," lanjut Narendra.
"Tapi ada syarat mutlaknya: kamu harus bed rest total dan tidak boleh menyentuh pekerjaan atau memikirkan hal-hal berat sampai energimu pulih."
Narendra merogoh ponselnya dari saku jas, menatap Tiyas dengan raut penuh pertimbangan.
"Apakah aku perlu memberitahukan Ayah dan Ibu di Magelang?" tanya Naren pelan.
"Jangan, Naren. Tolong jangan," potong Tiyas cepat seraya menggelengkan kepala lemas.
"Ayah dan Ibu baru saja tenang. Aku tidak mau membuat mereka cemas lagi. Nanti, aku akan mencari perawat saja untuk menemani di rumah."
Mendengar ucapan Tiyas, Narendra menghentikan gerakannya.
Pria itu menatap Tiyas dalam-dalam, lalu menggeleng tegas.
"Tiyas, ada aku di sini. Aku yang akan merawatmu sampai kamu sembuh," ucap Narendra dengan penekanan di setiap katanya.
Tiyas tersentak kaget, menatap mata pria di hadapannya.
"Tapi, Naren,"
"Tidak ada tapi-tapian," sela Narendra pantang dibantah, namun suaranya tetap terdengar lembut menyiram kegelisahan Tiyas.
"Sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu. Kamu butuh stamina dan pikiran yang pulih total untuk menghadapi dan melawan Gio nanti."
Mendengar ketegasan Narendra dan menyadari ketulusan pria yang selalu memasang badan untuknya itu, perlahan benteng pertahanan Tiyas luluh. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Terima kasih, Naren." bisik Tiyas tulus.
Narendra tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Tiyas dengan lembut.
"Sama-sama. Sekarang tenanglah, biarkan infusnya habis dulu. Setelah ini aku yang akan membawamu pulang dan memastikan kamu beristirahat dengan benar."
Tiyas menganggukkan kepalanya dan kembali memejamkan matanya.
Setelah tetesan terakhir cairan infus habis, perawat melepas jarum di pergelangan tangan Tiyas dengan hati-hati.
Meskipun kesadarannya sudah pulih penuh, tubuh Tiyas masih terasa begitu lemas dan bersuhu dingin.
Narendra berdiri di samping ranjang, lalu tanpa ragu menyusupkan tangannya ke bawah punggung dan lutut Tiyas, membopong kembali tubuh wanita yang tampak begitu ringkih itu dalam dekapan eratnya.
Tiyas refleks melingkarkan lengannya di leher Narendra, menyandarkan kepalanya yang masih agak pening di dada bidang pria itu.
Kehangatan tubuh Narendra memberikan rasa aman yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Narendra berjalan melintasi lorong IGD menuju halaman parkir, lalu menaruh Tiyas dengan sangat perlahan di kursi penumpang depan mobil milik Tiyas.
Ia memasangkan sabuk pengaman untuk Tiyas dengan cermat.
Sebelum menutup pintu dan berpindah ke kursi kemudi, Narendra menatap Tiyas dengan tatapan penuh rasa segan.
"Maaf ya, Tiyas. Aku, malah memakai mobilmu," ucap Narendra lembut sambil menyalakan mesin dan pendingin udara.
Tiyas menyandarkan punggungnya di kursi, mengukir senyum tipis yang tulus dari bibirnya yang mulai kembali berwarna.
"Tidak apa-apa, Naren. Justru aku yang sangat berterima kasih karena kamu sudah menolong dan merawatku lagi hari ini," balas Tiyas lirik namun sarat akan rasa haru.
Narendra menatap Tiyas sejenak, lalu tersenyum menenangkan.
"Kita ini tim, Tiyas. Dan seperti janjiku, aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri."
Mobil pun perlahan bergerak membelah keheningan malam kota Yogyakarta, membawa Tiyas kembali ke rumah barunya—tempat di mana proses pemulihannya akan dimulai di bawah penjagaan penuh Narendra.
Mobil berhenti di area carport rumah megah Tiyas.
Narendra turun terlebih dahulu, membukakan pintu penumpang, lalu kembali membopong tubuh Tiyas dengan penuh kehati-hatian.
Saat melangkah melintasi pintu utama, langkah Narendra sempat terhenti sejenak.
Matanya meneliti seluruh sudut ruangan yang tampak asing baginya.
Warna dinding, tata letak, hingga jajaran furnitur bernuansa minimalis elegan—semuanya terasa baru.
Ia mengingat terakhir kali mendatangi rumah ini adalah saat menghadiri acara syukuran keluarga bersama Mia beberapa bulan yang lalu, di mana rumah ini masih dipenuhi perabotan pilihan Gio dan kenangan lama yang kini terasa menyesakkan.
Tiyas yang bersandar di dada Narendra menyadari tatapan pria itu.
"Aku sudah mengubah semuanya, Naren. Tidak ada lagi jejak Gio di rumah ini," bisik Tiyas lirih.
Narendra menatap Tiyas dengan tatapan penuh rasa hormat atas ketegasan wanita itu.
"Langkah yang bagus, Tiyas," sahutnya pelan.
"Di mana kamarmu?"
"Di atas," petunjuk Tiyas pendek.
Narendra melangkah menaiki tangga kayu dengan tenang, memastikan setiap pijakannya stabil agar tidak mengguncang tubuh Tiyas.
Ia mendorong pintu kamar utama di lantai dua, lalu melangkah masuk dan merebahkan tubuh ringkih Tiyas secara perlahan di atas peraduan baru yang empuk.
Narendra menarik selimut satin hingga menutupi dada Tiyas, lalu membenahi bantal di belakang kepalanya.
"Sekarang istirahat. Jangan memikirkan apa pun lagi malam ini," tegas Narendra dengan suara baritonnya yang menenangkan, menatap lurus ke dalam manik mata Tiyas.
Tiyas menganggukkan kepalanya pasrah. Rasa hangat dan perlindungan yang ditunjukkan Narendra perlahan menjatuhkan beban berat di pundaknya, membuat kelopak matanya yang berat mulai perlahan terpejam.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘