Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANGIN PEMBAWA PERUBAHAN.
Benua Est terhampar luas seperti mahkota yang retak di atas samudra luas. Tujuh kerajaan telah berdiri di sini selama seribu tahun, masing-masing dengan raja, hukum, dan pedang sendiri. Di utara, Kerajaan Norvath tertutup salju abadi dan gunung berapi yang mengaum; di selatan, Kerajaan Solares terbakar matahari dan padang pasir tak berujung. Di timur, hutan purba Kerajaan Lythandar menyembunyikan rahasia yang lebih tua dari manusia, sementara di barat, Kerajaan Oseas berdiri di atas tebing yang dipukuli ombak ganas. Di tengah-tengahnya, Kerajaan Tepian Emas menjadi jantung perdagangan, Kerajaan Ironhold benteng tak tertembus dari baja dan batu, dan Kerajaan Airis—tanah lembah hijau dan sungai jernih yang selalu menjadi sasaran nafsu tetangganya.
Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan mereka. Perang datang dan pergi seperti musim: raja-raja jatuh, istana-istana terbakar, perjanjian ditandatangani dengan tinta darah lalu diinjak-injak keesokan harinya. Keseimbangan itu rapuh, seperti kaca yang diletakkan di tepi tebing—satu sentuhan saja, dan semuanya akan hancur berkeping-keping.
Orang-orang bilang benua Est telah dilahirkan dalam pertikaian, dan dalam pertikaian pula ia akan binasa.
Namun takdir memiliki rencana yang tidak pernah tertulis di buku sejarah. Di sebuah desa kecil di kaki pegunungan Ironhold, jauh dari istana dan pedang raja, lahirlah seorang anak laki-laki yang tidak memiliki apa-apa selain nama: Zhoo.
Ia bukan putra raja, bukan keturunan ksatria terkenal. Ayahnya hanyalah pembuat gerobak yang meninggal saat ia berusia tujuh tahun, ibunya bekerja sebagai pencuci pakaian hingga tangannya pecah-pecah lalu menyusul ayahnya saat Zhoo berusia empat belas tahun. Sejak hari itu, Zhoo hidup sendirian: memotong kayu, menjerami ladang orang lain, tidur di gudang kosong, dan bermimpi tentang dunia di balik pegunungan yang tidak pernah ia lihat.
Orang desa melihatnya sebagai pemuda yang keras kepala dan terlalu banyak bertanya. Ketika pemuda lain belajar memegang cangkul, Zhoo belajar memegang tongkat dan membaca jejak angin. Ketika orang lain tidur setelah lelah bekerja, ia duduk di atas bukit dan menatap ke arah tujuh kerajaan, bertanya-tanya mengapa manusia harus saling membunuh hanya karena garis yang digambar orang tua-tua di atas peta.
“Dunia ini terlalu besar untuk dibagi-bagi,” bisiknya pada angin malam, tidak tahu bahwa kata-kata itu akan bergema di seluruh benua Est, hingga ke singgasana raja-raja yang gemetar ketakutan.
Hujan turun deras selama tiga hari berturut-turut, mengubah jalan tanah menjadi lumpur cokelat yang lengket. Di bawah atap gubuk yang bocor, Zhoo duduk melingkari lutut, menatap tetesan air yang jatuh ke lantai tanah. Usianya baru tujuh belas tahun, namun matanya menyimpan pandangan seseorang yang telah melihat terlalu banyak kesedihan.
Pintu gubuk terbuka dengan kasar, dan angin basah menerobos masuk. Seorang pemuda sebayanya berdiri di ambang pintu—badan tegap, rambut keriting cokelat, wajah penuh semangat yang belum pernah dipadamkan kehidupan. Itu Arvin, sahabat Zhoo sejak kecil, putra pandai besi desa.
“Kau masih di sini?” Arvin mengibaskan air dari jubahnya, lalu melepas palu besar yang disangkutkan di punggungnya. “Desa sudah berbicara tentang pengumuman Raja Vereon. Pasukan sedang dikumpulkan di setiap perbatasan. Siapa pun yang mampu membawa kepala musuh akan diberi tanah dan gelar bangsawan.”
Zhoo tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Dan berapa banyak anak laki-laki yang akan mati demi sepetak tanah yang tidak akan sempat mereka tinggali?”
Arvin duduk di sampingnya, suaranya melembut. “Aku tahu kau membenci perang, Zhoo. Tapi ini satu-satunya jalan bagi kita untuk keluar dari sini. Lihatlah dirimu—kau pintar, kau kuat, kau bisa melihat hal yang orang lain tidak lihat. Tapi di sini, kau hanya akan menjadi pemotong kayu sampai rambutmu memutih dan tubuhmu hancur.”
Zhoo berdiri, berjalan ke arah lubang jendela yang tertutup kulit binatang. Di luar, petir menyambar puncak gunung, menerangi langit yang kelabu. “Aku tidak ingin naik dengan menginjak mayat orang lain, Arvin. Ada jalan lain. Aku hanya belum menemukannya.”
“Jalan lain?” Arvin tertawa pahit. “Di benua Est, hanya ada dua jalan: memerintah atau diperintah. Tidak ada yang di tengah.”
Mereka berdebat hingga malam larut, namun darah persahabatan lebih kental daripada perbedaan pendapat. Ketika fajar menyingsing, Arvin membawakan sebilah pedang yang baru ia tempa—baja hitam, seimbang, tajam seperti silet.
“Aku pergi,” kata Arvin, matanya berkilat. “Aku akan bergabung dengan pasukan Raja Vereon. Aku akan menjadi ksatria, lalu aku akan kembali dan mengubah desa ini. Tapi kau…” ia menyodorkan pedang itu kepada Zhoo, “jika kau berubah pikiran, carilah aku di kota utama Ironhold. Jangan biarkan dunia ini menelanmu utuh, Zhoo.”
Zhoo menerima pedang itu, merasakan dinginnya logam di telapak tangannya. “Semoga angin selalu membelaimu, sahabatku. Tapi jalan kita mungkin berbeda. Ingatlah ini: kekuatan yang tidak diikat kebijaksanaan hanya akan menghancurkan pemegangnya.”
Arvin mengangguk, lalu berbalik dan pergi. Zhoo menatap punggung sahabatnya hingga menghilang di balik kabut pagi, dan di dalam hatinya, ia merasakan retakan pertama—sebuah perasaan bahwa perpisahan ini bukanlah untuk sehari dua hari, melainkan untuk tahun-tahun yang akan mengubah mereka berdua menjadi orang asing.
Tiga hari kemudian, saat Zhoo sedang memotong kayu di tepi hutan, ia mendengar suara langkah kaki yang tidak teratur. Di balik pohon ek raksasa, terbaring seorang pemuda berpakaian jubah biru tua yang penuh sulaman bintang-bintang. Kakinya terluka parah, dan wajahnya pucat seperti kertas. Itu Kael, seorang peneliti dan penasihat kerajaan yang melarikan diri setelah mengetahui rahasia gelap dewan penasihat Kerajaan Airis.
“Jangan mendekat…” desis Kael, meraih belati yang tergeletak di sampingnya, namun tangannya terlalu lemah untuk mengangkatnya.
Zhoo berhenti, mengangkat kedua tangannya tanda tidak berbahaya. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya memotong kayu.” Ia mendekat perlahan, lalu berlutut. “Siapa yang mengejarmu?”
“Orang-orang Raja Vereon,” jawab Kael dengan napas berat. “Mereka… mereka bersekutu dengan bangsawan dari Solares untuk memulai perang besar. Aku menemukan perjanjian rahasia, dan sekarang mereka ingin kepalaku.”
Zhoo merobek bagian bajunya, membalut luka di kaki Kael dengan hati-hati. “Mengapa kau memberitahuku ini? Kau tidak mengenalku.”
“Karena matamu,” jawab Kael, menatap lurus ke mata Zhoo. “Mata orang yang tidak takut pada kebenaran. Dan aku tahu… benua ini akan segera terbakar. Dan hanya mereka yang memiliki visi, bukan sekadar ambisi, yang mampu melewatinya.”
Kael tinggal bersama Zhoo di gubuk itu selama dua minggu. Selama waktu itu, ia mengajari Zhoo membaca peta, memahami sejarah tujuh kerajaan, dan melihat benua Est bukan sebagai tanah dan batu, melainkan sebagai jaringan ikatan, dendam, dan harapan yang saling terhubung.
“Kekuatan terbesar bukanlah pada otot lengan,” kata Kael sambil menunjuk peta yang digambar di atas kulit binatang, “melainkan pada pemahaman bagaimana dunia bekerja. Jika kau tahu di mana tali diikat, kau bisa menggerakkan gunung hanya dengan satu tarikan.”
Ketika luka Kael mulai sembuh, ia berkata pada Zhoo: “Ikutlah bersamaku ke Kerajaan Lythandar. Di sana, para penjaga hutan purba menyimpan pengetahuan kuno. Jika kita ingin menghentikan perang, kita butuh sekutu, bukan pedang.”
Zhoo menatap ke arah pedang pemberian Arvin yang tergantung di dinding. “Arvin pergi mencari kekuatan dengan pedang. Kau pergi mencari kekuatan dengan pengetahuan. Dan aku… aku belum tahu apa yang kucari. Tapi aku tahu aku tidak bisa tetap di sini.”
Maka pada hari yang cerah, dengan sebilah pedang di pinggang dan pengetahuan di kepala, Zhoo melangkah keluar dari desa yang membesarkannya. Ia tidak tahu bahwa langkah kecil ini akan menjadi langkah pertama dari ribuan langkah yang akan mengubah takdir benua Est selamanya.